SIAPA TAHU INI PUISI?
Hejis
Membuat puisi adalah aktivitas orang yang murung, cengeng, sedang jatuh cinta, dan trivia sehingga saya akan berpikir 12 kali untuk membuatnya. Begitulah persepsi saya bertahun-tahun yang lalu. Mungkin karena saya melihat puisi-puisi dari tangan yang bukan ahlinya. Mungkin pula karena otak sebelah kiri saya belum bisa mengunyah hidangan puisi itu sedangkan otak sebelah kanan banyak dijejali bacaan yang kering dari kreativitas dan kecerdasan linguistik (linguistics intelligence). Entahlah. Itulah sebabnya puisi terakhir yang saya tulis adalah ketika saya duduk di kelas 3 SMPN 2 Pekalongan, bertahun-tahun yang lalu.
Prestasi saya di bidang perpuisian juga tak bisa menjadi andalan. Tidak seperti teman-teman seangkatan saya yang memiliki prestasi lebih tinggi, minimal dalam hal kuantitas. Tetapi, menurut daya ingat saya, saya memiliki tiga momentum perjalanan perpuisian yang masih mampu saya ingat. Pertama, saat guru bahasa Indonesia kelas 3 SMP memberikan tugas kepada seluruh siswa kelas 3 untuk membuat puisi tentang dunia sekolah (waktu itu di sekolah saya ada 4 kelas 3, jadi jumlah siswanya kira-kira 160). Kedua, saat ada lomba membaca puisi untuk umum di kota Tegal. Ketika itu saya duduk di kelas I SMEA Negeri Pekalongan (keren, kan?). Jarak dari rumah saya di Pekalongan ke Tegal kira-kira 100 KM. Ini menggambarkan betapa antusiasnya saya di bidang perpuisian saat itu, sampai-sampai mau menempuh perjalanan sejauh itu dengan berboncengan sepeda motor bersama teman hanya untuk ikut lomba baca puisi. Ketiga, saat diadakan lomba baca puitisasi Al Quran oleh sebuah organisasi kemahasiswaan di gang Sambu, Mrican, Jogjakarta. Sewaktu saya kuliah pada semester I.
Momentum pertama membuat saya bangga, tetapi malu-malu kucing. Pasalnya, guru saya menyampaikan pujian di semua kelas yang diajarnya. Kata pak Untung (guru saya itu), diksi puisi saya mengena. Kalau tidak salah saya menulis begini. ”Aku haus, maka aku minum…” (sebuah analogi untuk orang yang akan menimba ilmu, sayang kalimat lainnya lupa). Akibatnya, saya menjadi orang yang ngetop waktu itu untuk beberapa hari saja. Setelah itu nama saya tidak disebut-sebut lagi. Kasihaaaan deh, aku…
Momentum kedua membuat saya sedih dan kapok membikin puisi, apalagi membaca puisi di depan umum. Panitia lomba mengumumkan bahwa peserta (jumlahnya ratusan) yang lolos dari babak penyisihan adalah…. anu…. anu… dan… anu… (mana mungkin saya ingat nama-nama mereka, lha wong mereka pesaing saya! Mereka adalah orang-orang yang saya benci karena telah membunuh karier saya di bidang puisi. Coba kalau mereka semua tidak ikut lomba, bukankah saya yang menjadi juaranya?). Betul, dugaan Bapak/Ibu/Saudara. Saya tidak lolos. Bahkan untuk tingkat penyisihan. Waktu itu saya merasa bahwa keputusan panitia tidak adil dan amat tendensius. Bayangkan! Saya sudah membaca puisi yang diwajibkan dengan suara yang paling keras yang pernah saya teriakkan. Hasilnya, mengecewakan. Belakangan saya baru mengetahui bahwa membaca puisi tidak boleh keras-keras sebab mengganggu kekhusukan orang lain dalam beribadah… (?…!).
Momentum ketiga, mengagetkan! Saya dipanggil oleh panitia untuk naik ke atas panggung sebagai juara pertama. Waktu itu saya membayangkan cewek-cewek cantik yang berdiri di antara para penonton menjadi histeris lalu mengelu-elukan saya layaknya seorang pahlawan yang menang perang. Ternyata, tidak. Ekspresi mereka biasa-biasa saja. Paling-paling ada yang melempar senyum satu-dua orang. Lalu dengan tersipu-sipu (tersipu-sipu mulu…) saya menerima sertifikat juara puitisasi Al Quran. Lumayan dapat sertifikat. Saking gembiranya, besoknya, teman-teman se-kost saya traktir makan di warung ibu kost, walaupun ibu kost merengut karena saya ngutang.
Mengingat lintasan peristiwa-peristiwa itu, kemudian terpikir oleh saya untuk membuat puisi lagi, seperti yang bisa Anda baca di bawah ini. Siapa tahu ini puisi. Dan, siapa tahu hasilnya mengagetkan lagi…
======================
Ada Ruang
ada ruang sederhana belum berpenghuni
berhiaskan sunyi berkepanjangan nyaris menikam segala rasa
namun kosong dari petuah-petuah
namun teduh untuk sekadar singgah dari ingar-bingar
pergulatan primordial segenap barisan, segenap kasta
siapakah kalian yang selalu menafikan tawaran-tawaran dan
mengangkangi petuah-petuah sendiri?
ada halaman mungil belum ditanami kembang anturium
dan semerbaknya kenanga serta melati
di depan ruang, menghadap buih-buih danau
dibelai angin pengujung kerinduan
mengapakah kalian redup dan enggan pulang?
engkau kini satu-satunya
di kerumunan yang sedang dikepung rayuan citra
memuliakan kebendaan
dan menaruhnya di dataran paling tinggi
dapatkah engkau menjaga butiran terakhir
setelah nurani digerus tanpa kenal lelah?
*******















.

19 tanggapan so far ↓
Ersis Warmansyah Abbas // November 1, 2008 pada 10:19 am
Bagi saya puisi adalah puncak intelektualitas, puisi paling terbuka, dalam, dan maknanya melampaui zama adalah pusi Einstein: E=MC2. Puisi Sampeyan cukup bagus, pertanda sudah kembali ke jalan yang benar. Menulis pusi terkadang lebih bermankna dari menulis pulhan buku. Tak iye … Begitulah.
@Hejis: Nah, yang ini pendapat yg sulit dibantah. Ya, Kembali ke Jalan Puisi. Terima kasih sobat.
paragraphdalamhujan // November 1, 2008 pada 11:41 am
bagi saya puisi adalah hidup.
segala yang tergaris adalah puisi dalam kehidupan itu sendiri…
salam kenal ya…
@Hejis: Betul. Kehidupan yg dijalani dengan jalan puisi akan menjadi kehidupan yg indah. Salam kenal kembali, mbak. Selalu ditunggu kedatangannya.
kidungjingga // November 1, 2008 pada 1:30 pm
kecerdasan linguistik…
mmh.. malu deh saya…
puisinya bagus! pake banget malah…
kidungjingga // November 1, 2008 pada 1:31 pm
kecerdasan linguistik…
mmh.. malu deh saya…
puisinya bagus! pake banget malah…
oh ya.. makasih dah mampir di ruang tengahnya kidungjingga… maaf blm sempet terekam di fotonya..
kidungjingga // November 1, 2008 pada 1:32 pm
welwhh.. ko dobel ya… mmh.. gara2 sempet error nih
@Hejis: He…he…biasa, gak papa. Terima kasih pujiannya. Ngomong2 kidungjingga juga amat puitis banget lho!
Tuyi // November 1, 2008 pada 4:33 pm
puisi yang indah dan sarat makna.
@Hejis: Halo, Tuyi. Mau ketawa terus kalau baca postingan Tuyi!
puisi yang sarat makna apa sarat makan? Terima kasih telah datang jauh2 dari Bulakamba (Brebes). Hidup Brebes!
hidayat // November 2, 2008 pada 6:30 am
puisi bagus milik pat kai..
sejak dulu beginilah cinta..deritaNYA TIADA PERNAH BERAKHIR
@Hejis: masak sih? Bagi saya, kadang2 derita itu juga indah, koq. Segala derita akan selalu indah, jika ia telah menjadi kenangan… Salam hangat, pat kai.
Ifoel // November 2, 2008 pada 6:43 pm
kata2 yang bermakna bnyak..
aku suka bget ma puisi2..but g tahu cara mmbuatnya.. he..he..he..
@Hejis: Sebetulnya kita senasib. Menikmati puisi tapi gak bisa bikinnya. Saking pengen bikin, pokoknya bikin…jual, bikin…jual, bikin…jual, gitu. Tapi gak laku-laku, he…he..he... Salam hangat ya.
b undarie // November 3, 2008 pada 10:10 am
puisi itu ibarat ruang..hmm benera banget, ruang untuk mengebangkan diri dan imajinasi termasuk mencurahkan semua yang ada di hati
@Hejis: Betul Bunda, setelah semua kata ditinggalkan makna mungkin puisi bisa menjadi jalan menyampaikan kesungguhan. Salam hangat.
cahayadihati // November 3, 2008 pada 11:52 am
Hahahaha….pak Hejis ini lho segar rasanya membaca tulisan2 bapak. Ngalahin rujak dech pak segernya hehehe…
Lha wong puisi bagus gini kok bilang gak bisa buat puisi….
Yaya ini, selalu pengen buat puisi selalu gagal.
Cukup saja hanya mampu merangkai kata-kata, walalu tidak layak disebut puisi
Rangkaian kata yang paling saya sukai yang ini pak http://cahayadihati.wordpress.com/2008/10/16/meretas-hari-menanti-janji-nya/ YAH MESKI LAGI-LAGI BUKAN SATU PUISI
@Hejis: Betul lho, selama bertahun2 gak pede buat puisi padahal sering ingin membuatnya. Mungkin karena gejolak sudah gak bisa ditahan, ya itu tadi membuat puisi2an. Tapi saya seneng mendapat pujian itu. Terima kasih ya. Segini dulu, soalnya mau lihat puisi meretas-hari-menanti janji-nya.
goenoeng // November 3, 2008 pada 2:19 pm
hmm…puisi itu apa to pak ?
saya juga dari dulu belajar bikin tapi nggak bisa2, hehe….kasian deh saya….
masih lumayan njenengan, bisa dapat sertipikat
@Hejis: He… he… Menurut ilmu pengawuran, puisi adalah ungkapan hati seseorang yang maknanya disamarkan, supaya pembacanya mumet… he… he…
Kalau puisi bikinan mas Goenoeng, pasti dijamin mak nyuss (lha saya sudah lihat sendiri!). Tentang sertipikat, itu mungkin diberikan agar saya tidak demo… Salam hangat, mas.
coretanpinggir // November 3, 2008 pada 8:08 pm
Ini puisi
@Hejis: Bukan, itu bukan puisi. Itu pulisi. He.. he…
Sawali Tuhusetya // November 3, 2008 pada 9:12 pm
puisnya bagus dan menarik, mas hejis. diksinya juga mantab. sesekali perlu dipublikasikan di media cetak. koran, misalnya. dari situ, jejak2 kepenyairan seseorang akan terlihat. ok, salam kreatif!
@Hejis: Terima kasih, pak Sawali. Kayaknya perlu belajar banyak dulu deh untuk sampai dipublikasikan. Soalnya, bersaing dengan pak Sawali sungguh berat. Salam hangat, pak. Blog pak Sawali amat powerful.
dedyistanto // November 3, 2008 pada 9:38 pm
tok…tok…permisi pak…
tak q sangka..ternyata pak heru… ada bakat pujangga juga ew…he…2x
duh jdi tambah jatuh cinta wakakkk…kkk..
salam sukses..
@Hejis: Maunya begitu, tapi apa daya bakat gak nyampe…he…he…
Cuma sesama bis kota gak boleh jatuh cintak. Sukses juga ya, tambah rejeki dan sehat selalu. Amien.
Sassie Kirana // November 4, 2008 pada 2:51 pm
Ting tung..permisii..mas hejis nya adaa
Ini sie mau baca puisi didengerin ya..
Aku lapar..
Maka aku makan xixixi..* nyaingin puisi pertama mas hejis*
kajiankomunikasi // November 4, 2008 pada 5:43 pm
Ooo.. si embak. Ada, ada… Tuh, lagi mandiin sapi di sungai.
Wah, bagus… bagus! Sumpah lho, gak ada puisi sebagus itu. Swear! Swear!
Rindu // November 6, 2008 pada 7:08 pm
berulang ulang saya mencoba membuat puisi tapi belum mampu hingga kini … kasihan deh saya
@Hejis: mungkin begini kalau membuat puisi.
Aku rindu, kamu bukan.
Mengapa aku rindu?
Karena bukan kamu
Biarpun kamu mengaku-ngaku rindu
setengah mati
Matilah kamu
Karena kamu bukan rindu
Kamu ya kamu
Rindu ya Rindu
kasihaaann deh kamu…eh aku!
hidayanti // November 7, 2008 pada 1:34 am
hebat yaaa…mas ini bisa bikin puisi..ajarin doooooooonk!!!
kajiankomunikasi // November 7, 2008 pada 10:57 am
Saya gak canggih bikin puisi. Ini saya ambilkan puisinya Pak Lik di kampung kita ya.
ADINDA DAN KAKANDA
Adinda
menelusuri arus Don dari Novomoskovsk hingga Voronezh
sungguh letih dan getir
purnama sudah menyapa tiga kali
sekelebat pun bayangmu tak jua ada
kabar dari Pravda yang mulai kusam pemberian Dimitri
tak mampu mengarahkan langkah ke muara bidikan
manakala kelak kita bersua di sisa-sisa harapan
kakanda akan membisikkan
”kemarilah Adinda, duduk merapat
agar hembusan angin perestroika jangan terlalu kencang
itu membuatmu hilang di belantara kegaduhan
yang tak pernah kita pelajari di surau kampung kita
di setiap senja ketika ia beringsut ke peraduan”
”kemarilah Adinda, kemarilah duduk merapat
meski di bibir cadas pinggiran Don
kita akan lama menjajar cerita perjalanan kerinduan
yang air matanya tercecer di Tula, di St. Petersberg
dan menciptakan laut Azov”
pencarian kapan berkesudahan
melabuhkan kakanda di Rostov on Don
belum ada tanda harummu, Adinda
ketika mata menyapu sudut kerumunan
tempat orang-orang bermantel bulu memeluk buku-buku
wajah Dimitri merekahkan senyum kepada perempuan di sebelahnya
dibalas senyum terindah yang pernah ada
Adinda!
kini kakanda tahu
mawar putih yang kakanda tanam dan mawar merah yang adinda semaikan
di halaman rumah kita nun jauh di balik cakrawala
harumnya kau bawa ke negeri beruang merah
seketika
tanah pijakan kakanda terban
laut Azov pun murka…
Kakanda berbisik lirih,
Adinda, engkau telah kratkoebremennoe pamyat
TAMAT