Oleh Hejis
Dukun tiban Ponari benar-benar fenomena luar biasa. Ndak luar biasa gimana wong bocah 10-an tahun menjadi anak yang kredibel di mata puluhan ribu orang bahkan mungkin ratusan ribu atau jutaan. Yang jelas tiap hari ribuan orang berduyun-duyun antri dan percaya 100 persen untuk mengobati dirinya.
Dari sisi kultur masyarakat kebanyakan, ia makhluk yang ditunggu-tunggu di zaman susah mengobati penyakit. Yang mahallah, yang buruk pelayanannyalah, yang sulit aksesnyalah. Masyarakat merindukan obat yang cespleng, murah, dan gampang didapat (tidak birokratis).
Analisis fenomena Ponari telah banyak dilakukan oleh para ahli (dan, tentu saja juga yang tidak ahli). Umumnya dan tragisnya berakhir pada hujatan kepada pemerintah karena pemerintah dianggap kurang memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada rakyat. Jadi, fenomena Ponari yang muncul tanpa bermaksud mengkritik kebijakan pemerintah, tetapi dipakai untuk menghujat pemerintah! Huuuuuu… kasihan deh pemerintah.
Menurut Hejis, analisis itu belum sepenuhnya tepat dan mendalam… halah! Iya. Coba tengok dari sisi perilaku rombongan pengantri itu. Lalu tengok juga dari sisi panitia “penyambutan” masyarakat lokal terhadap para pendatang yang antri itu. Dan, satu lagi, para pejabat lokal yang gamang menghadapi peristiwa Ponari itu.
Masyarakat pengantri itu hanya berlogika segala macam penyakit dapat diobati dengan cara Ponari. Atau, oleh Ponari. Tak peduli logika ilmiah, pemikiran linier, pembuktian empiris. Pertanyaan saya kepada mereka. Dengan dunia logika yang seperti itu, apakah mereka juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Mestinya ya bila mereka mau dianggap konsisten. Contoh, jika mereka lapar mereka mestinya juga harus menggunakan logika itu dengan cara sim salabim, lalu kenyang. Jika mereka ingin lulus sekolah mereka mestinya juga harus menggunakan logika sim salabim, lalu lulus. Sama seperti jika mereka sakit dan sim salabim, lalu sembuh.
Kepada panitia penyambutan para pasien Ponari, layak juga diajukan pertanyaan. Terhadap orang-orang yang susah yang datang untuk berobat dari luar kota sudahkah diperlakukan dengan wajar? Mereka susah-payah untuk mengakhiri penderitaan sakitnya yang mungkin sudah lama tetapi di tempat Ponari mereka harus membeli tiket antri yang diberi tarif resmi Rp 2.000,- namun dijual Rp 5.000,- Kelihatannya kok ada aji mumpung ya. Mengambil kesempatan dalam keterpepetan. Bukannya lebih baik mereka menjamu tamu-tamu Ponari yang sedang kesusahan itu dengan memberikan minum, makan, pondokan? Dulu masyarakat Indonesia seperti itu! Kalau ini sekarang berat ya tidak perlu. Cuma, jangan menambah beban berat mereka… halah!
Kepada para pejabat lokal perlu juga diberi pertanyaan nih… Apakah mereka tidak bisa mengantisipasi dampak pengobatan ala Ponari, baik dari sisi logika, ketertiban, kelangsungan dunia logika yang sehat, atau kultur? Jika sejak awal mereka tegas melarang pengobatan seperti itu karena melanggar undang-undang kesehatan, misalnya, maka mereka telah menyelamatkan masyarakat dari keterbelakangan kultur. Atau minimal mencegah sementara. “Hebatnya” lagi, ada seorang anggota dewan yang ngotot minta dibukanya kembali pengobatan Ponari yang sudah ditutup. Ini mah mbahnya terbelakang!
Menurut hemat saya (memang saya perlu berhemat…he… he…), fenomena pengobatan Ponari jangan dilanjutkan. Mengapa? Kita hidup di dunia yang berbeda dengan zaman nabi-nabi dulu. Di zaman nabi-nabi dulu Tuhan memang memberikan rakhmat kepada orang-orang tertentu sehingga dapat mengobati dengan cara yang tidak lazim karena tantangan kehidupan waktu itu berat, ilmu kedokteran belum ditemukan. Kini orang sudah dikaruniai ilmu yang lebih tinggi mestinya melanjutkan memelajari ilmu kedokteran itu. Lagi pula cara-cara pengobatan Ponari dan Ponari-Ponari yang lain tidak bisa dibuktikan oleh akal sehat. Bagaimana mungkin kehidupan manusia dilandasi oleh bukti-bukti yang tidak bisa dibuktikan?
Memang kadang-kadang ilmu kedokteran pun tidak mampu mengatasi suatu penyakit. Namun, bukan berarti kita beralih ke ilmu yang lebih samar-samar. Jika pernyataan ini diterima, dunia pendidikan mestinya belajar bagaimana mengajari murid-murid agar berpikiran ilmiah. Segala hal yang diinginkan mesti diusahakan dengan cara-cara menurut cara kerja otak yang logis. Jika dunia pendidikan tidak menghasilkan manusia-manusia logis, maka fenomena Ponari akan terus terulang dan kita menjadi masyarakat yang jauh tertinggal dari negara lain. Akibatnya, kita menjadi masyarakat yang dijajah secara ekonomi, politik, kultural.
Cuma, bagaimana pun Ponari telah menyadarkan saya bahwa pendapat tentang masyarakat kita yang telah cerdas perlu disertai dengan tanda tanya, benarkah? Makanya… ri… Ponari… terima kasih ya?!***














.

110 tanggapan so far ↓
mamas86 // Maret 3, 2009 pada 7:16 am
Hejis:
Ya, Indonesia tercinta beserta peristiwanya yang tiada duanya..he..he..
pakde // Maret 3, 2009 pada 8:50 am
Hejis:
Heran jg ya negara sudah cukup umur tetapi tetap belum dewasa juga…
akselman1mlg // Maret 3, 2009 pada 11:23 am
Hejis:
Wekekek… hidup Ponari! Ya mas, itu coba-coba aja…
akselman1mlg // Maret 3, 2009 pada 11:29 am
Hejis:
Sudah tak pasang sebagai partai baru…
Om Shani // Maret 3, 2009 pada 11:40 am
Hejis:
Ya anget2 tai ayam. Cuma ayamnya banyak banget…
tuyi // Maret 3, 2009 pada 11:46 am
Hejis:
Betul, lha wong batu disembah2…
Didien® // Maret 3, 2009 pada 11:56 am
Hejis:
Kelihatannya sudah ada yang musyrik ya.. Salam silat juga mas Didien
omiyan // Maret 3, 2009 pada 12:35 pm
Hejis:
Sebagian karena kurang mampu uangnya untuk berobat ke RS. Sebagian lagi punya uang banyak (datangnya bawa mobil), juga kurang mampu, tapi kurang mampu berpikir rasional…
isfiya // Maret 3, 2009 pada 12:52 pm
Hejis:
Cihuyyy.. mbak Fitri datang lagiiii….
isfiya // Maret 3, 2009 pada 12:52 pm
Hejis:
Iya, pendukung berat malah. Ponari.. Ponari… alangkah indahmu
Didien® // Maret 3, 2009 pada 1:30 pm
Hejis:
Wekekek… Bukaaaannn!! Itu Poccari Sengit…
Didien® // Maret 3, 2009 pada 1:41 pm
Hejis:
Alhamdulillah, akhirnya dapat hetrik juga. Semoga Tuhan memberikan pahala untuk mas Didien nan koclak… wakakak…
boyin // Maret 3, 2009 pada 2:00 pm
Hejis:
Sebaiknya memang dilarang meski sudah terlambat…
siwi // Maret 3, 2009 pada 3:16 pm
Hejis:
Mau tha mbak tak celup biar basah…. wakakak…
cahayadihati // Maret 3, 2009 pada 3:57 pm
Hejis:
Ke mana aja toh mbak Yaya, kucari di seluruh pelosok negeri kok gak kelihatan? Iya mendadak Ponari…
langitjiwa // Maret 3, 2009 pada 5:04 pm
Hejis:
Selalu ada rejeki di musibah sekali pun… Saat dewasa Ponari malah jadi Insinyur, mungkin..ha..ha..
sunarnosahlan // Maret 3, 2009 pada 8:18 pm
Hejis:
Iya, awalnya Ponari tidak bermasalah. Sekarang setelah orang dewasa bermain, Ponari menjadi amat manja bahkan kurang ajar berani menendang Kapolres (?) Jombang…
Rindu // Maret 4, 2009 pada 8:20 am
Hejis:
Alhamdulillah disetujui… hehehe… batu kok jadi bahan lawakan. Batu untuk bahan membuat uleg-uleg untuk bikin sambal…
arvernester // Maret 4, 2009 pada 8:50 am
Hejis:
Betul mas. Kalau sulit dengan panca indera, maka perlu kita tangkap dengan Pancasila ya..
kenuzi // Maret 4, 2009 pada 9:31 am
Hejis:
Mestinya masyarakat semacam itulah yang perlu prioritas untuk ditingkatkan taraf hidup dan kecerdasannya ya mas..
radesya // Maret 4, 2009 pada 9:43 am
Hejis:
Wekekek… bisa aja nih mpok Rara… Ayo belajar dari Ponari…
anas // Maret 4, 2009 pada 9:57 am
Hejis:
Pemerintah rapuh, rakyat apalagi….
yoan // Maret 4, 2009 pada 11:03 am
Hejis:
Hehehe… Indonesia, telah banyak memproduksi peristiwa yang terkenal di dunia dengan keterbelakangannya, termasuk saya….
indah rephi // Maret 4, 2009 pada 11:06 am
Hejis:
HIDUP INDAH REPHIIII!!!! Hahaha…
indah rephi // Maret 4, 2009 pada 11:06 am
Hejis:
Betul, mba’e. Masih kecil kok disuruh jadi dukun. Biar yang dewasa aja yang jadi dukun, kayak sayah…he..he..
DIAJENG // Maret 4, 2009 pada 11:22 am
Hejis:
Mungkin untuk masalah pengobatan, serahkan saja pada ahlinya. Biarlah Ponari bersekolah… a..yo….seko..lah..hahaha..
DIAJENG // Maret 4, 2009 pada 11:24 am
Hejis:
Kalau saya juga mendoakan semoga Diajeng tetap bahagia…
faiq // Maret 4, 2009 pada 2:07 pm
Hejis:
Betul sekali. Bgm caranya agar masyarakat kita berpikir lebih rasional, itulah salah satu tgs dunia pendidikan kita
ipji // Maret 4, 2009 pada 3:10 pm
Hejis:
Huahaha… nanti kita menyebutnya… Yang Mulia Bp. Presiden Ponari…
DIAJENG // Maret 4, 2009 pada 3:18 pm
Hejis:
Sugeng sonten ugi, Diajeng. Hari ini saya baru makan 4 x…hehehe…
radesya // Maret 4, 2009 pada 3:25 pm
Hejis:
Rasanya belum pernah baca buku itu mbak. Wah cukup menarik ya, coba nanti saya lihat-lihat kalau ada bukunya (eh carinya ke mana ya…).
met sore juga, mbak…
DIAJENG // Maret 4, 2009 pada 3:54 pm
Hejis:
Lho, kok buru-buru? Ya udah TTDJ ya…
reni // Maret 4, 2009 pada 4:21 pm
Hejis:
Ya, mbak. Pejabat pun tak kalah hilang akalnya… Jangan-jangan kesedot batu geledegnya ya…
Ah, mbak Reni paling bisa deh…
INDAH REPHI // Maret 4, 2009 pada 5:01 pm
Hejis:
Kalau rakyat menghendaki, saya sih siap ajah…
*nggaya tokoh politik: click*
INDAH REPHI // Maret 4, 2009 pada 5:04 pm
Hejis:
Wekekekek… trus airnya dibawa ke kantin deket kantor mba’e untuk bikin kopi, es teh, mi rebus… trus diminum mba’e…wuahahaha..
elistadyon // Maret 4, 2009 pada 5:35 pm
Hejis:
Apanya yang musti ditutup, mas? Oooo… biar gak porno yak?
Kita bebas ngomong kok, kan gak ada yang dirugikan?
antown // Maret 4, 2009 pada 6:03 pm
Hejis:
Di sini media memperlihatkan ketangguhannya. Tapi pengaruh yang kuat itu bergabung dengan kesesuaian preferensi kultural masyarakat…
Sibuk ya? Kabar saya lumangyan… Makin kratif aja neh…
fandi88 // Maret 4, 2009 pada 7:08 pm
Hejis:
Wkwkwk… mau tha ketiban batu 1 kwintal? Blog yang kamu kunjungi ini sekaran mendapat lisensi dari Ponari…he..he..
lam kenal juga yah…
Gusti Dana // Maret 4, 2009 pada 9:32 pm
Hejis:
Kayaknya dah ada yang kepeleset masuk ke syirik deh… Semoga tidak kebablasan ya mas.
Oya, saya Kamis kemarin ke kantor Smart Malang, kebetulan aksesnya sedg rusak. Kebetulan lagi, sampai di rmh Wimode Esia kembali mengadakan program unlimited. Jadi smntr sambil menunggu perkembangan saya masih menjajal Esia ini, mas. Terima kasih bnyk lho mas Gusti tlh memberikan bantuan infonya… Salam hangat
bokers // Maret 4, 2009 pada 9:48 pm
Hejis:
Weh?! Minum air kobokan…hehe…
Salam kenal juga ya. Segera meluncur.
Rita // Maret 4, 2009 pada 10:16 pm
Hejis:
Lho, iya mbak Rita. Mungkin malah dia menduduki jajaran pemimpin! Ah saya jadi malu dan ikut prihatin melihat kondisi masyarakat kita seperti itu.
anto84 // Maret 5, 2009 pada 3:13 am
Hejis:
Iya to mas?
anto84 // Maret 5, 2009 pada 3:15 am
Hejis:
Hebat ya!?
anto84 // Maret 5, 2009 pada 3:16 am
Hejis:
Wah, hebad!!!! Huahaha….
sibaho // Maret 5, 2009 pada 5:51 am
Hejis:
Begitu ya, mas? Imbauan penelitian diteruskan kepada Prof. Dr. untuk meneliti tongkat nabi Musa… ayo silakan Bapak/Ibu dikerjakan…
HE. Benyamine // Maret 5, 2009 pada 8:13 am
Hejis:
Belum, mas. Menunggu dibuatnya undang-undang…
prameswari // Maret 5, 2009 pada 9:49 am
Hejis:
Untuk pihak tertentu memang demikian mbak Noengki. Malah ada yang bermobil pribadi ikut berobat. Artinya, bukan melulu pada masalah pelayanan kesehatan oleh pemerintah melainkan juga pada masalah pendidikan dalam arti luas. Oleh sebab itu, peningkatan anggaran pendidikan janganlah dijadikan komoditas politik semata. Perlu pemahaman tentang hakikat pendidikan dari para pemimpin kita untuk meningkatkan kualitas peradaban manusia…
akselman1mlg // Maret 5, 2009 pada 12:22 pm
Hejis:
Wekekek… konvensi blogger gila….hahaha…
husnun // Maret 5, 2009 pada 4:47 pm
Hejis:
Setuju, Cak. Apakah kita telah berperilaku sehat ketika belum sakit. Dan, saat sakit kita mau cara superkilat untuk sembuh.
husnun // Maret 5, 2009 pada 4:49 pm
Hejis:
Lik Heri duwitnya banyak banget. Jadi, gonta-ganti…hehehe…
sparkzspot // Maret 5, 2009 pada 5:08 pm
Hejis:
Thank’s bro. I’ll add yours too. Insya Allah I’ll drop by… Cheers!!!
bokers // Maret 5, 2009 pada 8:09 pm
Hejis:
He’eh… segera ke TKP.
tanti // Maret 5, 2009 pada 9:55 pm
Hejis:
Hehehehe… sungguh mesra panggilanmu, mbak Tanti. Naksir sama Ponari ya…
han han // Maret 5, 2009 pada 10:07 pm
Hejis:
Perlu waktu untuk proses pembelajaran ya mas…
agungfirmansyah // Maret 5, 2009 pada 10:32 pm
Hejis:
Serba ingin cepat, mudah, tanpa menghargai proses. Penyakit keturunankah? Iya, ya mas. Semoga cepet tobat…
hidayanti // Maret 6, 2009 pada 1:03 am
Hejis:
Hehehe… memang edan ya. Ra edan ra keduman…
hidayanti // Maret 6, 2009 pada 1:04 am
Hejis:
Kalau gurunya mbak Yanti, saya ikutan deh…
septarius // Maret 6, 2009 pada 10:59 am
Hejis:
Enak dong… hehehe…
septarius // Maret 6, 2009 pada 11:02 am
Hejis:
Lho, matur suwun kok nangis…uhuhuhu….
marshmallow // Maret 6, 2009 pada 11:42 am
Hejis:
Fenomena Ponari membukakan mata kita bahwa kita belum beranjak jauh dari pemikiran terbelakang di saat gegap gempita kemajuan ilmu dan teknologi. Saya setuju, kita mestinya menghargai usaha keras dari kalangan ilmuwan medis yang bertahun-tahun meneliti untuk pengobatan penyakit dengan menggunakan olah pikir anugerah Allah Yang Maha Kuasa, bukan pemikiran tanpa dasar dan ngawur itu… Terima kasih, mbak Mars. Engkau memang seindah planet Mars… hehehe…
kweklina // Maret 6, 2009 pada 12:13 pm
Hejis:
Iya mbak di sini (Indonesia) sedang ingar-bingar membincangkan Ponari. Ribuan orang datang mengantri untuk berobat. Banyak yang gak bisa dapat airnya Ponari, mreka ambil air comberan, tanah, dsb. Entah mereka menggunakan landasan berpikir macam apa…
Didien® // Maret 6, 2009 pada 4:42 pm
Hejis:
Ada kok mas. Lha itu! mbak Mahardhika Dewi kan? Huahahaha…
geRrilyawan // Maret 6, 2009 pada 4:52 pm
Hejis:
Ya, benar. Banyak keajaiban di dunia ini. Cuma berobat dengan cara seperti itu kalau manjur ya ajaib. Apakah manjur? Ajaib!
Sarah Tahnia // Maret 6, 2009 pada 5:23 pm
Hejis:
Oleh karena itu, memberantas keterbelakangan juga memberantas pemikiran yang melenceng dari ajaran agama ya mbak. Memang mengerikan…
bocahbancar // Maret 6, 2009 pada 5:25 pm
Hejis:
Kalau sudah setuju berarti selanjutnya makan-makan ya…haha…
Rizal // Maret 6, 2009 pada 11:36 pm
Hejis:
Aji mumpung mas Rizal.
Btw, senang sekali bisa kembali terjerumus di dunia maya…hahaha… bagaimana kabar nih? Welcome back!
Rizal // Maret 6, 2009 pada 11:37 pm
Hejis:
Terima kasih, mas. Salam jumpa lagi. Jangan pergi lagi lho ya..hehe…
syaharuddin // Maret 7, 2009 pada 4:24 am
Hejis:
hehehe… Ponari… Ponari… kau telah “membantu”
mahardhika dewi // Maret 7, 2009 pada 5:37 am
Hejis:
Tenang aja, mbak. Tidak tertinggal kok, masih ada waktu. Huahaha… laut mana neh? Lha kalau dilempar ke laut ya jadi kembung dong…
mahardhika dewi // Maret 7, 2009 pada 5:41 am
Hejis:
Dari kemarin itu mas Didien mencari orang yang namanya Mahardhika Dewi, gak ketemu-ketemu…
Eh gak ding. Sssst… jangan bilang siapa-siapa ya. Ini untuk kita berdua aja. Sini kubisikin… mas Didien itu kepengen kayak Ponari. Makanya ke sini untuk belajar ngobati kayak Ponari. Dikira saya embahnya Ponari… huahahaha… Sssst.. jangan bilang mas Didien lho ya?!!
thevemo // Maret 7, 2009 pada 10:45 am
Hejis:
Memang memprihatinkan dari berbagai sudut pandang bahkan agama ya.
Rossa // Maret 7, 2009 pada 3:41 pm
Hejis:
Yang jelas saya tidak marah sama mbak Rossa. Saya berterima kasih sama mbak Rossa..hehehe…
Bagaimana kabar do’i-nya yang baru…
duniafannie // Maret 7, 2009 pada 5:42 pm
Hejis:
Maksudnya, senyum saya menarik ya mbak Fannie. Aduh, terima kasih. Sudah dua bulan ini gak ada yang memuji senyum manisku….huahaha… *GeEr: click*
Terima kasih, mbak. Semoga mbak Fannie juga sehat yah
an9el // Maret 7, 2009 pada 8:48 pm
Hejis:
Berapa harganya, mbak?
hmcahyo // Maret 8, 2009 pada 6:57 am
Hejis:
Okeh… okeh… siap!
Menik // Maret 8, 2009 pada 12:19 pm
Hejis:
Iya, Bun. Rakyat pengen berobat murah dan berkualitas. Cuma kok solusinya dengan cara spt itu ya??
antown // Maret 8, 2009 pada 4:58 pm
Hejis:
Sementara dua-duanya kalau bisa terurus.
yenin // Maret 8, 2009 pada 5:23 pm
Hejis:
Iya sih. Tapi, sebaiknya dicari jalan yang “sehat” agar sehat…
Andre // Maret 9, 2009 pada 1:01 am
Hejis:
Kalau mau coba, ke sini aja, mas. Airnya malah sudah dijus jadi rasanya mak nyusss…
Hafid Algristian // Maret 9, 2009 pada 2:19 am
Hejis:
hmmm…. hmm…
*mantuk-mantuk*
Infinite Justice // Maret 9, 2009 pada 9:59 am
Hejis:
Hehehe… jodoh di tangan Tuhan ya…
kw // Maret 9, 2009 pada 10:46 am
Hejis:
Iya, Ponari dieksploitasi di tengah-tengah kondisi kultural masyarakat yang masih lebih berorientasi ke hal-hal gaib
adel // Maret 9, 2009 pada 1:06 pm
Hejis:
Iya, masa kecil ilang, masa gedenya belum…. that’s a pitik-walik…hehehe..
audy // Maret 9, 2009 pada 1:08 pm
Hejis:
Iya, ramenya cuman kayak gitu ya… Coba rame memberantas kemiskinan, kebodohan, kejahatan, dan keterbelakangan lainnya.
Khoirul Huda // Maret 9, 2009 pada 5:17 pm
Hejis:
Masa kanak2 yang hilang tak mungkin akan kembali. Profesor dengan temuan batu geledek… hehehe…
bluethunderheart // Maret 9, 2009 pada 5:52 pm
Hejis:
Ya, mas. Sudah kurespon. Positif!
mahardhika // Maret 9, 2009 pada 6:23 pm
Hejis:
Hehehe… wah, sumur pembawa berkah jadi gak perlu skulah…hah..hah..
mahardhika // Maret 9, 2009 pada 6:27 pm
Hejis:
Hihihi… itu kucing seniman, mbak Ika. Mau, mau?
genthokelir // Maret 9, 2009 pada 6:51 pm
Hejis:
Masyarakat yang susah menjadi dewasa. Wuahaha… batu itu bisa dijuwal mas. Harganya pasti lebih mahal. Soalnya lebih gede…hehehe…
cipzto // Maret 9, 2009 pada 7:19 pm
Hejis:
Salam dahsyattt!!
sparkzspot // Maret 10, 2009 pada 12:53 am
Hejis:
Ok’s. Thank you very much, brot…
Oef Anantasena // Maret 10, 2009 pada 6:09 am
Hejis:
Betul, mas. Kalau Allah sudah kun… maka sampeyan datang ke sini. Dan, saya jadi seneng…haha…
hmcahyo // Maret 10, 2009 pada 6:23 am
Hejis:
Salam hangat selalu..hehehe..
kahfinyster // Maret 10, 2009 pada 9:05 am
Hejis:
Ponari sekarang sudah skolah di Singapore!! Haha…
agustriku // Maret 10, 2009 pada 10:21 am
Hejis:
Bolehkan disebut “Negara sensasional…?” hehehe…
Sapi cantik dan seksiiiii // Maret 10, 2009 pada 11:21 am
Hejis:
Yo, mboke Ponari… Btw, dirimu sekarang koq seksi sekali? Hihihi…
sapi // Maret 10, 2009 pada 11:23 am
Hejis:
Perdamaian… perdamaian… banyak yang suka damai… tapi perang makin rameeeeeeeee…
yunitasulistya // Maret 10, 2009 pada 1:41 pm
Hejis:
Kabarku baik, mbak. Mbak Yuni sendiri bagaimana, sehat aja ya? Iya soalnya lagi sibuk ngurusi sekolahnya si Ponari ini…hehehe… Salam hangat juga yah
olip // Maret 10, 2009 pada 2:02 pm
Hejis:
Hai juga…
Pesen lagi deh… 1 mangkok mi ayam…hehehe…
goenoeng // Maret 10, 2009 pada 2:04 pm
Hejis:
Iya, setuju banget, mas!! Nanti saya mengundurkan diri dulu dari PNS. Trus ngurusi perdukunan njenengan ya. 10 persen? No way! 90 persen!!
meylya // Maret 10, 2009 pada 3:16 pm
Hejis:
Ayo, partai-partai calon penguasa. Dengarlah suara rakyat, misalnya suara tentang perlunya pelayanan kesehatan yang terjangkau, baik, dan cespleng…
Didien® // Maret 10, 2009 pada 3:49 pm
Hejis:
Alhamdulillah, lancar, mas Didien. Yang talkshow kemarin saya, mas Heri M. Cahyo, dan 2 rekan dari Blogger Ngalam.
warok_suromenggolo // Maret 10, 2009 pada 3:53 pm
Hejis:
Wakakak… terus air bekas mandi sampeyan itu apa mau dijuwal untuk obat… hahaha…
Salam persahabatan ya mas
yuni // Maret 11, 2009 pada 12:18 pm
Hejis:
Syukurlah mbak, jika sehat selalu. Salam hangat ya.
SIge // Maret 11, 2009 pada 10:03 pm
Hejis:
Itu ngantri nunggu mas Sige… hehe… Apalagi kalau dicelup di danau ya. Bisa cukup untuk seluruh rakyat…
Nug // Maret 12, 2009 pada 6:58 pm
Hejis:
Wekekek… Menteri Pariwisata, Yth. Bapak Ponari sambil ke mana-mana membawa batunya. Ia malah sudah pasang iklan untuk minuman yang dapat franchise darinya lho…hehe…
cinta // Maret 15, 2009 pada 7:52 am
Hejis:
Karena disuguhi kemanjaan luar biasa…
alexa // Maret 15, 2009 pada 9:02 am
Hejis:
Kesibukannya mesti dialihkan ya mbak
alexa // Maret 15, 2009 pada 9:06 am
Hejis:
Terima kasih juga dari saya, mbak Alexa. Silakan, silakan ditunggu. Blogmu sudah nangkring di blogrollku..
adhieputra // April 14, 2009 pada 9:14 pm
mbahnya terbelakang tadi, ayo kita keroyok, jadi gak sabaran saya
hehe