Ri… Ponari… terima kasih ya?!

Maret 3, 2009 · & Komentar

Oleh Hejis

Dukun tiban Ponari benar-benar fenomena luar biasa. Ndak luar biasa gimana wong bocah 10-an tahun menjadi anak yang kredibel di mata puluhan ribu orang bahkan mungkin ratusan ribu atau jutaan. Yang jelas tiap hari ribuan orang berduyun-duyun antri dan percaya 100 persen untuk mengobati dirinya.

Dari sisi kultur masyarakat kebanyakan, ia makhluk yang ditunggu-tunggu di zaman susah mengobati penyakit. Yang mahallah, yang buruk pelayanannyalah, yang sulit aksesnyalah. Masyarakat merindukan obat yang cespleng, murah, dan gampang didapat (tidak birokratis).

Analisis fenomena Ponari telah banyak dilakukan oleh para ahli (dan, tentu saja juga yang tidak ahli). Umumnya dan tragisnya berakhir pada hujatan kepada pemerintah karena pemerintah dianggap kurang memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada rakyat. Jadi, fenomena Ponari yang muncul tanpa bermaksud mengkritik kebijakan pemerintah, tetapi dipakai untuk menghujat pemerintah! Huuuuuu… kasihan deh pemerintah.

Menurut Hejis, analisis itu belum sepenuhnya tepat dan mendalam… halah! Iya. Coba tengok dari sisi perilaku rombongan pengantri itu. Lalu tengok juga dari sisi panitia “penyambutan” masyarakat lokal terhadap para pendatang yang antri itu. Dan, satu lagi, para pejabat lokal yang gamang menghadapi peristiwa Ponari itu.

Masyarakat pengantri itu hanya berlogika segala macam penyakit dapat diobati dengan cara Ponari. Atau, oleh Ponari. Tak peduli logika ilmiah, pemikiran linier, pembuktian empiris. Pertanyaan saya kepada mereka. Dengan dunia logika yang seperti itu, apakah mereka juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Mestinya ya bila mereka mau dianggap konsisten. Contoh, jika mereka lapar mereka mestinya juga harus menggunakan logika itu dengan cara sim salabim, lalu kenyang. Jika mereka ingin lulus sekolah mereka mestinya juga harus menggunakan logika sim salabim, lalu lulus. Sama seperti jika mereka sakit dan sim salabim, lalu sembuh.

Kepada panitia penyambutan para pasien Ponari, layak juga diajukan pertanyaan. Terhadap orang-orang yang susah yang datang untuk berobat dari luar kota sudahkah diperlakukan dengan wajar? Mereka susah-payah untuk mengakhiri penderitaan sakitnya yang mungkin sudah lama tetapi di tempat Ponari mereka harus membeli tiket antri yang diberi tarif resmi Rp 2.000,- namun dijual Rp 5.000,- Kelihatannya kok ada aji mumpung ya. Mengambil kesempatan dalam keterpepetan. Bukannya lebih baik mereka menjamu tamu-tamu Ponari yang sedang kesusahan itu dengan memberikan minum, makan, pondokan? Dulu masyarakat Indonesia seperti itu! Kalau ini sekarang berat ya tidak perlu. Cuma, jangan menambah beban berat mereka… halah!

Kepada para pejabat lokal perlu juga diberi pertanyaan nih… Apakah mereka tidak bisa mengantisipasi dampak pengobatan ala Ponari, baik dari sisi logika, ketertiban, kelangsungan dunia logika yang sehat, atau kultur? Jika sejak awal mereka tegas melarang pengobatan seperti itu karena melanggar undang-undang kesehatan, misalnya, maka mereka telah menyelamatkan masyarakat dari keterbelakangan kultur. Atau minimal mencegah sementara. “Hebatnya” lagi, ada seorang anggota dewan yang ngotot minta dibukanya kembali pengobatan Ponari yang sudah ditutup. Ini mah mbahnya terbelakang!

Menurut hemat saya (memang saya perlu berhemat…he… he…), fenomena pengobatan Ponari jangan dilanjutkan. Mengapa? Kita hidup di dunia yang berbeda dengan zaman nabi-nabi dulu. Di zaman nabi-nabi dulu Tuhan memang memberikan rakhmat kepada orang-orang tertentu sehingga dapat mengobati dengan cara yang tidak lazim karena tantangan kehidupan waktu itu berat, ilmu kedokteran belum ditemukan. Kini orang sudah dikaruniai ilmu yang lebih tinggi mestinya melanjutkan memelajari ilmu kedokteran itu. Lagi pula cara-cara pengobatan Ponari dan Ponari-Ponari yang lain tidak bisa dibuktikan oleh akal sehat. Bagaimana mungkin kehidupan manusia dilandasi oleh bukti-bukti yang tidak bisa dibuktikan?

Memang kadang-kadang ilmu kedokteran pun tidak mampu mengatasi suatu penyakit. Namun, bukan berarti kita beralih ke ilmu yang lebih samar-samar. Jika pernyataan ini diterima, dunia pendidikan mestinya belajar bagaimana mengajari murid-murid agar berpikiran ilmiah. Segala hal yang diinginkan mesti diusahakan dengan cara-cara menurut cara kerja otak yang logis. Jika dunia pendidikan tidak menghasilkan manusia-manusia logis, maka fenomena Ponari akan terus terulang dan kita menjadi masyarakat yang jauh tertinggal dari negara lain. Akibatnya, kita menjadi masyarakat yang dijajah secara ekonomi, politik, kultural.

Cuma, bagaimana pun Ponari telah menyadarkan saya bahwa pendapat tentang masyarakat kita yang telah cerdas perlu disertai dengan tanda tanya, benarkah? Makanya… ri… Ponari… terima kasih ya?!***

Kategori: UMUM
Ditandai: , , , ,

110 tanggapan so far ↓

  • mamas86 // Maret 3, 2009 pada 7:16 am

    Hahahahaha… Itulah hebatnya Indonesia.

    Hejis:
    Ya, Indonesia tercinta beserta peristiwanya yang tiada duanya..he..he..

  • pakde // Maret 3, 2009 pada 8:50 am

    Nampaknya ini hanya Fenomena sesaat mas, Ketika sebuah produk baru muncul, antusias warga di indonesia jadi korban fenomena sesaat itu. Anehnya kultur semacam itu koq LESATRI ya…?

    Hejis:
    Heran jg ya negara sudah cukup umur tetapi tetap belum dewasa juga…

  • akselman1mlg // Maret 3, 2009 pada 11:23 am

    hidup ponari sweat :)

    gimana kabarnya pak heru

    ini sya lagi bikinkan blog program akselerasi MAn 1

    http://hmc.web.id :D

    bblognya sekarang sudah kembali normal…, dulu nyambung2 ke blogspot bingung saya :D

    Hejis:
    Wekekek… hidup Ponari! Ya mas, itu coba-coba aja…

  • akselman1mlg // Maret 3, 2009 pada 11:29 am

    coba cek ini pak

    http://dcamz.web.id — . ada logo hiblogikoh di blog itu bisa dikopi paste :D di sidebar kanan :D

    Hejis:
    Sudah tak pasang sebagai partai baru… :D

  • Om Shani // Maret 3, 2009 pada 11:40 am

    Saya Setuju dengan komentar yang mengatakan itu CUMA FENOMENA SESAAT alias Hangat2 Tai Ayam…..

    Salam kenal……..mampir ya………

    Hejis:
    Ya anget2 tai ayam. Cuma ayamnya banyak banget…

  • tuyi // Maret 3, 2009 pada 11:46 am

    Ya mending ditutup, daripada nanti mengarah ke syirik..
    Makasih ya Ponari..

    Hejis:
    Betul, lha wong batu disembah2…

  • Didien® // Maret 3, 2009 pada 11:56 am

    mengenai khasiat…wallahualam bisyawab..
    setidaknya memberi angin segar bagi mereka yg membutuhkan.. :roll: asal jgn menjadi musyrik aja…

    salam silaturrahmi,

    Hejis:
    Kelihatannya sudah ada yang musyrik ya.. Salam silat juga mas Didien :roll:

  • omiyan // Maret 3, 2009 pada 12:35 pm

    sebuah alternatif setelah wong cilik kagak bisa ngasih DP ketika masuk RS

    Hejis:
    Sebagian karena kurang mampu uangnya untuk berobat ke RS. Sebagian lagi punya uang banyak (datangnya bawa mobil), juga kurang mampu, tapi kurang mampu berpikir rasional…

  • isfiya // Maret 3, 2009 pada 12:52 pm

    hahaha….. cihuyyy pak heru balik lagiiii……..

    Hejis:
    Cihuyyy.. mbak Fitri datang lagiiii….

  • isfiya // Maret 3, 2009 pada 12:52 pm

    Pendukung Ponari ya Pak…. pake spanduk nggak…hehehe

    Hejis:
    Iya, pendukung berat malah. Ponari.. Ponari… alangkah indahmu :mrgreen:

  • Didien® // Maret 3, 2009 pada 1:30 pm

    mo nyari airnya ponari..?? g usah k jombang, skrg udh ada di minimarket dan toko² terdekat produk ponari..
    cari saja “Ponari Sweat” :mrgreen:
    bukan begitu pak Heru..??? :smile:

    Hejis:
    Wekekek… Bukaaaannn!! Itu Poccari Sengit…

  • Didien® // Maret 3, 2009 pada 1:41 pm

    Hatrixxx… special buat pak Heru nan kocak .. :mrgreen:

    Hejis:
    Alhamdulillah, akhirnya dapat hetrik juga. Semoga Tuhan memberikan pahala untuk mas Didien nan koclak… wakakak…

  • boyin // Maret 3, 2009 pada 2:00 pm

    tapi ponari sekarang udah dilarang praktek lagi..habis jadi nggak sekolah dia..kasian khan..

    Hejis:
    Sebaiknya memang dilarang meski sudah terlambat…

  • siwi // Maret 3, 2009 pada 3:16 pm

    Karena biaya kesehatan yang mahal akhirnya semua lari ke Ponari.
    Kalo saja nanti ada yang nemu batu lagi dan bisa membuat orang jadi pintar, pasti banyak yang mau juga ngantri kesana, daripada sekolah mahal dan susah mending tinggal minum air celupan batu langsung bisa jadi profesor :P

    Hejis:
    Mau tha mbak tak celup biar basah…. wakakak…

  • cahayadihati // Maret 3, 2009 pada 3:57 pm

    hehehehe….
    Pak Hejis yaya datang sekedar menyapa?
    bagaimana kabar?
    Ponari…mendadak dukun dan mendadak seleb hehehehe…

    Hejis:
    Ke mana aja toh mbak Yaya, kucari di seluruh pelosok negeri kok gak kelihatan? Iya mendadak Ponari…

  • langitjiwa // Maret 3, 2009 pada 5:04 pm

    akhirnya jadi ke tempat Ponari,mas. hahhaha…..

    bisa jg melalui Ponari
    Allah memberi rejeki kepada pedagang2 disana.
    dan,utk batu ponari bisa menyembuhkan segala macam penyakit itu jg mungkin bisa.kalau Allah sdh memberi sesuatu kelebihan pd seseorang apa kita bisa menolaknya utk suatu kebaikan.

    nah! disini yg repotnya oknum2 yg tdk bertangung jawab jg bermain disana.
    mata siapa sich yg gak hijau melihat perputaran uang disana bgtu besar,mata saya aja pasti hijau.hahaha…..

    ponari..ponari…segeralah kau tidur,nak
    esok kau hrs berangkat kesekolah
    setelah itu bantu ayah membajak sawah
    ,yg kini sudah menguning gading
    batumu itu buatkan bingkai
    lalu kau gantung pada dinding kamarmu
    kelak bila kau sudah dewasa,kau akan tersenyum haru,dimana namamu menjadi fenomenal karena batu bertuahmu itu.
    ponari…ponari…..

    salamku

    Hejis:
    Selalu ada rejeki di musibah sekali pun… Saat dewasa Ponari malah jadi Insinyur, mungkin..ha..ha..

  • sunarnosahlan // Maret 3, 2009 pada 8:18 pm

    Ponari sebenarnya tidak bermasalah apa-apa. pelaku utamanya bukan Ponari kan?

    Hejis:
    Iya, awalnya Ponari tidak bermasalah. Sekarang setelah orang dewasa bermain, Ponari menjadi amat manja bahkan kurang ajar berani menendang Kapolres (?) Jombang…

  • Rindu // Maret 4, 2009 pada 8:20 am

    setuju pak De, dihentikan lah gaya pengobatan spt ini yah, kan ponari musti sekolah … atau batunya di kasih si mpok nari [pelenong betawi] buat bahan lawakan :)

    Hejis:
    Alhamdulillah disetujui… hehehe… batu kok jadi bahan lawakan. Batu untuk bahan membuat uleg-uleg untuk bikin sambal… :roll:

  • arvernester // Maret 4, 2009 pada 8:50 am

    ehmm, ini lebih kearah pendapat pribadi. fenomena memang tidak abadi, bahkan bisa berubah dalam sekejap.

    Hnaya saja kejadian di balik fenomena itu yang agak sulit ditangkap panca indera.
    huuuhaa

    Hejis:
    Betul mas. Kalau sulit dengan panca indera, maka perlu kita tangkap dengan Pancasila ya.. :D

  • kenuzi // Maret 4, 2009 pada 9:31 am

    he…he… itulah gambaran kecil masyarakat kita, selalu berpikir instan. Apa yang menjadi fenomena Ponari mari kita ambil hikmahnya….

    Hejis:
    Mestinya masyarakat semacam itulah yang perlu prioritas untuk ditingkatkan taraf hidup dan kecerdasannya ya mas..

  • radesya // Maret 4, 2009 pada 9:43 am

    Ada persamaan antara ponari dengan mpoknori, mereka sama-sama menghibur ya Pak..
    Tapi memang mesti ditutup, biar ponari bisa belajar lagi, yang lebih penting agar terhindar dari syirik, tapi bagaimanapun juga, harus berterima kasih sama ponari

    Hejis:
    Wekekek… bisa aja nih mpok Rara… Ayo belajar dari Ponari… :D

  • anas // Maret 4, 2009 pada 9:57 am

    pemerintah hrs sadar betapa rapuhnya kesehatan rakyat di negeri ini.
    liat aja fenomena antri berobat di dukun ponari.

    Hejis:
    Pemerintah rapuh, rakyat apalagi….

  • yoan // Maret 4, 2009 pada 11:03 am

    huehehehe….

    untuk membuktikan pada dunia bahwa masyarakat Indonesia memang terbelakang *seperti yg dicontohkan anggota DPR ituh…*,

    yaa kita rame2 ngeluruk ke istana negara sekalian, minta pak sby utk buka lagi praktek ponari…

    atau kalo perlu ponari kita daftarkan saja ke guiness book of record, biar indonesia terkenal…
    dengan keterbelakangannya…

    :peace:p

    Hejis:
    Hehehe… Indonesia, telah banyak memproduksi peristiwa yang terkenal di dunia dengan keterbelakangannya, termasuk saya…. :D

  • indah rephi // Maret 4, 2009 pada 11:06 am

    HIDUUP PONARIIII!!!

    Hejis:
    HIDUP INDAH REPHIIII!!!! Hahaha…

  • indah rephi // Maret 4, 2009 pada 11:06 am

    memang lebih baik tempat praktek Ponari ditutup..kasian ponari kan ya? masih kecil udah dipaksa jadi dukun…

    Hejis:
    Betul, mba’e. Masih kecil kok disuruh jadi dukun. Biar yang dewasa aja yang jadi dukun, kayak sayah…he..he..

  • DIAJENG // Maret 4, 2009 pada 11:22 am

    Disatu sisi ponari bisa sedikit meringankan beban yg merasa tersembuhkan…tapi di lain sisi…masa kecilnya menjadi hilang karena harus mengobati banyak sekali pasien :)

    Hejis:
    Mungkin untuk masalah pengobatan, serahkan saja pada ahlinya. Biarlah Ponari bersekolah… a..yo….seko..lah..hahaha..

  • DIAJENG // Maret 4, 2009 pada 11:24 am

    yah..semoga ponari tetap bahagia lah :)

    Hejis:
    Kalau saya juga mendoakan semoga Diajeng tetap bahagia… :D

  • faiq // Maret 4, 2009 pada 2:07 pm

    masyarakat kita, masih sangat percaya mistik dan klenik…ya gak jauh..jauh dari mantra, batu, jimat, jin, setan, dan sejenisnya..

    Hejis:
    Betul sekali. Bgm caranya agar masyarakat kita berpikir lebih rasional, itulah salah satu tgs dunia pendidikan kita

  • ipji // Maret 4, 2009 pada 3:10 pm

    Ponari for Presiden 2019 hehehehe

    Hejis:
    Huahaha… nanti kita menyebutnya… Yang Mulia Bp. Presiden Ponari… :mrgreen:

  • DIAJENG // Maret 4, 2009 pada 3:18 pm

    sugeng sonten..apa sampeyan sudah makan hari ini ? (*ngikut gayane ndoro kakung) :)

    Hejis:
    Sugeng sonten ugi, Diajeng. Hari ini saya baru makan 4 x…hehehe…

  • radesya // Maret 4, 2009 pada 3:25 pm

    Pak Heru pernah baca ‘The Hidden Message in Water oleh Dr.Masaru Emoto?
    Di situ dijelaskan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, mungkin ini ada kaitannya dengan airnya ponari, mungkin yang bisa menyembuhkan itu bukan batunya tapi airnya tentu saja dengan seizin Alloh. coba Bapak baca deh, bukunya menarik untuk dibaca

    met sore Pak :)

    Hejis:
    Rasanya belum pernah baca buku itu mbak. Wah cukup menarik ya, coba nanti saya lihat-lihat kalau ada bukunya (eh carinya ke mana ya…).

    met sore juga, mbak…

  • DIAJENG // Maret 4, 2009 pada 3:54 pm

    Pulang aaah….pamit dulu yach..:)

    Hejis:
    Lho, kok buru-buru? Ya udah TTDJ ya… :P

  • reni // Maret 4, 2009 pada 4:21 pm

    Ponari memang hebat bisa membuat banyak orang kehilangan akal sehat.
    Kemarin-kemarin aku juga ingin posting tentang Ponari tapi batal karena gak tau bagaimana bisa mengulasnya dengan asyik. Tapi ternyata…, Pak Heru bisa menyajikannya dg keren banget. *iri mode on* Bravo…

    Hejis:
    Ya, mbak. Pejabat pun tak kalah hilang akalnya… Jangan-jangan kesedot batu geledegnya ya…

    Ah, mbak Reni paling bisa deh… ;)

  • INDAH REPHI // Maret 4, 2009 pada 5:01 pm

    mas heru aja yang gantiin ponari, gimana mas? :roll:

    Hejis:
    Kalau rakyat menghendaki, saya sih siap ajah…
    *nggaya tokoh politik: click*

  • INDAH REPHI // Maret 4, 2009 pada 5:04 pm

    kemaren itu pada berobat tempat ponari, dikasih air celupan batu plus tangannya ponari. bilangnya banyak yang sembuh..padahal itu ya, si ponari habis ngupil, garuk2 p****t garuk2 kepala, dll, pake tangannya dia. hiiiii….

    Hejis:
    Wekekekek… trus airnya dibawa ke kantin deket kantor mba’e untuk bikin kopi, es teh, mi rebus… trus diminum mba’e…wuahahaha..

  • elistadyon // Maret 4, 2009 pada 5:35 pm

    Thats right,thats right,thats righ.Ponari musti ditutup(gue salah ngomong nggak?)

    Hejis:
    Apanya yang musti ditutup, mas? Oooo… biar gak porno yak? :mrgreen:
    Kita bebas ngomong kok, kan gak ada yang dirugikan?

  • antown // Maret 4, 2009 pada 6:03 pm

    ponari terkenal gara2 media, dan kemarin mendadak kampungnya sepi gara2 sudah berhenti praktek. bukan begitu ya?

    baru sempat mampir nih pak, pakabar?

    Hejis:
    Di sini media memperlihatkan ketangguhannya. Tapi pengaruh yang kuat itu bergabung dengan kesesuaian preferensi kultural masyarakat…

    Sibuk ya? Kabar saya lumangyan… Makin kratif aja neh… :P

  • fandi88 // Maret 4, 2009 pada 7:08 pm

    kenapa ga’ gw aja yah ketiban batu itu,, pasti bakal jadi seleb dadakan deh.. trus dp kontrak iklan, rekaman.. maen pelem.. trus side-job’nya baru praktek pengobatan alternatif,, :)

    tapi sekarang kan udah ditutup kan Om.. Ponari prakteknya sekarang lewat internet,, :lol:

    lam kenal,..

    Hejis:
    Wkwkwk… mau tha ketiban batu 1 kwintal? Blog yang kamu kunjungi ini sekaran mendapat lisensi dari Ponari…he..he..
    lam kenal juga yah…

  • Gusti Dana // Maret 4, 2009 pada 9:32 pm

    Kalau saya malah gak tertarik sama sekali mas..takut jadi syirik.Apalagi semakin nampak kalau udah tanda2 dekat akhir jaman.
    Ini masih cobaan dari Allah melalui seorang bocah Ponari,lha ntar kalau sampai cobaan melalui Dajjal bagaimana???.Wong notabene Ponari itu gk ada apa-apanya dibandingkan Dajjal..Naudzubillah..!!.

    Oh ya..mas coba pakai modem smart aja,cuma 300rb-an udah dapat hp+gratis internet 6 bulan.Syaratnya cuma kartu dalam keadaan aktif…,yaitu ngisi 10rb/bln.Lumayan cepet dan jauh lebih murah daripada pakai esia.

    Hejis:
    Kayaknya dah ada yang kepeleset masuk ke syirik deh… Semoga tidak kebablasan ya mas.

    Oya, saya Kamis kemarin ke kantor Smart Malang, kebetulan aksesnya sedg rusak. Kebetulan lagi, sampai di rmh Wimode Esia kembali mengadakan program unlimited. Jadi smntr sambil menunggu perkembangan saya masih menjajal Esia ini, mas. Terima kasih bnyk lho mas Gusti tlh memberikan bantuan infonya… Salam hangat :D

  • bokers // Maret 4, 2009 pada 9:48 pm

    minum aer kobokan ponari ah,,,, hehe

    salam kenal mampir jug ya k blog boker,,,,

    Hejis:
    Weh?! Minum air kobokan…hehe…
    Salam kenal juga ya. Segera meluncur.

  • Rita // Maret 4, 2009 pada 10:16 pm

    hhahahaa… masak sih ada anggota dewan seperti itu??? jahhh baru tau aku mas !
    Yang paling membingungkan lagi saat nyasiin orang2 itu ngumpul di sekitar comberan rumah Ponari ngambilin air comberan dan gali lumpur disekita rumah POnari lalu ditempelkan dan diusap2usapkan ke badan, haduuuuu….. bener2 mati akal liatnya. Gak bergeming saya ketika liat nenek2 nimba air comberan itu… Yang muncul dlm benak, jgn2 diminum lagi tu air… hikkkkk… huhhhh….Kasiaaannn

    Hejis:
    Lho, iya mbak Rita. Mungkin malah dia menduduki jajaran pemimpin! Ah saya jadi malu dan ikut prihatin melihat kondisi masyarakat kita seperti itu.

  • anto84 // Maret 5, 2009 pada 3:13 am

    lah komenku ilang

    Hejis:
    Iya to mas?

  • anto84 // Maret 5, 2009 pada 3:15 am

    ponari2 cah cilik kok wis sugih

    Hejis:
    Hebat ya!?

  • anto84 // Maret 5, 2009 pada 3:16 am

    goallllllllllllllllllll yes..hetrik..lari ah

    Hejis:
    Wah, hebad!!!! Huahaha….

  • sibaho // Maret 5, 2009 pada 5:51 am

    jangan percaya dokter, dokter itu mahluk. jangan percaya obat, obat itu mahluk.
    batu ponari? gak ilmiah, klenik? tolong para Dr, Prof. diselidiki juga dong tongkat nabi musa yang demikian saktinya bisa membelah laut merah…

    Hejis:
    Begitu ya, mas? Imbauan penelitian diteruskan kepada Prof. Dr. untuk meneliti tongkat nabi Musa… ayo silakan Bapak/Ibu dikerjakan… :roll:

  • HE. Benyamine // Maret 5, 2009 pada 8:13 am

    Ass.

    Ponari … apa sudah dapat sertifikat perdukunan?

    Hejis:
    Belum, mas. Menunggu dibuatnya undang-undang… :D

  • prameswari // Maret 5, 2009 pada 9:49 am

    Kalo mau dikembalikan pemerintah tentang biaya kesehatan yang mahal, keliatannya pemerintah juga sudah berusaha memberikan layanan kesehatan yang murah. Ongkos Puskesmas pun relatif sama dengan tiket ngantri Ponari. Jadi siapa yang salah? Pendidikan mungkin, mengapa masiy bisa menghasilkan orang-orang yang percaya Ponari ? Keliatannya justru itu pe-er pemerintah..

    Hejis:
    Untuk pihak tertentu memang demikian mbak Noengki. Malah ada yang bermobil pribadi ikut berobat. Artinya, bukan melulu pada masalah pelayanan kesehatan oleh pemerintah melainkan juga pada masalah pendidikan dalam arti luas. Oleh sebab itu, peningkatan anggaran pendidikan janganlah dijadikan komoditas politik semata. Perlu pemahaman tentang hakikat pendidikan dari para pemimpin kita untuk meningkatkan kualitas peradaban manusia…

  • akselman1mlg // Maret 5, 2009 pada 12:22 pm

    haduh… hiblogikoh jadi parte baru di blognya pak heru… wah kita musti ngadaain konvensi dulu ntar pemiilhan presiden,,, nngajukan calon…. ya itung2 nyaingi dedy mizwar :mrgreen:

    Hejis:
    Wekekek… konvensi blogger gila….hahaha…

  • husnun // Maret 5, 2009 pada 4:47 pm

    Nuwus ri…Ponari, kamu sudah menyadarkan banyak orang bahwa sehat itu mahal. Padahal kalau mau, sehat itu murah, tidak perlu antre berhari-hari untuk mendapat segelas air Ponari. Dan, kita juga terheran-heran, ternyata masih banyak masyarakat kita yang kesulitan menggunakan akal sehatnya

    Hejis:
    Setuju, Cak. Apakah kita telah berperilaku sehat ketika belum sakit. Dan, saat sakit kita mau cara superkilat untuk sembuh.

  • husnun // Maret 5, 2009 pada 4:49 pm

    Wah, Lik Heri gonta-ganti logo rek

    Hejis:
    Lik Heri duwitnya banyak banget. Jadi, gonta-ganti…hehehe…

  • sparkzspot // Maret 5, 2009 pada 5:08 pm

    Hi Friend.. Interesting post.. Nice cool blog.. Keep up the good work.. I have added you to my blog roll.. Hope you too will add mine.. Do visit my blog and post your comments.. Take care mate.. Cheers!!!

    Hejis:
    Thank’s bro. I’ll add yours too. Insya Allah I’ll drop by… Cheers!!!

  • bokers // Maret 5, 2009 pada 8:09 pm

    mas mampir lagi nih,,,

    mau bilang ada postingan baru tuh di blog saya,,

    mampir ya,,,

    Hejis:
    He’eh… segera ke TKP.

  • tanti // Maret 5, 2009 pada 9:55 pm

    ri… Ponari… terima kasih ya?!
    *nggak dijawab*

    ri.. Ponari…
    terima kasih ya……. :)

    ri… Ponari…
    riiiii….. Ponariiiiiii…………..

    *dicuekin sama Ponari*
    *lagi asyik main hp*

    Hejis:
    Hehehehe… sungguh mesra panggilanmu, mbak Tanti. Naksir sama Ponari ya… :roll:

  • han han // Maret 5, 2009 pada 10:07 pm

    ya semua hanya suatu proses pembelajaran pada pola pikir manusianya saja…

    Salut juga buat ponari yang telah diberi berkah akan hal itu….

    Hejis:
    Perlu waktu untuk proses pembelajaran ya mas…

  • agungfirmansyah // Maret 5, 2009 pada 10:32 pm

    Pembahasan yg unik. Ngeliat dari sudut pandang yg beda. Kayaknya orang2 Indonesia masih suka berbudaya serba instan.

    Makannya mi instant. Bumbu nasi goreng, instant. Sampe berobatpun instant. Urusan efek samping atau manjur ga manjur adalah belakangan.

    Tapi yg unik lagi, kekuatan sugesti orang2 Indonesia itu luar biasa lho…!!!

    Hanya dg “berobat” k ponari, yg secara logika ga bisa diterima akal, eh ya tetep sembuh jg. Hal ini disebabkan karena mereka punya sugesti setelah berobat maka sembuh.

    Moga2 kita cepet tobat deh.

    Hejis:
    Serba ingin cepat, mudah, tanpa menghargai proses. Penyakit keturunankah? Iya, ya mas. Semoga cepet tobat… :D

  • hidayanti // Maret 6, 2009 pada 1:03 am

    edan ya…sadar saya ternyata indonesia masih seperti jaman purbakala!! masih primitif.menyedihkan sekali dan sangat kecewa ternyata pemerintah hanya diam saja melihat hal ini..bahwa kenyataan begitu pahit masyarakat kita masih udik,masih terbelakang kulturnya,..kalo memang ternyata masyarakat indonesia senang dengan yang beginian mendingan kita kembali sekalian ke jaman kerajaan.hehehe…. asyik kan!!

    Hejis:
    Hehehe… memang edan ya. Ra edan ra keduman… :P

  • hidayanti // Maret 6, 2009 pada 1:04 am

    kayanya ponari itu harus ikutan kursus hipnotherapi deh…biar makin ajib!!!

    Hejis:
    Kalau gurunya mbak Yanti, saya ikutan deh…

  • septarius // Maret 6, 2009 pada 10:59 am

    enak kali jadi ponari hehehe

    Hejis:
    Enak dong… hehehe…

  • septarius // Maret 6, 2009 pada 11:02 am

    matursuwun Ri ponari uhuuhuhu :)

    Hejis:
    Lho, matur suwun kok nangis…uhuhuhu….

  • marshmallow // Maret 6, 2009 pada 11:42 am

    mas hejis, saya berterima kasih atas tulisan bagus ini. saya membaca tulisan senada mengenai ponari dari blog seorang rekan yang juga kritis, menganalogikan masyarakat indonesia yang jadi “pemuja batu” karena kelemahan pelayanan kesehatan kita (terutama tentunya bagi kalangan tak berduit).

    fenomena ponari mestinya disikapi dengan bijaksana, dan bukan membuat kita latah dan malah kembali ke zaman terbelakang di mana teknologi kedokteran masih belum berkembang seperti sekarang. dan benar sekali, pengobatan tradisional mungkin saja manjur, namun tetap dibutuhkan data-data empiris untuk membuktikan efektivitas penggunaannya.

    apalagi bila menggunakan obat-obatan. bukankah setiap obat adalah racun? seringkali batasan antara therapeutic and lethal doses itu sangat sempit.

    Hejis:
    Fenomena Ponari membukakan mata kita bahwa kita belum beranjak jauh dari pemikiran terbelakang di saat gegap gempita kemajuan ilmu dan teknologi. Saya setuju, kita mestinya menghargai usaha keras dari kalangan ilmuwan medis yang bertahun-tahun meneliti untuk pengobatan penyakit dengan menggunakan olah pikir anugerah Allah Yang Maha Kuasa, bukan pemikiran tanpa dasar dan ngawur itu… Terima kasih, mbak Mars. Engkau memang seindah planet Mars… hehehe…

  • kweklina // Maret 6, 2009 pada 12:13 pm

    wah kayaknya Ponari lagi menjadi bahan pembicaraan yang hangat diindonesia..

    kadang malah membuat kita bingung…
    percaya dengan hal begini, tapi benar2 sembuh…tak percaya…siapa yang mau sakit terus?

    apapun semoga cepat terbukti apa sih sebenarnya kehebatan ponari, apakah berasal dari Tuhan atau malah dari setan…

    semoga masyarakat lebih kristis dalam hal-hal yang aneh begini.

    Thanks infonya…baru tahu juga nih!

    Hejis:
    Iya mbak di sini (Indonesia) sedang ingar-bingar membincangkan Ponari. Ribuan orang datang mengantri untuk berobat. Banyak yang gak bisa dapat airnya Ponari, mreka ambil air comberan, tanah, dsb. Entah mereka menggunakan landasan berpikir macam apa…

  • Didien® // Maret 6, 2009 pada 4:42 pm

    Mampir lg pak Heru…nyari yg g ada :mrgreen:

    Hejis:
    Ada kok mas. Lha itu! mbak Mahardhika Dewi kan? Huahahaha…

  • geRrilyawan // Maret 6, 2009 pada 4:52 pm

    bukan maksudnya mendukung mistis-mistisan, atau menentang logika, tapi kita juga nggak boleh kehilangan kepercayaan terhadap yang namanya keajaiban atau mukjizat (tapi juga jangan mengandalkan hal itu) lho mas…..lha wong dunia ini aja ajaib lho :D

    dunia ini memang ajaib!

    ooh ponari malang benar nasibmu….

    Hejis:
    Ya, benar. Banyak keajaiban di dunia ini. Cuma berobat dengan cara seperti itu kalau manjur ya ajaib. Apakah manjur? Ajaib!

  • Sarah Tahnia // Maret 6, 2009 pada 5:23 pm

    aQ rs sich, karena sugesti aja jd banyak yg ‘kebetulan’ sembuh, lagian yg kayak gini, rasa2nya hanya merusak mental bangsa aja dech… g percaya lg sm Tuhan.. Astagfirullah… mengerikan

    Hejis:
    Oleh karena itu, memberantas keterbelakangan juga memberantas pemikiran yang melenceng dari ajaran agama ya mbak. Memang mengerikan…

  • bocahbancar // Maret 6, 2009 pada 5:25 pm

    Ya ya ya setuju Maz…

    Hejis:
    Kalau sudah setuju berarti selanjutnya makan-makan ya…haha…

  • Rizal // Maret 6, 2009 pada 11:36 pm

    Tapi kasihhan banget tuh ponari…. malah dijadikan objek penghasil uang oleh orang tuanya sendiri :)

    Hejis:
    Aji mumpung mas Rizal.

    Btw, senang sekali bisa kembali terjerumus di dunia maya…hahaha… bagaimana kabar nih? Welcome back! :D

  • Rizal // Maret 6, 2009 pada 11:37 pm

    Masih tetep memukau mas Hejis Blog nya… salam jumpa lagi :)

    Hejis:
    Terima kasih, mas. Salam jumpa lagi. Jangan pergi lagi lho ya..hehe…

  • syaharuddin // Maret 7, 2009 pada 4:24 am

    Mestinya pemerintah tuh berterima kasih, sebab Ponari bisa ngobatin cuma dibayar dengan sedekah alakadarnya. Makanya biaya berobat jgn terlalu tinggi, sehingga masyarakat berani ke RS.

    Hejis:
    hehehe… Ponari… Ponari… kau telah “membantu”

  • mahardhika dewi // Maret 7, 2009 pada 5:37 am

    laaa…aku tertinggal nie….
    batu ponari dilempar ke laut aja, biar semua yg minum aer laut bisa sembuh… hehehehe….

    klo susah nyari ponari…mas didien katanya jual produknya huaa…….

    Hejis:
    Tenang aja, mbak. Tidak tertinggal kok, masih ada waktu. Huahaha… laut mana neh? Lha kalau dilempar ke laut ya jadi kembung dong…

  • mahardhika dewi // Maret 7, 2009 pada 5:41 am

    Ngapain mas didien sering bngt mampir ke sini…
    minta duit yach…?

    Hejis:
    Dari kemarin itu mas Didien mencari orang yang namanya Mahardhika Dewi, gak ketemu-ketemu…
    Eh gak ding. Sssst… jangan bilang siapa-siapa ya. Ini untuk kita berdua aja. Sini kubisikin… mas Didien itu kepengen kayak Ponari. Makanya ke sini untuk belajar ngobati kayak Ponari. Dikira saya embahnya Ponari… huahahaha… Sssst.. jangan bilang mas Didien lho ya?!! :roll:

  • thevemo // Maret 7, 2009 pada 10:45 am

    banyak yang akal sehatnya ..tertutup, jadi melihat dan berfikir bahwa ponari segalanya

    Hejis:
    Memang memprihatinkan dari berbagai sudut pandang bahkan agama ya.

  • Rossa // Maret 7, 2009 pada 3:41 pm

    hha*
    tapi dengn ada nya ponari, makin banyak aja orang yang nggak menggunakan akal sehatnya.
    jadi selayaknya kita harus berterima kasih kah?
    atau marah kah?

    Hejis:
    Yang jelas saya tidak marah sama mbak Rossa. Saya berterima kasih sama mbak Rossa..hehehe…
    Bagaimana kabar do’i-nya yang baru… :roll:

  • duniafannie // Maret 7, 2009 pada 5:42 pm

    ya ya… menarik.
    semoga sehat selalu pak hejis.

    Hejis:
    Maksudnya, senyum saya menarik ya mbak Fannie. Aduh, terima kasih. Sudah dua bulan ini gak ada yang memuji senyum manisku….huahaha… *GeEr: click*

    Terima kasih, mbak. Semoga mbak Fannie juga sehat yah :D

  • an9el // Maret 7, 2009 pada 8:48 pm

    ponari….eh katanya sudah beredar air minum kemasan kaleng PONARI SWEAT ya???

    hiihihihihihi…gmn ya rasanya :P

    Hejis:
    Berapa harganya, mbak? :roll:

  • hmcahyo // Maret 8, 2009 pada 6:57 am

    pakde ikutan talkshow yuk besok jam 11 siang di citrapro3 FM saya diundang suruh nyari 3 temen nih… satu udah dari bloggerngalam.com yang satu pak heru aja gimana? tentang blog dan blogeran

    Hejis:
    Okeh… okeh… siap!

  • Menik // Maret 8, 2009 pada 12:19 pm

    pemerintah merasa tertampar saat orang lebih byk berbondong2 berobat ke ponari ketimbang ke RS walopun dah pake askeskin sekalipun :p

    Hejis:
    Iya, Bun. Rakyat pengen berobat murah dan berkualitas. Cuma kok solusinya dengan cara spt itu ya??

  • antown // Maret 8, 2009 pada 4:58 pm

    sudah meninggalkan wordpress atau akan dijalankan dua2nya pak?

    Hejis:
    Sementara dua-duanya kalau bisa terurus. :D

  • yenin // Maret 8, 2009 pada 5:23 pm

    hahhahhah ponari sweat :P

    kalo menurut aku tuh smua tjd krn masalah ekonomi,mo berobat ke dok ter mahal,so mrk nyari alternatif laen walopun yg gak masuk akal :(
    gmn neh pemerintahhhh?

    Hejis:
    Iya sih. Tapi, sebaiknya dicari jalan yang “sehat” agar sehat… :D

  • Andre // Maret 9, 2009 pada 1:01 am

    Wah..saya belom sempet nyoba ‘air batu’nya nak ponari nih..:p

    Hejis:
    Kalau mau coba, ke sini aja, mas. Airnya malah sudah dijus jadi rasanya mak nyusss… :mrgreen:

  • Hafid Algristian // Maret 9, 2009 pada 2:19 am

    hemm hemm…
    *manggut-manggut*

    Hejis:
    hmmm…. hmm…
    *mantuk-mantuk*

  • Infinite Justice // Maret 9, 2009 pada 9:59 am

    kalau mau berkaca lebih dalam mengenai fenomena praktik pengobatan di negara kita, saya pikir wajar bila rakyat miskin yang sebelum berobat sudah putus asa terkait dengan masalah biaya melirik batu ajaib ponari sweat. saya sendiri pernah merasakan betapa prosedur berobat itu berbelit-belit dan mahal, dan lantas siapa yang mau menanggung biaya pengobatan dari masyarakat kecil ndak punya duit yang hanya selalu dibawa-bawa tiap kali ada caleg atau capres kebelet pengen mendapat kursi?!

    dan perkara manjur atau tidaknya khasiat air kobokan batu ajaib ponari sweat, saya pikir itu masalah jodoh… atau bisa juga karena khasitas batu ajaib itu mulai kendor setelah terlalu banyak dicelup… :mrgreen:

    Hejis:
    Hehehe… jodoh di tangan Tuhan ya…

  • kw // Maret 9, 2009 pada 10:46 am

    kasian ponari, di eksploitasi…
    kenapa yang nyelupin ke air itu orang2 dewasa saja?

    Hejis:
    Iya, Ponari dieksploitasi di tengah-tengah kondisi kultural masyarakat yang masih lebih berorientasi ke hal-hal gaib

  • adel // Maret 9, 2009 pada 1:06 pm

    ponari masa kecilnya jadi menghilang..thats a pity..

    Hejis:
    Iya, masa kecil ilang, masa gedenya belum…. that’s a pitik-walik…hehehe..

  • audy // Maret 9, 2009 pada 1:08 pm

    sesuatu yang berbau mistis…rada2 ga masuk akal dan temen2nya, biasanya emang rame mas di Indonesia, apalagi beritanya justru tersebar dari mulut ke mulut….huhuhu makin rame ajaah… Moga2 yang sakit dan keluarganya diberikan yang terbaik…

    Hejis:
    Iya, ramenya cuman kayak gitu ya… Coba rame memberantas kemiskinan, kebodohan, kejahatan, dan keterbelakangan lainnya. :D

  • Khoirul Huda // Maret 9, 2009 pada 5:17 pm

    aku malah kasihan ma ponarinya yg mesti kehilangan masa kanak2nya yg mestinya penuh dg kecerian selayalnya anak2 lainnya,malah kayak ling lung n sekolahnya gmn ya?mgkn g usah kali dg batunya mgkin dah bs jd profesor atao doktor,kan penemuan baru he he he

    Hejis:
    Masa kanak2 yang hilang tak mungkin akan kembali. Profesor dengan temuan batu geledek… hehehe…

  • bluethunderheart // Maret 9, 2009 pada 5:52 pm

    bang……
    ada stori baru di blue
    aku tunggu responnya yah
    salam hangat selalu

    Hejis:
    Ya, mas. Sudah kurespon. Positif!

  • mahardhika // Maret 9, 2009 pada 6:23 pm

    iyahaa.. mas didien emang ky gitu ya??

    laa.. sekarang sumur deket rumha ponari malah di incer juga… oh indonesiaku…, ponari ampe ga mw scullah… :(

    Hejis:
    Hehehe… wah, sumur pembawa berkah jadi gak perlu skulah…hah..hah..

  • mahardhika // Maret 9, 2009 pada 6:27 pm

    hola -hola…. liat kucingna maen gitar, ky kucingna mb fit n sistah indah… hahaha…,
    mreka satu peranakan kyakna hee…

    Hejis:
    Hihihi… itu kucing seniman, mbak Ika. Mau, mau?

  • genthokelir // Maret 9, 2009 pada 6:51 pm

    sejarah negara kita itu sebenarnya cukup berumur mas namun yang saya heran kenapa kayak masih kanak kanak yah
    hahahaha tempat saya ada batu yang bisa bunuh orang sekaligus banyak mas yaitu batu kelir kalo ngglundung orang sekampung terbunuh semua hahaha menimpanya

    Hejis:
    Masyarakat yang susah menjadi dewasa. Wuahaha… batu itu bisa dijuwal mas. Harganya pasti lebih mahal. Soalnya lebih gede…hehehe…

  • cipzto // Maret 9, 2009 pada 7:19 pm

    bener-bener fenomena yang dahsyat

    Hejis:
    Salam dahsyattt!!

  • sparkzspot // Maret 10, 2009 pada 12:53 am

    Hi friend.. Interesting post.. Nice blog with great stuffs.. Keep up the good work.. Do visit my blog and post your comments.. Take care.. Cheers mate!!!

    Hejis:
    Ok’s. Thank you very much, brot… :mrgreen:

  • Oef Anantasena // Maret 10, 2009 pada 6:09 am

    buanyak hal yang tak bisa dilogikakan didunia.
    semua itu tergantung yang diatas…

    kalau Allah udah “Kun…!!!” apapun yg mustahil bakal terjadi…

    Hejis:
    Betul, mas. Kalau Allah sudah kun… maka sampeyan datang ke sini. Dan, saya jadi seneng…haha…

  • hmcahyo // Maret 10, 2009 pada 6:23 am

    pak… ada post baru di blog saya… saya tunggu ya

    (hihiii… niru blue kezedot mode on :mrgreen: )

    Hejis:
    Salam hangat selalu..hehehe..

  • kahfinyster // Maret 10, 2009 pada 9:05 am

    ponari,,skolah sono!! jangan ngedukun mulu!! :lol:

    Hejis:
    Ponari sekarang sudah skolah di Singapore!! Haha…

  • agustriku // Maret 10, 2009 pada 10:21 am

    Indonesia itu gampang sekali tercipta yang namanya sensasi. tp abis ini pasti lupa semuanya. terus apalagi ya…sensasi baru. :)

    Hejis:
    Bolehkan disebut “Negara sensasional…?” hehehe…

  • Sapi cantik dan seksiiiii // Maret 10, 2009 pada 11:21 am

    Bapake ponari.. saya udah posting baru nih..kunjungi yo mas.. dan berikan komentar sebanyak2nya, setulus2nya, sejujur2nya waahahahhahaha..

    Hejis:
    Yo, mboke Ponari… Btw, dirimu sekarang koq seksi sekali? Hihihi…

  • sapi // Maret 10, 2009 pada 11:23 am

    salam perdamaian! salam cinta..salam tempel.. hahaha

    Hejis:
    Perdamaian… perdamaian… banyak yang suka damai… tapi perang makin rameeeeeeeee…

  • yunitasulistya // Maret 10, 2009 pada 1:41 pm

    Mas Hejis… piye kabare ? lama gak saling mengunjungi blog. . . salam hangat.

    Hejis:
    Kabarku baik, mbak. Mbak Yuni sendiri bagaimana, sehat aja ya? Iya soalnya lagi sibuk ngurusi sekolahnya si Ponari ini…hehehe… Salam hangat juga yah :D

  • olip // Maret 10, 2009 pada 2:02 pm

    hai….

    iya makacieh pesennya….

    Hejis:
    Hai juga…
    Pesen lagi deh… 1 mangkok mi ayam…hehehe…

  • goenoeng // Maret 10, 2009 pada 2:04 pm

    Pak Hejis,
    kemarin saya baru juga menemukan batu petir !
    nah, kalo ada waktu, bisalah njenengan jadi manajer saya. rancananya, saya mau jadi dukun dan njenengan yg ngatur.
    10 persen buat njenengan. hehehe…

    Hejis:
    Iya, setuju banget, mas!! Nanti saya mengundurkan diri dulu dari PNS. Trus ngurusi perdukunan njenengan ya. 10 persen? No way! 90 persen!! :lol:

  • meylya // Maret 10, 2009 pada 3:16 pm

    itu semua dikarenakan ketidakadilan pelayanan kesehatan di negeri ini,

    Hejis:
    Ayo, partai-partai calon penguasa. Dengarlah suara rakyat, misalnya suara tentang perlunya pelayanan kesehatan yang terjangkau, baik, dan cespleng… :D

  • Didien® // Maret 10, 2009 pada 3:49 pm

    pak heru..gmn talkshownya..sukses?? :mrgreen:

    Hejis:
    Alhamdulillah, lancar, mas Didien. Yang talkshow kemarin saya, mas Heri M. Cahyo, dan 2 rekan dari Blogger Ngalam.

  • warok_suromenggolo // Maret 10, 2009 pada 3:53 pm

    ponari pinjem batunya donk buat kosok an :)

    salam kenal mas :)

    Hejis:
    Wakakak… terus air bekas mandi sampeyan itu apa mau dijuwal untuk obat… hahaha…

    Salam persahabatan ya mas :D

  • yuni // Maret 11, 2009 pada 12:18 pm

    Alhamdullilah kabarku sehat mas Hejis

    Hejis:
    Syukurlah mbak, jika sehat selalu. Salam hangat ya.

  • SIge // Maret 11, 2009 pada 10:03 pm

    koment nya pak Hej udah kek antrian dek Ponari aja..wekeke..

    Menurut saya, bila saja pihak medis mau sedikit berkolaborasi dengan dek POnari maka, bayangkan saja, bila air batu dek Ponari bisa dijadikan resep Dokter, wah bakal menjadikan masyarakat indonesia lebih sehat.hehe..

    Hejis:
    Itu ngantri nunggu mas Sige… hehe… Apalagi kalau dicelup di danau ya. Bisa cukup untuk seluruh rakyat… ;)

  • Nug // Maret 12, 2009 pada 6:58 pm

    25.00 orang ngantri setiap minggunya…

    Mungkin kalo Ponari diangkat jadi menteri Parawisata, bisa dibuat paket2 wisata kesehatan diwilayah2 tanpa objek wisata sekalipun (asal ada air aja) dan akan penuh didatangi tourist lokal (domestik). Kalo tourist asing, mungkin tetap milih berjemur dipantai2 indah di Bali walaupun mesti kalau haus harus bayar lebih mahal untuk bisa minum Ponari eh Pocari Sweat.. Xixixi :D

    Hejis:
    Wekekek… Menteri Pariwisata, Yth. Bapak Ponari sambil ke mana-mana membawa batunya. Ia malah sudah pasang iklan untuk minuman yang dapat franchise darinya lho…hehe… :D

  • cinta // Maret 15, 2009 pada 7:52 am

    lama-lama kok tambah kurang ajar tu ponari
    ga ada sopan-sopannya ma orang tua

    Hejis:
    Karena disuguhi kemanjaan luar biasa…

  • alexa // Maret 15, 2009 pada 9:02 am

    memang benar sekali ponari memberikan banyk pelajaran positif bagi kita, dan supaya pemerintahan kita lebih mau mikir lagi dengan kondisi bangsa sekarang, jangan hanya sibuk ngurusin rebutan kursi, hm…

    Hejis:
    Kesibukannya mesti dialihkan ya mbak :D

  • alexa // Maret 15, 2009 pada 9:06 am

    terimakasih sudah mampir ke gubug saya mas, blognya mantaf benar, keep blogging
    saya akan follow up ksini nanti

    Hejis:
    Terima kasih juga dari saya, mbak Alexa. Silakan, silakan ditunggu. Blogmu sudah nangkring di blogrollku.. :D

  • adhieputra // April 14, 2009 pada 9:14 pm

    mbahnya terbelakang tadi, ayo kita keroyok, jadi gak sabaran saya

    hehe

Tinggalkan sebuah Komentar