GUYON ALIAS HUMOR DALAM MASYARAKAT KITA

Oktober 23, 2009 · & Komentar

Oleh Hejis

Humor di lingkungan militer

Humor di lingkungan militer

Guyon atau humor tentu akrab dengan keseharian kita. Bagaikan bumbu dalam masakan, humor menambah sedap interaksi. Pergaulan tanpa humor akan terasa hambar dan kaku. Ini bisa terjadi di kancah pergaulan mana pun. Bisa di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di seminar, di pasar. Pokoknya di mana saja, deh.

Humor dalam konteks hubungan pergaulan sosial, lebih banyak terjadi pada hubungan horizontal daripada vertikal. Misalnya, di kantor atau di kampung, orang-orang lebih suka bergurau dengan yang sederajat (sesama anak buah) daripada dengan yang berbeda derajatnya. Ini terjadi karena ada perasaan ewuh-pakewuh, sungkan, atau menjaga wibawa.

Selain itu, ini juga dikarenakan di antara mereka mengetahui masalah-masalah bersama. Kesulitan membeli bahan bakar minyak, misalnya, dialami dengan pengalaman yang relatif sama di antara masyarakat tingkat bawah. Demikian halnya dengan kesulitan tentang bagaimana memasarkan produk baru dari suatu perusahaan akan dialami dengan persepsi yang relatif sama di antara petugas-petugas pemasaran.

Tujuan orang bergurau

Untuk apa sebenarnya orang bergurau? Ini akan meliputi beberapa hal. Pertama, ingin mendekatkan hubungan sosial atau berakrab-akrab. Kedua, ingin mencairkan suasana yang kaku. Ketiga, menghibur diri atau orang lain. Keempat, ingin menyampaikan pesan terselubung yang jika dikatakan langsung akan menjadi tidak enak atau malu. Kelima, menikmati kekonyolan atau kelucuan. Keenam, manifestasi dari sifat kekanak-kanakan yang ada pada setiap orang dewasa.

Humor berkelindan (saling mengait) dengan kultur atau budaya masyarakat tempat humor itu ada. Masyarakat agraris dengan kultur agraris, tentu menjalankan humor yang berkenaan dengan dunia agraris sehari-hari. Kosakata yang digunakan juga berkenaan dengan dunia itu. Masyarakat yang cerdas-kritis-kreatif akan melahirkan humor-humor yang cerdas-kritis-kreatif juga.

Dalam struktur masyarakat kita, humor menempati posisi yang tidak terlalu penting. Gurauan dianggap sebagai hal yang remeh yang sekadar berfungsi sebagai pelengkap semata dari perbincangan-perbincangan. Saat kita mengalami zaman feodal dulu (dalam kerajaan-kerajaan sebelum kita merdeka atau bahkan hingga sekarang di wilayah-wilayah tertentu) humor dapat dianggap sesuatu yang “saru” atau tidak pantas. Apalagi dilakukan bawahan, abdi dalem terhadap atasan atau bangsawan. Sehingga rakyat ketika ingin bergurau harus memikirkan tempat ia berkomunikasi (empan papan). Kadang-kadang bentuk humornya terselubung melalui tembang-tembang, pertunjukan seni tradisional, wayang, dan sebagainya.

Karena humor memiliki posisi yang rendah atau dilakukan oleh orang-orang yang dianggap konyol, tidak serius, maka bentuk humor menjadi ajang kekonyolan pula. Dapat dilihat dalam lawak-lawak di televisi atau radio atau film, pelaku humor sering menjadi bahan pelecehan oleh mitra mainnya, bahkan oleh penontonnya jika itu bersifat interaktif. Humor yang lucu adalah humor yang melecehkan pelakunya. Misalnya, diolok-olok kejelekan fisiknya, kebodohannya, statusnya, dan sebagainya. Sehingga, orang yang memiliki sense of humour mesti memahami risiko dari apa yang dilakukannya, yaitu kemungkinan dilecehkan.

Sebenarnya bila diamati, humor adalah semacam produk kecerdasan. Sebuah kemampuan yang dimiliki orang dengan tingkat yang berbeda-beda. Kemampuan ini dapat dilatih dan dipelajari, sama halnya dengan kecerdasan-kecerdasan lain. Misalnya dalam kecerdasan majemuk (multiple intelligences) seperti yang diperkenalkan oleh Howard Gardner atau kecerdasan emosional/sosial (emotional intelligence atau social intelligence) seperti yang dikembangkan oleh Daniel Goldman. Meskipun kedua tokoh psikologi itu tak pernah menyebutkan bahwa humor merupakan kecerdasan tersendiri. Namun, praktiknya memperlihatkan hal itu.

Jadi, bila kita menempatkan humor dalam posisi yang terhormat, maka akan terjadi bahwa humor juga menjadi bagian dari industri yang sehat, menjadi terapi psikologis bagi setiap individu, dan menjadi profesi bagi yang mau menekuninya.***

Kategori: UMUM
Ditandai: , , , , ,

24 tanggapan so far ↓

  • ahnku // Oktober 23, 2009 pada 7:16 pm

    PertamaX.. euy…

  • khairul anwar // Oktober 23, 2009 pada 9:32 pm

    mantap…..

  • radesya // Oktober 24, 2009 pada 6:17 am

    Humor terkadang menjadi pemanis dalam suatu obrolan.., sebagai pencair suasana..

    Aku lebih suka diterangkan dosen yang terkadang menyelipkan humor dalam memberi kuliah, bisa memberi sedikit kelonggaran pada otak kita yang terkadang tegang gt Pak

    btw, senang sekali bapak mau ngeblog lagi :)

  • Hejis // Oktober 24, 2009 pada 9:03 am

    AHNKU>> Seepp!! Lanjoot… wkwkwk

    KHAIRUL ANWAR>> Tengkyuh bro… ^_*

    RADESYA>> hehe… iya, dosen itu kan ngomongnya di kls lama, jadi mesti diselingi humor biar gk ngebosenin… Btw, kalau dosennya cakep seneng gak, jeng? wkwkwk…

  • sunarnosahlan // Oktober 24, 2009 pada 9:16 am

    humor memang diperlukan agar suasana tidak terlalu kaku, tapi jangan kebablasan ya

  • Hejis // Oktober 24, 2009 pada 9:35 am

    SUNARNOSAHLAN>> Ya, betol. Kalo kebablasan ntar jadi lemez… qiqiqiqi…

  • Bodrox // Oktober 24, 2009 pada 10:53 pm

    Yang paling asyik itu humor yang bau filosofis om. Memandang hidup sebagai kelucuan2 yang aneh,tragis, tapi mengasyikkan.

  • hmcahyo // Oktober 26, 2009 pada 8:57 am

    lama gak komen disini :D

  • elindasari // Oktober 26, 2009 pada 2:54 pm

    Asyik….Mas Heru kembali di dunia per-blog-an lagi. Welcome back Mas :) :) :)

    Ayo mas bikin postingan tentang humor lagi dong, lanjutkan cerbung-nya, hehehe :) :) :)

    best regard,
    Bintang

  • Hejis // Oktober 27, 2009 pada 8:23 am

    BODROX>> Iya, dunia filsafat selalu mengasyikkan (sebetulnya), krn kita bisa mengasah otak utk mengerti segala sesuatu dg mendalam dan ke akar2nya, termasuk dunia humor ya… hehe

    HMCAHYO>> hehe… iya, mas. Aku jg dah lama banget gak posting dan gak komen. Pokoknya, membungkam… wkwkwk

    ELINDASARI>> Hai, mbak Elin… seneng ketemu lagi di sini. Apa kabar nih? Hehe… iya deh ntar diposting lagi ttg cerbung… wkwkwk… GBU! ^_^

  • Rizal // Oktober 28, 2009 pada 5:54 pm

    Kunjungan Perdana ..
    bagi saya lebih ke terapi psikologis .. bisa ngilangin stress ..:D …
    Salam Hangat dari Blogger Kalsel

  • inge // Oktober 28, 2009 pada 7:26 pm

    waaaah….
    lama g nongol di blog nih… :D

    guyon emang perlu biar nggak stress :)

  • Hejis // Oktober 29, 2009 pada 6:45 am

    RIZAL>> Terima kasih, bro. Humor jika digunakan sbg terapi psikologis, sebenarnya cukup efektif dan murah… hehe… Cuma ada kondisi psikologis kita yg sesekali muncul, tidak menerima humor saat tertekan. Bahkan humor dpt menjadi pemicu kemarahan. Hanya org2 yg mampu mengelola perasaan ini yg dpt memanfaatkan humor… Wah, salam hangat juga ya. Senang dikunjungimu, bro… ^_^

    INGE>> hahaha… iya, lama gk nongol krn mengambil cuti bulanan (maksudnya berbulan2 gak ngeblog)… wkwkwk… Salam hangat, teh Inge… ^_* ting!

  • nadia nk // Oktober 30, 2009 pada 12:56 pm

    tes avatar :D

  • atmakusumah // Oktober 31, 2009 pada 11:43 pm

    salam kenal pak…Tulisan bapak enak di baca…waktu sekolah dulu, guru yang pelajarannya gampang dimengerti justru yang tukang guyon…

  • elistadyon // November 7, 2009 pada 8:01 pm

    asal guyonannya gak kelewatan ya kang

  • elistadyon // November 9, 2009 pada 9:57 pm

    mampir lagi pak?

  • smaduta // November 11, 2009 pada 10:23 am

    wah silahturahmai pak,lama gak tilik kasugengan

  • budies // November 11, 2009 pada 10:30 am

    saya tadi komen pake aidi blog sekolah. Ya gak papa. yang penting guyon maton

  • Hejis // November 13, 2009 pada 12:35 pm

    NADIA NK>> Bagus gitu lho avatarnya… hehe

    ATMAKUSUMAH >> Terima kasih, mas. Ya, guru2 yg guyon memang sering melekat di memori. Apalagi bila guyonnya berkonteks dg pelajaran… hehe

    ELISTADYON>> Iya, betul. Guyon gak boleh kelewatan. Yang sering terjadi di Indonesia, orang yg mengajak guyon menjadi bulan2an oleh orang lain, meskipun juga guyon… hehe

    SMADUTA>> Iyo, mari kita sambung tali silaturahmi ya. Matur nuwun, mugi panjenengan ugi sugeng… :)

    BUDIES>> hehe… iya, walaupun pakai blog sekolah, tetap gratis… ixixixi…

  • mahardhika // November 13, 2009 pada 2:48 pm

    numpang coment disini

    kang Hejis update dong heheheehe….
    uda hampir sebulan loh….. :-p

  • Siti Fatimah Ahmad // November 17, 2009 pada 12:35 am

    ASSALAAMU’ALAIKUM..

    KEPADA SAHABATKU… SAMBUTLAH UCAPAN DARIKU. SERANGKAI KATA PENGGANTI DIRI. UNTUK MENYAMBUT HARI PERTEMUAN YANG BESAR. JARI SEPULUH KU SUSUN JUGA. AGAR KESALAHAN DIAMPUN SEMUA. TANDA IKHLAS PERSAHABATAN KITA.

    SALAM DUNIA, SALAM SEMUA, SALAM HARI RAYA EIDUL ADHA DAN SALAM PERPISAHAN “BERJARAK” DARI SAYA DI BANGI, MALAYSIA.

    -SITI FATIMAH AHMAD-

  • Hejis // November 17, 2009 pada 9:37 am

    MAHARDHIKA>> Iya, baiklah. Atas permintaanmu itu sudah ku-upadate… wahaha… Kurang baik gimana lagi aku ini, hayo… ^_* ting!

    SITI FATIMAH AHMAD>> Terima kasih, sahabat. Selamat Idul Adha juga ya. Semoga Allah SWT menerima pengorbanan kita. Amiin ^_^

  • HE. Benyamine // November 18, 2009 pada 9:01 am

    Humor terkait dengan budaya yang menghasilkannya, bila dilakukan pada budaya yang berbeda bisa rasa humornya tidak terpahami dan tidak menjadi humor, atau bisa terjadi kesalahpahaman.

    Rasa humor seseorang berbeda, walau pada budaya yang sama, yang sangat berbeda dalam melihat sesuatu.

Tinggalkan sebuah Komentar