<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://kajiankomunikasi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com</link>
	<description>Kajian Komunikasi dan Berbagai Topik Sosial oleh Hejis</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Oct 2009 02:36:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='kajiankomunikasi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/2764e418153ec584f81d3f93e7068875?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>GUYON ALIAS HUMOR DALAM MASYARAKAT KITA</title>
		<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/10/23/1020/</link>
		<comments>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/10/23/1020/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 11:31:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hejis</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>
		<category><![CDATA[alasan humor]]></category>
		<category><![CDATA[hejis]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[humour]]></category>
		<category><![CDATA[sense of humour]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan humor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiankomunikasi.wordpress.com/?p=1020</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Hejis
uyon atau humor tentu akrab dengan keseharian kita. Bagaikan bumbu dalam masakan, humor menambah sedap interaksi. Pergaulan tanpa humor akan terasa hambar dan kaku. Ini bisa terjadi di kancah pergaulan mana pun. Bisa di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di seminar, di pasar. Pokoknya di mana saja, deh.
Humor dalam konteks hubungan pergaulan sosial, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=1020&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh Hejis</p>
<p><div class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/6b/Guerre_14-18-Humour-L%27ingordo,_trop_dur-1915.JPG"><img alt="Humor di lingkungan militer" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/6b/Guerre_14-18-Humour-L%27ingordo,_trop_dur-1915.JPG" title="Humor di lingkungan militer" width="200" height="180" /></a><p class="wp-caption-text">Humor di lingkungan militer</p></div>Guyon atau humor tentu akrab dengan keseharian kita. Bagaikan bumbu dalam masakan, humor menambah sedap interaksi. Pergaulan tanpa humor akan terasa hambar dan kaku. Ini bisa terjadi di kancah pergaulan mana pun. Bisa di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di seminar, di pasar. Pokoknya di mana saja, deh.</p>
<p>Humor dalam konteks hubungan pergaulan sosial, lebih banyak terjadi pada hubungan horizontal daripada vertikal. Misalnya, di kantor atau di kampung, orang-orang lebih suka bergurau dengan yang sederajat (sesama anak buah) daripada dengan yang berbeda derajatnya. Ini terjadi karena ada perasaan ewuh-pakewuh, sungkan, atau menjaga wibawa. <span id="more-1020"></span></p>
<p>Selain itu, ini juga dikarenakan di antara mereka mengetahui masalah-masalah bersama. Kesulitan membeli bahan bakar minyak, misalnya, dialami dengan pengalaman yang relatif sama di antara masyarakat tingkat bawah. Demikian halnya dengan kesulitan tentang bagaimana memasarkan produk baru dari suatu perusahaan akan dialami dengan persepsi yang relatif sama di antara petugas-petugas pemasaran.</p>
<p><b>Tujuan orang bergurau</b></p>
<p>Untuk apa sebenarnya orang bergurau? Ini akan meliputi beberapa hal. Pertama, ingin mendekatkan hubungan sosial atau berakrab-akrab. Kedua, ingin mencairkan suasana yang kaku. Ketiga, menghibur diri atau orang lain. Keempat, ingin menyampaikan pesan terselubung yang jika dikatakan langsung akan menjadi tidak enak atau malu. Kelima, menikmati kekonyolan atau kelucuan. Keenam, manifestasi dari sifat kekanak-kanakan yang ada pada setiap orang dewasa.</p>
<p>Humor berkelindan (saling mengait) dengan kultur atau budaya masyarakat tempat humor itu ada. Masyarakat agraris dengan kultur agraris, tentu menjalankan humor yang berkenaan dengan dunia agraris sehari-hari. Kosakata yang digunakan juga berkenaan dengan dunia itu. Masyarakat yang cerdas-kritis-kreatif akan melahirkan humor-humor yang cerdas-kritis-kreatif juga.</p>
<p>Dalam struktur masyarakat kita, humor menempati posisi yang tidak terlalu penting. Gurauan dianggap sebagai hal yang remeh yang sekadar berfungsi sebagai pelengkap semata dari perbincangan-perbincangan. Saat kita mengalami zaman feodal dulu (dalam kerajaan-kerajaan sebelum kita merdeka atau bahkan hingga sekarang di wilayah-wilayah tertentu) humor dapat dianggap sesuatu yang “saru” atau tidak pantas. Apalagi dilakukan bawahan, abdi dalem terhadap atasan atau bangsawan. Sehingga rakyat ketika ingin bergurau harus memikirkan tempat ia berkomunikasi (empan papan). Kadang-kadang bentuk humornya terselubung melalui tembang-tembang, pertunjukan seni tradisional, wayang, dan sebagainya.</p>
<p>Karena humor memiliki posisi yang rendah atau dilakukan oleh orang-orang yang dianggap konyol, tidak serius, maka bentuk humor menjadi ajang kekonyolan pula. Dapat dilihat dalam lawak-lawak di televisi atau radio atau film, pelaku humor sering menjadi bahan pelecehan oleh mitra mainnya, bahkan oleh penontonnya jika itu bersifat interaktif. Humor yang lucu adalah humor yang melecehkan pelakunya. Misalnya, diolok-olok kejelekan fisiknya, kebodohannya, statusnya, dan sebagainya. Sehingga, orang yang memiliki sense of humour mesti memahami risiko dari apa yang dilakukannya, yaitu kemungkinan dilecehkan.</p>
<p>Sebenarnya bila diamati, humor adalah semacam produk kecerdasan. Sebuah kemampuan yang dimiliki orang dengan tingkat yang berbeda-beda. Kemampuan ini dapat dilatih dan dipelajari, sama halnya dengan kecerdasan-kecerdasan lain. Misalnya dalam kecerdasan majemuk (multiple intelligences) seperti yang diperkenalkan oleh Howard Gardner atau kecerdasan emosional/sosial (emotional intelligence atau social intelligence) seperti yang dikembangkan oleh Daniel Goldman. Meskipun kedua tokoh psikologi itu tak pernah menyebutkan bahwa humor merupakan kecerdasan tersendiri. Namun, praktiknya memperlihatkan hal itu.</p>
<p>Jadi, bila kita menempatkan humor dalam posisi yang terhormat, maka akan terjadi bahwa humor juga menjadi bagian dari industri yang sehat, menjadi terapi psikologis bagi setiap individu, dan menjadi profesi bagi yang mau menekuninya.***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiankomunikasi.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiankomunikasi.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiankomunikasi.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiankomunikasi.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/1020/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=1020&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/10/23/1020/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc3438dff7876e390d3f03fc7f1708e2?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hejis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/6b/Guerre_14-18-Humour-L%27ingordo,_trop_dur-1915.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Humor di lingkungan militer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Kembaliiii&#8230;</title>
		<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/05/06/1009/</link>
		<comments>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/05/06/1009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 02:05:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hejis</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiankomunikasi.wordpress.com/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[b>Oleh Hejis
Pengantar
Seperti rumah kosong. Mungkin begitu ya, lihat blog ini mangkrak beberapa waktu. Maaf deh ya… hehe. Soalnya dah lama banget gak ada postingan yg diupdate di sini. Sobat yang berkunjung ke sini banyak yang kecele.
Berawal dari munculnya fenomena penting dalam dunia komunikasi, khususnya yang berkenaan dengan “media baru” (new media), yaitu social network media, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=1009&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img alt="Selamat datang, sobat" src="http://www.wunderman.com/Content/assets/1_Hero.jpg" width="200" height="120" /><p class="wp-caption-text">Selamat datang, sobat</p></div><b>Oleh Hejis
<p>Pengantar</p>
<p></b>Seperti rumah kosong. Mungkin begitu ya, lihat blog ini mangkrak beberapa waktu. Maaf deh ya… hehe. Soalnya dah lama banget gak ada postingan yg diupdate di sini. Sobat yang berkunjung ke sini banyak yang kecele.
<p>Berawal dari munculnya fenomena penting dalam dunia komunikasi, khususnya yang berkenaan dengan “media baru” (new media), yaitu social network media, misalnya Facebook. Media baru ini bukan sekadar media yang baru yang merupakan bentuk lama yang diperbarui. Bukan pula media yang kemunculannya baru. Media baru adalah media komunikasi yang memiliki sifat-sifat lebih rumit dalam hal penggunaannya, dalam hal pembuatannya, dan dalam hal efek dari komunikasi yang dilakukan dengan media tersebut. </p>
<p><span id="more-1009"></span></p>
<p>Media baru ini penting bagi siapa pun karena setiap orang membutuhkan komunikasi dalam hidupnya. Sehingga, setiap orang mestinya dapat mencermati kemunculan media baru ini demi keuntungan dalam kehidupannya. Oleh karena itu, setiap orang mestinya juga memiliki kemampuan untuk mengenal, mengakses, memanfaatkan, mengerti pesan yang terdapat di media baru itu, dan bahkan memproduksinya. Inilah yang dikenal dengan istilah “media literacy”. </p>
<p>Fenomena baru inilah yang kemudian mendorong saya untuk menunaikan tugas akademik dengan cara melakukan penelitian terhadap Facebook sebagai salah satu bentuk dari media baru. Hasil penelitiannya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh siapa pun untuk meningkatkan media literacy yang sudah disebutkan tadi. </p>
<p>Begitulah, mengapa blog ini mangkrak. Kemampuan waktu dan konsentrasi menyebabkan blog ini tidak mendapatkan semestinya. Kini, saya kembali ke sini. Walaupun, belum sepenuhnya. Terimalah kedatanganku kembali ya… weheheh…</p>
<p>Sebagai pembuka, saya memposting artikel ringan di bawah ini yang dicuplik dari konten Facebook. Selamat berjumpa, selamat bertemu lagi….</p>
</p>
<p>
<b>AKU KEMBALI</b></p>
<p>Kau masih tersenyum seperti setahun yang lalu. Dari jauh sudah terlihat sosok tubuhmu yang tinggi menebar pakan ikan di pinggir kolam depan rumah mu. Di pinggirnya ada pohon lamtoro gung dan turi. Cukup teduh kolammu. Ah, aku jadi teringat. Berjalan berdampingan bersamamu adalah kenikmatan yang tak pernah terbayangkan banyak orang. Tubuhmu yang tinggi itu menjadi pelindung saat berjalan-jalan, hingga hatiku tenteram menelusuri jalan tanah di kampung mu dan kampungku dulu. Waktu itu banyak temanmu bilang, kita pasangan yang serasi. Pasangan yang jika berdiri berdampingan enak dipandang mata. </p>
<p>Saat aku tiba di pagar tumbuhan depan rumah dirimu tengah asyik dengan ikan-ikan nila, emas, dan lele. Juga jenis ikan yang sama saat aku sering ke sini setahun yang lalu. Lalu, engkau duduk di teras rumah, di balai-balai bambu buah tanganmu sendiri. Senyummu segera merekah seolah otomatis bila ketemu dengan setiap orang. Inikah senyum yang kutinggalkan setahun yang lalu? Tetapi, mengapa kualitasnya masih sama tak kurang segores pun meski dimakan waktu? Hatiku menjadi tersedot keluar. Perih. </p>
<p>Penyesalanku memang telah ada sejak dari rumah. Meninggalkanmu adalah tindakan terbodoh yang pernah kulakukan. Kini ingin kutebus semuanya dengan mendatangimu melintasi kota-kota. Sejatinya telah kusiapkan hati ini menerima kemurkaan yang paling hebat akibat luka hatimu selama ini. Akan kuterima sekuat apa pun ke uluhatiku. Namun, kini malah kau sambut aku dengan senyuman itu. Memang pedih, tetapi membanggakan. Memang ironis tetapi menyemangati harapan. </p>
<p>Sepatutnya dirimu menjadi lelaki idola para perempuan pencari cinta. Apakah karena senyuman itu? Iya… ah, bukan, bukan… rasanya. Engkau tak pernah mengeluarkan amarah yang meledak-ledak layaknya kebanyakan lelaki. Sampai-sampai aku kehilangan akal untuk membuatmu marah. Aku marah karena engkau tak pernah marah. Dan aku meninggalkanmu karena itu. Dan aku kembali lagi ke sini karena itu, setelah setahun berlalu. Sebab inikah aku mencintaimu? Ya… oh, bukan, bukan… kiranya. </p>
<p>Engkau si pemurah hati yang tak membeda-bedakan. Sementara aku ingin diistimewakan. Bukankah aku belahan kasihmu? Karena ini jualah aku meninggalkanmu. Aku kehilangan akal agar engkau mengurangi sifat penolongmu kepada selain aku. Aku tak mampu, dan engkau harus menanggung sendiri sifatmu itu dengan kehilangan aku. Setahun yang lalu. Kini aku kembali karena sifatmu itu. </p>
<p>Sejak pergi darimu, telah kucoba menerima hati laki-laki di kota lain tempat aku tinggal. Pria tampan dan baik budi serta berkecukupan. Sempat berjalan beberapa waktu, tetapi hatiku masih tertuju padamu. Bayang-bayang mu sempat hilang, namun sesaat saja. Selebihnya membayangi ke mana pun langkah ku pergi. </p>
<p>Kini aku telah melepaskan kedudukanku sebagai direktris perusahaan maju. Meninggalkan kemewahan yang kunikmati di kotaku, demi menebus kesalahanku. Aku kembali untuk memasrahkan hati yang keliru. Kepadamu. </p>
<p>Apakah aku telah dibutakan oleh cintaku sendiri? Ataukah aku sedang menggenggam mutiara? Rasanya, keduanya bukan! Yang pasti aku sedang menemukan mata air cinta, sumber kesegaran yang tak habis-habisnya memancar di musim hujan atau pun kemarau. Itu ada padamu. Ya, hanya dirimu…. *** [HE715-020509]
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiankomunikasi.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiankomunikasi.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiankomunikasi.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiankomunikasi.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/1009/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=1009&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/05/06/1009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>95</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc3438dff7876e390d3f03fc7f1708e2?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hejis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.wunderman.com/Content/assets/1_Hero.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Selamat datang, sobat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bangga hanya layak sekali untuk satu karya</title>
		<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/03/29/bangga-hanya-layak-untuk-satu-karya/</link>
		<comments>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/03/29/bangga-hanya-layak-untuk-satu-karya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 03:12:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hejis</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>
		<category><![CDATA[karya mulia]]></category>
		<category><![CDATA[kata mutiara]]></category>
		<category><![CDATA[kebanggaan]]></category>
		<category><![CDATA[kemuliaan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiankomunikasi.wordpress.com/?p=999</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Hejis
Bangga hanya layak sekali untuk satu karya
agar dapat berkarya lagi
Karya berkali-kali untuk satu bangga
hanyalah kurasan keringat sia-sia
Bangga berkali-kali untuk satu karya
adalah kepalsuan yang menyesatkan
Karya hanyalah karya
bila menjunjung kemuliaan
Satu karya untuk satu kemuliaan
agar dapat menciptakan kemuliaan-kemuliaan
karena kemuliaan tak berbatas
Bangga adalah buah dari karya
Karya adalah syarat kemuliaan
Kemuliaan adalah keniscayaan spesies manusia 
Kemuliaan hanyalah kemuliaan
manakala sarat nilai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=999&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Oleh Hejis</b>
<p>Bangga hanya layak sekali untuk satu karya<br />
agar dapat berkarya lagi<br />
Karya berkali-kali untuk satu bangga<br />
hanyalah kurasan keringat sia-sia<br />
Bangga berkali-kali untuk satu karya<br />
adalah kepalsuan yang menyesatkan</p>
<p>Karya hanyalah karya<br />
bila menjunjung kemuliaan<br />
Satu karya untuk satu kemuliaan<br />
agar dapat menciptakan kemuliaan-kemuliaan<br />
karena kemuliaan tak berbatas</p>
<p>Bangga adalah buah dari karya<br />
Karya adalah syarat kemuliaan<br />
Kemuliaan adalah keniscayaan spesies manusia </p>
<p>Kemuliaan hanyalah kemuliaan<br />
manakala sarat nilai ketakwaan<br />
tunduk<br />
rendah hati<br />
kepada ilahi<br />
kepada sesama</p>
<p>Manusia tanpa bangga adalah cuma sekadar mesin<br />
yang menunggu rusak dan tanpa makna<br />
Manusia tanpa karya adalah cuma sekadar bilangan<br />
yang disebut sekali dan selanjutnya dilupakan<br />
Manusia tanpa kemuliaan adalah bernilai nista<br />
lebih dari apa pun kenistaan</p>
<p>Ini bukanlah puisi<br />
Ini bukanlah kata-kata mutirara</p>
<p>Ini adalah satu bangga saja<br />
untuk mendekati puisi<br />
untuk memimpikan mutiara<br />
untuk merindukan kemuliaan<br />
untuk mencoba menjadi manusia</p>
<p>*****</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiankomunikasi.wordpress.com/999/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiankomunikasi.wordpress.com/999/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/999/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/999/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/999/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/999/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiankomunikasi.wordpress.com/999/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiankomunikasi.wordpress.com/999/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/999/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/999/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=999&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/03/29/bangga-hanya-layak-untuk-satu-karya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>99</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc3438dff7876e390d3f03fc7f1708e2?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hejis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paklik Samin jualan kambing di Face Book</title>
		<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/03/15/paklik-samin-jualan-kambing-di-face-book/</link>
		<comments>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/03/15/paklik-samin-jualan-kambing-di-face-book/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 08:29:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hejis</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>
		<category><![CDATA[amazone]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[face book]]></category>
		<category><![CDATA[heru puji winarso]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[jual kambing]]></category>
		<category><![CDATA[samin]]></category>
		<category><![CDATA[social network]]></category>
		<category><![CDATA[suku maya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiankomunikasi.wordpress.com/?p=989</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Hejis
Beberapa hari yang lalu adikku berkunjung ke rumahku di lereng gunung Semeru. Rupanya ia senang dengan kondisi lingkungan penduduk kaki gunung yang sejuk, tenteram, dan kadang-kadang lengang. Tiap hari terlihat ceria. Semua penduduk yang ditemui diajak ngobrol. Walaupun masih duduk di kelas 2 SMP ia dapat berbaur dengan penduduk sekitar tanpa sungkan-sungkan. Penduduk yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=989&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh Hejis</strong>
<p>Beberapa hari yang lalu adikku berkunjung ke rumahku di lereng gunung Semeru. Rupanya ia senang dengan kondisi lingkungan penduduk kaki gunung yang sejuk, tenteram, dan kadang-kadang lengang. Tiap hari terlihat ceria. Semua penduduk yang ditemui diajak ngobrol. Walaupun masih duduk di kelas 2 SMP ia dapat berbaur dengan penduduk sekitar tanpa sungkan-sungkan. Penduduk yang ramah-ramah itu pun senang ngobrol dengan adikku yang besar di Jakarta ini. </p>
<p>Dengan aku pun tiap hari ada saja yang diobrolkan. Maklum sudah hampir setahun aku tidak ketemu dirinya. Mungkin rasa kangen yang menggumpal bagaikan daging di dalam freezer itulah yang membuatnya tak lelah-lelahnya ngobrol ngalor-ngidul dengan siapa saja. Tak terkecuali dengan Paklik Samin, petani yang menanam berbagai sayuran dan palawija dan peternak kambing, sapi, dan kerbau. </p>
<p><span id="more-989"></span></p>
<p>“Paklik, di sini koq belum dipasang jaringan internet sih?!” kata adikku setengah mengeluh dalam obrolannya yang mulai merambah topik internet. </p>
<p>“Eternit iku apa to Le?” paklik Samin penasaran. </p>
<p>“Bukan eternit, paklik, tetapi internet… Eternit itu kan langit-langit rumah. Ini internet&#8230; itu lho dunia maya yang dapat mempertemukan berbagai orang dari seluruh penjuru jagad” </p>
<p>“Lhah! Kamu hebat benar sekarang, Le. Kecil-kecil sudah berani mengembara sampai sungai apa itu…enggg… lupa Paklik. Itu lho waktu pelajaran di SD pak guru bilang ada suku Maya di lembah sungai Amerika Selatan itu lho, Le. O ya, sungai Amazon!! Ya, sungai Amazon. Koq kamu bisa dolan sejauh itu, Le… Lagi pula ngumpul sama orang sejagad, kan banyak sekali. Lha rumah siapa yang dapat menampung jutaan orang? Apa di balai desa ya?” </p>
<p>“Ah! Paklik payah! Dunia maya itu dunia internet. Orang tidak harus ketemu langsung, tetapi lewat hubungan komunikasi jarak jauh. Bisa nulis terus dibaca yang lain. Bisa ngomong terus didengar yang lain. Bisa juga kirim foto-foto kita sendiri supaya dilihat orang lain dari negara-negara lain. Gitu, Paklik…”</p>
<p>“Ooo, begitu ya. Paklik belum pernah dengar.” </p>
<p>“Makanya, gaul. Gaul dong, Paklik…Turun gunung ke kota lalu ke warung internet. Buka internet supaya tahu kehidupan di seluruh dunia. Jangan cuma ngobrol dengan Kang Hejis. Kalau gitu ya sama katroknya dengan Kang Hejis..” </p>
<p>“Oalah, Le, Le, orang cuma mau nulis dan ngomong saja pakai turun gunung, ke kota. Jauh itu Le. Mending Paklik ngurusi kambing dan sawah di sini. Lagi pula nanti Bulikmu, Mbak Rara, Pakde Karjan, pak Kepala Dusun, mbok Karni pada ikut semua. Kan repot jadinya.” </p>
<p>“Wakakak… ya nggak seheboh itu. Banyak, koq manfaatnya masuk dunia internet. Paklik bisa kenalan sama orang-orang cantik. Eh, Paklik. Ada juga lho, kalau Paklik mau lihat orang cantik gak pakai baju di internet!!” </p>
<p>“Cah edan! Kamu ini bagaimana to. Masih kecil koq sudah lihat perempuan gak pakai baju. Itu namanya saru tauk…!”</p>
<p>“Saya gak sengaja kok. Di internet kan serba ada. Saya buka ini, itu… eh tahu-tahu ketemu foto cewek begitu. Ya ndak saru to, Paklik. Lagian saya lebih banyak buka Face Book daripada lihat yang begituan. Asyik lho fesbukan Paklik. Face Book itu social network, Paklik. Itu merekatkan hubungan sosial antarteman, kerabat, atau siapa saja. Bukankah asyik?” </p>
<p>“Apa tadi? Wisbuk? Wisbuk itu istilahnya social catwalk?” </p>
<p>“Hahaha… wisbuk itu bahasa Jawa yang artinya sudah lunas, kan Paklik? Bukan! Ini fesbuk! Dan bukan social catwalk tetapi social network. Kalau social catwalk itu kan tempat peragaan busana. Memang sih, di fesbuk mirip-mirip catwalk. Orang-orang yang fesbukan itu melenggak-lenggok mirip peragawan atau peragawati. Keren-keren lho, Paklik, orang yang masuk fesbuk. Mereka pasang foto yang paling yahud. Terus kita bisa lihat. Kalau mau, kita bisa melanjutkan dengan kenalan. Trus ngobrol. Kita juga bisa sesukanya ngomong apa saja. Bangun tidur kesiangan pun bisa kita siarkan di fesbuk. Malah ada yang jengkel sama gurunya ditulis di fesbuk. Mungkin kalau ngomong sama gurunya langsung ia bisa didamprat, ya Paklik. Pokoknya kita mau ngomong apa, bebas. Asyik, bukan?” </p>
<p>“Apa kamu sering wisbukan, Le?” </p>
<p>“Ya bukan sering lagi. Malah tiap hari. Asyik banget sih!” </p>
<p>“Lha kamu kan anak sekolahan. Lalu, kapan belajarnya kalau tiap hari wisbuk-wisbuk terus?” </p>
<p>“Jelas, ada lah waktu untuk belajar. Kalau pas lagi senggang tidak main fesbuk, saya ya belajar. Paling-paling saya fesbukan itu kalau pagi sekitar 2 jam setelah subuhan. Nanti di sekolah sambil belajar di kelas juga bisa koq main fesbuk lewat HP. Trus pulang sekolah makan sebentar kemudian dilanjutkan fesbukan 2 atau 3 jam. Terus malamnya, kalau gak disuruh belajar sama Mama, main fesbuk lagi.” </p>
<p>“Wadoh! Kalau begitu caranya kamu bisa tua di wisbuk dong. Masak sehari segitu lama main wisbuk.” </p>
<p>“Ah, Paklik gak tau sih asyiknya fesbukan. Coba deh sekali-sekali. Rasakan sensasinya!” </p>
<p>“Halah mbelgedez, kamu Le… Eh, itu tadi yang di eternit ada perempuan gak pakai baju, bener tah, Le?” </p>
<p>“Ya, iyalah. Emang kenapa?” </p>
<p>“Besok Paklik dianter ke kota ya. Kita ke warnet…”</p>
<p>“Idiiiih… nanti kubilangin Bulik baru tahu rasa.” </p>
<p>“Udah, jangan ribut-ribut. Nanti kamu Paklik oleh-olehi kambing kalau kamu pulang ke Jakarta.” </p>
<p>Besoknya Paklik Samin benar-benar mengajak adikku ke kota, Malang. Pagi-pagi sekali sudah berangkat naik sepeda motor. Sore mereka baru pulang. Adikku bilang Paklik Samin membeli cat pilok. Paklik Samin tak mau memberi tahu adikku ketika adikku tanya untuk apa beli cat pilok segala. Sesampainya di rumah adikku pinjam kamera digitalku karena disuruh Paklik Samin untuk memotret kambing-kambingnya. </p>
<p>Selang dua hari setelah kejadian itu, aku baru tahu maksud Paklik Samin membeli cat pilok dan menyuruh adikku memotret kambingnya. Ternyata, Paklik Samin menawarkan kambingnya untuk dijual di Face Book! Edan! Paklik Samin jualan kambing di Face Book. Memang, zaman sudah benar-benar edan&#8230; hahaha&#8230;***<br />
<div id="attachment_988" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://kajiankomunikasi.files.wordpress.com/2009/03/kambing-pilokan5.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Promosi kambing di Face Book" title="kambing-pilokan5" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-988" /><p class="wp-caption-text">Promosi kambing di Face Book</p></div></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiankomunikasi.wordpress.com/989/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiankomunikasi.wordpress.com/989/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/989/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/989/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/989/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/989/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiankomunikasi.wordpress.com/989/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiankomunikasi.wordpress.com/989/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/989/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/989/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=989&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/03/15/paklik-samin-jualan-kambing-di-face-book/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>99</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc3438dff7876e390d3f03fc7f1708e2?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hejis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kajiankomunikasi.files.wordpress.com/2009/03/kambing-pilokan5.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kambing-pilokan5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerbung: Adinda, Kau Pasti Bangga Aku Mencintaimu</title>
		<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/03/10/cerbung-adinda-kau-pasti-bangga-aku-mencintaimu/</link>
		<comments>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/03/10/cerbung-adinda-kau-pasti-bangga-aku-mencintaimu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 10:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hejis</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>
		<category><![CDATA[bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[cerbung]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[heru puji winarso]]></category>
		<category><![CDATA[IBSN]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiankomunikasi.wordpress.com/?p=969</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Hejis
ari ini serasa kok seger sekali. Lihat langit tampaknya cerah. Kalau pun ada awan, hanya segores dua gores. Itu malah memperindah langit yang, entah siapa yang tahu, kok berwarna biru. Biru adalah warna favoritku. Memang, semua warna bagus… asal biru! Duh, indahnya. Orang-orang yang kutemui rasanya juga ramah-ramah. Ibu kos saja yang biasanya pasang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=969&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Oleh Hejis</b>
<p><div class="wp-caption alignleft" style="width: 130px"><a href="http://x13.xanga.com/cc6d636a03c30131432148/z95834257.jpg"><img alt="Cintaku... ohh!" src="http://x13.xanga.com/cc6d636a03c30131432148/z95834257.jpg" title="Jatuh cintrong...trong..." width="120" height="120" /></a><p class="wp-caption-text">Engkau pasti bangga mencintaiku</p></div>Hari ini serasa kok seger sekali. Lihat langit tampaknya cerah. Kalau pun ada awan, hanya segores dua gores. Itu malah memperindah langit yang, entah siapa yang tahu, kok berwarna biru. Biru adalah warna favoritku. Memang, semua warna bagus… asal biru! Duh, indahnya. Orang-orang yang kutemui rasanya juga ramah-ramah. Ibu kos saja yang biasanya pasang wajah cemberut, pagi ini tersenyum renyah. Bugel, teman sekosku juga begitu. Bahkan tanpa sungkan-sungkan meminjami aku uang. Mendinglah, kantong sudah kempes ada yang memberi talangan. Mengapa begitu ya? </p>
<p><span id="more-969"></span></p>
<p>Selidiki punya selidik penyebabnya tak lain adalah si Adinda Teratai Wangi. Ia adalah perempuan sang pemilik wajah bulat telur, berlesung pipit, bergigi bak biji mentimun, dan sorot matanya bening alias kinclong. Ia kemarin menghadiahi aku senyum. Karena senyum manisnya itulah yang membuat pagi ini serasa cerah. Ia memberikan senyum padaku pasalnya aku meminjami buku catatan kuliah. Padahal seumur-umur mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi, aku tak pernah membuat catatan pelajaran yang sistematik. Eh, ia malah pinjam ke aku. Ada apa ini? </p>
<p>Menurut Ngajito, teman sekelasku yang jago menaklukkan hati perempuan, itu pertanda ada apa-apa dengan Adinda. Dengan kata lain, Adinda menaruh perhatian kepadaku. Wuih, gak mungkin rasanya! </p>
<p>“Kamu beruntung, Ngur. Adinda yang menjadi incaran cowok se-kampus malah naksir kamu,” begitu Jito mengomentari senyum Adinda kepadaku. Di lingkungan kampus, kata-kata Ngajito untuk urusan cewek sudah dianggap seperti fatwa ulama. Kebenarannya nyaris 100%.</p>
<p>“Apa ia gak ngaca, siapa dia siapa aku?” tanyaku pura-pura bego, padahal hatiku berbunga-bunga. Mungkin malah berbuah-buah, saking senengnya. Jadi, tinggal nunggu saat panennya aja. </p>
<p>“Cinta itu tak pandang bulu. Walau pun bulu-bulumu gak bermutu kalau ia jatuh cinta kepadamu, kamu mau bilang apa?” </p>
<p>“Ya, tetapi aku kan bukan mahasiswa yang ngetop.” </p>
<p>“Halah, jangan sok rendah hati segala. Sudah, dekati saja. Nyatakan cintamu. Terus honey moon.” </p>
<p>“Bah! Kayak yang udah kebelet aja pakai honey moon. Emang siapa yang mau cepet-cepet kawin!” </p>
<p>Hari itu, percakapanku dengan Ngajito berakhir remis. Aku tetap pada pendirianku dan ia ngotot dengan pendapatnya. Namun, diam-diam aku mbatin. Mosok ya gadis cantik seperti Adinda naksir aku. Mau dikemanakan dunia ini jika ia naksir aku. Memang, aku terkenal sebagai mahasiswa yang ulet dan tabah. Ulet, karena sering ngejar-ngejar cewek sampai ke kosnya atau nekad ikut pulang kampung kalau cewek yang kutaksir pulang ke kampung. Dikatakan tabah karena aku terkenal tidak mau dirundung kesedihan yang mendalam ketika patah hati. Dihitung-hitung sudah 11 kali dalam tiga bulan terakhir aku ditolak cewek. Bukankah itu tabah?! Entahlah, itu tabah apa ndableg. Beda-beda tipislah kali ya. </p>
<p>Pagi ini, pagi yang cerah ini, kiranya dapat menjadi modal untuk mengawali hari ini di kampus. Semoga niatku kali ini untuk menyunting… halah, kayak Putra mahkota aja… Adinda yang cantik bisa berhasil. Doakan ya. Tuhan kabulkanlah…</p>
<p>Dengan modal pagi yang cerah dan penerawangan semalaman suntuk, aku yakin cintaku kali ini tak bertepuk sebelah tangan. Aku yakin pula si Adinda akan klepek-klepek menerima ungkapan cintaku yang tulus, suci, murni, aseli, dan original. Ia pasti akan berterima kasih kepada Tuhan karena mendapatkan anugerah yang luar biasa, mendapatkan aku sebagai cowoknya. Huh! </p>
<p>Bagaimana mungkin ia tidak berterima kasih kepada Tuhan. Aku ini lho akan mencurahkan seluruh hidupku untuk dirinya. Pengabdianku akan kupasrahkan kepada dirinya. Cinta yang bulat penuh ini akan menjadi miliknya. Belum lagi ditambah bonus dari wajahku yang lumangyan ganteng mirip Budi Anduk. Bukankah itu lebih dari cukup untuk seorang Adinda? Adinda… Adinda… betapa beruntungnya dirimu. </p>
<p>Semalam sudah kususun kalimat yang paling yahud-maut agar ia tak ada alasan untuk menolak cintaku. Kupilih kata-kata yang powerful, yang daya ledaknya setara dengan ledakan bom atom yang jatuh di Hiroshima. Eh… jangan-jangan Adinda malah ancur kena ledakan itu. Ah, enggak, enggak. Hatinya saja yang pasti luluh. Kemudian adegan berikutnya sudah bisa dibayangkan: dengan suka-cita ia akan memeluk diriku. Waw! Bangga abis, pastinya! Terus terang, nanti akan kuelus punggungnya. Terutama rambutnya, akan kubelai-belai melebihi belaianku kepada kucing kesayanganku, si Boni. </p>
<p>Dari sudut matanya yang bundar, tentu akan meleleh air matanya yang hangat yang akan membasahi pipi kananku. Ough… oughhhh… gak kebayang, betapa mesranya hidupku hari ini. Seraya usapan lembut tanganku di rambutnya yang tergerai panjang, ia juga akan tersenyum di sela-sela sesenggukan tangis bahagianya. Rambutnya yang wangi karena sering keramas, pastinya akan menutupi sebagian dari wajah kerenku. </p>
<p>Satu lagi. Di balik ketatnya pelukanku dan pelukannya barang tentu ia akan mengucapkan kata-kata pembuka percintaanku yang kelak kuramalkan bakal romantis, dramatis, dan melankolis. Ia pasti berucap, “Mmaaas….Mmaaaszz…” Ya, saya ramalkan ia akan berucap, seperti ini: “Mas Blengur… sungguh aku mencintaimu mas. Aku tak bisa hidup tanpamu, mas. Tolong jangan tinggalkan aku, walau sedetik pun….uhuk…uhukk..” Pasti akan seperti itu. Pasti! Dijamin! </p>
<p>(BERSAMBUNG. Itu pun jika masyarakat menghendaki… hehehe…)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiankomunikasi.wordpress.com/969/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiankomunikasi.wordpress.com/969/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/969/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/969/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/969/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/969/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiankomunikasi.wordpress.com/969/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiankomunikasi.wordpress.com/969/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/969/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/969/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=969&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/03/10/cerbung-adinda-kau-pasti-bangga-aku-mencintaimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>87</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc3438dff7876e390d3f03fc7f1708e2?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hejis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://x13.xanga.com/cc6d636a03c30131432148/z95834257.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Jatuh cintrong...trong...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ri&#8230; Ponari&#8230; terima kasih ya?!</title>
		<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/03/03/ri-ponari-terima-kasih-ya/</link>
		<comments>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/03/03/ri-ponari-terima-kasih-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 22:31:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hejis</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>
		<category><![CDATA[dukun]]></category>
		<category><![CDATA[heru puji winarso]]></category>
		<category><![CDATA[IBSN]]></category>
		<category><![CDATA[pengobatan supranatural]]></category>
		<category><![CDATA[ponari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiankomunikasi.wordpress.com/?p=965</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Hejis
Dukun tiban Ponari benar-benar fenomena luar biasa. Ndak luar biasa gimana wong bocah 10-an tahun menjadi anak yang kredibel di mata puluhan ribu orang bahkan mungkin ratusan ribu atau jutaan. Yang jelas tiap hari ribuan orang berduyun-duyun antri dan percaya 100 persen untuk mengobati dirinya.
Dari sisi kultur masyarakat kebanyakan, ia makhluk yang ditunggu-tunggu di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=965&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh Hejis</strong></p>
<p>Dukun tiban Ponari benar-benar fenomena luar biasa. Ndak luar biasa gimana wong bocah 10-an tahun menjadi anak yang kredibel di mata puluhan ribu orang bahkan mungkin ratusan ribu atau jutaan. Yang jelas tiap hari ribuan orang berduyun-duyun antri dan percaya 100 persen untuk mengobati dirinya.<span id="more-965"></span></p>
<p>Dari sisi kultur masyarakat kebanyakan, ia makhluk yang ditunggu-tunggu di zaman susah mengobati penyakit. Yang mahallah, yang buruk pelayanannyalah, yang sulit aksesnyalah. Masyarakat merindukan obat yang cespleng, murah, dan gampang didapat (tidak birokratis).</p>
<p>Analisis fenomena Ponari telah banyak dilakukan oleh para ahli (dan, tentu saja juga yang tidak ahli). Umumnya dan tragisnya berakhir pada hujatan kepada pemerintah karena pemerintah dianggap kurang memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada rakyat. Jadi, fenomena Ponari yang muncul tanpa bermaksud mengkritik kebijakan pemerintah, tetapi dipakai untuk menghujat pemerintah! Huuuuuu&#8230; kasihan deh pemerintah.</p>
<p>Menurut Hejis, analisis itu belum sepenuhnya tepat dan mendalam&#8230; halah! Iya. Coba tengok dari sisi perilaku rombongan pengantri itu. Lalu tengok juga dari sisi panitia “penyambutan” masyarakat lokal terhadap para pendatang yang antri itu. Dan, satu lagi, para pejabat lokal yang gamang menghadapi peristiwa Ponari itu.</p>
<p>Masyarakat pengantri itu hanya berlogika segala macam penyakit dapat diobati dengan cara Ponari. Atau, oleh Ponari. Tak peduli logika ilmiah, pemikiran linier, pembuktian empiris. Pertanyaan saya kepada mereka. Dengan dunia logika yang seperti itu, apakah mereka juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Mestinya ya bila mereka mau dianggap konsisten. Contoh, jika mereka lapar mereka mestinya juga harus menggunakan logika itu dengan cara sim salabim, lalu kenyang. Jika mereka ingin lulus sekolah mereka mestinya juga harus menggunakan logika sim salabim, lalu lulus. Sama seperti jika mereka sakit dan sim salabim, lalu sembuh.</p>
<p>Kepada panitia penyambutan para pasien Ponari, layak juga diajukan pertanyaan. Terhadap orang-orang yang susah yang datang untuk berobat dari luar kota sudahkah diperlakukan dengan wajar? Mereka susah-payah untuk mengakhiri penderitaan sakitnya yang mungkin sudah lama tetapi di tempat Ponari mereka harus membeli tiket antri yang diberi tarif resmi Rp 2.000,- namun dijual Rp 5.000,- Kelihatannya kok ada aji mumpung ya. Mengambil kesempatan dalam keterpepetan. Bukannya lebih baik mereka menjamu tamu-tamu Ponari yang sedang kesusahan itu dengan memberikan minum, makan, pondokan? Dulu masyarakat Indonesia seperti itu! Kalau ini sekarang berat ya tidak perlu. Cuma, jangan menambah beban berat mereka&#8230; halah!</p>
<p>Kepada para pejabat lokal perlu juga diberi pertanyaan nih&#8230; Apakah mereka tidak bisa mengantisipasi dampak pengobatan ala Ponari, baik dari sisi logika, ketertiban, kelangsungan dunia logika yang sehat, atau kultur? Jika sejak awal mereka tegas melarang pengobatan seperti itu karena melanggar undang-undang kesehatan, misalnya, maka mereka telah menyelamatkan masyarakat dari keterbelakangan kultur. Atau minimal mencegah sementara. “Hebatnya” lagi, ada seorang anggota dewan yang ngotot minta dibukanya kembali pengobatan Ponari yang sudah ditutup. Ini mah mbahnya terbelakang!</p>
<p>Menurut hemat saya (memang saya perlu berhemat&#8230;he&#8230; he&#8230;), fenomena pengobatan Ponari jangan dilanjutkan. Mengapa? Kita hidup di dunia yang berbeda dengan zaman nabi-nabi dulu. Di zaman nabi-nabi dulu Tuhan memang memberikan rakhmat kepada orang-orang tertentu sehingga dapat mengobati dengan cara yang tidak lazim karena tantangan kehidupan waktu itu berat, ilmu kedokteran belum ditemukan. Kini orang sudah dikaruniai ilmu yang lebih tinggi mestinya melanjutkan memelajari ilmu kedokteran itu. Lagi pula cara-cara pengobatan Ponari dan Ponari-Ponari yang lain tidak bisa dibuktikan oleh akal sehat. Bagaimana mungkin kehidupan manusia dilandasi oleh bukti-bukti yang tidak bisa dibuktikan? </p>
<p>Memang kadang-kadang ilmu kedokteran pun tidak mampu mengatasi suatu penyakit. Namun, bukan berarti kita beralih ke ilmu yang lebih samar-samar. Jika pernyataan ini diterima, dunia pendidikan mestinya belajar bagaimana mengajari murid-murid agar berpikiran ilmiah. Segala hal yang diinginkan mesti diusahakan dengan cara-cara menurut cara kerja otak yang logis. Jika dunia pendidikan tidak menghasilkan manusia-manusia logis, maka fenomena Ponari akan terus terulang dan kita menjadi masyarakat yang jauh tertinggal dari negara lain. Akibatnya, kita menjadi masyarakat yang dijajah secara ekonomi, politik, kultural.</p>
<p>Cuma, bagaimana pun Ponari telah menyadarkan saya bahwa pendapat tentang masyarakat kita yang telah cerdas perlu disertai dengan tanda tanya, benarkah? Makanya&#8230; ri&#8230; Ponari&#8230; terima kasih ya?!***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiankomunikasi.wordpress.com/965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiankomunikasi.wordpress.com/965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiankomunikasi.wordpress.com/965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiankomunikasi.wordpress.com/965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/965/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=965&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/03/03/ri-ponari-terima-kasih-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>110</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc3438dff7876e390d3f03fc7f1708e2?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hejis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maafkan Daku dan Beranda Baru</title>
		<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/02/27/942/</link>
		<comments>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/02/27/942/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 00:34:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hejis</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>
		<category><![CDATA[beranda baru]]></category>
		<category><![CDATA[blog baru]]></category>
		<category><![CDATA[heru puji winarso]]></category>
		<category><![CDATA[IBSN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiankomunikasi.wordpress.com/?p=942</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu’alaikum sobat-sobat
Kata yang mula-mula amat perlu dari saya adalah mohon ampun, maaf banget. Ini karena beberapa lama saya absen mengunjungi kalian. Kalau ditanya alasannya saya punya. Wakakak… pinter deh kalau cari alasan ya….
Alasan pertama, saya tergoda dengan ide ngotak-ngatik blog baru dengan pemberi blog gratis yang lain, selain mas WordPress. Ia adalah mas Blogger. Selain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=942&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Assalamu’alaikum sobat-sobat</p>
<p>Kata yang mula-mula amat perlu dari saya adalah mohon ampun, maaf banget. Ini karena beberapa lama saya absen mengunjungi kalian. Kalau ditanya alasannya saya punya. Wakakak… pinter deh kalau cari alasan ya….<span id="more-942"></span></p>
<p><b>Alasan pertama</b>, saya tergoda dengan ide ngotak-ngatik blog baru dengan pemberi blog gratis yang lain, selain mas WordPress. Ia adalah mas Blogger. Selain didorong rasa penasaran saya juga ingin “mengawinkan” dua blog yang kelihatannya tak begitu mesra itu…he..he.. Jadi? Jadilah blog saya yang oleh dukun bayi diberi nama Berita Publik. Cara mengawinkan kedua blog itu dengan membuat link di antara keduanya. Klik di sini muncul di sana. Klik di sana muncul di sini. Tetapi mungkin itu membuat kesal pengunjung ya… </p>
<p>Tujuannya sebenarnya membantu teman-teman, menyediakan informasi sana-sini. Biar para blogger punya tambahan bacaan. Biar blogger tidak lupa pada informasi-informasi di belahan dunia lainnya. Oleh karena itu, blog Berita Publik diisi dengan informasi-informasi yang …yahhh…berita lempeng. Straight news… hard news…. Mak nyuss..<br />
Bikin blog ini menyita waktu. Waktu untuk belajar tentang Blogger. Waktu untuk belajar HTML. Waktu untuk membuat layout. Waktu untuk ngarang-ngarang menu sajiannya. Waktu untuk browsing sumber berita dari segala penjuru angin. Waktu untuk menulis postingan. Pokoknya banyak waktu. Semuanya cuma untuk mengikuti kata hati… Semoga berguna ya…</p>
<p>Lalu, <b>alasan kedua</b>. Saya tak banyak berkunjung ke blog-blog Anda semua karena akses internet di tempat tinggal saya macet. Kadang-kadang tersengal-sengal, mirip orang terkena penyakit TBC akut. Jadi nafasnya sesak. Berhari-hari kompie dinyalakan, trus diconnectkan gak ngonek-ngonek. Berjam-jam saya biarkan nyala tiap harinya. Berjam-jam itu pula konek gak nembus-nembus. Lalu saya otak-atik mulai dari settingannya, programnya hingga mencopot dan memasang berulang-ulang kabul penghubung dari kompie ke modem yang gedenya sebesar tatakan gelas teh. </p>
<p>Ada saat yang menggembirakan. Sekali waktu dapat nembus konek ke internet. Byar!! Rasanya dunia terang benderang..he..he..lumangyan, bisa ngenet. Tetapi gak seberapa lama… pettt! Mati lagi. Tentu ini bikin senewen. Beberapa hari sang akses internet ini mogok total… Pengen deh rasanya membeli semua perusahaan provider internet di Indonesia biar gak putus ngenet! Cuma mereka apa mau jual ya… wekekek…</p>
<p>Setelah modem dibawa ke yang jual, ternyata kompienya yang bermasalah. Program terobrak-abrik oleh mas Virus. Jadi biang keladinya bukan keladi bogor, tetapi virus kompie yang entah namanya siapa. Sebetulnya masalah terkena virus bukan masalah baru. Sering sekali. Dulu pernah kena virus sampai 1.300 buah ketika di-scan. Cuma yang ini bikin gemes aja…</p>
<p>Jadi, jangan pada nangis dan ngedumel ya gara-gara saya kurang melayani… apalagi sampai pengen bunuh diri. Jangan! Gak baik itu ya… he…he…</p>
<p>Well, sekarang bisa ngenet lagi masih tetap dengan virus yang belum terobati tetapi didukung dengan software booster yang baru. Gak papa yang penting bisa jalan dulu, virusnya digecek belakangan. Kalau koit lagi ya wassalam deh…</p>
<p>Ya, saya hanya bisa mengatakan mohon maaf, semoga dimaafkan oleh Anda semuanya. Minnal aidin walfaidzin… <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>**********</p>
<p><strong><br />
<h4>Untuk meningkatkan pelayanan kepada sahabat semua&#8230; <em>halah&#8230; mbelgedez!!</em>. Blog ini ditandem. Penampilannya diperbarui. Isinya ditingkatkan.
</p>
</p>
<p><a href="http://www.beritapublik.blogspot.com" target="_blank">[Klik] KE BERANDA YANG BARU blognya HEJIS</a></p>
</p>
</p>
</p>
<p><a href="http://www.beritapublik.blogspot.com" target="_blank"><img style="display:block;text-align:center;cursor:pointer;width:250px;height:65px;margin:0 auto 10px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3Ax-RkP6Dmg/SZuBrtEPPuI/AAAAAAAAACs/YU0DJdF2B7s/s400/Logo+Berita+Publik.jpg" alt="" border="0" /></a></p>
</h4>
<p></strong></p>
<p>Silakan mampir<br />
Selamat Menikmati Beranda Baru. Lebih asyik, lebih oke pastinya&#8230; ha&#8230; ha&#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiankomunikasi.wordpress.com/942/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiankomunikasi.wordpress.com/942/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/942/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/942/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/942/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/942/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiankomunikasi.wordpress.com/942/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiankomunikasi.wordpress.com/942/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/942/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/942/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=942&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/02/27/942/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc3438dff7876e390d3f03fc7f1708e2?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hejis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://3.bp.blogspot.com/_3Ax-RkP6Dmg/SZuBrtEPPuI/AAAAAAAAACs/YU0DJdF2B7s/s400/Logo+Berita+Publik.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PUISI</title>
		<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/02/26/puisi-2/</link>
		<comments>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/02/26/puisi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 23:53:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hejis</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[heru puji winarso]]></category>
		<category><![CDATA[IBSN]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiankomunikasi.wordpress.com/?p=843</guid>
		<description><![CDATA[FATWA
Oleh Hejis
naik asap kepalamu mendongak
menatap langit
kepala-kepala lelaki bergelimpangan
terinjak alas kakimu tanpa debu
bocah dan perempuan mengiba-iba
membersihkan sepatu dengan lidah api
mulut membuih
makna di saku busana wangi
kuasa sudah menyublim
bocah dan perempuan
mengais-ngais di ceceran ludahmu
*****
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=843&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>FATWA</p>
<p><i>Oleh Hejis</i></p>
<p>naik asap kepalamu mendongak<br />
menatap langit<br />
kepala-kepala lelaki bergelimpangan<br />
terinjak alas kakimu tanpa debu<br />
bocah dan perempuan mengiba-iba<br />
membersihkan sepatu dengan lidah api</p>
<p>mulut membuih<br />
makna di saku busana wangi<br />
kuasa sudah menyublim<br />
bocah dan perempuan<br />
mengais-ngais di ceceran ludahmu</p>
<p>*****</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiankomunikasi.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiankomunikasi.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiankomunikasi.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiankomunikasi.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/843/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=843&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/02/26/puisi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc3438dff7876e390d3f03fc7f1708e2?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hejis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AWARDS FOR MATT MULLENWEG AND MARIA OZAWA</title>
		<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/02/25/awards-for-matt-mullenweg-and-maria-ozawa/</link>
		<comments>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/02/25/awards-for-matt-mullenweg-and-maria-ozawa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 10:22:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hejis</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>
		<category><![CDATA[blog award]]></category>
		<category><![CDATA[heru puji winarso]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[IBSN]]></category>
		<category><![CDATA[Maria Ozawa]]></category>
		<category><![CDATA[Matt Mullenweg]]></category>
		<category><![CDATA[wordpress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiankomunikasi.wordpress.com/?p=810</guid>
		<description><![CDATA[
Surat Buat Mas Amat Mulyo Wagino di Houston
Oleh Hejis
 

Yth. Matt Mullenweg alias Amat Mulyo Wagino.
Selamat pagi, mas Amat. Pagi ini di Malang terasa dingin menusuk tulang. Mungkin mirip hawa sejuk di kampungmu, Houston, Texas ya. Beberapa hari ini hujan terus mengguyur sambung menyambung menjadi satu *itulah Indooo… neee… sia*, padahal di atas langit sana tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=810&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong></p>
<h2>Surat Buat Mas Amat Mulyo Wagino di Houston</h2>
<h3>Oleh Hejis</h3>
<p> </p>
<p></strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><a href="http://www.techcult.com/wp-content/uploads/2008/06/mattmullenweg.jpg"><img title="Matt Mullenweg" src="http://www.techcult.com/wp-content/uploads/2008/06/mattmullenweg.jpg" alt="Amat Mulyo Wagino nama pemberian Hejis untuk Matt Mullenweg" width="180" height="254" /></a><p class="wp-caption-text">Amat Mulyo Wagino nama pemberian Hejis untuk Matt Mullenweg</p></div>
<p><strong>Yth. <a href="http://ma.tt/">Matt Mullenweg</a> alias Amat Mulyo Wagino.</strong></p>
<p>Selamat pagi, mas Amat. Pagi ini di Malang terasa dingin menusuk tulang. Mungkin mirip hawa sejuk di kampungmu, Houston, Texas ya. Beberapa hari ini hujan terus mengguyur sambung menyambung menjadi satu *<em>itulah Indooo… neee… sia</em>*, padahal di atas langit sana tak kulihat tandon air. Tetapi kok ya airnya gak habis-habis ya. Ya, betul! Kekuasaan Tuhan. Hujan di sini dan kota-kota tetangga Malang tak pernah turun salju, seperti yang engkau berikan di blogku Januari lalu. Rasanya gimanaaa.. gitu, saat salju turun dengan lembut dan krenyes-krenyes. Kelihatannya mesra ya jika pacaran di bawah cucuran salju. Yang jelas gak pacaran sama kamu, dong. Masak jeruk minum jeruk. Ah, jadi ngelantur. Kesimpulannya, aku di Malang kedinginan disebabkan sering kehujanan, tetapi hati ini tetap hangat karena karyamu dalam bentuk blog ini, WordPress.<span id="more-810"></span></p>
<p>Itulah, mengapa aku menulis surat ini buatmu setelah lama gak kirim surat kepadamu, mas. <em>Ya iyalah… wong kita aja belum kenal ya</em>. Karyamu itu lho yang bikin aku gembira mirip perasaan sehabis minum soda gembira di warung pojok dekat kompleks kos-kosan. Gembira karena bisa ngeblog di rumah yang gratis. Gembira karena mendapatkan teman yang mencari teman. Gembira karena bisa belajar menulis artikel. Untuk itu marilah sejenak kita bersorak-sorak bergembira… plok-plok-plok… plok-plok-plok… plok-plok-plok-plok-plok-plok-plok! (Tolong kalau jumlah “plok”-nya kurang, tambahi sendirilah, wong ini juga gratis). Terima kasih.</p>
<p>Mas Amat, kamu kok pinter dan kreatif sih? Anaknya siapa kamu ini? Pasti seneng deh orang tua yang punya anak seperti kamu ya. Lha aku yang sudah segede gini aja kurang pinter, apalagi kreatif. Memang banyak orang seumuran aku di Indonesia yang pinter. Yang kreatif? Banyak juga. Cuma, kebetulan aku agak dodol. Jangan salah, mas Amat. Dodol itu bukan yang untuk gosok gigi. Itu namanya odol, mas. Kalau ayam punya aku yang rambutnya males tumbuh, istilahnya trondol. Ayam trondol, gitu. Jangan bingung ya, meskipun di Amrik tidak ada ayam trondol. Nanti deh, kalau mampir di desaku, pulangnya kuoleh-olehi ayam trondol. Mau? Mau? Mau? Terserah kamulah nanti bawanya pakai apa. Mungkin dibungkus sarung juga bagus.</p>
<p>Oya, tadi kubilang aku agak dodol. Itu maksudnya adalah otakku rada-rada kental, gak encer, sehingga mirip dodol atau jenang, makanan ringan yang berasal dari ketan. Otakku agak dedel atau seret bila buat mikir sedikit saja. Soalnya waktu sekolah kami di sini tidak diajari berpikir kreatif. Di sekolah kami hanya diajari menghapal dan meramal. Menghapal semua informasi yang diberikan dalam setiap mata pelajaran. Meramal untuk semua nasib yang akan kami jalani. Mestinya kan nasib itu dipersiapkan dengan belajar dengan tekun ya? Begitulah kami, mas Amat. Tetapi, jangan sedih ya. Kami tenang-tenang aja kok. Gini-gini kami juga hidup.</p>
<p>Memang karyamu bikin hidup lebih hidup. Sekarang banyak lho, mas, orang yang hidupnya hanya di depan komputer, di depan blog WordPress. Sampai mukanya kotak-kotak kayak kotak monitor. Tetapi ya mereka hidup, termasuk aku ini yang tadinya berwajah lumangyan… <em>hihihik… ketularan jadi narso (narsis tapi ndeso)</em>. Udahlah, biarin saja mas. Nanti juga tobat sendiri. Lagi pula daripada kluyuran yang enggak-enggak, kan lebih baik enggak kluyuran. Ya kan?</p>
<p>Lalu apa sebetulnya yang ingin aku katakan kepadamu, mas Amat? Ya atas jasamu membuat blog itulah aku mau menyampaikan terima kasih. Terima kasih saja? Ya iyalah. Kan dirimu saat ini sudah kaya-raya. Malahan superkaya. Wajarlah jika kamu menjadi kaya. Kamu yang sudah kerja keras berhak menuai hasilnya. Kami bisanya cuma ikut senang dan berdoa, semoga hidupmu bahagia di sampingnya (halah!). dengan uangmu yang banyak itu, kamu bisa beli apa saja. Cuma jangan menyumbang untuk orang-orang yang nggak bener, ya Mas. Nanti malah uang hasil dari sumbanganmu digunakan untuk menindas orang lain. Jangan, Mas. Dan, jangan boros ya.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><a href="http://www.mafia.or.id/wp-content/uploads/maria-ozawa-0026.jpg"><img title="Maria Ozawa" src="http://www.mafia.or.id/wp-content/uploads/maria-ozawa-0026.jpg" alt="Maria Ozawa memberikan komen di blog Hejis" width="180" height="254" /></a><p class="wp-caption-text">Maria Ozawa memberikan komen di blog Hejis</p></div>
<p><strong>Maria Ozawa kirim komen</strong></p>
<p>Oya, mas Amat. Berkat ngeblog ini, aku punya pengalaman unik lho. Ceritanya begini. Waktu aku posting tentang <a href="http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/01/12/refleksi-obat-hati/">“REFLEKSI: Obat Hati. Janganlah Hatimu Mudah Terluka”</a>, aku pasang gambar perempuan yang cantiknya pol-polan. Eh, gak berapa lama aku dapat komen dari <strong><a href="http://www.twitter.com/mariaozawa">Maria Ozawa</a></strong>. Dia bilang, “Arigatou”, trus kujawab “Waalaikum salam…” Hihihiy… gak nyambung ya, mas Amat… Eh, nggak ding. Aku pura-pura bisa bahasa Jepang. Jadi, kujawab begini,</p>
<p>“<em>ありがとうございました小沢訪問を逃す。あなたはいい体をしてラッキー。誰かを崇拝する人は多い。私も。サラム屋暖かい。この日本語言語ですみません。私はまだ勉強に新しいです。 Thank you for visiting my blog, Ozawa. Cheers… </em>”</p>
<p>Kira-kira artinya seperti ini: “Terima kasih atas kunjunganmu, Nona Ozawa. Anda beruntung memiliki tubuh yang baik. Banyak lelaki yang memujamu. Salam hangat ya. Maaf bahasa Jepang aku berantakan” (terjemahan bebas, jadi ngawur-Hejis).</p>
<p>Kenapa aku bilang begitu? Memang dia cantik banget lho, mas. Aku lacak gambarnya di internet. Wow! Badannya mbody bangettzz… Dijamin kakek yang umur 70 tahun, sekali pun, akan klenger dibuatnya. Saking aduhainya.</p>
<p>Mungkin kamu akan mengatakan bahwa bisa saja orang menyamar jadi Maria Ozawa. Umpamanya begitu ya ndak papa. Malah kalau ia Ozawa beneran aku jadi repot. Lha nanti kalau aku pulang kampung trus ia maksa mau ikut, apa ndak orang sekampung bilang, “Hai, kawan-kawan… Hejis bawa boneka barbie raksasa. Kan repot itu, mas Amat. Ya kan?</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-829" title="award-dari-mbak-indah-rephi1" src="http://kajiankomunikasi.files.wordpress.com/2009/02/award-dari-mbak-indah-rephi1.jpg" alt="Award dari mbak Indah Rephi" /><strong>Award untuk Matt Mullenweg dan Maria Ozawa</strong></p>
<p>Begitulah pengalaman unikku dengan WordPress-mu. Namun, ada pengalaman unik lainnya lho. Berkat ngeblog, aku dapat award. Apaan award itu? Yah semacam penghargaan Nobel atau Piala Oscar tetapi yang ini buat para blogger yang dianggap layak. Kriteria layak ini macem-macem, mas. Terserah yang memberi saja. Kadang-kadang karena isi blognya bagus, mencerahkan. Kadang-kadang karena pemilik blog itu dianggap sahabat oleh pihak yang memberi award. Atau, kadang-kadang pemilik blognya gokil sehingga tulisan-tulisannya ya gokil juga. Atau sebab lain yang aku tidak tahu. Biasanya pemberian award itu diberikan sambil diminta membuat PR.</p>
<p>Contohnya ini, mas Amat. Beberapa hari yang lalu aku dapat award dari mbak <a href="http://indahrephi.wordpress.com">Indah Rephi</a> yang sering panen award. Soalnya orangnya lincah, kayak bola bekel… *Gak nyambung lagi…* Sinii, kuakasih tahu cara menangani dapet award.</p>
<p>Pertama jawab PR-nya dulu. Lihat pertanyaan dan jawaban aku ya?</p>
<ol>
<li>DARI MANA BLOG KAMU BERASAL? Dari Malang, mbaaak. Masak gak ngerti sih.</li>
<li>KAPAN DILAHIRKANNYA BLOG INI? Sekitar September 2008, mbaaak. Masak gak ngerti sih.</li>
<li>KESULITAN APA SAJA YANG ADA SAAT MEMBUAT BLOG INI? Banyak banget, mbaaak karena aku gak ada yang ngajari. Masak gak ngerti sih.</li>
<li>MENGAPA MEMBAHAS TOPIK YANG KAMU BAHAS SEKARANG? Lha ini topik satu-satunya yang tersisa di seluruh dunia sedangkan yang lain sudah dipatenkan, mbaaak. Masak gak ngerti sih.</li>
<li>KENAPA TAMPILAN BLOG MENGGUNAKAN TEMPLATE INI? Seneng aja, mbaaak. Masak gak ngerti sih.</li>
<li>APA YANG KAMU LAKUKAN SAAT PERTAMA BLOG ANDA BARU JADI? Iya, ya, apa yang kulakukan setelah blog ini jadi? Masak aku gak ngerti sih.</li>
</ol>
<p>Begitulah, mas Amat, caranya menangani award. Sudah paham apa belum? Baiklah. Untuk selanjutnya award ini akan aku berikan kepadamu, atas nama <a href="http://ma.tt/">MATT MULLENWEG</a> alias Amat Mulyo Wagino. Lho kok namaku gitu? Mungkin kamu bertanya begitu. Ya iyalah, makanya dari awal aku memanggilmu mas Amat. Memang begitu. Ini sebetulnya penghargaan dari aku kepadamu, mas Amat. Di kampung aku, orang yang amat dihargai akan diberi penghargaan antara lain diberi nama baru versi lokal. Nah, ini nama yang aku anugerahkan kepadamu atas jasa-jasamu menciptakan blog WordPress.</p>
<p>Lhah! Aku lupa menjelaskan arti namamu yang baru sebagai warga kehormatan kampungku, mas Amat. Untung ada komen muncul tuh, dari mas <a href="http://borneojarjua2008.wordpress.com">H.E Benyamine</a> yang asal Banjarbaru. Kata mas Ben, namamu yang baru itu perlu diartikan dong (lihat komen H.E. Benyamine di bawah &#8211; <em>Hejis</em>). Terima kasih ya, mas Ben atas sarannya.</p>
<p>Amat Mulyo Wagino itu saya miripkan dengan nama aslimu Matt Mullenweg. Gitu critanya… he… he… Tetapi dalam bahasa Indonesia-Jawa namamu juga memiliki arti yang keren abis. <strong>Amat</strong> artinya sangat, atau benar-benar. Mulyo artinya mulia, utama, tinggi derajatnya. Dan, <strong>Wagino</strong> artinya <strong>wage + ono</strong>, wage adalah suatu nama weton atau pasaran dalam kalender Jawa. Sedangkan <strong>ono</strong> dalam bahasa Jawa artinya ada atau tersedia. Kamu lahirnya tepat pasaran wage, bukan? Oww!&#8230; <em>sekali lagi</em>…. Owww! *Maksudnya, aku kaget* He… he… Bukan ya? Ya udah. Kalau gitu <strong>wage</strong> aku ambilkan dari bahasa Inggris yang artinya upah, atau kalau diperluas artinya penghasilan, uang, atau rejeki.</p>
<p>Jadi secara keseluruhan arti dari namamu, <strong>Amat Mulyo Wagino</strong> adalah <em>seseorang yang amat mulia dan rejekinya selalu ada.</em> Wah itu juga merupakan doaku lho, mas. Selamat ya. Tidak sembarang orang kukasih nama sebagus ini. Seneng ya?</p>
<p>Cuma setelah ini kamu jangan ngomong-ngomong sama Bill Gates ya. Nanti sedih dan pilu, dianya. Kenapa ini kuberikan kepadamu tidak kepada Bill Gates? Karena kreasimu itu kamu berikan kepada orang-orang di seluruh dunia tanpa harus membayar. Sedangkan buatan Bill itu harganya mah’hal. Tetapi, gini wes. Kapan-kapan kalau aku sempat nanti si Bill itu ya kukasih juga. Nanti dikira aku pilih kasih. Ya kan?</p>
<p>Jangan lupa lho dibikin PR-nya. Mentang-mentang sudah kukasih award kamu gak mau bikin PR-nya. Jangan khawatir mengenai slametan nama barumu nanti. Aku yang nanggung biaya bikin bubur merah-putihnya. Ndak usah repot-repot ngirim duit segala. Duitku masih ada, sisa sangu waktu aku tirakatan di belantara Setra Gandamayit.</p>
<p>Udah ya, jangan lupa miskol kalau sudah dibuat PR-nya. Salam untuk bulik dan pakdemu ya. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Akhirnya, award ini kuberikan kepada dua orang. Siap-siap ya menerimanya dan membuat PR-nya! Inilah mereka:</p>
<ol>
<li><strong>Ya award ini kuberikan kepada <a href="http://ma.tt/">Matt Mullenweg</a> alias Amat Mulyo Wagino.</strong></li>
<li>Award ini juga kuberikan kepada <a href="http://www.twitter.com/mariaozawa">Maria Ozawa.</a></li>
</ol>
<p>Sekian dulu, ya mas Amat. Kepada mbak Ozawa saya sampaikan selamat juga. Semoga menjadi tambah terkenal karena dapat award dari Hejis ini… <em>Wekwkwkwk…. </em></p>
<p>Salam anget banget,<br />
Hejis.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiankomunikasi.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiankomunikasi.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiankomunikasi.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiankomunikasi.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/810/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=810&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/02/25/awards-for-matt-mullenweg-and-maria-ozawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>61</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc3438dff7876e390d3f03fc7f1708e2?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hejis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.techcult.com/wp-content/uploads/2008/06/mattmullenweg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Matt Mullenweg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.mafia.or.id/wp-content/uploads/maria-ozawa-0026.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Maria Ozawa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kajiankomunikasi.files.wordpress.com/2009/02/award-dari-mbak-indah-rephi1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">award-dari-mbak-indah-rephi1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lanjutan: Kunjungan Hillary Clinton ke Indonesia</title>
		<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/02/21/lanjutan-kunjungan-hillary-clinton-ke-indonesia/</link>
		<comments>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/02/21/lanjutan-kunjungan-hillary-clinton-ke-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 10:51:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hejis</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan indonesia-amerika]]></category>
		<category><![CDATA[IBSN]]></category>
		<category><![CDATA[kunjungan hillary clinton]]></category>
		<category><![CDATA[kunjungan kenegaraan hillary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiankomunikasi.wordpress.com/?p=938</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan dari artikel SOROTAN PERISTIWA&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.


Konon menurut mbak Hillary, Indonesia adalah negara yang penting bagi Amerika. Mungkin si mbak melihat peranan negara kita ini di ASEAN, negara-negara Non-Blok, atau OKI (Organisasi Konferensi Islam) cukup menonjol. Begitu kira-kira. Selain itu, presidennya, mas Obama, di sini amat terkenal. Pasalnya, beliau pernah sekolah pada masa kanak-kanaknya. Bapak tirinya juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=938&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><hr /><b>Lanjutan dari artikel SOROTAN PERISTIWA&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</b><br />
<hr />
<p>
<p>Konon menurut mbak Hillary, Indonesia adalah negara yang penting bagi Amerika. Mungkin si mbak melihat peranan negara kita ini di ASEAN, negara-negara Non-Blok, atau OKI (Organisasi Konferensi Islam) cukup menonjol. Begitu kira-kira. Selain itu, presidennya, mas Obama, di sini amat terkenal. Pasalnya, beliau pernah sekolah pada masa kanak-kanaknya. Bapak tirinya juga orang Indonesia. Jadilah dua alasan menjadi satu, mengapa kunjungannya ke Indonesia.</p>
<p>Cuma jangan dilupakan. Amerika Serikat adalah negara kapitalis. Politik luar negerinya dilandasi oleh nilai-nilai kapitalisme. Nilai-nilai ini mengajarkan bahwa hidup ini perlu memutar modal agar menghasilkan keuntungan yang kemudian dijadikan modal lagi. Semua yang bisa dikuasai dijadikan komoditas, bisa laku dijual. Mulai dari senjata, mobil, dan lain-lain hingga senyum bila menghasilkan uang, mengapa tidak. Bisnis mesti menjadi alat utama dalam setiap pergaulan. Jadi pergaulan harus menghasilkan keuntungan.  </p>
<p>Dari sudut pandang ini tampaklah motif utama kunjungan si mbak. Ia mewakili negaranya mengemban misi bisnis ini. </p>
<p>Tetapi, aspek lain juga turut menjadi pertimbangan. Aspek politik, misalnya. Ideologi politik Amerika Serikat adalah demokrasi liberal. Pemerintah Amerika ingin agar masyarakat negara-negara di seluruh belahan bumi menganut paham ini. Mereka berupaya dengan berbagai cara agar demokrasi menjadi paham negara lain pula. Indonesia juga negara demokrasi. Malah ada yang menyebutnya sebagai negara demokrasi terbesar nomor 3 di dunia, setelah Amerika dan India… (<i>sic</i>) Nah, sebagai sesama negara demokrasi wajarlah saling mengunjungi. </p>
<p>Jadi, sudut pandang politik juga melandasi kunjungan mbak Hillary. Dua aspek itu saja sudah cukup menjelaskan kunjugan kenegaraan ini. Aspek-aspek lain ada namun tidak terlalu menonjol. Atau, malah sebagai bumbu mesranya hubungan kedua negara. </p>
<p>Aspek ekonomi kapitalisme dan demokrasi liberal pada kenyataannya adalah saudara kandung. Kapitalisme memerlukan iklim yang demokratis agar bisa tumbuh-kembang. Demokrasi liberal juga memerlukan kapitalisme agar dapat mengongkosinya. Semacam simbiosis mutualisme-lah. </p>
<p>Sebagai tamu, mbak Hillary adalah tamu yang pandai menyenangkan tuan rumah. Konon menurut orang-orang dekatnya pribadi mbak Hillary memang menyenangkan. Sebagai tuan rumah Presiden kita juga tak kalah pandai menyenangkan tamunya. Jadi klop saja bukan? Apa yang mau dipermasalahkan? Ya tidak ada dan tidak perlu. </p>
<p>Hal yang patut dipikirkan paling-paling adalah keuntungan bersama. Itu adil. Sebagai negara yang juga perlu pundi-pundi uang, kita juga memerlukan kalkulasi terhadap hubungan ini. Apa yang bisa kita ambil manfaatnya, kita perjuangkan. Apa yang tidak bisa kita berikan karena merugikan rakyat, jangan kita berikan. Pokoknya hubungan yang saling menguntungkan. </p>
<p>Jadi, euphoria karena mas Obama pernah tinggal di Indonesia lalu Indonesia pasti untung, tidak sepenuhnya dapat diandalkan. Kita perlu mengandalkan kemampuan kerja kreatif kita sendiri. Kita perlu menjalin hubungan dengan negara-negara sahabat berazaskan kesederajatan dan keadilan. Bukan romantisme kosong tanpa kerja keras. Kira-kira begitu ya. Bagaimana sih, menurut Anda ?***<br />
<hr />
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiankomunikasi.wordpress.com/938/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiankomunikasi.wordpress.com/938/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/938/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiankomunikasi.wordpress.com/938/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/938/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiankomunikasi.wordpress.com/938/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiankomunikasi.wordpress.com/938/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiankomunikasi.wordpress.com/938/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/938/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiankomunikasi.wordpress.com/938/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiankomunikasi.wordpress.com&blog=4903439&post=938&subd=kajiankomunikasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2009/02/21/lanjutan-kunjungan-hillary-clinton-ke-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc3438dff7876e390d3f03fc7f1708e2?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hejis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>