Monthly Archives: September 2008

Pulang

=> SERPIHAN KEHIDUPAN <=

Pulang secara harafiah berarti kembali ke rumah. Tempat manusia hidup sebagian besar waktunya, beristirahat, mempertahankan spesiesnya, mendidik anak-anak. Rumah adalah tempat terbaik. Jika manusia terpaksa meninggalkan rumah karena mencari makan, misalnya, maka ia akan kembali ke rumah. Rumah juga tempat bertahan dari serangan bahaya. Barang siapa pulang, ia akan mengobati kerinduannya. Jadi rumah adalah terapi. Baca lebih lanjut

Iklan

Tontonan Baru: Corruptainment!

Oleh Heru Puji Winarso

Ide Kejaksaan Agung (Kejagung) menayangkan wajah para koruptor di layar kaca segera direalisasikan (Jawa Pos, 5/8). Dijelaskan selanjutnya, bahkan sudah ada televisi yang siap mengemas acara tersebut mirip tayangan infotainment yang memberitakan kehidupan para artis atau selebritas. Konon, selain wajah para koruptor, juga rumah dan latar belakangnya bakal diekspos secara luas kepada pemirsa. Baca lebih lanjut

Pelajaran Antikorupsi di Sekolah?

Oleh Heru Puji Winarso

Dalam berbagai survai mengenai negara terkorup di dunia, Indonesia selalu menempati peringkat atas. Hal ini berlangsung bertahun-tahun tanpa ada perbaikan yang berarti. Upaya yang telah dilakukan oleh semua era pemerintahan tidak mampu mematahkan keyakinan bahwa negeri ini memang negeri korup. Pembentukan bermacam-macam institusi anti-korupsi pun telah dilakukan. Hasilnya, koruptor bergeming dari singgasananya dan tetap menikmati imunitas atas tindakannya.

Baca lebih lanjut

Pola Hidup Topikal

Oleh Heru Puji Winarso

Di peristiwa ulang tahun tertentu, misalnya hari pangan sedunia, hari antitembakau atau hari kemerdekaan RI, banyak orang mengingat kembali nilai yang melekat pada peristiwa atau tema yang diperingati itu. Dalam konteks hari kemerdekaan, definisi, relevansi, dan cara mengisi nasionalisme dapat dengan mudah diperoleh di wacana koran, televisi, radio, dan ruang publik arena. Politisi dan ilmuwan angkat bicara untuk prioritas topik yang satu ini, dan untuk sementara menyisihkan topik lain. Ini sah saja. Apalagi momentum Baca lebih lanjut

Infotainment, Tayangan Haram, dan Melek Media

Oleh Heru Puji Winarso

Kritik sebagian anggota masyarakat tentang infotainment yang telah lama disuarakan tampaknya kini bagaikan gayung bersambut saat Musyawarah Alim Ulama dari organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama memutuskan bahwa sebagian isi “Infotainment” haram hukumnya untuk ditonton, seperti yang diperbincangkan dalam sebuah stasiun televisi swasta pada Rabu, 02/08/06 jam 22.00 WIB. Bagi pihak produser infotainment dan televisi swasta itu sendiri, hal ini bagaikan pukulan telak. Pasalnya, justru dari tayangan acara ini pihak insan media elektronik tersebut mampu meraup rupiah dalam jumlah yang lumayan besar. Rating televisi selalu menyertakan program acara infotainment. Sebab itulah televisi-televisi swasta rajin membombardir khalayaknya dengan gosip-gosip seputar selebritas yang identik dengan infotainment.

Baca lebih lanjut

Musyawarah untuk Mufakat: Mekanisme Demokrasi nan Kian Pudar

Oleh Heru Puji Winarso

Mencermati perilaku kita dalam menjalin interaksi sosial sesama warga bangsa membuat kita mengurut dada. Persoalan hidup yang semakin menghimpit dipecahkan dengan mengandalkan kebenaran yang diyakini masing-masing individu dan kelompok sempit. Akibatnya, kebenaran-kebenaran yang bermacam-macam berhadapan secara frontal untuk berikutnya bertarung, sekali pun, hingga titik darah penghabisan. Maka, tak heran pertanyaan yang amat kontekstual Baca lebih lanjut

Kalau Artis Menjadi Pejabat

Oleh Heru Puji Winarso

Fenomena para artis masuk bursa pencalonan bupati, walikota, gubernur, bahkan presiden menjadi kecenderungan dunia politik kita. Artis-artis seperti Anwar Fuady, Marisa Haque, Rano Karno, Dede Yusuf—sekadar menyebut contoh—merupakan tokoh-tokoh seniman yang telah mencoba keberuntungan di dunia politik. Fenomena politik di ranah eksekutif ini lanjutan dari drama politik yang sebelumnya telah terjadi di ranah legislatif, dengan maraknya artis-artis menjadi calon anggota DPR. Sebenarnya dunia keartisan memiliki peran yang berbeda daripada dunia politik. Cerita film dan televisi, misalnya, menuntut pemeran memainkan tokoh-tokoh yang Baca lebih lanjut