Kalau Artis Menjadi Pejabat

Oleh Heru Puji Winarso

Fenomena para artis masuk bursa pencalonan bupati, walikota, gubernur, bahkan presiden menjadi kecenderungan dunia politik kita. Artis-artis seperti Anwar Fuady, Marisa Haque, Rano Karno, Dede Yusuf—sekadar menyebut contoh—merupakan tokoh-tokoh seniman yang telah mencoba keberuntungan di dunia politik. Fenomena politik di ranah eksekutif ini lanjutan dari drama politik yang sebelumnya telah terjadi di ranah legislatif, dengan maraknya artis-artis menjadi calon anggota DPR. Sebenarnya dunia keartisan memiliki peran yang berbeda daripada dunia politik. Cerita film dan televisi, misalnya, menuntut pemeran memainkan tokoh-tokoh yang disetting skenario dalam jalinan cerita yang sudah diketahui dari awal hingga akhir. Para aktor dapat memainkan peran yang berganti-ganti sesuai dengan jalan cerita yang ada di naskah skenario. Biasanya peran tokoh-tokohnya dipilah menjadi tokoh jahat (antagonis), baik (protagonis), dan tokoh dengan karakter normal. Sementara itu, kehidupan riil politik diwarnai harapan-harapan konstituen akan ideal-ideal di masa depan dan kekecewaan- kekecewaan di hari ini. Alur ceritanya pun tak akan pernah usai dan penuh kejutan. Apa dan bagaimanakah korelasi karakteristik realitas media massa itu dan realitas pencalonan para artis?

Impian personal terhadap tata kehidupan ideal yang melekat pada pikiran orang-orang sering mampu diwujudkan dalam cerita film dan televisi. Kerinduan terhadap kekuasaan, kekayaan, kekuatan, dan kemenangan serta kebahagiaan mewarnai cerita film dan televisi. Apalagi manakala kehidupan riil sehari-hari jauh dari impian tersebut. Aktor-aktor tertentu merupakan representasi dari pribadi pemirsa. Dari sini timbullah simpati untuk kemudian mengidolakan terhadap aktor yang mampu mewakili karakter dari pemirsa. Kelak pada saatnya ketika pemirsa membutuhkan personifikasi untuk jabatan-jabatan yang terbuka untuk dirinya, tetapi tak bisa langsung diraih, mereka akan mewakilkan aktor yang menjadi idolanya untuk menempati jabatan itu.

Fenomena ini sangat mungkin terjadi pada masyarakat yang belum cukup memiliki media literacy. Orang yang memiliki media literacy yang tinggi akan mampu mulai dari mengakses dan menggunakan media, memanfaatkan media untuk meningkatkan prestasinya, membedakan realitas di media dan realitas sehari-hari, hingga memproduksi media untuk pencapaian tujuan pribadi. Masyarakat kita belum memiliki tingkat kecerdasan bermedia yang tinggi dilihat dari kurangnya akses terhadap media massa, pemanfaatan media massa untuk peningkatan kualitas diri, kurang dapat membedakan realitas di media dan realitas sehari-hari, dan sedikitnya media yang diproduksi oleh masyarakat kita. Misalnya oplah koran kita, penetrasi koran harian di Indonesia tiap hari baru sebanyak 7,217 juta eksemplar. Jika diproyeksikan dengan jumlah populasi kita yang sebanyak 230 juta jiwa, maka perbandingan satu eksemplar koran harian terhadap penduduk adalah 1:31. Masih jauh dari standar UNESCO yang menetapkan 1:10 (asmono28.wordpress.com/2008/06/02/koran-jakarta-update/).

Outcome kinerja politik yang mengecewakan ikut nimbrung pada persepsi khalayak. Di mata mereka elit politik telah mengkhianati misinya sendiri. Publik pun menjadi berpaling dari aparat-aparat politik ke figur-figur idola yang citranya “bersih” di realitas media. Idola orang-orang awam bukanlah tokoh politik, melainkan penyanyi, artis, pemain band, bahkan tokoh-tokoh cerita fiksi. Di sisi lain, banyak partai kita yang berkarakter pragmatis, maka tak mengherankan jika mereka menangkap peluang yang menggiurkan itu. Deal-deal ekonomi politik pun dibuat, siapa mendapatkan apa sejauh komoditas politik masih bisa dikalkulasi dapat mengibarkan bendera partai.*** (www.kajiankomunikasi.wordpress.com)

One response to “Kalau Artis Menjadi Pejabat

  1. Para artis ramai memasuki kursi legislatif artis ramai ingin jadi pejabat, namun yang ditanyakan apakah mereka paham akan atmosfir politik ,yang sedang ada didepan mata kelak ketika mereka telah berada dikursi impian banyak orang tersebut. Yang membuat saya bingung justru sekarang partai yang menarik publik figur kekancah rana politik Indonesia. Contoh saja Gerindra (gerakan Indonesia raya) berapa artis yang ikut nongol dalam kampanye dalam media televisi ada 3 diva ada Djaja Miharja bahkan Rachel Maryam. Belum lagi Mandra, Rieka Dyah Pitaloka, Ikang Fauzi bahkan harus bersaing dengan istri sendiri Marissa Haq,Saiful Jamil dan yang telah terealisasikan adalah Rano Karno dan Dede Yusuf.

    Mereka smua kebanyakan berangkat dari asumsi bahwa ada sebuah keinginan rakyat yang masih belum tertata terealisasikan oleh para pejabat sebelumnya. Namun akan sangat mengerikan jika mereka berangkat dari sebuah niatan hanya ingin mencoba bagaimana berpolitik. Masa ia masyarakat sebanyak satu daerah mau dijadikan kelinci percobaan melalui power full of politik, yang ada juga bukan sambutan tepukan tangan karena terimakasih namun sambutan kemuakan dari kalangan masyarakat yang sadar akan aji mumpung yang mereka lakukan.

    Jadi artis ataukah siapakah dia yang ingin menduduki kursi pejabat janganlah bermodal hanya tampang dan kepopularitasan belaka. Namun juga sangat diharapkan akan kesadaran mengenai tingkat kebutuhan impian yang diharapkan ketika visi misi calon pemimpin tersebut maju dan memperjuangkan harapan masyarakat bahkan bangsa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s