Pola Hidup Topikal

Oleh Heru Puji Winarso

Di peristiwa ulang tahun tertentu, misalnya hari pangan sedunia, hari antitembakau atau hari kemerdekaan RI, banyak orang mengingat kembali nilai yang melekat pada peristiwa atau tema yang diperingati itu. Dalam konteks hari kemerdekaan, definisi, relevansi, dan cara mengisi nasionalisme dapat dengan mudah diperoleh di wacana koran, televisi, radio, dan ruang publik arena. Politisi dan ilmuwan angkat bicara untuk prioritas topik yang satu ini, dan untuk sementara menyisihkan topik lain. Ini sah saja. Apalagi momentum hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia adalah peristiwa besar.

Kesibukan berwacana itu juga dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan upacara, pemberian penghargaan bagi warga negara yang berprestasi (misalnya, juara olimpiade fisika internasional), remisi bagi orang yang masuk bui (misalnya, pembunuh hakim dan koruptor mendapat potongan hukuman terbanyak), dan lomba di seluruh kampung (mulai dari balap karung hingga sepakbola yang dimainkan pria dengan dandanan wanita). Peringatan HUT RI oleh seluruh lapisan masyarakat telah membudayakan aktivitas lomba-lomba yang lucu dan menghibur. Namun, tidak jelas benar relevansinya dengan hakikat kemerdekaan dan nasionalisme. Pokoknya semua warga senang. Ini menyiratkan suatu tanda pola hidup topikal.

Aspek-aspeknya

Seandainya ritual pada kegiatan yang berdasarkan topik atau momentum tertentu merupakan puncak pencapaian, hal itu dapat dipahami. Ibarat cerita komik yang berakhir bahagia (happy ending). Kenyataannya, pola hidup topikal tidak memikirkan koherensi antara proses tindakan yang dipersiapkan dan perayaan atas keberhasilan tindakan itu.

Seperti apakah sebenarnya pola hidup topikal itu? Jika dalam berperilaku kita, terutama berpatokan pada topik apa yang sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat, maka kita memenuhi kriteria pola hidup topikal. Biasanya orang topikal menyesuaikan tindakannya dengan topik-topik besar masyarakat. Kemudian topik-topik itu dibuat agenda tindakan. Agenda tindakan akan semakin kuat jika akrab dengan skema pemikiran. Beberapa waktu yang lalu Jawa Tengah dan Jogjakarta diguncang bencana gempa. Banyak orang mengekspresikan perasaannya dengan menggalang dana di jalan-jalan, mengunjungi para korban di lokasi pengungsian, media massa dipenuhi informasi bencana. Banyak orang berpikir dan bertindak berdasarkan topik bencana gempa ini. Tetapi, setelah ada topik baru yang lebih hangat, pikiran dan tindakan lama dilupakan. Ini merupakan pola hidup topikal.

Masyarakat yang terlalu sering terikat aktivitasnya pada agenda media akan dapat berpola hidup topikal. Pemerintah di masa lalu juga sering memperkuat pola hidup topikal. Banyak program pemerintah yang dirancang berbasis peringatan hari tertentu (peringatan Hari Kesaktian Pancasila dilakukan dengan pemutaran film “Pengkhianatan G. 30 S/PKI” agar masyarakat memuji-muji jasa rezim saat itu).

Aspek lain pola hidup topikal adalah bahwa siklus pencurahan perhatian berumur pendek. Ini dapat dipahami karena setiap waktu selalu muncul peristiwa-peristiwa baru maupun yang patut dikenang. Akibatnya, penanganan terhadap topik yang lama tidak tertanggulangi dengan tuntas. Banyak orang tidak setia pada fokus perjuangan hidupnya. Mereka hanya ikut-ikutan kepada hal yang baru saja.

Selain itu, ada aspek pola hidup topikal yang tersembunyi. Aspek ini melandasi dan berkombinasi dengan aspek-aspek lainnya, yakni keputus-asaan dalam memperjuangkan tujuan hidup, meskipun tidak semua seperti itu. Orang putus asa karena tidak dapat mencapai hal yang diinginkannya. Faktornya dapat bersifat personal (sumberdaya tidak mendukung, seperti kurang-cukupnya budaya unggul, kecerdasan multiaspek, dan ekonomi) dan dapat juga bersifat situasional (kelemahan struktural, seperti lemahnya institusi keluarga, kurang-kualitasnya sekolah, rendahnya tanggung jawab sosial masyarakat, dan rendahnya responsiveness dan akuntabilitas pemerintah serta lemahnya sistem hukum). Dalam konteks ini, pola hidup topikal menjadi “kegiatan baru” sebagai ajang eskapisme dan usaha spekulatif untuk memperoleh kemungkinan baru suatu hasil pertukaran sosial atau material.

Siklus pengembangan pribadi

Berhubung pola hidup topikal pada umumnya dilakukan tanpa kedalaman dan kesungguhan, tidak tuntas, jalan pintas, latah, dan kepentingan sesaat, maka aktor pola hidup topikal tidak dapat diandalkan sebagai insan yang bernilai profesional. Bahkan, jika perilaku ini sudah mendarah-daging dan meluas, maka akan terbentuk masyarakat yang cuma memiliki kecakapan mediocre. Jelas ini keadaan yang tidak produktif.

Memang manusia memiliki kecenderungan menyukai kebaruan (novelty), memfokuskan diri pada kepentingan umum (common good), melakukan pemaknaan peristiwa (momentum), menjadi bagian dari sesuatu yang sedang populer (fashionable). Kecenderungan-kecenderungan ini bahkan perlu dipenuhi agar memperkaya kualitas diri. Tetapi, bila keperluan itu diupayakan hanya untuk ikut-ikutan dan setengah hati untuk menutupi lemahnya kecakapan diri, maka orang akan terjebak kepada pola hidup topikal.

Pemerintah dan agen-agen utama perubahan sosial memiliki peran penting untuk mengeliminasi pola hidup topikal. Barangkali patut direnungkan suatu siklus pengembangan pribadi atau kelompok untuk menggantikan pola hidup topikal. Siklus ini memiliki kata kunci: refleksi-kompetensi-kompetisi-kolaborasi. Siklus yang terus berputar ke sasaran yang lebih baik ini diarahkan untuk memperjuangkan suatu visi, cita-cita, atau profesi tertentu. Dengan refleksi orang bisa bersikap rendah hati merenungkan siapa diri ini, apa yang diperjuangkan dalam hidup ini, kelebihan dan kekurangan diri. Dengan kompetensi orang bisa dengan sungguh-sungguh menekuni fokus yang diperjuangkan sehingga menjadi mahir dan mumpuni. Dengan kompetisi orang bisa terus-menerus meningkatkan kecakapan di bidangnya agar mampu memenuhi persaingan. Dengan kolaborasi orang bisa hidup saling membantu (pro-eksistensi). Demikian tahap itu berputar ke titik awal kembali dengan semakin baik kinerja dan usaha yang dilakukan.

Bila terjadi penyadaran pada masyarakat bahwa yang lebih penting konsisten terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan melalui pendekatan proses, maka dapat diharapkan pola hidup masyarakat akan lebih baik. Sehingga dapat kita saksikan apa yang dilakukan masyarakat setelah mewacanakan nasionalisme di bulan Agustus lalu, misalnya. Jika tidak, kita akan menyaksikan sebentar lagi pada bulan suci orang berbondong-bondong ke masjid, kemudian setelah lebaran rumah ibadah akan kembali sunyi, pasalnya banyak orang yang masih berpola hidup topikal.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s