Pulang

=> SERPIHAN KEHIDUPAN <=

Pulang secara harafiah berarti kembali ke rumah. Tempat manusia hidup sebagian besar waktunya, beristirahat, mempertahankan spesiesnya, mendidik anak-anak. Rumah adalah tempat terbaik. Jika manusia terpaksa meninggalkan rumah karena mencari makan, misalnya, maka ia akan kembali ke rumah. Rumah juga tempat bertahan dari serangan bahaya. Barang siapa pulang, ia akan mengobati kerinduannya. Jadi rumah adalah terapi.

Aku ingin pulang adalah deret kata-kata yang sarat emosi. Seperti pelantun puisi Ebiet G. Ade atawa John Denver, keinginan orang untuk pulang karena sebongkah kerinduan yang menyesakkan dada terhadap entitas rumah. Bukan sebagai benda seukuran 150 meter per segi yang bertudung atap, ada dindingnya, di dalamnya dipisah-pisahkan menjadi ruang-ruang yang berfungsi berbeda-beda. Bukan pula benda yang berisi perabot rumah tangga, kompor, lemari ukir, buffet, atau lampu teplok antik peninggalan eyang pada tahun tujuh puluhan. Entitas rumah memiliki saripati yang bernuansa emosional, dialah keluarga. Sehingga, orang yang ingin pulang yang dirindukan adalah keluarga. Siapakah yang tidak merindukan keluarga? Pulang adalah emosi kerinduan. Muara kerinduan adalah keluarga. Sungai-sungai uang, karier, kekuasaan, dan kehormatan di kota-kota besar dari Jakarta hingga St. Petersburg mengalir menuju ke hilir untuk selanjutnya bermuara pada keluarga.

Namun, mengapa orang-orang merindukan keluarga? Nah ini dia! Ibarat pohon kelapa yang tak bisa pisah dengan akarnya, orang-orang berakar di keluarga. Lahir, berkembang, dewasa berakar di rumah tempat keluarga bersemayam. Proses-proses pendewasaan melalui campur tangan keluarga. Orang-orang berutang atas kebahagiaannya dan keluargalah yang mengutangi orang-orang paling banyak. Sekalipun mereka bersedia membayar utang sampai lunas, tak satu pun mampu melunasinya.

Peringkat kedua yang memiliki piutang dari kita adalah kampung dan semesta isinya. Ada empang, pohon, danau, sawah, lorong-lorong sempit, pak Badrun yang sering meminjamkan pancing ikan, ibu guru sekolah dasar, dan pasar kliwonan. Ada peristiwa yang tak dapat diputar ulang, suhu udara, sepak bola, dan pasar malam. Ya, pasar. Ini merupakan tempat orang-orang baik yang tahu kebutuhan orang sehingga mau merelakan miliknya ditukar dengan milik orang lain. Kampung menyuapi jiwa manusia dengan nilai-nilai dasar sebagai bekal mengarungi kehidupan yang memiliki dinamika tiada taranya.

Pulang adalah upaya spiritual yang mencoba mereguk kembali kebahagiaan dan kesedihan di masa lalu. Bahasa kerennya, keharuan. Tetapi, pulang bukanlah perkara gampang. Kadang-kadang untuk sekadar pulang orang harus menabung keping demi keping uang selama setahun penuh. Orang berani telantar di perjalanan, kehujanan dan kepanasan atau berebut tempat di kapal antarpulau yang terseok-seok dihantam gelombang. Pulang tetaplah pulang.

Terus terbayang di perjalanan. Bertemu dengan anggota-anggota keluarga yang lama terpisah, sahabat-sahabat lama dan bau lumpur sawah di kampung. Apakah si Sumi atau si Udin tahun ini juga pulang untuk duduk ngobrol sepenggal nostalgia berenang di kolam bekas peninggalan Belanda di samping pabrik es tua yang kini menjadi terminal angkutan? Seperti apakah kabar adik bungsu yang telah lama merantau di pedalaman Kalimantan?

Pulang tetaplah pulang, walaupun teknologi informasi dan komunikasi kian canggih. Kata orang teknologi ini dapat menggantikan makna pulang. Melalui SMS dengan alat yang disebut hand phone dapat mengirimkan pesan atau kabar lewat internet orang dengan cepat hadir di kota lain yang jaraknya ribuan kilometer. Jika pesan tertulis kurang mewakili, orang bisa mengirim potret diri atau video melalui alat yang sama. Semuanya tidak dapat menggantikan pulang. Karena pulang melibatkan seluruh panca indera. Mana mungkin mencicipi opor ayam bikinan ibu dilakukan hanya dikirimi potret opor ayam? Yang diperlukan orang bukanlah kecepatan dalam mengirim SMS, melainkan teknologi yang memungkinkan orang untuk pulang dengan kecepatan secepat SMS. Jadi, jika orang ingin pulang tak perlu naik pesawat supersonic, namun cukup berlari saja. Pokoknya pulang yang difasilitasi teknologi superkhayal.

Begitu sakralnya urusan pulang sampai-sampai orang perlu mempersiapkannya dengan teliti. Jika tidak, maka ritual pulang menjadi berantakan. Pulang yang berantakan tak akan mencapai tujuannya, yaitu mereguk kembali keharuan insani. Kesakralan pulang berbeda menurut peringkat sasaran pulang. Ada pulang yang sasarannya rumah pertama (kembali ke akar ke keluarganya), rumah kedua (kembali ke domisili tempat ia bekerja atau sekolah). Atau, ke rumah terakhir.

Pulang ke rumah terakhir memerlukan persiapan yang paling matang dibandingkan dengan pulang-pulang lainnya. Kalau pulang ke rumah pertama dan seterusnya cukup persiapan selama beberapa hari hingga beberapa bulan, maka pulang yang terakhir memerlukan persiapan seumur hidup! Karena setelah itu orang tidak dapat lagi melakukan ritual pulang. Jika Anda berangkat pulang ke rumah terakhir, Anda tidak akan bisa kembali ke rumah tempat sebelum Anda berangkat menuju pulang yang terakhir. Sering orang meneteskan air mata tatkala mengetahui bahwa dirinya harus pulang ke rumah terakhir. Di sana menunggu rumah besar dan satu-satunya bagi seluruh manusia. Rumahnya rumah dan ibu dari segala pulang… Kalau sebelumnya dapat dikatakan, “sebahagia-bahagianya orang adalah orang yang bisa pulang”, maka sekarang dapat dikatakan, “bahagia atau tidak, kamu semua harus pulang”. Bagaimana pendapat Anda?*** (Heru Puji Winarso).

7 responses to “Pulang

  1. Sebuah tradisi…dan menjaga tali silaturrahmi dan memori akan tempat dimana kita tumbuh dan berkembang…

    Beda jika kita akan pulang ke mana tempat kita diciptakan, persiapannya harus lebih matang dan biasanya kita takut mengadapinya

  2. pulang memang menjadi hal yang diinginkan setiap orang..
    dan keinginan orang-orang itu kini bersatu dalam satu momen yaitu lebaran..

  3. maunya sih ada pintu ajaibnya doraemon yang bisa tinggal melangkah langsung sampai ya?🙂

    kalau pulang ke haribaan terakhir sih, bergantung pada kesiapan mental dan iman masing2 d. no comment for this :p

  4. Untuk bisa mengingatkan kita tentang siapa kita, siapa yang turut berandil membentuk kita menjadi seperti sekarang ini.

  5. kajiankomunikasi

    @thevemo: tradisi yg gak bakalan hilang ya… Ngomong2 pulang kmn?
    @Ersis Warmansyah Abbas: trims, walau kalah hebat wan pian..
    @komank: Met lebaran yah…
    @shierlynikodemus: atau pakai baling2 bambu..
    @sulistia: ya, semacam kembali ke akar kehidupan.. Thanks alot for coming..

  6. kapan blog ini mau diupdate lagi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s