Diperbudak Hawa Nafsu

Hejis

 

 Artikel ini khusus mengulas untuk bab “Budak Nafsu” dari buku Emotional Intelligence karya Daniel Goleman, pada prinsipnya berisi tentang seputar amarah, kecemasan, depresi, kesedihan serta penanganan masing-masing perasaan itu. Selain itu juga diungkapkan sumber-sumber dan manfaat dari masing-masing perasaan tersebut. Bab ini kemudian ditutup dengan bahasan mengenai keadaan unflappable dikaitkan dengan kecakapan emosional seseorang.

Dalam menangani amarah, yang diperlukan adalah pengendalian keseimbangan emosi, yakni antara perasaan diri dan lingkungan. Jika emosi tak dikendalikan (terlampau ekstrem dan terus-menerus), akan menjadi sumber penyakit, seperti depresi berat, cemas berlebihan, amarah yang meluap-luap, gangguan emosional yang berlebihan (mania). Jika emosi dapat dikendalikan maka hal ini terdapat peluang menuju kesejahteraan emosi. Emosi tak dapat dikendalikan dalam hal kapan kita dilanda emosi dan apa yang akan melanda kita. Namun, kita dapat mengira-ngira berapa lama emosi itu akan berlangsung.

Lebih lanjut, Goleman dapat menakar amarah mulai dari yang mendadak dan tak terkendali hingga amarah yang lebih terukur¾dalam istilah Benjamin Franklin amarah yang memiliki alasan yang benar. Ketika menuju pembahasan pada daerah yang lebih krusial, seperti pengelolaan terhadap amarah, Goleman menyajikan beberapa kiat yang berkisar pada kebiasaan orang pada umumnya hingga kiat yang telah diteliti secara ilmiah. Goleman tidak sepakat bahwa kiat katarsis yang secara luas dinyatakan sebagian orang dapat mengatasi amarah, menurut Goleman justru malah dapat meletupkan emosi negatif itu lebih dahsyat.

Namun, alih-alih memaparkan kiat mengelola amarah sesuai dengan tingkatannya, Goleman memberikan alternatif-alternatif yang bersifat umum terhadap penanganan amarah. Menurut Goleman, amarah dapat diredakan dalam dua hal: dengan menggunakan dan mengadu pikiran-pikiran yang memicu lonjakan amarah, dan meredakan amarah secara fisiologis dengan cara menunggu habisnya lonjakan adrenal dalam kondisi yang besar kemungkinannya tidak akan ada pemicu-pemicu amarah lebih lanjut. Dengan kata lain, semua jenis amarah dapat dikelola dengan cara yang sama. Mungkin akan lebih proporsional seandainya Goleman mengategorikan kiat penanganan sesuai jenis amarahnya, sehingga akan terlihat nuansa masing-masing penanganan amarah yang lebih tepat dan efisien. Memang, tampaknya hal ini sulit dilakukan karena kita mesti mendeteksi pada tingkatan manakah rasa amarah yang sedang kita alami. Sedangkan saat sedang marah, seseorang biasanya “lupa” seperti apakah keadaan emosi kita saat itu. Jangankan kita mengetahui tingkatan amarah, menyadari bahwa amarah perlu diproporsionalkan saja kita sering tak kuasa. Tetapi, siapa tahu ada cara untuk ini melalui penelitian-penelitian yang sudah atau akan bisa dilakukan. Siapa tahu pula, kalau yang dapat menjelaskan hal ini adalah Bapak Aries Musnandar, yang makalahnya berjudul “Diperbudak Hawa Nafsu” (2005) saya berikan tanggapan ini?!

Dalam suatu makalah itu disebutkan bahwa konsep emosi merupakan salah satu bagian dari tiga operasional lainnya, seperti motivasi, kognisi, dan kesadaran. Marah, cemas, dan sedih merupakan bagian dari letupan emosi yang perlu dikendalikan guna pengembangan EI. Tetapi, proposisi-proposisi ini kemudian ditarik menurut kerangka berpikir induksi yang berujung pada proposisi lain, yakni “Dewasa ini kecakapan emosional sangat dibutuhkan baik bagi kesuksesan individu maupun organisasi. Tak ada yang salah sampai di sini. Hal yang tampaknya menjadi “melompat” adalah ketika dinyatakan bahwa 42 sekolah di Inggris membuktikan bahwa pemimpin sekolah yang menunjukkan kemampuan EI dapat meningkatkan sikap positif para guru dan keberhasilan prestasi belajar siswa. Padahal pengendalian amarah, cemas, dan sedih bagian kecil saja dari kecakapan emosional yang lebih luas. Jadi, masalahnya pada penarikan simpulan yang agak melompat dan terburu-buru saja. Hal ini juga sebangun dengan proposisi-proposisi selanjutnya yang diterapkan pada dunia kerja.

Salah satu hal yang tidak dibahas makalah tersebut adalah tentang represor atau unflappable, yaitu orang yang tak mudah tergugah, atau terganggu, impasif, tenang penampakan luarnya. Oleh Goleman orang-orang seperti ini terbukti menampakkan ekspresi lebih mendalam dibandingkan dengan penampakan luarnya semata. Hal ini merupakan bagian dari suatu pola yang lebih besar dalam kehidupannya, pola untuk memadamkan sebagian besar ketidak-nyamanan emosional. Tentang unflappable ini perlu dibahas lebih lanjut mengingat kerugian yang bila diketahui terhadap kesadaran diri, seperti yang ditegaskan oleh Goleman. Mungkin ada kaitannya dengan blink seperti yang ditulis oleh Malcolm Gladwell (2005). Mengutip Gottman, Gladwell menyatakan, ternyata ada banyak hal tentang bagian-bagian sangat penting dalam proses pemahaman cepat (rapid cognition) yang dikenal sebagai cuplikan tipis (thin-slicing). Thin-slicing merujuk ke kemampuan bawah sadar kita untuk menemukan pola-pola dalam situasi-situasi dan perilaku berdasarkan cuplikan pengalaman yang sangat singkat. Orang yang unflappable sering menghadapi tekanan emosional yang bagi orang biasa menekan dengan berat perasaan sehingga memunculkan dampak negatif, namun orang ini mampu dengan cepat mengendalikan emosinya.*****

27 responses to “Diperbudak Hawa Nafsu

  1. Memang masyarakat Indonesia akhir-akhir ini belum begitu ahli dalam menaggulangi permasalahan emosi. Tak jarang beberapa peristiwa, semisal tawuran, bentrokan, demonstrasi anarkis, dll menghiasi pemberitaan media kita. Bahkan, parahnya hal itu juga kerap terjadi di bulan puasa yang notabene diharuskan untuk mengelola emosi dengan baik.

    Dengan demikian, kita perlu sekali untuk mempelajari emotional intelligence dalam kehidupan sehar-hari. Bukan hanya untuk sekedar menahan amarah, tapi untuk menjadi yang lebih bijaksana dalam hidup ini…=)

  2. menurut saya…amarah sebenarnya bisa juga dikendalikan / diredamkan dengan lingkungan sekitar Qt. misal, ketika Qt marah dengan teman, pasti teman yang lain akan berusaha meredam amarah Qt. mmpphh…. tentang orang yang unflappable…ada memang yg cepat mengendalikan emosinya..tapi..ada juga yang malah berbahaya kalo emosi. justru terkadang dy lebih “nekat” daripada orang yang bukan…

  3. Prasetyo Habib Susilo

    Pada dasarnya amarah yang ada pada diri kita ini dapat kita dapat kita kendalikan. apabila kita sedang emosional dan amarah kita sudah berada di puncak, kita seharusnya bisa meredamnya. sikap emosional yang berlebihan dapat merugikan diri kita sendiri. mungkin hal tersebut terlihat sangat sulit, tetapi apabila kita melakukannya secara perlahan-lahan pasti akan berhasil. banyak sekali manfaat yang dapat kita rasakan dari pengendalian amarah, salah satunya adalah kita bisa terhindar dari segala hal yang dapat menggangu ketenangan hati kita. dasar yang merupakan kunci utama dari pengendalian amarah ini adalah kesabaran. sikap sabar cukup ampuh untuk meredam amarah kita yang besar.

  4. rhomelita pamora

    assalamualaikum…
    minal aidzin wal faidzin ya pak…

    artikel mengenai emosi ini cukup menarik, karena terkadang pada kehidupan nyata mengendalikan emosi diri tidak semudah saat kita memberikan advice/masukan untuk orang lain yang sedang mencurahkan isi hatinya pada kita.
    kemudian yang menjadi pertanyaan di sini, relasi antara emosi dengan isu-isu kontemporer itu bagaimana?
    terkadang disaat kita sedang sedih, salah satu cara untuk menyalurkan emosi kita adalah dengan menangis atau marah. lalu bagaimana cara mengendalikan emosi yang baik n tepat agar kita dapat tetap merasa lega tanpa harus menangis ataupun marah?

    terimakasih ya pak…
    wassalam…

  5. Oji Septyo H mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya semester5

    saya menemukan hal yang cukup menarik yang dibahas dalam tulisan diatas adalah tentang ” represor atau unflappable, yaitu orang yang tak mudah tergugah, atau terganggu, impasif, tenang penampakan luarnya.” Oleh Goleman orang-orang seperti ini terbukti menampakkan ekspresi lebih mendalam dibandingkan dengan penampakan luarnya semata. Hal ini merupakan bagian dari suatu pola yang lebih besar dalam kehidupannya, pola untuk memadamkan sebagian besar ketidak-nyamanan emosional. Orang yang unflappable sering menghadapi tekanan emosional yang bagi orang biasa menekan dengan berat perasaan sehingga memunculkan dampak negatif, namun orang ini mampu dengan cepat mengendalikan emosinya.
    menurut saya orang unflappable memang cepat mengendalikan emosinya, namun itu hanya berlaku dalam waktu singkat. untuk jangka waktu lebih lanjut sikap seperti ini justru akan menimbulkan sebuah penyakit. karena orang tersebut cenderung memendam dan tidak dapat mengekspresikan emosinya.
    secara umum saya setuju dengan bagian artikel yang membahas mengenai represor atau unflappable

  6. Rizki Amalia (0610020102)

    berdasarkan artikel di atas, saya setuju dengan pernyataan yang mengkritisi pendapat Goleman tentang cara pengelolaan amarah…saya tidak setuju dengan pendapat Goleman yang menyatakan bahwa amarah dapat diredakan dengan hanya dua cara, tanpa memberikan spesifikasi yang jelas amarah yang dimaksud bentuknya seperti apa…terlebih lagi setiap orang merupakan individu yang berbeda-beda dan amarah setiap orang memerlukan penanganan yang berbeda-beda, tergantung jenis amarahnya seperti apa dan tipe kepribadian orang tersebut…satu atau dua cara penanganan amarah yang sama tidak dapat dipergunakan kepada semua orang dan semua jenis amarah…mungkin saja cara tersebut hanya dapat membantu meredakan amarah, namun hanya dalam kadar yang minim dan jangka waktu yang sebentar saja…karena seperti yang kita ketahui, apabila kita sedang dalam keadaan emosi, kerja otak kita tidak dapat berfungsi penuh dan tidak dapat menyerapa apa yang ada di sekeliling kita dengan pikiran jernih…sehingga menurut saya yang dapat mengatasi dan mengelola amarah kita adalah kita sendiri, bagaimana amarah dapat keluar dengan seimbang, dalam arti kata amarah dapat keluar dari dalam diri kita dan tidak hanya dipendam, tetapi juga tidak menimbulkan efek yang negatif bagi diri kita dan lingkungan…sehingga mulai saat ini perlu dipelajari bagaimana mengelola amarah mulai dari diri sendiri, baik dari jenis amarahnya maupun bagaimana cara mengatasi amarah tersebut dengan cara/ solusi yang terbaik bagi diri pribadi dan lingkungan…

  7. Nur Annisa V.K. (mahasiswi Kom UB)

    Seperti yang tercantum dalam buku Terapi Menundukkan Hawa Nafsu karya Muhammad Mahdi al Ashify bahwa manusia adalah gabungan akal dan hawa nafsu, maka untuk melawan hawa nafsu alat yang paling tepat adalah akal. Walaupun hawa nafsu mampu menguasai diri manusia, namun akal kita mampu mengatur dan mengarahkannya dengan cara memperkuat posisi dan perannya dalam jiwa manusia. Akal manusia memiliki fungsi memerintah dan melarang serta menghukum dan menolak hawa nafsu. Namun kinerja akal tergantung pada manusia itu sendiri, sejauh mana ia memfungsikan dan mendisfungsikan akal dalam kehidupannya. Untuk itulah mengapa Emotional Intelligence (EI) sangat dibutuhkan. Manusia berbeda dengan binatang, tingkah laku manusia dikendalikan oleh akal pikiran sedangkan binatang dikendalikan oleh hawa nafsunya. Dalam hal ini berarti akal berperan penting dalam mengendalikan dan menahan hawa nafsu dalam diri manusia. Akal merupakan alat yang efektif yang dimiliki manusia.
    Kemudian, menaggapi pernyataan Goleman mengenai kiat katarsis, saya tidak menyalahkan keduanya, disini saya berusaha menggabungkan kedua pernyataan yang saling bertentangan tersebut bahwa teori katarsis memang dapat mengatasi emosi setelah meletupkan emosi negatif menjadi lebih dahsyat (pernyataan Goleman). Logikanya adalah setelah emosi tersebut meletup akibat terapi katarsis, maka berangsur-angsur emosi akan menurun dan bahkan hilang karena telah tersalurkan.

  8. Memang tidak salah apabila kebanyakan orang mengalami masalah “diperbudak nafsu”, karena mengendalikan “nafsu” itu sendiri memang tidak mudah.
    Selain itu diperlukan penanganan yang berbeda pada masing-masing orang untuk meredam nafsunya. Maka dari itulah beberapa waktu ini mulai gencar diadakannya “manajemen emosi”, fungsinya adalah mengetahui cara yang efektif untuk meredam emosi.
    Namun usaha ini masih saja terbentur permasalahan masyarakat yang cenderung menyepelekan masalah cara yang efektif untuk meredam emosi.

  9. Rizky Windha P (0610020103)

    Emosi merupakan sebuah kata sederhana dan sering tidak diperhatikan oleh seseorang. Banyak orang menganggap bahwa kecerdasan intelegensi lebih penting daripada kecerdasan secara emosi. Padahal, banyak pakar melakukan penelitian dan membuktikan bahwa kecerdasan secara intelegensia hanya menguasai 20% kehidupan manusia dalam meraih kesuksesan sedangkan 80% dikuasai oleh faktor-faktor lain termasuk kecerdasan emosi.
    Seperti kalimat yang dikatakan oleh Aristoteles yang mengatakan bahwa “Siapapun bisa marah, marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal mudah”, menunjukan bahwa tidaklah gampang untuk mengatur emosi kita. Banyak orang pintar dalam akademik tetapi ia tidak sukses dikarenakan tidak memiliki pengendalian diri yang besar. Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, menyatakan ada 5 (lima) wilayah kecerdasan emosi, yaitu: mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenal emosi orang lain, dan membina hubungan (www.google.com).
    Dengan mengenal emosi orang lain, maka kita akan lebih dapat meminimalisir konflik yang akan timbul. Setiap orang pasti memiliki gejolak emosi yang berbeda-beda, oleh sebab itu kita tidak dapat memperlakukan orang lain sama. Dr. Patricia Patton dalam bukunya Emotional Quotient mengungkapkan bahwa untuk mampu mengatur emosi adalah dengan cara belajar. Belajar mengidentifikasikan apa saja yang bisa memicu emosi kita dan respon apa yang biasa kita berikan, belajar dari kesalahan, belajar membedakan segala hal di sekitar kita yang dapat memberikan pengaruh dan yang tak dapat memberikan pengaruh pada diri kita, belajar selalu bertanggung jawab pada setiap tindakan kita, belajar mencari kebenaran, belajar memanfaatkan waktu secara maksimal untuk menyelesaikan masalah, dan belajar menggunakan kekuatan sekaligus kerendahan hati.
    Memahami dengan benar bagaimana emosi dapat membuat kita tidak lagi diperbudak oleh hawa nafsu. Karena bila itu terjadi, bukan tidak mungkin kita tidak akan memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup. Oleh sebab itu jadilah orang yang memiliki kecerdasan emosi yang diimbangi oleh kecerdasan secara spiritual dan akademis. Kesuksesan akan ada digenggaman kita.

  10. Rizky Arditya Rahman

    menurut saya…amarah memang merupakan suatu topik penting yang sering terjadi di sekitar kita. hanya saja, dari penjelasan di atas saya kurang memahami dengan jelas bagaimana amarah itu awalnya muncul…maksudnya bagaimana proses amarah itu ada. lalu, berbicara tentang orang yang unflappable, menurut saya, orang2 seperti itu tidak cepat mengendalikan emosinya. karena, mereka cenderung tipe orang yang tertutup dan suka menahan. jadi, ketika ia emosi…malah ia cenderung ekspresif dan bisa berbahaya…

  11. P.A.Rindra Devita P.

    Saya tertarik saat Bapak menyinggung katarsis. Katarsis jika tidak salah adalah tentang penyaluran naluri agresi dari masing-masing individu, misalnya melalui tayangan televisi yang terkadang tergolong “media violence” atau mengandung “kekerasan”. Kekerasan disini memang tidak mesti tentang pembunuhan dan sejenisnya tapi juga mencakup hal-hal yang berbau pornografi serta termasuk juga gosip (membicarakan orang lain). Menurut teori katarsis yang pernah saya pelajari, “media violence” tersebut justru tidak akan berdampak buruk pada tingkah laku si individu, misalnya membuatnya menjadi lebih agresif dan tidak terkontrol, tapi justru sebaliknya, individu dapat meredam emosi yang ada dalam dirinya karena sudah mereka salurkan lewat tayangan-tayangan tersebut.
    Dengan kata lain, katarsis menurut saya justru dapat menahan serta mengontrol emosi yang muncul dalam individu karena mereka tidak akan melampiaskan “hasrat” atau “nafsu” mereka tersebut kepada benda-benda atau bahkan orang-orang di sekelilingnya sebab mereka hanya cukup duduk diam menonton televisi dan tokoh-tokoh yang bermain di dalam sebuah tayangan sudah “mewakili” mereka untuk melampiaskan emosi yang terdapat dalam masing-masing diri individu. Sehingga, mereka tidak akan menyakiti orang lain atau merusak lingkungan di sekitarnya yang dapat merugikan dirinya bahkan orang di sekitarnya.
    Mereka tidak perlu menjadi budak dari hawa nafsu lagi, sebab secara “cerdas” mereka telah memanfaatkan media lain yang sekiranya tidak merugikan diri sendiri. Walaupun, tayangan-tayangan media violence tetap harus diwaspadai oleh semua pihak karena memang dapat menjadi indikator rusaknya mental dan menurunnya moral bangsa. Kita sebagai khalayak juga tetap dituntut untuk cerdas dalam memilih tontonan yang layak bagi diri kita sendiri serta dapat bermanfaat bagi kita. Bukan sebaliknya, yang malah merugikan.

  12. P.A.Rindra Devita P.

    Saya tertarik saat Bapak menyinggung katarsis. Katarsis jika tidak salah adalah tentang penyaluran naluri agresi dari masing-masing individu, misalnya melalui tayangan televisi yang terkadang tergolong “media violence” atau mengandung “kekerasan”. Kekerasan disini memang tidak mesti tentang pembunuhan dan sejenisnya tapi juga mencakup hal-hal yang berbau pornografi serta termasuk juga gosip (membicarakan orang lain). Menurut teori katarsis yang pernah saya pelajari, “media violence” tersebut justru tidak akan berdampak buruk pada tingkah laku si individu, misalnya membuatnya menjadi lebih agresif dan tidak terkontrol, tapi justru sebaliknya, individu dapat meredam emosi yang ada dalam dirinya karena sudah mereka salurkan lewat tayangan-tayangan tersebut.
    Dengan kata lain, katarsis menurut saya justru dapat menahan serta mengontrol emosi yang muncul dalam individu karena mereka tidak akan melampiaskan “hasrat” atau “nafsu” mereka tersebut kepada benda-benda atau bahkan orang-orang di sekelilingnya sebab mereka hanya cukup duduk diam menonton televisi dan tokoh-tokoh yang bermain di dalam sebuah tayangan sudah “mewakili” mereka untuk melampiaskan emosi yang terdapat dalam masing-masing diri individu. Sehingga, mereka tidak akan menyakiti orang lain atau merusak lingkungan di sekitarnya yang dapat merugikan dirinya bahkan orang di sekitarnya.
    Mereka tidak perlu menjadi budak dari hawa nafsu lagi, sebab secara “cerdas” mereka telah memanfaatkan media lain yang sekiranya tidak merugikan diri sendiri. Walaupun, tayangan-tayangan media violence tetap harus diwaspadai oleh semua pihak karena memang dapat menjadi indikator rusaknya mental dan menurunnya moral bangsa. Kita sebagai khalayak juga tetap dituntut untuk cerdas dalam memilih tontonan yang layak bagi diri kita sendiri serta dapat bermanfaat bagi kita. Bukan sebaliknya, yang malah merugikan.
    (0610020082, Kelas D, Ilmu Komunikasi FIS Univ.Brawijaya, smt.5)

  13. Secara umum, tulisan yang mengangkat tema mengenai emosi manusia ini cukup menarik. Penulis ingin mengkritisi mengenai masalah kecerdasan emosi yang saat ini banyak digembar-gemborkan khalayak namun masih banyak yang belum mengetahui makna sebenarnya dari hal ini. Berangkat dari buku yang ditulis oleh (ahli jiwa) terkemuka Daniel Goleman, Emotional Intelligence. Artikel ini mengulas mengenai salah satu bab penting didalamnya, yaitu “Budak Nafsu” yang berisi seputar amarah, kecemasan, depresi, kesedihan. Tak berhenti disitu buku ini juga mencantumkan cara menangani perasaan-perasaan tersebut. Tidak sekedar mengulasnya namun penulis juga memberitahukan beberapa kelemahan dalam tulisan tersebut yang akhirnya terjawab pada sebuah makalah buatan Bapak Aries Munandar yang berjudul “Diperbudak Hawa Nafsu” (2005). Lebih jauh, penulis juga memberi analisisnya bahwa masih terdapat ’lubang’ dalam tulisan tersebut.
    Dewasa ini masalah kecerdasan emosi memang menjadi perhatian tersendiri. Terdapat pergeseran paradigma mengenai ’cara menuju keberhasilan’. Jika dulu banyak yang percaya bahwa hal itu ditentukan oleh tingkat intelegensi seseorang namun kini banyak pandangan yang menyatakan bahwa kemampuan mengolah emosi lebih memegang peranan. Memang kecerdasan emosi merupakan syarat penting bagi banyak bidang, tidak hanya dalam tingkatan karir dan organisasi namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah artikel ini adalah sebuah pengantar yang cukup bagus dalam meng’cover’ fenomena tersebut.
    Namun, dengan banyaknya istilah sulit dan gaya bahasa yang cukup berat bacaan ini tentunya tidak dapat dikonsumsi semua pihak. Saya sendiripun mengalami kesulitan dalam memahami lebih jauh mengenai artikel ini. Dengan tidak adanya catatan kaki dan link lain mengenai informasi didalamnya maka butuh kesabaran ekstra dalam memahami maknanya lebih jauh lagi.

  14. Membaca artikel ini kembali mengingatkan saya akan salah satu teori yang dikemukakan Freud yang menyatakan bahwa manusia harus diberikan kesempatan semaksimal mungkin untuk mengungkapkan emosi yang ada di dalam dirinya. Hal ini tentu berhubungan dengan emosi yang dimaksud dalam artikel ini. Di mana emosi seperti marah dan sedih merupakan suatu kodrat yang dimiliki setiap manusia dan tidaklah tepat apabila kita mencoba untuk menghilangkannya. Yang perlu kita lakukan hanyalah berusaha agar dapat mengendalikan emosi tersebut akhir tidak sampai terlampau merugikan orang lain.
    Secara keseluruhan saya sependapat dengan bahasan yang ada di dalam artikel ini. Kecerdasan emosi merupakan aspek penting yang harus setiap manusia di samping kecerdasan intelektualnya. Dengan demikian kita dapat menjadi seorang manusia yang seimbang di dalam kehidupan.
    Namun saya merasa kesulitan dalam memahami istilah-istilah yang ada di dalam artikel ini, mungkin berhubungan dengan keterbatasan pengetahuan yang saya miliki.

  15. emosi yang tidak terkendali seperti berubah menjadi HULK ( marah , tidak terkendali ) dan tidak sadar lagi..

    Menurut beberapa orang ( saya pernah baca tapi lupa sumbernya ), cara yang terbukti efektif adalah mengalami karunia kasih Tuhan, berbuat kebajikan untuk sesama.. sehingga muncul rasa bahagia dalam diri kita..

    Dengan mengalami rasa bahagia, orang tsb akan lebih mudah mengamati gejolak emosi dan hawa nafsu dalam diri secara tenang.. juga tidak menghakimi ataupun membenarkan.. hanya melihat mereka sebagaimana adanya.. melihat apakah mereka benar-benar perlu dan menguntungkan atau tidak.. bila tidak perlu dan tidak menguntungkan, maka akan terlepas dengan sendirinya..

    bahkan mereka bisa menggunakan emosi sebagai alat yang baik.. untuk mengekspresikan diri dan mencapai suatu tujuan.. so saya salut sama mereka2 itu yang telah bisa mengelola / memanage emosinya dengan baik..

    tentang represor pernah saya alami dulu. Dari luar kelihatan sih baik-baik, tp dalamnya sebenarnya tidak. Kalau ingat masa-masa itu, rasanya berat karena sifat saya yang tertutup waktu itu. Sampai sekarang pun rasanya masih ada, tapi syukurlah sudah berkurang dibanding dulu..

  16. Kita harus bisa mengendalikan amarah , jangan sampai amarah mengendalikan kita jika kita sudah dikendalikan oleh amarah maka sesuatu yang kita kerjakan menjadi sangat kacau balau dan bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
    Di dalam sebuah buku yang berjudul Anger Management yang ditulis oleh Abdul Qadir AT disebutkan bahwa marah adalah potensi dan reaksi alamiah yang dalam suatu kesempatan keluar dan disebabkan oleh hal tertentu. Marah hanya dapat dikendalikan dengan cara menahan diri. Apabila ini dilakukan, akan berdampak positif dan terhindar dari hal-hal negatif.
    Sekarang ini banyak sekali tayangan yang mengandung unsur kekerasan di televisi, bagi sebagian orang tayangan kekerasan tersebut bisa dijadikan peredam nafsu amarah dengan melampiaskan amarahnya lewat tayangan TV tersebut sehingga tidak merugikan dirinya sendiri maupun orang lain (hal ini berhubungan dengan teori katarsis), namun terdapat juga orang yang justru berbuat sebaliknya setelah melihat tayangan kekerasan mereka meniru dan mempraktekannya di kehidupan sehari-hari, jadi menurut saya tergantung dari individunya bagaimana dia menyikapi. ( Ria indriana 0610023118, mahasiswa komunikasi UB)

  17. Ratna P. Azarine (0610020095)

    sebelumnya, saya mau mengucapkan minal aidzin wal faidzin ya pak… mumpung masih dalam bulan syawal..

    saya setuju dengan pendapat Goleman tentang hipotesis katarsis. Menurut saya dengan menyaksikan tayangan-tayangan kekerasan televisi malah menyebabkan perilaku agresif . Tayangan kekerasan bisa malah memberikan rangsangan untuk melakukan tindak kekerasan dan memberikan contoh perilaku kekerasan kepada masyarakat.
    mengenai represor ataupun unflappable ini apakah ada keterkaitannya dengan gangguan bipolar?? karena saya pernah membaca bahwa Biasanya orang yang mengalami gangguan ini banyak mengalami perubahan yang sangat ekstreem, seperti roller coaster, yang ada pada diri mereka.
    Orang dengan gangguan mood ni akan mengalami perubahan suasana hati (perasaan) dengan sangat cepat, mereka bias cepat merasa gembira tapi juga bias cepat menjadi sedihkemudian kecewa kemudian gembira lagi. atau mungkin hal ini bisa menjadi suatu penyebab represor??

  18. Raka Gigih B ( 0610020090 )

    …..Mm,menurut saya, memang menarik jika membahas tentang permasalahan yang berhubungan dengan emosi. masih banyak orang – orang yang kurang mengerti tentang betapa indahnya jika kita mampu mengendalikan emosi kita. tetapi kita juga harus perlu tahu bahwa emosi tidak selamanya bersifat negatif, ada kalanya pada saat situasi tertentu emosi dapat menjadi efek positif bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya.

    namun kebanyakan yang kita temui adalah dimana orang – orang tidak bisa mengendalikan emosinya dan bertindak buruk bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. sehingga kita masih menemui banyak terjadi tawuran – tawuran sebagai akibat dari emosi yang tidak terkendali.

    seyogyanya kita sebagai manusia agar dapat belajar mengendalikan emosi kita, seperti pembahasan di atas…saya tertarik dengan fenomena ” bahwa 42 sekolah di Inggris membuktikan bahwa pemimpin sekolah yang menunjukkan kemampuan EI dapat meningkatkan sikap positif para guru dan keberhasilan prestasi belajar siswa”..itu membuktikan bahwa pengendalian diri dapat membuahkan efek positif bagi lingkungan sekitarnya……….
    jadi yang perlu kita ingat dan resapi adalah ” betapa indahnya jika kita mampu mengendalikan emosi kita ……..”

  19. Resti Dwi Wulansari

    sebenarnya amarah maupun emosi itu dapat dikendalikan atau diminimalisirkan, tapi memang tidak semudah seperti yang kita bayangkan. …
    setiap orang memiliki emosi yang berbeda-beda, jadi kita tidak bisa memperlakukan setiap oang dengan cara yang sama. misalnya : ada orang yang suka dihibur saat dia sedang sedih,,,tapi ada juga orang yang ingin menyendiri jika dia sedang sedih. jadi dengan kita dapat menilai dan mengenali emosi diri sendiri dan orang lain, kita akan dapat menghindari terjadinya konflik, tetapi jika konflik tersebut sudah terjadi maka dengan kita dapat memanajemen dan mengendalikan emosi, konflik yang sedang terjadi akan cepat terselesaikan.

  20. Tanggapan saya untuk Ranidya, Niska, Prasetyo, Rhomelita, Oji, Riski, Nur Annisa, Rissa, Rizky, Rindra, Putri, Rero, YauHui, Ria, Ratna, Raka, Resti; terima kasih ya untuk semuanya. Saya tambah banyak belajar dari kalian. Tanggapan ini diropel karena seminggu saya di Jakarta. Jadi gak sempat tengok-tengok lahan belajar ini. Salam hangat deh.

  21. disini saya akan mencoba mengaitkan artikel Bapak dengan salah satu penyakit yang mungkin berhubungan dengan emosi seseorng. penyakit tersebut adalah psikopat. seiring berkembangnya budaya hidup modern, masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia semakin kompleks. hal ini menimbulkan stress berlebihan bagi masyarakat.

    Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa.Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut “orang gila tanpa gangguan mental”. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau dirumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan.

    ada beberapa ciri umum yang mengindikasikan seseorang bisa dikatakan sebagai pengidap psikopat.diantaranya adalah
    · Sering berbohong, fasih dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara,
    secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran,
    psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang
    membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya
    dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
    · Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
    · Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya
    namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki
    alasan untuk peduli.
    · Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.
    · Sikap antisosial di usia dewasa.
    · Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak
    ada bedanya.
    · Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur
    larut dan sering keluar rumah.
    · Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang
    baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang
    telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu
    amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan
    mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
    · Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
    · Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun
    sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis
    yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung
    berdebar, mulut kering, tegang, gemetar — bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu
    psikopat seringkali disebut dengan istilah “dingin”.
    · Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan
    dirinya.

    ciri-ciri ini diharapkan tidak membuat orang-orang mudah mengecap seseorang psikopat karena diagnosis gejala ini membutuhkan pelatihan ketat dan hak menggunakan pedoman penilaian formal, lagipula dibutuhkan wawancara mendalam dan pengamatan-pengamatan lainnya. Mengecap seseorang dengan psikopat dengan sembarangan beresiko buruk, dan setidaknya membuat nama seseorang itu menjadi jelek.

  22. @Risky: terima kasih, Risky atas info psikopatnya yg lengkap. Tapi stlh saya cocokkan, kok beberapa mirip ciri saya ya. Jangan2… he…he…

  23. Emosi yang buruk kadang disebabkan oleh ketidakmampuan kita mengambil jarak dari realitas. Pada banayak kasus yang gagal pada banyak EI sering menyalahkan keadaan. Pada dasrnya memang kitatidak bisa selalu mengendalikan keadaan, tapi pada kenyataannya kita bisa dan harius mengendalikan pikiran kita. Emosi yang termanajemen walaupun dalam bentuk kemarahan skalipiun, akan bisa memeperbaiki keadaan ke arah positif misalnya dengan tahu who, where,when, what, why kita marah. Sumber-sumber pembentuk emosi juga harus diketahui dan termanajemen karena mungkin saja kita dapat menghindari sumber tersebut. Masalah adanya unflapable, orang -orang ini berada dlam bahaya besar karena terlalu berhati- hati dengan keadaan sehingga tanpa disadari akan menutup sirkulasi emosi. Jika dibiarkan, efeknya seperti balon yang meletus karena tak kuasa menyimpan udara yang semakin meningkat volumenya dan mendorong energi untuk keluar. Ledakan yang dihasilkan akan merusak jaringan luar (sosial) dan dalam (psikologi) dari individunya. Contonya dapat diliihat pada kasus Ryan jagal Jombang. Ia mungkin kena syndrome kekaburan visi dan misi hidup serta terlalu banyak dopping atau stimulan tak berguna dari lingkungan dan pengalaman hidupnya. Terakhir buat yang suka adu jotos gara – gara ngalah ama yang namanya emosi, pesen dari filsuf Bergson, bertindaklah sebagai orang yang selalu berpikir dan berpikirlah sebagi orang yang selalu bertindak…MERDEKA!!!!!

    @Hejis: Ya, pikiran dan tindakan harus kompak dalam banyak hal. MERDEKA JUGA!!!!!

  24. nafsu?

    @Hejis: sepertinya begitu, mas. Salam hangat.

  25. Rezky asena, 0610023116

    sedikit tanggapan tentang artikel bapak..
    kecakapan dalam pengendalian emosi atau emotional intelegent yang dimiliki tiap orang itu berbeda. mungkinh ada beberapa faktor yang mempengaruhi, misalnya, tingkat pendidikan, lingkungan sekitar, keluarga, kondisi psikologis, dll.
    di Indonesia sendiri pada umumnya tingkat pengendalian emosinya cukup memprihatinkan. bisa kita lihat dalam kasus Demo FPI(Front Pembela Islam) di Monas. padahal FPI itu adalah suatu organisasi yang membawa nama agama, tapi mengapa tindakannya itu malah cenderung radikal?. hal seperti ini justru malah mencoreng salah satu agama di negeri ini, yang dipandang memperbolehkan kekerasan terjadi. ini baru satu contoh kasus. Belum lagi kasus lainnya seperti tawuran antar pelajar, pembunuhan, demonstrasi yang bersifat anarkis, dll.
    mengenai sangkut pautnya dengan teori kartasis yang dianggap bisa mengatasi kemarahan. hal ini tergantung bagaimana tiap individu menerjemahkannya. dalam satu kasus, ketika emosi kita sedang meluap-luap, kemudian kita menonton tayangan d TV yang menghadirkan adegan orang sedang brantem, emosi kita ikut terpacu dan kita meluapkannya dengan berteriak membela tokoh idola kita, setelah selesai menonton, ada kelegaan yang kita rasakan setelah berteriak, sehingga ini dapat menjadi sarana penyaluran emosi dan peredam amarah.
    namun, ada 1lagi contoh kasus, ketika kemaren stasiun TV marak skali menyiarkan tayangan Smackdown, yang kebanyakan penontonnya adalag anak di bawah umur, ketika selesai menonton tayangan tersebut, mereka malah langsung mempraktekkan “jurus-jurus” smackdown, kepada saudara atau teman mereka. sampai-sampai pernah terjadi kasus, ada bocah yang tanpa sengaja membunuh temannya setelah selesai menonton tanyangan itu…

  26. muhammad luthfillah

    amarah tiap tiap orang itu tidak sama, jadinya pengendalian amarah tergantung pada masing masing orang.

  27. emotional orang berbeda-beda…betul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s