Kecerdasan Musik

Hejis

 

Dari semua bakat yang dimiliki individu, tak ada yang muncul lebih awal daripada bakat musik. Meskipun spekulasi dalam masalah ini masih meluas, bakat ini benar-benar tetap tidak pasti mengapa bakat musik muncul demikian awal, dan apa hakikat bakat ini. Suatu penelitian mengenai kecerdasan musik dapat membantu kita memahami selera khusus tentang musik dan pada saat yang sama menjelaskan hubungannya dengan bentuk-bentuk kecerdasan manusia lainnya.

Isi uraian secara garis besar bab mengenai kecerdasan musikal ini antara lain:

  • Mengkaji contoh-contoh pencapaian musikal yang cemerlang di masa dewasa, di mana keterampilan-keterampilan ini banyak ditemukan pada individu-individu yang menjalani hidupnya sebagai komponis
  • Menggambarkan beberapa kemampuan inti yang mendasari kecerdasan musik pada orang-orang biasa
  • Mengungkapkan aspek-aspek perkembangan normal seperti pelatihan keterampilan musikal dalam rangka memperoleh lebih lanjut jenis-jenis bakat yang dipertunjukkan oleh ketiga anak tersebut.
  • Menyelidiki kerusakan musikal
  • Menyelidiki organisasi otak yang memungkinkan prestasi musikal.
  • Meneliti bukti-bukti kecerdasan musikal yang otonom dalam budaya Gardner dan budaya masyarakat lain.
  • Sebagai simpulan, Gardner mengungkapkan cara-cara kecerdasan musikal berinteraksi dengan kecakapan-kecakapan intelektual manusia lainnya.

            Dalam mengkaji contoh-contoh pencapaian musikal yang cemerlang di masa dewasa, di mana keterampilan-keterampilan ini banyak ditemukan pada individu-individu yang menjalani hidupnya sebagai komponis, Gardner mengemukakan apa yang disampaikan Roger Sessions, bahwa Komponis harus selalu siap mengenali fakta bahwa ia harus terus-menerus memiliki “nada di dalam kepala”. Juga, selalu agak dekat dengan kesadaran, mendengarkan nada, ritme, dan pola-pola musikal yang lebih luas. Selain itu, pola-pola ini secara musikal sedikit berharga dan merupakan turunan secara keseluruhan. Itulah mengapa pengarang harus terus-menerus memonitor dan membentuk kembali pola-pola ini. Lebih lanjut, disebutkan bahwa proses menyusun komposisi musik dimulai ketika ide-ide ini mengkristal dan membentuk sesuatu yang berarti.

Gardner menyampaikan bahwa, komponen-komponen kecerdasan musik meliputi aspek utama, yakni, Pitch (atau melodi), Rhythm, Timbre; dan Aspek afektif, yakni kesan yang disepakati telinga dan kesannya pada kecerdasan yang memiliki kekuatan untuk memengaruhi secara gaib jiwa kita dan aspek sentimental kita (memenuhi keinginan atau kegerahan hati).

Melihat kemampuan musik yang utama ini, para ahli psikologi berusaha mengkaji mekanisme di mana pola-pola musikal diterima: 2 pendekatan radikal penyelidikan psikologis tentang musik.

                                  Bottom up: mengkaji cara-cara di mana individu memproses unsur-unsur musik:  nada tunggal, pola-pola ritmik dasar; dan unit-unit lainnya. caranya: subjek ditanyai nada yang di antara dua yang lebih tinggi, apakah dua pola ritmik sama, apakah dua nada dimainkan oleh instrumen yang sama.

                                  Ketidak-percayaan terhadap kemungkinan tersusunnya musik dari komponen-komponennya mendorong pendekatan “top-down” terhadap persepsi musik, di mana seseorang menghadirkan kepada subjek musk, atau paling tidak segmen musikal kesehatan. Dalam studi semacam ini, seseorang diuji reaksinya terhadap perangkat-perangkat musik yang lebih umum (apakah berlangsung lebih cepat atau lebih lambat, apakah lebih keras atau lebih lemah) dan juga terhadap ciri-ciri metaforik dari musik (apakah berat atau ringan, kejayaan atau tragedi, padat atau jarang).

                                  Gardner mengusulkan pendekatan ketiga yakni “middle ground” (jalan tengah), yang tujuannya sampel entitas-entitas musik yang cukup besar untuk menghasilkan suatu persamaan yang non-superfisial terhadap entitas musikal yang asli, sehingga cukup rentan untuk analisis terhadap manipulasi eksperimental yang sistematik yang diizinkan. Riset semacam ini umumnya melibatkan pemberian kepada subjek hal-hal yang singkat atau serpihan-serpihan yang memiliki sebuah kunci atau ritme yang jelas. Subjek diminta untuk membandingkan kelengkapan satu sama lain, untuk mengelompokkan bersama pada kunci atau pola ritme yang sama, atau untuk melengkapi sendiri. Riset ini mengungkapkan bahwa semua, kecuali subjek yang paling naif, untuk menghargai studi musik. Yakni memberikan satu kunci yang dapat mereka gunakan untuk mempertimbangkan mana akhir yang lebih layak, mana yang tidak layak; mendengarkan dalam ritme-ritme tertentu, mereka dapat mengelompokkannya yang lain dari ritme yang sama, atau melengkapi ritme yang layak. Individu dengan latihan atau sensitivitas yang moderat dapat menghargai hubungan yang ada di dalam suatu kunci¾untuk mengetahui bahwa yang dominan atau tidak dominan menikmati suatu hubungan yang istimewa pada nada tersebut¾dan mana kunci yang secara musikal dekat sat sama lain sehingga modulasi di antara hal-hal tersebut layak. Individu semacam ini juga sensitif terhadap perangkat garis musik, penghargaan, misalnya ketika satu frase mengungkapkan kontur yang sebaliknya dari frase sebelumnya.

 Ketika membahas Perkembangan kecakapan musikal, Gardner menyebutkan bahwa perkembangan kecakapan musikal dimulai pada bayi, mereka dapat memperdengarkan suara-suaranya sendiri, menghasilkan pola-pola nada naik-turun, dan bahkan menirukan pola-pola prosodik dan lagu nada orang lain dengan lebih baik. Menurut Mechthild Papousek dan Hanus Papousek anak umur dua bulan dapat mencocokkan nada, kekerasan, dan kontur melodi dari lagu-lagu ibu mereka, dan bayi umur empat bulan dapat mencocokkan struktur ritmik dengan baik. Kecakapan ini menunjukkan bahwa bayi secara khusus berpembawaan aspek-aspek musik. Pada usia satu setengah tahun, anak-anak mengalami transisi penting dalam kehidupan musik mereka.

 

ULASAN

Howard Gardner menegaskan bahwa setiap individu yang normal yang sering diterpa musik dapat memanipulasi pitch, ritme, dan timbre untuk berperan serta dengan beberapa keterampilan dalam aktivitas musikal, termasuk membuat komposisi, bernyanyi, atau memainkan instrumen. Dasar-dasar minat ini dapat dilakukan pada usia dini melalui bermacam-macam aktivitas. Musik di rumah dan di lingkungan awal member suatu dasar yang penting bagi pengalaman musikal yang kelak dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah.

Karena kuatnya hubungan antara musik dan emosi, musik di ruang kelas dapat membantu menciptakan lingkungan emosional positif yang mendukung pembelajaran. Musik juga dapat digunakan mempertinggi ketegangan, kesedihan, tragedi, atau kegembiraan cerita dari sastra dan sejarah besar. Bahkan, musik dapat digunakan atau diciptakan untuk mengungkapkan humor. Pemilihan kata-kata tertentu dalam sebuah lagu merupakan alat yang memiliki daya tarik untuk mempertajam keterampilan mendengar dan konsentrasi. Lagu-lagu humor juga dapat menambah atmosfer kehangatan dan pembuka yang baik di ruang kelas.

Bab mengenai kecerdasan musikal dari tulisan Gardner yang menjadi bagian dari teori kecerdasan majemuk menegaskan kepada kita bahwa manusia memiliki aspek yang tak kalah penting untuk dikembangkan. Aspek penting ini adalah kecakapannya dalam memahami musik atau menciptakan musik.

Kemampuan musikal ini dapat dimiliki oleh manusia terentang mulai dari tingkat pemula hingga tingkat hebat. Manusia dapat memelajari kemampuan ini, mengasahnya, atau melipat-gandakannya. Semua itu demi menghadirkan pribadinya secara utuh. Gardner banyak memberikan sumbangsih dalam hal fokus perhatian kita pada kecerdasan manusia yang mestinya tidak bertumpu pada aspek tunggal kecerdasan manusia, seperti yang dilakukan oleh sebagian dari kita.

Dalam konteks negara kita, kecerdasan musikal akan banyak bermanfaat jika dikembangkan di sekolah-sekolah. Hal ini mengingat musik dapat menenangkan jiwa yang sedang resah. Seperti yang diungkapkan Louise Montello dalam bukunya Essential Musical Intelligence (2004), bahwa musik telah menciptakan pendekatan langsung yang sederhana untuk pencarian pikiran-bawah-sadar paling dalam untuk membebaskan diri kita dari sakit dan penderitaan yang disebabkan penyalahgunaan, terorisme, diabaikan, ditinggalkan, dan rasa ketagihan.

Implikasinya di bidang pendidikan, kalau teknik pengajarannya dikelola dengan baik, maka akan membantu kita untuk menyesuaikan diri pada aspek bayangan positif dan negatif dari diri kita sendiri dan mengubah karakteristik kita yang sulit ditangani dan kadang-kadang merusak. Dengan mengubah “racun” dalam hidup kita menjadi obat lewat keterlibatan kita dengan musik, kita mampu menggunakan energi yang diubah ini sebagai kekuatan positif untuk menyembuhkan diri kita sendiri dan planet ini, demikian ungkap Montello. Tanpa musik, dunia ini memang tidak akan sempurna. Apalagi manusia penghuninya.***

14 responses to “Kecerdasan Musik

  1. masih mikir… mau komen apa ya😀

  2. kajiankomunikasi

    @mantan kyai: hi…hi…gak usah dipikir mas, nanti stroke. Sampeyan satu2nya yg berani ngaku mantan kyai lho. Salam…

  3. Artikelnya hmmh.. benar2 unik.. tampil beda..
    hidup tanpa musik, seperti makanan tanpa bumbu..

  4. @YauHui: Makasih. Mari bernyanyi… triiit…triiit…tralalala…. Hidup jadi ebih indah kan?

  5. Yang sie pernah denger Kecerdasan musik bisa diasah sejak bayi berada didalam kandungan dengan sering memperdengarkan irama musik atau lagu lagu musik klasik dipercaya mampu meningkatkan kecerdasan anak balita..
    Kalo sejak dalam kandungan didengerin musik dangdut gimana yaa xixixi
    Nah kalo mas hejis sukanya musik apa??

    @Hejis: Selamat datang kembali, Sie. Saya sudah pesan spanduk selamat datang, tapi baru minggu depan jadinya….he….he. Betul, Sie, pernah ada penelitian yg Sie katakan itu. Pengaruhnya bayi menjadi tumbuh dengan baik, ya fisiknya, ya perkembangan otaknya. Kalau sejak dlm kandungan didengerin musik dangdut, ya kalau lahir langsung segede Dewi Persik, Rhoma Irama, Iis Dahlia, atau Evie Tamala. Saya suka musik hampir dari berbagai aliran. Sungguh. Saya menikmati musik bukan karena lairannya, melainkan pada lagunya sehingga saya suka lagu2 tertentu saja dari penyanyi tertentu, misalnya Ungu, Peterpan, Changcuter, SO7, Dewa, Padi, ST12, Walisongo (eh Wali aja ya), Broery, Hetty Koes Endang, Chrisye, Iwan Fals, Doel Sumbang, ABBA, Madonna, Richard Marx, Deep Purple, Evie Tamala, Ona Sutra, Mansyur S, Meggy Z, Joan Baez, Bethoven, Daniel Sahuleka, John Denver (pernah ke Lampung gara2 cari lagunya John Denver, waktu kuliah di Bandung dulu), Paul Anka, Indra Lesmana, Maia, Mulan Jameela, Dian Piesesha, Gombloh, Groban, Heru (pernah ngarang lagu tapi gak direkam, temannya terheran2 dikira ciptaan komposer top, gak taunya ciptaannya sendiri…). Dan masih banyak yg lainnya. (LHa ini aja sudah banyak!).

  6. He he he.. Mas hejis konyol ah..
    Eh iya kalau dirumah, mbaknya sie malah kalau mau nidurin anaknya jarang jarang menggunakan media seperti kaset dkk, tapi lebih suka dinyanyiin sendiri kalo orang jawa bilang nembang he he ketimbang pake musik dan sie kira itu cara sederhana buat mengasah kecerdasan musik pada anak juga ada nilai lebihnya yaitu kedekatan emosional anak dan ibunya tapi bukan berarti menggunakan media kaset dvd vcd itu gak bagus hanya saja jika keduanya diseimbangkan mungkin akan lebih bagus lagi
    Halah sassie sok teu banget ya mas..gpp kan ini cuma opini pribadi kalo salah ya maaf xixixi
    Btw sie makasih banget udah masuk daftar artis pujaan mas hejis itu si mulan jameelah kan sayaa ahahahahaha kumat dah narsisnya..
    Eh satu lagi jangan lupa spanduk ucapan selamat datangnya pesen yang warnanya pink ada gambar bunga bunganya ya he he he tambah ngramput nih wkwkwkwkwk Salam! ^.^v

  7. sama PAK (enake dipanggil Mas aja ya biar tetep Muda:mrgreen: )dengan saya suka musik terutama pada liriknya😀

    BTW saya suka donlod dari internet lagu2 lama kayak marillion, yes, APP – maren dapat satu album marilliom misplaced childhood – keren🙂

    sekedar info saya pake bearshare untuk donlod lagu dan film2 (mbajak ya pak istilahnya😀 ) bisa diunduh di http://www.poratableturk.com pada tag portable P2P filesharing…

    halah jangan-jangan sampean udah tahu duluan:mrgreen:

    @Hejis: Ya, ya bener biar kayak daun muda. he..he… Tuh, kelihatan baiknya kan? Terima kasih, nanti tak nyoba’. Kalau saya yg gitu2 jelas belon tau.

  8. keliru yang benar linknya http://portableturk.com/

    @Hejis: Betul mas Heri linknya bisa dibuka. Trm kasih. Lain waktu kasih tips lagi ya (weh nglamak…he…he…)

  9. kerusakan musikal. hahaha, jadi inget ada peneitian pake tikus di semacam maze. tanpa musik, 2 tikus bisa keluar dari maze setelah 5 menit, dengan musik klasik, 10 menit, pake musik metal, mereka nggak keluar, malah makan satu sama lain. pas ibu saya hamil 8 bulan, bapak cerita ibu nonton konser waktu itu ahmad albar di bandnya sebelum gong 3000 ma band lain helloween kali apa iu membuat saya rusak juga? nyatanya saya masih sehat dan tidak sakit mental apapun, kalo emang bener, mungkin benerkata bapak saya: makanya nduk, kamu itu jadi kayak gini. hahaha

    Hejis: He..he.. untung ya, ibu gak melahirkan anak dengan gong di sekeliling tubuhnya sebanyak 3000 :mrgreen: Salam hangat.

  10. bener banget tuh pak. kasian ibu, salah ibu juga sih, makanya saya jadi kayak gini, gagagagagaga

    Hejis: kayak gini, bagaimana maksudna? gagagaga….😦

  11. Keren juga neh, infonya . Thanx

  12. Mas Heru, memang kecerdasan musik merupakan bagian dari pembahasan Gardner tentang musik yang mas Hejis harus dalami saat kuliah di UM ya mas…..maklum perintah sang Prof…….

    Salam dari rekan seperjuangan saat di UM i……masih ingat gak?….saya ini Prof juga loh tapi bukan Professor melainkan Provokator, saya pernah bilang Prof Limas dan sekarang ada Prof Heru …he…he….he

  13. Ping-balik: Artik3L qu3 « death race

  14. Nice article bro🙂
    saya juga memiliki kecerdasan musikal bro🙂
    Music
    Inspirasi Samuel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s