Kolom SOROTAN (Ayat 1)

Polisi Tidur

 

Hejis

 

”Kita tidak perlu setuju dengan posisi atau keyakinan seseorang untuk dapat memahami mereka” (Kris Cole)

 

SAYA bolak-balik melihat jam di dinding. Setengah sembilan. Jam yang sebenarnya menipu karena sengaja saya percepat 15 menit. Jadi saya telah mengorupsi waktu 15 menit tiap jamnya dibandingkan jam standar GMT. Dengan kata lain, saya telah membohongi seluruh 5 milyar penduduk bumi. Bukan apa-apa, cuma karena bioritmik saya telah bertahun-tahun sulit diubah. Ditambah pula sifat pemalas dan suka mengulur-ulur waktu sehingga tiap ada acara yang harus diikuti—entah itu kerja, janji dengan kolega, membincangkan karya ilmiah orang lain untuk saya komentari, atau yang lainnya—selalu telat datang. Supaya tidak telat itulah, jarum jam yang panjang itu lalu saya lebihkan seperempat jam. Sedangkan jarum yang pendek tidak saya apa-apakan (ya iyalah, kan otomatis ikut berputar kalau jarum panjangnya diubah!). Padahal setiap kali bekerja (kerjanya mendongeng), selalu saya tekankan disiplin. Tiap orang saya nasihati untuk berdisiplin aturan dan waktu. Tiap ada peluang untuk memberi nasihat, selalu itu yang saya omongkan. Setiap saat, kepada setiap orang. Padahal kalau orang memberi nasihat kepada orang lain, sebetulnya nasihat itu lebih cocok untuk dirinya sendiri.

Sebenarnya, begini-begini saya  masih punya darah keturunan orang tua yang disiplin dan cermat. Bapak saya selalu mempersiapkan segala sesuatu sebelum melakukan sesuatu. Ke kantor polisi (bapak saya polisi kuno) jam 07.00 teng, tetapi persiapannya telah dilakukan pagi-pagi benar. Sepatu dibikin mengilap, sabuk polisi yang besar yang terbuat dari kuningan, bros seragam, kopel rim. Semuanya dibuat bersih dan rapi. Tempo-tempo, hanya untuk menggosok sabuk saja telah dilakukan kemarin untuk digunakan hari ini. Kalau memakai baju selalu dialasi dengan kaos dalam. Karena darah keturunan itu, saya dulu juga disiplin. Ke sekolah, misalnya, selalu sudah berangkat pukul 05.30. Betul! Rumah saya jaraknya 20 km menuju ke sekolah menengah pertama. Kalau janjian dengan teman untuk nonton dangdut di kampung tetangga, sudah siap sebelum waktu yang dijanjikan. Ada dua alasan untuk hal itu. Pertama, darah keturunan. Kedua, saya tidak punya kelebihan apa-apa jadi kompensasinya menjadi orang yang memiliki satu kelebihan: disiplin. Itu saja.

Kalau boleh excuse perihal sering telatnya hamba ini ada alasannya (atau dicari-cari?). Ceritanya begini. Setiap kali ada janji saya buat persiapan yang lumayan matang, mulai dari berusaha mengetahui apa acaranya, siapa yang akan hadir, kalau harus ngomong nanti mau ngomong apa, dan sebagainya. Syahdan, suatu hari saya datang ke acara rapat (ritual yang paling disenangi manusia Indonesia?) di kampus. Jadwalnya jam 09.00, Saya buat hadir jam 08.45. ini dimaksudkan supaya saya sempat menyesuaikan diri dengan tempat, walaupun tempat itu sudah saya hapal di luar kepala. Saking hapalnya saya tahu jumlah kursi dalam ruangan, tempat asbak, bahkan tempat gelas plastik aqua bekas orang minum yang berminggu-minggu tidak dibuang. Undangan lainnya belum ada yang datang. Baru setelah jarum panjang menunjuk angka enam dan jarum pendek menunjuk di tengah antara angka sembilan dan sepuluh, si pengundang rapat hadir. Lainnya pating pretil, satu demi satu datang mirip laskar yang kalah perang yang pulang ke markas. Acara rapat tidak penting. Yang penting dicatat: rapat dilaksanakan dengan terlambat. Peristiwa itu terus-menerus berulang bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Ini melukai hati saya dan disiplin saya  yang merupakan kelebihan satu-satunya yang menjadi milik saya saat itu. Akhirnya, entah protes atau menghemat waktu, pada acara-acara selanjutnya saya datangi 15 menit dari nilai disiplin saya. Artinya, bila orang mengundang acara jam 10.00, ya jam 10.00 saya hadir. Tetapi, masih juga jurus ini nggak mempan. Begitulah ceritanya.

Kembali saya melirik jam di dinding dengan cemas. Masih berkutat setengah sembilanan. saya siap-siap (maksudnya mandi, gosok gigi, gosok kulit, gosok kaki). Setelah segalanya beres, werrrr… ke tempat kerja tanpa sarapan karena terbirit-birit mengejar waktu. Lah… Anda mungkin bertanya, kerja apaan jam segitu baru masuk kantor? Begitulah beruntungnya saya. Saya bekerja dengan pekerjaan yang paling enak di dunia. Bayangkan, pekerjaan saya cuma mendongeng satu setengah sampai dua jam dengan jadwal yang disusun dari kantor. Orang-orang yang saya dongengi datang dari seluruh Indonesia bahkan ada yang dari Timor Leste. Jam masuk kantor adalah jam sesuai jadwal mendongeng tadi. Jika tidak ada jadwal berarti boleh tidak masuk kantor. Tiap awal bulan diberi gaji yang secara resmi di atas upah minimum regional. Enak bukan?

Tiba-tiba…jeglug…ban depan sepeda motor saya melindas polisi tidur. Dalam hati menggerutu, polisi tidur saja mengganggu apalagi kalau bangun! Ups…! Cepat-cepat piktor (pikiran kotor) saya buang jauh-jauh sebab ingat bapak saya yang tidak suka mengganggu orang lain. Lagi pula mana ada polisi yang secara sengaja mengganggu orang, kalau pun ada paling-paling cuma oknum? Polisi sepertinya sudah bekerja keras. Buktinya banyak maling kelas teri yang ditangkapi. Biarpun maling kelas kakap belum banyak ditangkap, lama-lama nanti juga akan ditangkap. Lagi-lagi… jeglug, sekarang giliran ban belakang terantuk benda penghalang selebar jalan itu. Benda inilah yang menjadi fokus sorotan kali ini.

Dari tempat tinggal saya menuju ke tempat kerja terdapat 20 polisi tidur. Ini menjengkelkan. Seringkali tidak melihatnya karena pikiran melayang datang terlambat tiba di tempat kerja dan mak jeglug itu tadi. Belum lagi kalau saya membawa laptop sebagai alat mendongeng. Saya harus ekstra hati-hati dan ribet, tangan kanan mengatur gas, tangan kiri memegangi laptop, kaki kanan mengerem, dan kaki kiri menurunkan persneling. Satu lagi, mata mesti melotot untuk mengawasi jalan di depan. Benda yang saya bawa itu peka guncangan. Lama-lama onderdilnya bisa lepas atau patah dan akhirnya rusak. Dengan 20 polisi tidur berarti setiap hari saya melangkahi 40 polisi tidur. Setiap minggu menjadi 40 kali 4 sama dengan 160. Orang-orang yang mesti mendengarkan dongeng saya di tempat saya bekerja mengatakan, rata-rata mereka melangkahi 15 polisi tidur setiap harinya ketika keluar rumah untuk berbagai urusan.

Dipikir-pikir kita ini lucu juga menyikapi jalan raya. Dulu ketika jalan banyak yang belum beraspal, kita mengeluhkan jalan yang tidak rata. Kini setelah rata kita bikin penghalang di tengah-tengahnya. Jalan kembali tidak nyaman dilalui. Memang orang memasang polisi tidur tujuannya baik: mengurangi kecelakaan lalu lintas akibat ada orang yang ngebut. Banyak orang mengendarai kendaraan tanpa memikirkan keselamatan orang lain, bahkan keselamatan dirinya sendiri dengan memacu kecepatan kendaraan yang dikendarainya. Rambu-rambu yang dipasang untuk mengingatkan itu juga sudah banyak. Ketika para pengendara mengurus SIM juga sudah diuji pengetahuannya tentang lalu lintas. Kurang apa lagi?

Tetapi di tengah niat baik para pembuat polisi tidur itu terdapat kesalahan menerapkan solusi. Solusi yang dikira ampuh itu malah menimbulkan masalah, tidak seperti semboyan Perusahaan Pegadaian, mengatasi masalah tanpa masalah. Jangan-jangan hal itu akibat dari show of force-nya para penghuni yang dilalui jalan berpolisi tidur. Ketika otonomi daerah diluncurkan, banyak orang merasa punya otonomi bahkan terhadap perikehidupan orang lain. Ya, banyak orang. Bagaimana pendapat Anda?*****

17 responses to “Kolom SOROTAN (Ayat 1)

  1. sepertinya; hanya kesadaran yang dapat memberikan solusi. sebab kalau sudah ada aturan lalu lintas, tata cara berkendaraan, bahkan ada polisi tidur, masih saja ada yang kecelakaan…lalu apa lagi yang harus dilakukan…!??

    salah satu pekerjaan yang tersulit saat ini adalah menumbuh kembangkan kesdaran dan hati nurani. ada satu artikel; menyikapi kasus zakat di pasuruan mengatakan kalo ternyata, kemiskinan yang paling buruk adalah miskin hati nurani dan kesadaran…..
    Polisi Tudur; sangat mengingatkan saya……! upss jangan terlambat lagi…!

    @Hejis: Betul Celia, kesadaran diri paling penting. Mari kita mulai dari satu orang: diri kita sendiri. Thanks ya, Lia…

  2. Terimakasih ilmunya…
    Informasi yang anda berikan sangat membantu.
    Semoga Blognya makin maju.
    Salam kenal dari: Ruby Weblog

    @Hejis: Nah sekarang sudah kenal kan… Terima kasih doanya. Semoga Anda juga makin sukses ya…

  3. Waktu adalah UANG…itu kata pepatah yg sering kali di ucapkan….
    he…2x kalo masalah uang sih orang banyak yg peduli walaupun badai menerpa hi..hi… istilahnya begitu.., tapi klo persoalan waktu… mmmmm klo ada uangnya kayaknya bisa tepat waktu deh… tapi klo nggak ada ????? he….2x
    lagi2 persoalan disiplin… bagaimana ya caranya merubah kebiasaan supaya tidak telat waktu dalam berjanji?
    klo dipikir2 ini salah siapa?
    apa salah guru kita dulu di jaman sekolah hanya dilatih IQ saja alias kepintaran kita atau EQ kita… he…2x nyambung nggak ya…? atau oang tua kita atau pun diri kita sendiri tanpa di sadari….
    klo polisi tidur yg disalahkan kayaknya enggak deh.. ihk..ihk…

    sukses selalu tulisanny pak heru…. bahasanya santai n gokil abis…
    pokoknya keren deh…
    ada rencana buat novel nggak pak…
    di tunggu tulisan berikutnya pak….
    Salam Sukses…..

    @Hejis: He… he… Belut, eh betul! Kalau ada uangnya orang malah belum waktunya sudah datang ya… Iya EQ, softskill itu. Otak kanan mesti diasah supaya menang bersaing dg disiplin, dsb. Nanti kalau bikin novel yg beli cuma mas Dedy thok! Males. Kecuali disuruh pak SBY, hey, Heru! Ayo bikin novel, nanti tak angkat jadi Mantri, baru saya nulis… hex33…

  4. POLISI TIDUR = TROUBLE IN ROAD

  5. oh ya…
    Salam kenal balik.. di link back ya..?? blog kamu aku dah link. thx

    @Hejis: Senang berkenalan denganmu. Sudah ku-link barusan. Tuh, masih anget. Makasih ya.

  6. pertama salam hormat dulu dan salam kenal
    membaca tulisan diatas saya juga geli sendiri mensikapi polisi tidur jalan yang banyak polisi tidur memang tak ubahnya jalan yang rusak jadi kita harus ekstra hati hati ketika mau melintas
    tapi ngomomong tentang polisi yang di jalan saat ini polisi yang tidak bisa di suap ya polisi tidur itu lhoo hehehehe yang lainya kadang bisa hahahah
    salam sukses selalu dan terima kasih

    @Hejis:Salam hormat juga untuk mas Gentho. Sekarang saya anggap kita sudah punya sertifikat kenalan. Lho! Ada to, polisi yang bisa disuap… he…he… kura2 dalam perahu. Sudah kurapan gak mau tahu…

  7. sama saya juga suka .. males2an …dulu sebelum melakukan aktivitas.. merasa punya bny waktu..

    @Hejis: Ayo, gak boleh males! He…he… itu nasihat buat saya sendiri. Makasih telah mampir, lain waktu kalau ke sini lagi nanti kusuguhi ayam bakar. Mau?

  8. salam kang
    polisi tidur kaya nya memang tidak bisa lepas dari wilayah kita kang
    yah hatn hati aja ya kang tar kendaraan nya cepet tua lo
    kalo kita gak sabar sabar membawa kendaraan nya

    @Hejis: Mungkin kita punya julukan baru, “negara polisi tidur”… Betul, motor yg sudah tua ini, nanti tambah tua. Salam.

  9. wah, saya juga begitu.
    dulu waktu msh sekolah, disiplin buanget.
    sekarang?
    hehe,jangan tanya. bangun stgh jam sblm brgkt kerja itu udah bagus banged. xixixix.

    ^kunjungan balik, pak.
    salam hangat jugak🙂

    @Hejis: ada sebuah penelitian menyatakan, semakin makmur dan tinggi karier seseorang, maka akan semakin tidak disiplin. Tapi itu penelitian ngarang, he…he…… iya, iya. terima kasih. Nanti, saya datangi lagi

  10. sarannya pake tas laptop yg ransel aj mas, jd ga ribet, tangan satu nyetir, tangan satu pegang laptop..ngomongin males jd kesindir niy mas, soale diriku jg sama aja hehehe..malah lebih parah *mungkin*@salam kenal yak

    @Hejis: Betul juga, pake ransel, eh tas ransel. Tapi saya jadi ingat anak2 SD, walaupun skrg org2 tua juga banyak pake ransel. Sekarang sudah kenal kan? Nggak nyindir koq, tenang aja. Sering2 maen ya.

  11. Penyakit malas emang menular ya,orang yang udah divaksin anti malas kaya mas heru aja bisa ketularan apalagi yang sama sekali engga ya? He he
    Udah penyakitnya orang indonesia kali ..he he
    Mmh ngobrolin soal polisi tidur, sie sih setuju aja krn jelas alasannya utk mengurangi tingkat kecelakaan jangankan dijalan raya wong di gang kompleks deket rumah sie aja masih ada yang seneng kebut2an padahal disana banyak anak kecil yang bermain,nah yang bikin geleng geleng ada loh warga yang malah menghancurkan polisi tidur dg alasan mengganggu padahal kalo difikir itu kan buat keselamatan bersama. Gak ngerti deh maunya apa
    *geleng geleng*

    Hejis: Biang keladinya orang yg sembarangan, ngebut di jln raya ya.. Ya Sie. Makasih jauh2 mau dtg kesini. Salam hangat.

  12. hi.hi. di perumhn bunda juga pernah ada polisi tidur tiap 100 meter..nyebelinnn..akhirnya di bongkar sama warga dechh.

    @Hejis: Selamat datang, Bunda. Warga yg mengetahui hakikat jalan, perlu didukung. Solusi untuk keselamatan pengguna jalan memang bukan pada polisi tidur, melainkan penyadaran bagi pengendara (tidak ngebut, peduli keselamatan orang lain dan diri sendiri). Salam hangat, Bun…

  13. Mencerahkan, mengundang anlisis, dan … bangga euy sebagi kawan lo

    @Hejis: Aduh, jadi tersanjung. terima kasih, sobat, suhu sejuta murid (padepokan menulis). Moga2 kita dapat beramal sekuatnya yah. Udah lama pengen nongkrong di tambak sambil “seminar nasional” tentang apa saja. Kapan ya…

  14. Polisi tidur mengganggu pemakai jalan.
    Polisi lalu-lintas mengatur pemakai jalan.

    @Hejis: Berbalas pantun:
    Polisi tidur jangan mendengkur, nanti kecebur sumur.
    Polisi lalu lintas, harap bertugas dengan ikhlas, agar budinya nanti terbalas tuntas.

    Wah, tambah full-ngawur…

  15. hihi… muter-muter dari kisah jarum jam, disiplin, hingga polisi tidur.
    saya jadi hilang fokus.
    tapi tetap menarik, mas heru.

    disiplin, ya? tertohok deh saya. walaupun benci dengan orang yang suka ngaret, saya juga tak bisa berbangga memiliki sifat disiplin, karena memang tak disiplin.
    ah, saatnya berubah. mana ada orang maju tanpa kedisiplinan.

    (hati-hati melewati polisi tidurnya, mas heru. kayaknya hari ini udah nambah jadi 21 deh, soalnya ada gang yang baru otonomi tuh saya denger. hehe!)

    @Hejis: Saya memang berdisiplin untuk urusan muter2 a.k.a mbulet, he..he.. Ya, saya membayangkan masyarakat kita ini disiplin sehingga bisa maju. Kalau semua berdisiplin, saya yang gak disiplin kan terpaksa menjadi disiplin he… he… (mau enaknya sendiri). Bayangkan, kita punya ratusan undang-undang yang mandul gara2 gak disiplin. Coba kalau undang-undang itu dijalankan dengan disiplin, maka Indonesia lebih maju 75% dari sekarang, ya tekno-nya, eko-nya, il-nya, dll-nya. ‘Tul gak ya?? Salam hangat ya, Marshmallow (bu dokter?)

  16. Wah kalau ini ya pakarnya komunikasi, saya makmum aja. Ilmu itu tidak hanya diajarkan tapi juga ditularkan, maka saya kepingin ketemu dengan orang-orang pinter, biar ketularan. Kapan buku barunya terbit ?

    @Hejis: Waduh, ketamuan orang top neh. Cuma saya jadi terpingkal2 di ujung kalimatnya itu. Lha wong saya yang nanya kepada ahlinya, malah pertanyaan itu dikembalikan lagi. Jadinya ya terpingkal2 itu tadi (tanda tak bisa menjawab, kapan ya nulis buku baru?). Sampeyan aja dulu ya, saya makmum…

  17. haduh pak temen saya kantor minggu kemarin harus kejeduk dan bibirnya jadi monyong bengkak anaknya juga dahinya di jahit 9 – istrinya juga benjut katanya juga gara-gara polisi tidur di daerah landung sari…. wah memang keterlaluan poisi tidur yang tidurnya sambil njengking :mgreen: suka makan korban banyak

    wah ternyata Pak Heru Orang TOP kata pak Husnun😀

    salam dari Lawang

    @Hejis: huiii… hi… hi… (ngguyu sendiri sampe kekelen, sungguh!) Iso ae cak.

    Welha, Lawang ya? Kapan2 kalau dibukakan pintu saya tak nylonong ya mas Heri? Boleh apa ndak? (maksa)

    Ah, orang top kayak cak Nun memang kalau ngomong mengetopkan orang orang lain, padahal dianya yg ngetop. Kalau ini serius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s