Kolom SOROTAN (Ayat 2)


AKU

Hejis

Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Maka, keunggulan bukanlah hasil dari tindakan, melainkan dari kebiasaan.(Aristoteles [284-322], Filosof Yunani)

Judul di atas bukanlah judul puisi dari Khairil Anwar, yang kata seorang teman wajahnya mirip dengan saya (tetapi, kalau Anda mengatakan bahwa saya mirip Tom Cruise, ya tidak apa-apa. Saya ikhlas koq). Judul ini hanya sekadar menuntun kita bahwa bahasa Indonesia memiliki beberapa sebutan untuk menyebut orang pertama, diri sendiri. Untuk orang kedua disebut kamu, engkau, kau, dikau, dirimu, dan Anda. Untuk orang ketiga disebut ia, dia, dirinya, dan beliau. Orang pertama memiliki dua jenis. Orang pertama tunggal dan orang pertama jamak. Orang pertama tunggal sudah disebutkan tadi. Sedangkan pertama jamak adalah kami dan kita. Orang kedua juga demikian penjenisannya. Kamu dan teman-temannya (maksudnya sinonimnya) adalah orang kedua tunggal. Kalian adalah orang kedua jamak. Bandingkan dengan bahasa-bahasa negara di Eropa, Inggris, misalnya. Bahasa Inggris hanya mengenal kata I untuk menyebut orang pertama. I love you, contohnya (namun, kalau Anda laki-laki, saya tidak jadi menggunakan contoh itu. Karena saya juga laki-laki, nanti apa kata dunia!). Apa artinya semua ini?

Dengan memiliki beberapa kata untuk menyebutkan sebutan orang pertama itu, orang Indonesia mungkin ingin menunjukkan bahwa mereka (apa kita ya?) memiliki sifat rendah hati. Karena, mereka enggan menonjolkan diri. Saya sejak kecil dihidupkan dengan kultur tidak boleh sombong. Caranya, kalau saya menyebutkan hal-hal yang baik, dilarang sering-sering memberikan tekanan pada penyebutan orang pertama tunggal. Nanti hal itu menjadikan sayalah sumber kebaikan, sementara orang lain sisanya: hal yang jelek-jelek. Saya ambilkan contoh. “Tadi di pasar ada orang mengemis, lalu saya memberinya uang”. Menurut kultur yang saya pelajari, kalimat itu tidak boleh digunakan. Kalimat yang boleh digunakan adalah, “Tadi di pasar ada orang mengemis, dia pun menerima uang dengan rasa terima kasih”. Di sini kata ganti orang pertama disembunyikan untuk menghindari kesombongan. Pokoknya, jangan menonjolkan penyebutan orang pertama. Orang Indonesia juga tidak menuliskan kata saya dengan huruf “s” yang besar, kecuali di awal kalimat. Tidak seperti orang Inggris, saya ‘I’ harus ditulis dengan huruf besar. Kalau kita menggunakan dikotomi (jadi ingat kata vasektomi, padahal beda jauh): rendah hati dan sombong, maka orang Indonesia adalah rendah hati dan orang Inggris adalah sombong. Orang Inggris menonjolkan keakuannya dengan menuliskan I (saya) dengan huruf besar. Hal lain yang menunjukkan kerendah-hatian orang Indonesia adalah bahwa dengan memiliki sebutan orang pertama yang banyak tadi, bisa menyamarkan penyebutan diri yang sama dengan kata yang berbeda-beda. Sehingga, tidak terlalu memperlihatkan keakuannya. Ini teori “keakuan” yang egosentris.

Namun, teori lain bisa juga menyatakan sebaliknya. Mungkin orang Inggris menekankan bahwa dengan banyaknya penyebutan orang pertama: aku, saya, hamba (nah ini belum disebutkan di atas, barangkali ada lagi yang terlewat) berarti orang Indonesia lebih menonjolkan keakuan-nya alias egois. Nah, lu! Seumpama orang Inggris memang mengatakan demikian, marilah dengan rendah hati kita melihat praktiknya. Di SPBU—Stasiun Pengisian Bakar untuk Umum, bukan Siapa Perkasa Boleh Uluan (maksudnya “duluan”, ih, maksa deh)—terlihat keegoisan kita. Ada orang yang mau antri dengan sabar, ada juga yang menyerobot tidak sabaran, seolah-olah mau mengejar waktu karena pintu surga lima setengah menit lagi mau ditutup. Tragedi yang memakan 21 orang tewas karena berebutan untuk mendapatkan zakat fitrah tempo hari juga merupakan contoh terang-benderang tentang keegoisan kita. Banyak orang berebut uluan (maksudnya “duluan”, kata baru yang layak dimasukkan ke Kamus Besar Bahasa Indonesia. He… he…) untuk mendapatkan jatah zakat yang menurut banyak orang tidak seberapa jumlahnya, tetapi giliran menyumbang juga sejumlah yang tidak seberapa itu. Jika contoh keegoisan ini disebutkan, maka panjangnya akan sama dengan jarak dari Jakarta ke Istambul. Itu pun kalau polah-tingkah saya yang tak kalah egois dari manusia-manusia paling egois di Indonesia tidak disebutkan. Misalnya, jika di koperasi (bukan kuperasi) kantor tempat kerja saya sebagai pendongeng membuka lowongan kepada pegawai yang mau di-bail out (alias ditalangi atawa ngutang, mirip Merryll Lynch di Amrik sana yang sedang sekarat karena mengandalkan logika mekanisme pasar bebas yang berujung pada bertumbangannya bursa-bursa saham di dunia), maka saya dengan semangat yang tak kunjung padam berteriak: saya saja yang duluan! Contoh lain keegoisan. Saya sering tak mau kalah dalam berdiskusi atau debat kusir (kasihan kusir ya, padahal dia jarang berdebat, kecuali urusan ongkos yang harus Anda bayar bila Anda menggunakan jasanya). Saking mau menangnya sendiri bila sudah terpojok saya memainkan jurus name dropping. Jurus ini adalah jurus untuk orang yang saya ajak adu argumentasi dengan menyebut nama-nama pakar dunia sekadar membuat ciut nyali orang supaya saya dianggap telah membaca banyak buku. Padahal sejatinya saya hanya menggertak lawan bicara atau khalayak saya bukan memahami teori-teori para pakar yang saya sebutkan nama-namanya itu. Contoh-contoh keegoisan saya kalau mau dipajang juga tak kalah panjang, dari Jakarta sampai ke Astambul—nama kecamatan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Halo, Slamet. Apakah kamu masih mengajar di Astambul?). Kacau… kacau… ngelantur. Ini juga satu jenis egoisme tersendiri.

Nah, Bapak/Ibu/Saudara… Bisa jadi ada bantahan, orang Indonesia tidak egois tetapi altruis. Orang Indonesia suka memerhatikan kepentingan orang banyak bahkan tidak jarang malah mendahulukannya. Dengan contoh yang sama (perkara bagi zakat, ya di Pasuruan, di Semarang, atau di mana saja di seantero negeri) berarti ‘kan orang Indonesia tidak mau sekadar kenyangnya sendiri? Betul, Bapak/Ibu/Saudara. Orang Indonesia masih banyak yang tidak egois. Mereka masih banyak bertebaran di bawah langit di bumi nan elok ini. Umpamanya, banyak LSM yang mau mengurusi para fakir (harta, jiwa, dan tahta, karena tidak ada fakir wanita atau fakir pria. Yang ada cuma tinggal nunggu jodoh saja buat orang yang belum punya pasangan). Di sini saya cuma curhat, betapa egoisnya saya dan beberapa orang lain yang sama bintang taurusnya (nggak nyambung). Kendatipun demikian, sekali waktu saya punya jiwa altruis juga. Misalnya, kalau saya punya sedikit solusi untuk orang-orang yang sedang senewen bikin tesis atau karya ilmiah lain lalu saya menyumbang saran. Begini… begini… dan begitu. Teori ini…ini… itu. Kemudian beres dan orang yang tadi senewen itu menjadi tersenyum lega, tanda solusinya telah ditemukan. Padahal saya ngramput (bahasa Banjar, artinya kira-kira “ngawur”) dan sedang memainkan jurus name dropping tadi, agar dianggap hebat. Ini mah egois juga ya? Terserah deh, pokoknya saya orangnya sosial, ingin baik hati, sekali tempo juga ingin terpuji (lha wong nama saya ada “Puji”-nya). He… he… Sekian dulu ya, sambil memberikan kesempatan kepada Anda untuk menyampaikan uleg-uleg uneg-uneg. Bagaimana?*****

10 responses to “Kolom SOROTAN (Ayat 2)

  1. benar-benar menikmati membaca tulisan ini hingga harus jadi egois terhadap perut saya yang sudah berteriak ingin diisi.
    dalam satu episode serial Friends kegemaran saya, joe berargumentasi kepada phoebe bahwa tidak ada yang benar-benar good deed di dunia ini, semua perbuatan yang paling baik sekalipun punya target pencapaian untuk diri sendiri, tidak tanpa pamrih.
    menurut joe, bahkan saat hati kita merasa bahagia telah melakukan suatu kebaikan, itu bukan ketulusan, karena kita mengharapkan diri kita bahagia, make us feel good about ourselves: egois!

    terlepas dari kajian ikhlas, saya pikir sifat egois itu ada dalam diri tiap manusia, tinggal bagaimana takaran dan kebijaksanaan untuk mengelolanya saja.

    terima kasih telah sudi mampir ke tempat saya, mas heru. salam persahabatan. (hmm… ada bumbu egoisnya gak ya?):mrgreen:

    @Hejis: Setelah saya baca komentar2 satu demi satu, ternyata komentar mbak Melo terlewat untuk saya berikan tanggapan. Maaf ya mbak. Saya temukan poin yg bagus: “terlepas dari kajian ikhlas, saya pikir sifat egois itu ada dalam diri tiap manusia, tinggal bagaimana takaran dan kebijaksanaan untuk mengelolanya saja”. Betul2 luar biasa tajamnya simpulan mbak Melo itu (!). Salam hangat.

  2. duh.duh.. sabar..sabar..

    sebagai manusia kita juga kadang melakukan hal2 egois tanpa disadari

    apalagi bunda sering banget.. ( bunda bukan taurus hi.hi

    @Hejis: Seneng deh dikunjungi lagi, Bun. Iya, lha egois itu gak kalah bahayanya sama kemiskinan dan kebodohan. Egois itu tidak boleh, yang boleh individualis. Egois itu maruk, mengambil hak orang. Kalau individualis itu memikirkan kepentingan sendiri, tetapi juga ia punya rasa tanggung jawab pribadi (self-regulation). Weh, koq jadi khotbah ya…? Ngomong-ngomong, bukan taurus lalu apa, Bun? Kan setahu saya bintang itu ya cuma taurus…he… he…

  3. he…permisi pak heru, saya mampir sebentar ikutan sharing hi…2x
    mm…mm… EGO? Egois?

    “Ego”, “Egois”, apa yang salah dengan kata ini? Sehingga banyak orang mengajarkan untuk dapat mengalahkan ego, memerangi egois dan menganjurkan untuk mementingkan orang lain.
    “Ego” dapat dimaknai sebagai “aku; diri pribadi; rasa sadar akan diri sendiri; konsepsi individu tentang dirinya sendiri”. Tidak ada konotasi negatif dari arti kata ini. Justru merupakan langkah awal untuk segala yang bernama kebaikan, karena merupakan refleksi dari kesadaran individu mengenai dirinya sendiri. Kemudian kata ini mendapat akhiran menjadi “egois” yang berarti: orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Dari sini kemudian kita melegitimasi dengan definisi bahwa orang yang egois adalah orang yang bertingkah laku buruk karena tidak memikirkan kepentingan atau kesejahteraan orang lain.
    Benarkah dengan merugikan orang lain dan hanya mementingkan diri sendiri, orang ini akan mendapatkan keuntungan pada hasil akhir? Pantaskah orang seperti ini disebut egois? klo pendapat saya: Tidak! Orang yang egois justru orang cerdas, berkepribadian luhur, disukai banyak orang, dan biasanya mereka adalah orang-orang sukses.
    Dengan ego, kita dapat memutuskan untuk berpikir positif atau sebaliknya, melakukan tindakan baik atau buruk, merasa bahagia atau sedih, berbuat sesuatu atau diam. Bahkan saat kita memutuskan menjadi orang sukses atau gagal, ego lah yang melakukannya lebih dulu.
    banyak orang yang menyadari kekuatan berpikir positif akan membawanya menuju puncak kesuksesan, tak terhitung jumlah orang yang tahu memotivasi diri untuk melakukan tindakan yang akan menuntunnya menggenggam apa yang dicitakan. Namun mengapa bagian paling besar dari orang tersebut justru gagal? Jawaban ini telah kita ketahui bersama, yaitu kemauan.
    Kemauan kita untuk bertindak, berbuat dan terus komit pada jalur yang telah kita plot sendiri. Mau atau tidaknya kita berbuat, ego kita yang menentukan, “aku” dalam diri kitalah yang memerintahkan .

    salam sukses

    ————————–

    @Hejis: Betul, mas Dedy. Dalam nomenklatur psikologi (khususnya psikoanalisisnya Freud) dikenal Id, ego, superego yg berinteraksi dan merupakan pembentuk kepribadian manusia. Id adlh beg kepribadian yg menyimpan dorongan2 biologis, pusat instink atau nafsu. Ada dua instink dominan: (1) libido, yakni instink reproduktif yg menyediakan energi dasar utk kegiatan2 amnusia yg konstruktif; (2) thanatos, yakni instink destruktif dan agresif. Yg pertama disebut juga instink kehidupan (eros), yg dalam konsep Freud bukan hanya meliputi dorongan seksual, melainkan juga segala hal yg mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan pada Tuhan, dan cinta diri (narcisism). Bila yg pertama adalah instink kehidupan, yg kedua merupakan instink kematian. Semua motif manusia adalah gabungan antara eros dan thanatos. Id bergerak berdasarkan prinsip kesenagan (pleasure principle), ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral, dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani manusia.

    Walaupun Id mampu melahirkan keingan, ia tidak mampu memuaskan keinginannya. Subsistem yg kedua, ego, berfungsi menjempatani tuntutan Id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat2 hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Ego-lah yg menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yg rasional. Ia bergerak berdasarkan prinsip realitas (reality principle). Sedangkan superego adalah polisi kepribadian yang mewakili yang ideal. Superego adalah hati nurani (conscience) yg merupakan internalisasi dari norma2 sosial dan kultural masyarakatnya. Ia memaksa ego untuk menekan hasrat2 yg tak berlainan ke alam bawah sadar. Baik Id maupun superego berada dalam bawah sadar manusia. Ego berada di tengah, antara memenuhi desakan Id dan peraturan superego. Untuk mengatasi ketegangan, ia dapat menyerah pada tuntutan Id, tetapi berarti dihukum superego dengan perasaan bersalah. Untuk menghindari ketegangan, konflik, atau frustrasi ego secara tidak sadar lalu menggunakan mekanisme pertahanan ego, dengan mendistrosi realitas. Demikian konsepsi Freud, seperti yg disitir kang Jalal.

    Nah, para jemaah kultum yg berbahagia (bayangkan ya, kita sedang kultum!), paparan di atas merupakan deskripsi unsur-unsur kepribadian manusia, di mana ego merupakan salah satu bagian darinya. Dalam konsep yg lebih lanjut ego tidak lagi dimaknai sebagi bagian, melainkan totalitas kepribadian. Sehingga, ia mewakili atau mencerminkan perilaku seseorang berkenaan dengan pemenuhan keinginan2 pribadi. Jadi konsepsi ego ketika menjadi kata sifat dengan tambahan “is” atau “istis” menjadi menjurus ke arah “negatif”. Mungkin harus dibedakan antara egois dan individualis. Egois bermakna seperti yg saya tulis di kolom SOROTAN (Ayat 2). Sedangkan individualis bermakna kira2 seperti yg ditulis mas Dedy, yg bermakna lebih baik daripada egois (tis) karena terkandung sifat self regulation (mandiri, mampu bertanggung jawab terhadap peran dirinya sehingga bisa meningkatkan kapasitasnya). Individualis (yg distigmatisasikan pada org2 Barat sebagai sifat mau menangnya sendiri) sebetulnya konsep yg salah kaprah, meskipun memang benar dalam sistem interaksi sosialistis kurang “match” dan tidak direkomendasikan.

    Nah, para jamaah kultum yg berbahagia. Tanggapan ini memang panjaaaaang. Alasannya, mas Dedy sudah payah2 berkomentar panjang sehingga memerlukan tanggapan yg juga panjaaaang supaya imbang. Nanti kalau tanggapan saya pendeqgh, kan jadi gak imbang. Tetapi, sebetulnya, kalau saya mau ambil gampangnya untuk memberikan tanggapan yg panjang, dapat saya tulis seperti ini:




    – (dst)
    – (jadi panjang kan? He… he…). Begitulah… kira2.. Tentu saja komentar mas Dedy amat bermanfaat untuk menambah wawasan. Untuk itu ia layak mendapat ucapan terima kasih, dan cup… cup… (hush! jangan salah. Cup di sini artinya berhak mendapatkan piala (cup). Salam hangat ya, mas Dedy.

  4. Terimakasih atas kunjungannya dan informasinya bahwa huruf ‘S’ pada kata ‘saya’ harus ditulis dalam huruf kecil. Karena saya sendiri sebenarnya agak ragu cara menulisnya. Tapi dengan informasi ini makasih banyak.
    Dan mengenai tulisan Anda yang intinya membicarakan ‘ego’, selama ini sepertinya masih transparan atau belum jelas benar batasan ‘ego’ itu apa.
    Apalagi ada pepatah mengatakan ‘Selamatkan dirimu sebelum menyelamatkan orang lain’, jadi rasa ego tetap harus ada dalam ukuran-ukuran tertentu yang penting bisa diterima kultur budaya lingkungannya.

    @Hejis: Terima kasih sama2. Selayaknya setiap manusia memperjuangkan kepentingannya, yg mungkin harus dihindari adalah bersifat egoistis. Di situ terdapat sifat mau menangnya sendiri, bahkan kadang2 merebut hak milik orang lain. Misalnya, di hari menjelang lebaran saya mau mudik. Agar di bis yg saya gunakan mudik saya merasa nyaman dan lega, saya membeli 2 tiket untuk saya sendiri. Sementara bnyk orang yg berdesakan antri untuk membeli tiket bis yg sama. Meskipun saya mampu membeli 2 tiket dg uang milik saya sendiri, tidak sepantasnya saya berbuat demikian karena menafikan hak org lain untuk menggunakan jasa bis tsb. Dalam kasus ini saya egois. Mungkin contoh ini berlebihan. Tetapi itu lebih baik daripada berkekurangan…. (ngawur ya?). Sama2 tidak idealnya, mungkin lebih baik orang bersifat individualis daripada egois. Tentang individualis sudah saya sebutkan pada tanggapan saya di atas untuk mas Dedy. Kalau kita anggap antara sifat egois dan altruis itu sebuah kontinumm yang berentang 5, maka idealnya orang berada di antara kontinuum 2 hingga kontinuum 4. Kalau ia berada di kontinuum 1 (egois) atau kontinuum 5 (altruis), maka ia “tidak normal”

  5. Tok..tok kulo nuwun….
    Boleh masuk???
    Saya mau ikut mengeluarkan uneg-uneg disini….
    kalau uleg-ulegnya ketinggalan di rumah🙂
    Langsung……
    Ehmm…menurut hemat saya, halah sok banget. Ego itu kadang perlu lho….jadi kita gak melulu mementingkan orang lain. Ya kasian pribadi kita kalau ego itu dilawan terus.
    Hmm…kayaknya ilmu saya gak nyampai ini hehehe….
    Saya tersanjung mendapat kunjungan dari mas Heru….semoga kita bisa menjalin persahabatan di blogspere ini….
    Salam,

    Cahaya

    @Hejis: Ehrm… ehrm… (sedang makan durian ketelen kulitnya). Boleh… boleh, silakan. Ya, bisa begitu. Orang boleh saja memperjuangkan kepentingannya, bahkan harus. Yang tidak dianjurkan adalah bersifat egoistis, karena di situ terkandung sifat mau menangnya sendiri. Bahkan kadang2 merebut hak orang lain. Mungkin perlu dibedakan antara egoistis dan individualis (yang ini sudah saya omongkan di tanggapan saya untuk mas Dedy di atas. Buka Bab I halaman 7333. Eh, jangan dicari beneran, cuma guyon…). Ada saatnya kita memperjuangkan diri kita sendiri, ada saatnya membantu kepentingan orang lain. Saya kira ucapan Marshmallow di atas menjadi poinnya. Dalam sejarah manusia belum pernah ada manusia yg bisa hidup sendirian dengan bahagia. Kalau toh ada itu hanya cerita rekaan, misalnya Robinson Crusoe (ah lupa nulisnya yg bener, biarin aja deh). Lagi pula kita tidak mungkin masuk surga kalau tidak ada orang lain di dunia ini. Kita bisa masuk surga karena ada teman yg mau pinjam motor, pinjam baju, ada orang yg kekurangan makan, ada org yg bodoh, de el el. Contohnya: misalnya ada orang yg bernama Cahaya (bagus benar ya namanya?), maka ia perlu ibu, bapak, adik, kakak, teteh, om, pak lik, pak de, eyang kakung, eyang putri, tetangga, pacarnya tetangga, pacarnya pacar. Jadi ngelantur ya? Segitu dulu ya…

    Salam kasih (sambil membantu Adnan Buyung menyosialisasikan “salam kasih” sebagai pengganti “salam sejahtera”, baru2 ini).

  6. maaf bapak, baru mampir.. mungkin saya termasuk yang egois ya. Buktinya bapak mampir duluan di site saya meskipun tidak pakai acara minum. ya maklum, orang minumannya juga blom lengkap.. hehehe
    ini ngomongin apa sich..

    Tapi di lain kasus, saya termasuk orang yang ngga bisa-an. Jadi terkadang malah dimanfaatkan, dan anehnya saya koq malah senang dimanfaatkan. karena kata nabi sebaik-baik umat adalah yang bermanfaat bagi orang lain..
    hehehe, ko jadi curhat ini.

    @Hejis: Terus terang saya berpikir keras, siapa ini ya? Soalnya saya cari blognya gak ketemu. Tapi setelah pikiran saya agak melunak (lumer, gitu), akhirnya ingat juga… Seleb dari kota pahlawan. ya ya. Apalagi gaya bicaranya, murah senyumnya (koq tau, padahal gak kelihatan?) ditambah senang menolongnya. Salam hangat, senang dikunjungi sampeyan. Kalau lg OL langsung njujug ke sini ya, nanti kubikinin es teh, mbak Kizz.

    Baiklah.. cukup sampai disini saja.
    sampai ketemu.

  7. Salam kenal pak Heru.

    Mungkin saya super egois, karena saya jarang banget berkunjung ke blog lain. Lha jangankan berkunjung ke blog lain, wong punya sendiri aja jarang saya jenguk. Mungkin saking egoisnya sampai saya nggak mau nulis… ASTAGFIRULLOH….Semoga Tuhan mengampuni kegoisan saya dan mengubah saya….

    @Hejis: Siapa bilang gak mau nengok blog orang lain? Lha ini mampir ke sini. Saya percaya koq dengan peringatan Soempah Pemoeda semangkin hari semangkin semangat. Hidup semangat!

  8. Ping-balik: Memahami Orang Lain « H A T I

  9. Setiap orang pasti egois, sebab dia dibekali dengan ego. Menurut psikoanalisisnya Freud, manusia punya id, ego dan superego. Id mengacu pada dorongan hewaniah (istilah apa ini?), semacam nafsu kebinatangan gitu. Id ini dikontrol (baca: dikendalikan) oleh superego, sistem perilaku yang telah terbentuk dalam diri si empunya ego. Yang nampak ke permukaan adalah ego. Ego ini bisa saja egois atau rendah hati. Bila pengendalinya tidak bagus, ego yang muncul bisa saja seperti perilaku seperti yang ada dalam id (perilaku asli manusia). Ego bisa tampak bagus, bila ia tunduk pada superego yang terbangun secara bagus.
    Bila superego camuh, camuh jua egonya. Jadi antara id dan ego, mungkin tidak ada bedanya. Mungkin saja benar kata orang, wujudnya manusia, kelakuannya binatang. Ini disebabkan oleh sistem perilaku dalam superego yang tak terbangun dengan baik, sehingga fungsi kontrolnya tak begitu jalan sesuai harapan.

  10. Menarik juga ulasan Pian tentang “aku”. Soal sombong atau rendah hati, bisa saja terjadi pada siapa saja, tanpa pandang asal-usul: etnis, ras atau yang lain. Orang kita banyak juga yang sombong, riya. Contohnya, kalau gak ada aku (saya) bangunan ini tak bisa selesai. Dalam agama, orang ini semula dicatat sebagai orang amalnya bagus. Tapi setelah dia riya, maka amal yang ibarat pohon yang tumbuh subur dan rindang, menjadi layu, mengering daunnya dan akhir mati. Untuk itu, gak usahlah sombong, riya dan seterusnya. Selamat untuk tidak sombong.

    @Hejis:
    (1) Selamat datang tokoh linguistik dari Borneo. Memang betul seperti itulah Freud bilang. Cuma kata “camuh” yang dimaksud tuan Freud itu apa ya, pak? he…he…
    (2) Saya setuju tentang orang yang berbuat sesuatu dan hasilnya bagus, tetapi setelah ia riya maka hasil perbuatannya menjadi tidak mendapatkan penghargaan dari orang lain (layu). Terima kasih telah menambah catatan tengang egoisme.
    (3) Oya, nanti kalau jadi ke Malang kontak saja saya ya, biar gak kesasar. Saya tunggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s