Monthly Archives: November 2008

IBSN: Kita Belajar dari Bagaimana Kita Diperlakukan

Situasi interaksi sosial pada masyarakat kita hari-hari ini tengah carut-marut. Nilai-nilai luhur dalam hubungan antarmanusia naga-naganya ditepiskan. Seolah-olah kita menjadi masyarakat yang sedang anomali, tanpa jati diri sebagai insan yang mulia. Sehingga yang ada tinggal egoisme dan agresivitas. Tak terbilang deretan fakta yang membuat miris nurani, setiap hari, setiap saat ketika peluang itu ada atau peluang itu diadakan. Mulai dari penipuan oleh teman yang kita percaya, petugas yang kita gaji, pengadil yang kita andalkan, hingga pemimpin yang kita beri kekuasaan sepenuh hati.

Sampai kapan itu semua berhenti? Tidak ada yang tahu. Kepada siapa kita mengadu? Tidak ada yang tahu. Bagaimana menghentikan semua itu? Sebagian besar mengatakan, masa bodoh. Baca lebih lanjut

Iklan

MENDAPATKAN AWARD

awardkweklinaasli1

Beberapa hari yang lalu mbak Lina (Kweklina) memberi tahu saya, bahwa mbak Lina menunjuk saya sebagai salah satu penerima award yang awalnya diterima dari InspirasipakdE. Mbak Lina memiliki pertimbangan tersendiri. Selain saya ada enam blog yang menerima award serupa, yakni Mbak Yoga, Goenoeng, Ritool, Ciwir, Mahesa Jatayu, dan Mbak Krisnov. Baca lebih lanjut

OTOBIOGRAFI: Rambut Ikal

SUSAHNYA PERJUANGAN MENJADI GANTENG

Hejis

kuncing-pun1 Di suatu masa pada suatu hari, saya juga ingin berpenampilan keren dan menarik perhatian teman-teman. Segala upaya dapat dilakukan untuk mencapai keinginan itu. Dalam ilmu komunikasi upaya untuk meningkatkan penampilan diri agar menarik ketika berkomunikasi disebut impression management. Kita mengelola diri kita agar dapat menimbulkan kesan yang menarik bagi mitra komunikasi kita. Berikut ini salah satu contohnya.

Perjalanan hidup saya biasa-biasa saja. Tidak ada prestasi yang menonjol layaknya anak-anak spesial dengan prestasi ini-itu. Saya juga tidak pernah mendapatkan penghargaan ini-itu. Fisik biasa pula (tentu ada yang menonjol dong, misalnya hidung). Malah semasa SD ada teman yang iseng membandingkan kemancungan hidung saya dan hidung Mul, yang rumahnya di belakang rumah saya. “Lebih mancung hidung Mul”, kata seorang teman. Nyali saya jadi ciut. Sudah rambut srodok dan jabrik, disebut hidung pesek lagi. Lengkap sudah kemalangan ini. Hal yang menyakitkan adalah saya kalah mancung daripada teman yang rumahnya ”hanya” di belakang rumah saya.

Baca lebih lanjut

REFLEKSI: Manusia Pembelajar

KITA DAPAT BELAJAR DARI APA SAJA

Oleh Hejis

Pembelajar yang baik tidak hanya populer di mana-mana, tetapi selang beberapa waktu mereka harus tahu sesuatu

Pernahkah Anda membaca komentar-komentar lain di blog, selain postingan yang Anda pelajari? Bagus! Berarti Anda memiliki salah satu ciri manusia pembelajar. Dengan membaca komentar-komentar dari para komentator kita dapat memelajari banyak hal. Karakter pemberi komentar, misalnya, dapat kita ketahui apakah ia seorang yang simpatik, empatik, ataukah apatik. Kita juga dapat mengambil manfaat tentang kualitas kalimat-kalimat tersebut yang dapat kita manfaatkan untuk memperbaiki kualitas kita sendiri. Komentar orang lain juga dapat memberikan hiburan kepada kita sehingga kita terhibur, alih-alih menambah keruwetan pikiran yang kebetulan sedang pusing. Kita bisa belajar dari siapa pun. Baca lebih lanjut

Lagi, PUISI

ADINDA DAN KAKANDA

 

Adinda
menelusuri arus Don dari Novomoskovsk hingga Voronezh
sungguh letih dan getir
purnama sudah menyapa tiga kali
sekelebat pun bayangmu tak jua ada
kabar dari Pravda yang mulai kusam pemberian Dimitri
tak mampu mengarahkan langkah ke muara bidikan

manakala kelak kita bersua di sisa-sisa harapan
kakanda akan membisikkan
”kemarilah Adinda, duduk merapat
agar hembusan angin perestroika jangan terlalu kencang
itu membuatmu hilang di belantara kegaduhan
yang tak pernah kita pelajari di surau kampung kita
di setiap senja ketika ia beringsut ke peraduan”

”kemarilah Adinda, kemarilah duduk merapat
meski di bibir cadas pinggiran Don
kita akan lama menjajar cerita perjalanan kerinduan
yang air matanya tercecer di Tula, di St. Peterberg
dan menciptakan laut Azov”

pencarian kapan berkesudahan
melabuhkan kakanda di Rostov on Don
belum ada tanda harummu, Adinda

ketika mata menyapu sudut kerumunan
tempat orang-orang bermantel bulu memeluk buku-buku
wajah Dimitri merekahkan senyum kepada perempuan di sebelahnya
dibalas senyum terindah yang pernah ada
Adinda!

kini kakanda tahu
mawar putih yang kakanda tanam dan mawar merah yang adinda semaikan
di halaman rumah kita nun jauh di balik cakrawala
harumnya kau bawa ke negeri beruang merah

seketika
tanah pijakan kakanda terban
laut Azov pun murka…
Kakanda berbisik lirih,
Adinda, engkau telah kratkoebremennoe pamyat

TAMAT

Kiat Komunikasi

MENDENGARKAN

Hejis

Biasanya pelajaran pertama yang dipelajari banyak orang untuk menjadi komunikator ulung adalah berbicara. Padahal mendengarkan adalah jalan masuk kebijaksanaan yang utama bagi komunikator ulung yang menjadi landasan untuk memahami diri dan seluruh kehidupan ini.

Sewaktu saya kecil kadang-kadang saya juga tidak menuruti nasihat orangtua, layaknya anak-anak kecil lainnya. Misalnya, sudah maghrib tetapi masih bermain-main di pancuran peninggalan Belanda di dekat pabrik es atau tengah asyik memancing ikan wader di kali. Di desa saya apabila waktu maghrib tiba, maka warga tidak ada yang berada di luar rumah. Mereka pergi ke surau atau masjid. Kalaupun tidak beribadah di surau atau masjid tersebut, warga hendaknya berada di dalam rumah. Sebagai hukuman atas kesalahan itu, ibu menjewer telinga saya. Baca lebih lanjut

PUISI: Ada Ruang

SIAPA TAHU INI PUISI?

Hejis

Membuat puisi adalah aktivitas orang yang murung, cengeng, sedang jatuh cinta, dan trivia sehingga saya akan berpikir 12 kali untuk membuatnya. Begitulah persepsi saya bertahun-tahun yang lalu. Mungkin karena saya melihat puisi-puisi dari tangan yang bukan ahlinya. Mungkin pula karena otak sebelah kiri saya belum bisa mengunyah hidangan puisi itu sedangkan otak sebelah kanan banyak dijejali bacaan yang kering dari kreativitas dan kecerdasan linguistik (linguistics intelligence). Entahlah. Itulah sebabnya puisi terakhir yang saya tulis adalah ketika saya duduk di kelas 3 SMPN 2 Pekalongan, bertahun-tahun yang lalu.
Baca lebih lanjut