REFLEKSI: Manusia Pembelajar

KITA DAPAT BELAJAR DARI APA SAJA

Oleh Hejis

Pembelajar yang baik tidak hanya populer di mana-mana, tetapi selang beberapa waktu mereka harus tahu sesuatu

Pernahkah Anda membaca komentar-komentar lain di blog, selain postingan yang Anda pelajari? Bagus! Berarti Anda memiliki salah satu ciri manusia pembelajar. Dengan membaca komentar-komentar dari para komentator kita dapat memelajari banyak hal. Karakter pemberi komentar, misalnya, dapat kita ketahui apakah ia seorang yang simpatik, empatik, ataukah apatik. Kita juga dapat mengambil manfaat tentang kualitas kalimat-kalimat tersebut yang dapat kita manfaatkan untuk memperbaiki kualitas kita sendiri. Komentar orang lain juga dapat memberikan hiburan kepada kita sehingga kita terhibur, alih-alih menambah keruwetan pikiran yang kebetulan sedang pusing. Kita bisa belajar dari siapa pun.

Apa perlunya menjadi manusia pembelajar? Karena, manusia dititahkan oleh Tuhan untuk menjalani kehidupan di dunia ini dan untuk memuliakan diri mereka sendiri. Itu melalui pembelajaran. Manusia tidak dilahirkan atau diciptakan satu paket dengan kemuliaan. Tuhan “hanya” memberikan bekal kepada manusia dengan pikiran. Manusialah yang mesti memanfaatkan bekal itu dengan belajar. Karena Tuhan sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya bersifat sempurna, maka semua yang diciptakan mesti mendekati sifat sempurna tersebut. Namun, kesempurnaan merupakan sebuah proses yang dilalui secara bertahap. Di dalam tahapan-tahapan itulah terjadi pembelajaran. Demi kesempurnaan atau kemuliaan manusia itu sendiri mereka perlu memelajari segala hal.

Tingkat kemuliaan manusia yang akan dicapai berbeda-beda tergantung pada target masing-masing individu. Saya bisa memasang target menjadi orang kaya. Dengan kekayaan saya, saya dapat membeli mobil antipeluru buatan Mercedes, rumah di Beverly Hills, jam tangan Rolex oyster bahkan… tahu petis Sidoarjo (tentu saja nggak pake lumpur Lapindo). Jika kekayaan adalah ukuran saya untuk kemuliaan, maka saya belajar untuk memperoleh kekayaan. Lain lagi si Polan. Ia memiliki visi pribadi pada usia 28 ia sudah harus bisa merebut kursi parlemen. Misinya sebagai wakil rakyat ia akan menguasai perpolitikan di tanah air. Ia memandang dengan kekuasaannya itu uang dan kepatuhan rakyat akan mudah didapatkan. Si Polan akan belajar untuk mengejar itu dan jika sudah tercapai mungkin ia akan mengendurkan semangat belajarnya. Tetapi, sebaik-baik target adalah target yang sesuai dengan keyakinan kita kepada Tuhan, apa pun keyakinan atau agama kita. Di setiap kitab suci secara jelas target apa yang seyogianya kita pasang yang merupakan target yang terbaik.

Sayangnya, kemuliaan yang akan didapatkan manusia setinggi apa pun yang mampu mereka capai, tidak akan sesempurna Maha Pencipta. Oleh sebab itu, belajar tetap dilakukan hingga menjelang ajal, sekali pun. Kata orang Sumber Manjing lifelong education. Kata saya (yang sedang pengen keinggris-inggrisan), learning is from the cradle to the grave. Kata Anda, … (ya nggak tahu, wong sudah sewindu saya nggak ketemu Anda):mrgreen:

Kembali ke laptop. Jadi, apa dong ciri-ciri manusia pembelajar itu? Di awal tulisan ini sudah disinggung. Manusia pembelajar memiliki ciri mampu belajar dari siapa pun. Selain itu, ia juga belajar dari apa pun. Benda, pohon, dan binatang perlu kita pelajari. Batu, misalnya, perlu kita pelajari. Kalau tidak, kita akan makan batu jika kita lapar (contoh untuk anak TK). Ibu-ibu mau bikin sambal menggunakan cobek yang terbuat dari batu (contoh untuk anak SD). Tukang batu melihat batu lalu dijadikan bahan bangunan (contoh untuk anak SMP). Pematung melihat batu lalu dijadikan patung the thinker–seperti gambar header di blog ini. Tetapi gambar yang di sebelah kiri, kalau yang kanan itu foto saya😆 (contoh untuk anak SMA). Atau, seorang blogger yang jengkel membaca tulisan saya, lalu mengambil batu untuk … (jangan… jangan… pis, pis!). Ini contoh untuk anak PT.

Apalagi? Manusia pembelajar memiliki ciri tidak pernah berhenti belajar (ingat lifelong education). Tentu saja waktunya istirahat ya istirahat. Maksudnya adalah hingga akhir hayat di kandung badan, manusia tetap terus bersemangat belajar. Nenek saya, meskipun sudah yatim piatu (ya iyalah), termasuk manusia pembelajar. Beliau di usia senja masih mau belajar ilmu agama dari televisi, radio, ikut pengajian. Padahal sudah pintar mengaji dan beribadah.

Manusia pembelajar memiliki ciri lain, mau mengakui kesalahan dan kekalahan. Saya bukanlah manusia pembelajar, jika saya tidak meminta maaf atas kesalahan yang saya perbuat, kadang-kadang malahan mencari-cari alasan. Saya tidak patut disebut manusia pembelajar manakala saya mencalonkan diri menjadi bupati terus kalah, tetapi tidak mengakui kekalahan saya malahan menggalang kekuatan massa untuk menuntut pemilihan ulang. Kalau perlu kemenangan itu saya kejar sampai ke lubang semut! Manusia pembelajar justru menyampaikan ucapan selamat secara kesatria, tanpa menunggu lama-lama mirip McCain yang menyampaikan pidato pengakuan kekalahan terhadap Obama.

Selanjutnya, manusia pembelajar memiliki sifat rendah hati. Semakin banyak ilmu yang dia peroleh akan semakin rendah hati. Sifat ini mencerminkan pribadi yang tawadlu bahwa di dunia ini ibarat ada langit di atas langit. Tidak ada manusia yang paling istimewa. Yang ada adalah bahwa manusia memiliki keistimewaan masing-masing yang akan saling melengkapi satu sama lain, kalau mau hidup berdampingan. Dengan kerendahhatiannya manusia pembelajar tak patah semangat untuk selalu hidup semakin baik.

Last but not least, manusia pembelajar selalu mengamalkan hasil pelajarannya. Ia membantu orang-orang yang menyandang keterbelakangan, baik ekonomi, sosial, maupun intelektual. Ia menyadari bahwa hasil belajarnya akan sia-sia bila hanya dimanfaatkan untuk kepentingan dirinya saja. Hasil belajar tidak akan habis seperti habisnya uang yang digunakan, melainkan kian banyak diamalkan hasil belajar akan kian menambah kemuliaan.

Apakah manusia pembelajar benar seperti itu? Menurut hemat saya, demikian. Entahlah… saya juga sedang belajar untuk menjadi manusia pembelajar. Bagaimana menurut Anda?😀

45 responses to “REFLEKSI: Manusia Pembelajar

  1. saya mungkin juga manusia pembelajar. saya punya banyak guru dan tak pernah kehabisan guru.

    Kapan iso nulis koyo ngene ya?

  2. @antown: Nah, itu dia! Pembelajar sejati merasa punya banyak guru, Ton. Dulu waktu di Terusan Dieng, mas Anton sudah kelihatan koq. Lha tidak akan bisa sama tulisannya, nanti dikira kembar identik😀 Tulisan2mu bagus lho! Malah sampeyan dibuat profil oleh sahabatmu (di AS?). Cuma yang saya nggak ngira, sampeyan pinter bikin karikatur. Salam hangat.

  3. hehe..saia juga baru aja belajar..belajar sabar🙂

  4. belajar dari siapa saja dan belajar sampai kemana saja …🙂

  5. wagh, postingan yg bgs…
    manusia pembelajar memiliki sifat rendah hati. Semakin banyak ilmu yang dia peroleh akan semakin rendah hati. mnrtQ mmg hal ini yang sangat penting diantara semuanya..aQ adalah salah satu manusia bodoh yang tengah belajar banyak hl, dan seseorang yang kini sgt berarti dlm hidupQ berkata padaQ, bahwa yang Qperlukan adalah usaha, dan bagaiamana menunjukkan usaha itu, tak pedui apapun hasilnya, sebab dalam proses Qta-pun dapat belajar…Hmm…Insya Allah bisa….🙂

  6. @namada: Iya, kita sama2 belajar: sabar, penolong, pemurah, dsb….

    @Rindu: betul, termasuk dari keindahan dan kesuraman; belajar ke sana, belajar ke sini. Pokoknya ke mana saja…🙂

    @sarahtidaksendiri: Saya setuju, rendah hati merupakan kemampuan yang sulit diterapkan.
    Saya kira, walaupun kita terus belajar bukan berarti menganggap diri bodoh. Mbak Sarah, misalnya, melalui tulisan2nya di blog mencerminkan keunggulan tersendiri dari mbak Sarah.

    Terima kasih kepada mbak Namada, mbak Rindu, dan mbak Sarah.

  7. Segala sesuatu adalah hal baru
    kita teliti akan menjadi ilmu
    segala peristiwa adalah sebagai guru
    Kita jalani dengan ikhlas dari situ makna,misteri dan hikmah akan kita mengerti,dapati dan kita ketahui

    Belajar apapun dan dari apapun kita belajar!😀

    salam hangat !

  8. sama.aku juga sedang pembelajarkan segalanya untuk hal hal yg emang mesti aku pelajari.
    salam hangat selalu untuk semua yang menyayangi abang

  9. @kweklina: Ya, kemauan untuk memelajari hal baru dan menjadikannya sebagai guru. Salam hangat juga, mbak Lina.

    @bluethunderheart: Kita semua bukanlah siapa-siapa sampai menyadari bahwa kita perlu belajar. Salam hangat juga, buat sahabatku, mas Blue

  10. setuju, mas hejis, manusia sejatinya mampu belajar dari siapa dan apa saja.
    seorang pebelajar juga harus jujur, dalam arti mampu mengakui ketiaktahuannya sehingga ia berupaya untuk mencari tau.
    sifat itulah menurut saya yang mendasari proses pemikiran reflektif, yang mengawali seseorang untuk memetik hikmah/pelajaran dari setiap pengalaman.

  11. sharpen the saw kata Pak Setphen Covey ya Pak?

    Pak Kapan-kapan bisa nggak kontak darat?🙂

    Saya di MAN MALang I

  12. @Marshmellow: Betul sekali. Kejujuran juga modal sekaligus karakter manusia pembelajar. Terima kasih atas buah refleksinya, mbak. Saya senang mendapatkan tambahan pelajaran dan reinforcement dari mbak Mars.

    @hmcahyo: Kira-kira kita sependapat, mas Heri, mengasah gergaji. Saya senang sekali jika bisa kontak darat dengan panjenengan. Insya Allah nanti saya hubungi mas:mrgreen:

  13. Belajar yang paling bagus adalah kalau kita membelajari orang lain..

    hehehehe..*opini lho

    salam kenal bos

    Hejis: Boleh begitu, mas Amri. Tapi, bagi saya itu sudah tingkatan tinggi ilmunya, sementara masih banyak yg belum saya ketahui. Ini juga opini lho..he.. he..😀 Ya, ya. Lebih baik kita saling mengnal.

  14. Esensi Belajar ya Pak, siiip … menikmati

    Hejis: Betul boss, esensinya belajar. Selamat menikmati🙂

  15. Saya harus banyak belajar nih….termasuk mengakui kesalahan dan kekalahan, rendah hati…dll
    Makasih Pak….

    Hejis: Mungkin kita lebih baik banyak belajar, termasuk saya belajar kepada sampeyan. Terima kasih juga

  16. Manusia sudah kodratnya menjadi manusia pembalajar, itu terbukti dengan diciptakannya nabi adam pertama kali, dia di perintah Allah untuk mengenal nama-nama benda…

    Hejis: Betul sekali mas Koko. Nabi Adam kalau tidak diturunkan ke dunia, tidak perlu belajar lagi… Salam hangat🙂

  17. Masing2 ciri komentar simpatik, empatik, sama apatik apa ya??

    Makasih. (saya taunya router, javasript, netbeans, dkk hehehehe)

    Hejis: komentar simpatik adalah komentar yang melihat keadaan orang lain dengan ukuran kita sendiri. Ini bisa benar, bisa salah. Karena penilaian atau komentar itu atas dasar persepsi sendiri orang yg bersimpati saja. komentar empatik adalah komentar yg melihat keadaan orang lain menurut sudut pandang orang lain itu. Kemungkinan terbesarnya adalah bahwa komentar kita (yg empatik) mendekati 100% benar karena kita menyelami perasaan2, tujuan, keinginan dari orang lain menurut sudut pandang orang lain itu. Sedangkan komentar yg apatik adalah komentar yg sama sekali tidak memperhitungkan perasaan orang lain (misalnya, masa bodoh, tidak ambil pusing orang mau bilang apa. Yang penting saya telah mengungkapkan perasaan saya sendiri). Begitulah kira2 apa yang ditanyakan mas Agung. Salam hangat🙂

  18. inti belajar adalah menjadi tahu? sepakat aja deh tante😀

    Hejis: Betul sekali, bu lik:mrgreen:

  19. Saya mendapat banyak pelajaran di blog ini yang merangsang saya untuk terus belajar, padahal ndak pinter-pinter. Kata Buya Hamka, ada bekas pejabat, ada bekas murid, ada bekas mahasiswa tapi tidak ada bekas guru. Kapan ktm, sama-sama dengan Lik Heri, sambil makan lele

    Hejis: Walah wong sampeyan sudah jauh lebih sukses, cak. Yah, belajar bersamalah.
    Nah! Itu tawaran yg amat menarik. Kemarin saya sudah menghubungi lik Heri. Nanti kita atur kapannya ya. Yang penting itu lho… makan lele.. he..he..😆

  20. hehehe..Pak Hejis ini masak ngakunya foto paling kanan itu f otonya….yaya gak terima, gak terima hehehehehe.
    Hmm…betul Pak belajar dimana saja, kapan saja dan kepada siapa saja🙂 dan salah satunya dengan blogging.

    Hejis: he..he.. Ya iyalah, masak saya bilang itu fotonya sampeyan. Nanti saya digebug sapu..bug..bug..
    Betul sekali, pokoknya kita belajar bersama-sama ya… Tapi nanti kalau mau belajar bersama bawa bekal camilan ya, misalnya intip goreng…:mrgreen:

  21. manusia selalu belajar, even they realize it or not.
    tapi tapi
    kadang2 kalo kita mau membuka mata fisk juga mata hati pasti kita jadi manusia yang lebih berguna buat sesama deh.
    artikelna worthed alot for me. thanks teacher.

    hehe alias saya dah ketauan yakkkk….
    stttt…jangan bilang capa2 boz maluuuu…
    peace….becok bole pinjem laptop agi khan…..ga puna neeee..
    **child mode on…hehehehehe ^_^ **

    Hejis: Wah ono Londo melok-melok…he..he..
    Betul Ndo, buka mata dan hati. Silakan, nanti tak pinjemi biar kamu gak nangis termehek-mehek lagi😀

  22. Assalammualaikum mas hejis…
    Sie baru saja mendapat pelajaran berharga tentang persahabatan..dalam kedukaan sie gak sendirian..begitu banyak sahabat memberi dukungan termasuk mas hejis..
    Terimakasih.. Untuk simpati yang sudah diberikan..semoga Rahmat dan HidayahNYA menyertai mas hejis sekeluarga Amiin
    Salam ^^v

    Hejis: Waalaikum salam, mbak Sie. Ah senengnya saya. Mbak Sie sudah bisa jalan2 ke sini. Saya percaya mbak Sie bisa melewati semua ini. Sekadar bercermin, saya waktu ditinggal bapak sampai tiga tahun tidak berani pulang ke Pekalongan. Setiap bangun tidur, setiap hari selalu didatangi wajah bapak. Saking sedihnya itulah saya gak berani pulang… Terima kasih doanya ya. Ayo, kembalikan lagi semangatmu. Tebarkan lagi celotehmu yg menginspirasi.. Walaupun perlu waktu untuk itu. Salam hangat.

  23. wewkekwkek ituh saya
    lah wong biasanya malah sambung menyambung mengomentari yg komentar xixixiix saya siy seringnya baca smw komentar, asal g terlalu banyak, kalo kebetulan ud kenal, biasanya saya jwbin xixiixix
    kalo misal ada yg saya ndak setuju, y saya komentarin jg
    eheheheh seru
    iya siy kliatan kok dari cara komennya ^_^
    thx vo visiting

    Hejis: Memang seru ya baca2 semua komentar, mbak Cebong (maaf saya memanggil begitu biar sampeyan gak mrengut:mrgreen: Saya ingin cepat menanggapi kalau orang sudah memberikan komentar. Rasanya gak tega membiarkan komentator “berbicara” sendirian di blog kita. Malahan kadang-kadang orang gak memberikan komentar pun saya tanggapi… he…he… U’r welcome. I’ll visit to u’r blog again as fast as I can

  24. aah.. betul banget pak.
    jika setiap waktu dan kejadian dijadikan pembelajaran, maka akan banyak hal-hal baru yang kita temui yang bisa diambil pelajarannya, (bahkan dengan membaca blog juga komentar-komentar teman)..

    dan untuk para caleg yang tengah rame mempersiapkan diri, semoga tengah belajar juga untuk menghadapi menang dan kalah..😀 (hehe..)

    Hejis: Saya setuju, mbak Yuyun. Apa susahnya ya belajar dari orang lain atau hal lain. Kalau ini berjalan mungkin banyak hal2 buruk yang terjadi dalam hubungan antarmanusia menjadi berkurang.

    Pesan untuk para caleg diteruskan (oh! mereka manggut2 tanda setuju, mbak):mrgreen:
    Kapan2 ke sini lagi ya. Saya senang ditemani

  25. Salam Mas Hejis, baru tahu Mas Heru di panggilnya Hejis oleh fans-nya. Memang jadi manusia yang belajar setiap saat susah, karena harus disertai kesadaran; sadar untuk ikhlas untuk belajar, sadar untuk mengatakan ada yang lebih tahu, dan sadar untuk menganggap diri kurang.
    He he he, seperti pimpinan bangsa kita yang sulit sadar untuk belajar menerima kekalahan….

    He..he.. begitulah Kang. Wah senengnya saya kedatangan aktivis sosial Bandung. Nah iya itu, keikhlasan. Mudah2an masih banyak orang yang menganggap diri kurang, sehingga mau belajar. Bangsa ini telah banyak diberikan pelajaran untuk meningkatkan kemuliaan bersama. Sayangnya kesalahan kita sering diulang-ulang. Padahal kalau kita mau belajar tak perlu kita melakukan kesalahan yang sama.
    Salam hangat, Kang Atwar. Asyik mencermati postingan akang.🙂

  26. seep dah..
    sumber belajar dapat kita temukan dimanapun dankapanpun, bahkan dari anak kecil sekalipun artinya yang penting liat apa yang diomongin bukan siapa yang ngomong, itu seh menurut Saya, tidak tau menurut teman2..he2

    ==========
    Hejis: Nah, ini ada tambahan lagi. Belajar juga dapat diperoleh dari anak kecil. Bukan siapanya yang penting, melainkan apanya yang penting. Saya setuju banget. Terima kasih ya, atas pendapatnya. Salam hangat🙂

  27. saya sih suka ketawa malahan kalo baca komen2… soalnya kadang blogger ini kalo ngomen ga nyambung tapi kocak banget:mrgreen:

    Hejis: Betul, mbak Carratri. Malahan seringkali komen2nya tak kalah menarik dibandingkan postingannya ya. Lucu, menyentuh, memberikan inspirasi, kreatif, cerdas… juga kocak. Salam hangat, mbak😀

  28. Ada nggak caleg yang ngeblog ?

    Hejis: He..he.. Mungkin saking sibuknya menjaring aspirasi masyarakat (jaring asmara), beliau-beliau gak sempat ngeblog, Cak Nun. Tapi… Cak Nun yang supersibuk aja masih menyempatkan ngeblog koq ya. Lalu…? Yo, embuh Cak😆

  29. iyah biasanya kalo blom ada posting baru saya lempar say hi di sotbox
    tapi wordpress dot kom kan ndak bisa eheheheheh jadi lempar komeng lagi disni

    Hejis: Aduh!! Apa yang dilempar tadi? Kena kepala saya. He..he.. Napa ya wordpress gak bisa dipasangi shoutbox? Padahal saya sudah donlod lho… Ayo ajari saya, mbak Cebong? Oya, itu di sebelah kiri ada Meebo (Kotak Amal) tolong dipakai, siapa tahu bisa🙂

  30. bener juga sih..
    kadang2 mbaca komentar orang2, tapi klo yg udah bejibun ampe 50 keatas mah udah jereng mata. mending langsung komen ajah..
    yahh,, sedang dalam proses menjadi manusia pembelajar lah. wakakaka.

    he..he.. iya ya kalau lebih 50 komen mata menjadi jereng😀 Ya, kalau bisa kita bisa belajar bersama dan saling melengkapi. Terima kasih telah menengok ke sini. Salam hangat.

  31. ya, saya masih harus banyak belajar dari pak hejis niyh…🙂

    Hejis: Mbak Fani, saya banyak belajar lho dari blogmu. Selamat berlayar ya, eh maksudnya belajar😀

  32. ah…. belajar juga ah….

    pertama belajar jadi pengangguran udah hampir setahun
    belajar menerima keadaan ( cacat )
    belajar ga punya duit

    Hejis: Wah mas Dhani perlu sebagai sumber belajar juga. Bisnisnya hebat. Salam hangat ya😀

  33. Pak…. Undangan penyet lelenya plus pete sudah dikobarkan – kita tinggal menyambutnya:mrgreen: saya sabtu siang s/d sore dan ahad kosong nih…. siap-sipa bos:mrgreen:

    Hejis: Ok, kalau begitu insya Allah ahad saja ya soalnya sabtu saya masih tugas mendongeng. Dua hari ini perut saya kosongkan dulu, biar nanti makannya banyak… he..he.. Horee… mau makan lele.😆

  34. aku berjanji akan selalu belajar🙂
    ko ada undangan makan penyetan lele sm pete mas? nanti terjadi polusi udara dan gas beracun lho mas hehehe

    Hejis: huekkek..kek…kek.. (ketahuan deh belangnya). Lhah yang ngajari makan pete itu mas Heri kik..kik.. Nggak kok, saya orang terpelajar. Jadi gak doyan pete, kalo jengkol iya😆
    Ngomong2 bagi yang doyan pete, supaya sehabis makan pete mulut tidak bau ikuti tips berikut ini.

    Cuci tangan bersih2.
    Berkumur2
    Berkumur lagi
    Berkumur lagi (x33)
    Makan jengkol 5 biji
    Selesai. Dijamin bau pete hilang karena tergantikan bau jengkol:mrgreen:

  35. tau aje saya lagi belajar😀

    Hejis: Same2, kite juge lagi belajar, mas Warm. Jangan terlalu lama kontemplasi lho:mrgreen: Thanks for coming.

  36. Hai mas Kajian…saya ada titipan Award buat blogmu..diambil ya…

    Terus berkarya dan selalu semangat!😀

    salam hangat!

    Hejis: O iya, mbak Lina. Maaf belum terambil. Nanti saya ambil ya. Terima kasih sekali memberikan penghargaan. Saya merasa tersanjung. Semoga Tuhan memberikan kesehatan kepada kita ya untuk bisa terus semangat berbagi. Salam hangat. 😀

  37. Baca blink malcolm gladwell juga mas? Kapan2 kita diskusi ya.. Salam..

    Hejis: Iya mas. Namun Michael R. LeGault mengecam habis tulisan Gladwell itu, karena hanya mengandalkan intuisi untuk menganalisis sesuatu. LeGault kemudian membuat buku tandingan, “Think!”. Mungkin bagus membaca dua buku yang kontroversial. Salam hangat, mas. Saya tunggu diskusinya🙂

  38. Aku sendiri adalah manusia bodoh yg masih ingin belajar dan belajar, termasuk belajar dari bapak dan para blogger yang lain, bahkan kita bisa belajar dari apa saja yg ada disekitar kita…

    Btw thx dah berkunjung, dan thx juga dah diberi kesempatan belajar pada bapak…

    Hejis: Ah, saya kira mbak Radesya jauh dari bodoh koq, terlihat dari tulisan di blog mbak Radesya. Kita sama2 belajar satu sama lain. Terima kasih juga mbak, jangan kapok ke sini ya. Salam hangat😀

  39. belajar sebenarnya membuat lorong-lorong logika kita semakin banyak sambungan. lorong-lorong logika yang asalnya buntu menjadi saling tersambung. ketika semakin banyak lorong-lorong logika yang tersambung, maka akan semakinbanyak pemahaman yang kita miliki. dan semakin banyak solusi yang kita produksi. dan semakin membuat kita bijaksana dalam bersikap.

    Hejis: Nah, ini pelajaran baru dari mas Andri. Belajar adalah membuat lorong2 logika menjadi tersambung. Ya, ujung belajar adalah kebijaksanaan. Ini sesuai dengan pendapat Sternberg, ahli psikologi, yang menyatakan bahwa belajar menuju pada “wisdom”. Terima kasih mas atas tambahan ilmunya. Kapan2 ditunggu lagi komennya. Salam hangat😀

  40. Soal buku “think” saya belum baca. Tapi “blink” tak bicara ttg intuisi semata. Pelatih tenis yg bs menebak service yg gagal,tak sekedar mengandalkan intuisi,tapi juga experience. Soal menebak artefak palsu,para arkeolog menyimpulkannya berdasarkan knowledge&experience,di mana keduanya adalah “think”. Bisa jadi buku “think” nebeng popularitas “blink”. Seperti “rich dad poor dad” digugat lewat buku tandingannya. Ini cuma mungkin lho ya..🙂

    Hejis: Betul, mas Refan. Perlu jam yang tinggi untuk sampai pada fast recognition atau thin slicing . Cuma untuk masyarakat awam pemahaman blink bisa menyebabkan jalan pintas dalam bentuk “malas belajar” seperti yang diungkapkan LeGault, terutama masyarakat Amerika Serikat. Akan bagus kalau kita juga membaca “Think” karya LeGault (award-winning writer) sehingga pandangan kita menjadi proporsional. Salam hangat, mas Refan😀

  41. menurut tulisan saya, bukan saya lho Mas (jgn bingun ya) menulis itu pembelajaran juga; gimana tu Pak?

    Hejis: absolutely, yess. Coba bandingkan tulisan sampeyan 10 tahun yang lalu dengan tulisan yang sekarang. Tentu jauh lebih yahud tulisan yang sekarang yang merupakan hasil belajar. Sepuluh tahun lagi, insya Allah, tulisan sampeyan mungkin superyahud 😀

  42. halo, salam kenal😀

    Hejis: Halo, Nong. Salam kenal juga.

  43. Jabat hangat pak,

    Saya rasa pesan yang hendak Bapak sampaikan disini adalah mengenai bagaimana cara belajar atau istilah bapak manusia pembelajar, dan satu yang bisa saya tangkap adalah belajar dengan cara membaca, lebih khusus lagi membaca koment.

    Dari pengalaman saya membaca koment, mungkin ini koment terpanjang yang saya baca.

    Menarik juga yah tanggapan para bloger mengenai tulisan bapak,mungkin kita bisa bertukaran lik, saya akan tambahkan link/roll ke blog Bapak.

    terima kasih,
    SIge Balli.

    Hejis: Salam hangat juga, pak. He..he.. masih kurang panjang koq pak komentarnya. Betul, saya suka komen yang panjang2, biar saya bisa belajar lebih banyak lagi. Boleh, pak. Cuma link bapak di sini belum muncul.🙂

  44. Oh iya maaf, saya tidak tahu kok tidak muncul yah..ini rumah sederhana saya, nurhadi13.wordpress.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s