IBSN: Kita Belajar dari Bagaimana Kita Diperlakukan

Situasi interaksi sosial pada masyarakat kita hari-hari ini tengah carut-marut. Nilai-nilai luhur dalam hubungan antarmanusia naga-naganya ditepiskan. Seolah-olah kita menjadi masyarakat yang sedang anomali, tanpa jati diri sebagai insan yang mulia. Sehingga yang ada tinggal egoisme dan agresivitas. Tak terbilang deretan fakta yang membuat miris nurani, setiap hari, setiap saat ketika peluang itu ada atau peluang itu diadakan. Mulai dari penipuan oleh teman yang kita percaya, petugas yang kita gaji, pengadil yang kita andalkan, hingga pemimpin yang kita beri kekuasaan sepenuh hati.

Sampai kapan itu semua berhenti? Tidak ada yang tahu. Kepada siapa kita mengadu? Tidak ada yang tahu. Bagaimana menghentikan semua itu? Sebagian besar mengatakan, masa bodoh.

Mengapa kita tidak mengambil bagian? Apakah kita tidak bisa melakukan hal-hal yang tidak terlalu muluk tetapi menyumbang solusi penyembuhan masyarakat yang sedang sakit? Kita bisa memulai dari diri kita masing-masing terhadap anak-anak kita, murid-murid kita, teman-teman kita atau siapa pun di lingkungan kita. Tindakan kita dapat mengacu pada apa yang telah dituliskan oleh Dorothy Law Nolte dalam untaian kata-kata mutiara yang dapat kita resapi dan wujudkan dalam tindakan kita. Barangkali ini dapat menumbuhkan etika hidup bersama dalam perahu yang sama tempat kita mengarungi samudera kehidupan. Who knows?

Dalam bahasa Nolte yang disebut ”anak-anak” dapat kita perluas menjadi ”orang” atau ”teman”. Karena, masih banyak orang dewasa yang hanya sekadar anak kecil yang berbadan besar atau pun anak kecil yang telah menghabiskan berpuluh-puluh kalender, tetapi perilakunya masih perlu diluruskan, diarahkan, dibimbing oleh orang-orang yang lebih bijaksana, atau justru mereka adalah kita ini.

Berikut ini untaian kata-kata mutiara dari Dorothy Law Nolte yang judul aslinya Children Learn What They Live yang saya modifikasi sebagai berikut:

Children Learn What They Live
(By Dorothy Law Nolte)

Jika anak diperlakukan dengan celaan, ia belajar melecehkan.
Jika anak diperlakukan dengan kekerasan, ia belajar berkelahi.
Jika anak diperlakukan dengan ketakutan, ia belajar menjadi pecundang.
Jika anak diperlakukan dengan belas kasihan, ia belajar membenarkan diri sendiri.
Jika anak diperlakukan dengan ejekan, ia belajar menjadi pemalu.
Jika anak, diperlakukan dengan kecurigaan, ia belajar iri hati.
Jika anak diperlakukan dengan perasaan malu, ia belajar menyalahkan diri sendiri.

Jika anak diperlakukan dengan dukungan, ia belajar percaya diri.
Jika anak diperlakukan dengan toleransi, ia belajar kesabaran.
Jika anak diperlakukan dengan penghargaan, ia belajar kemuliaan.
Jika anak diperlakukan dengan kepercayaan, ia belajar mencintai.
Jika anak diperlakukan dengan persetujuan, ia belajar menyayangi diri sendiri.
Jika anak diperlakukan dengan pengakuan, ia belajar bahwa memiliki sebuah tujuan adalah kebaikan.
Jika anak diperlakukan dengan kebersamaan, ia belajar kedermawanan.
Jika anak diperlakukan dengan kejujuran, ia belajar rasa saling percaya.
Jika anak diperlakukan dengan kesederajatan, ia belajar keadilan.
Jika anak diperlakukan dengan ketulusan dan pertimbangan, ia belajar menghargai.
Jika anak diperlakukan dengan rasa aman, ia belajar kesetiaan di dalam dirinya sendiri dan di lingkungannya.
Jika anak diperlakukan dengan persahabatan, ia belajar bahwa dunia ini adalah tempat yang indah untuk kehidupan.

Dimodifikasi dari Nolte (1971) oleh Hejis.

38 responses to “IBSN: Kita Belajar dari Bagaimana Kita Diperlakukan

  1. bener sekali pak!!!hebat itu bisa bikin kita untuk sadar…masih banyak yang bisa perbaiki yang kita mulai dari diri sendiri

    Hejis: Begitulah, kalau kita mulai dari diri kita masing-masing hasilnya pasti lumayan, ya.

  2. artikel & referensi yg keren ini.. txs 4 sharing.. ^_^
    mas heru, perasaan kita belum tukeran link ya. baiklah, sy akan pasang duluan..:mrgreen:

    Hejis: Ya, mas Deni. Mudahan kita bisa selalu sharing. Lhah, betul saya belum pasang…he.. he… Nanti saya pasang ya. Terima kasih😀

  3. ” Jika anak diperlakukan dengan dukungan, ia belajar percaya diri ” ini bener harus di nomor satukan untuk mencapai poin selanjutnya…

    Hejis: Saya kira juga begitu, mas Koko. Salam hangat😀

  4. ah.. saya suka banget baca “Children Learn What They Live ” nya pak Hejis..
    walaupun belom punya anak sih..🙂

    Hejis: Syukurlah kalau mbak Yuyun Senang. Belum punya anak, mbak? Mau donk saya diadopsi… *cuma makannya banyak*:mrgreen:

  5. Point positifnya baik di tempel didinding rumah dan sekolah biar jadi acuan dan pengingat saat mendidik anak2 kita…
    Jika mendidik anak2 dengan selalu mengenal dan mengingat TuhanNya, maka mereka akan mencari tau bagaimana agar meraih kasih sayang Allah dan menjadi pengikut setia rasulNya…..

    Hejis: Wah ide bagus yang tidak terpikirkan oleh saya. Mbak Rita memang selalu punya usulan yang bagus, terutama pada kalimat yang terakhir ini. Terima kasih mbak.😀

  6. Artikel yang hebat, luar biasa!!!
    Memang seperti inilah seharusnya basic pendidikan ‘untuk anak‘ dimulai.

    Saya harus menekankan kata UNTUK ANAK disini, karena hanya anak – anak lah yang mampu menyerap pendidikan lebih banyak dari manusia manapun didunia ini. Ketika kita merasa DEWASA, benturan – benturan EGO biasanya akan menjadi penghambat penyerapan asupan gizi dari saran – saran positif dan pendidikan semacam ini secara optimal.

    Ketika buah merasa hijau maka dia akan matang, dan ketika buah merasa matang maka dia akan cepat membusuk.

    Salam kenal juga, Hejis, postingan yang hebat. Double Applause untuk Hejis.

    Hejis: Saya termasuk orang yang salah tingkah kalau dipuji, namun terus terang saya seneng dengan pujian kali ini. Betul bang, terutama untuk anak. Orang tua biasanya sudah “mapan” pola perilakunya. Tetapi, dengan teknik tertentu hal itu bisa berpengaruh cukup lumayan. Siapa yang akan bereaksi negatif kalau kita perlakukan seseorang dengan dukungan, toleransi, penghargaan… dst. Minimal itu. Jika banyak orang memperlakukan sama baiknya seperti itu, maka orang yang stubborn sekalipun, akan “terkepung” dengan kebaikan. Sudah ada penelitian tentang ini. Di sini diasumsikan bahwa seluruh manusia adalah makhluk pembelajar yang tak mengenal henti (lifelong learner). Selalu ada perkecualian. Memang benar ada orang yang sudah merasa kebenarannya sendiri tidak bisa dipengaruhi oleh siapa pun.🙂

  7. Wah bener sekali pak…
    Aku akan ingat selalu,semoga bermanfaat ya pak…

    Hejis: Iya, semoga bermanfaat. Terima kasih ya mbak telah berkunjung lagi.😀

  8. ya pernyaatan Dorothy di pernah saya baca pas kuliah… tapi tetapi kalo bagi orang dewasa kayaknya susah.. :

    ***

    BTW kangkung Pak Husnun lebih hijau dan enak… kemarin istri saya tak suruh buat gitu… kok gak seenak pas di rumah pak husnun🙂

    Hejis: Ya, mas Heri. Dibuatnya saja pada 1971. Cuma mungkin beda dengan aslinya, karena sedikit ada modifikasi dari bahasa aslinya *teriring maaf saya kepada Dorothy*.
    Untuk orang dewasa juga masih sangat perlu, dengan teknik tertentu. Minimal, orang dewasa yang kita hadapi akan respek kepada kita jika itu kita lakukan. Barangkali orang dewasa yang kita perlakukan seperti itu tidak serta merta menjadi berubah, tetapi jika ke mana-mana ia bertemu dengan orang yang memperlakukannya seperti itu, maka ia akan berkurang “keburukannya”. Tentu kita akan lebih nyaman di lingkungan orang-orang yang memberikan dukungan, toleransi, penghargaan… dst. Masyarakat yang dibangun melalui hubungan dengan nilai-nilai yang seperti itu adalah masyarakat yang sehat, baik anggotanya masih anak-anak maupun orang tua. Saya berasumsi bahwa semua manusia adalah makhluk pembelajar yang tak pernah berhenti kendati pun sudah tua. Salam hangat😀

  9. Yang paling berat kan jika “anak-anak”nya justru kita sendiri (huh.. sadar diri akhirnya. ribuan bilangan waktu dah terlewati… nyatanya?)
    butuh extra usaha sepertinya, setidaknya pada saat ‘diharuskan’ “mewasiatkan” perlakuan kepada anak-anak (anak-anak dalam arti sebenarnya) nanti (amiin), saya tidak mewariskan perlakuan yang salah.

    Hejis: Kalau kita yakin itu baik dan yakin itu bisa kita lakukan, apa lagi yang menghalangi ya mbak. Saya juga yakin betul, mbak V pasti bisa. Memang tidak sempurna 100%, barangkali ya.😀

  10. artiekl yg menarik,
    semoga smkn banyak org tua yg peduli dan memperhatikan serta mengawasi anak2nya, kelak bangsa ini akan menjadi bangsa yg maju dan lebih baik dr sekarang..
    Kepedulian ini juga baiknya ditanamkan dan dipejari kembali bagi Qta yg bukan anak2 lagi kali ye..hehe
    salam kenal, makasih udah mampir ke blogQ

    Hejis: Setuju, mbak Sarah. Selama ini kita punya masalah dengan kurangnya bekal bagi keluarga-keluarga di Indonesia. Dari mana ilmu membangun keluarga di Indonesia? Dari mencontoh orang tua dan naluri. Mestinya ada pendidikan membangun keluarga sebab keluarga adalah persemaian potensial bagi anak untuk menjadi manusia yang mulia. Rasanya mbak Sarah sudah saya kenal koq. Ya dah, apa salahnya dipererat perekanalan kita ya. Terima kasih dan salam hangat😀

  11. setuju banget kalo kita akan mnjadi apa yang udah dperlakukan ke kita. mumpung kita masih muda, ga da salahnya udah mulai memprogram (sderhana aja) biar besok kalau kita punya anak, bisa tau gimana ngajarin yang baik buat anak kit. misal kita punya benci sama orang, jangan tanamkan kebencian itu buat anak kita . . .🙂

    ok, hava nice blogging…

    Hejis: Ya, dan selagi bisa. Kendatipun mbak Chitra belum punya anak, mbak bisa memperlakukan teman-teman dengan lebih bermartabat. Apalagi mungkin mbak Chitra mengambil jurusan komunikasi, sudah banyak tahu tentang itu, misalnya berkomunikasi empatik dan humanistik untuk interpersonal communication. Salam hangat.😀

  12. kalo nanti punya anak terus buandelnya mintaampun di sekolahin ke pondok pesantren, kita yg jadi orang tua salah ndak ya?? hehe…. *mikir berat sambil menghayal*

    Hejis: Ya ndak salah to, mba’e. Emangnya pondok pesantren itu tempat pembuangan. Mungkin para kyai dan ustadz di pondok juga banyak mengetahui tentang hal ini. He.. he.. *mikir ringan sambil makan berat*

  13. Anak anak adalah amanah yang harus dijaga dan dilimpahi kasih sayang dari orang tua,sie sedih melihat tindak kekerasan pada anak yang makin meningkat,ada juga bayi yang dibuang orang tuanya, atau orang tua yang mengatasnamakan demi kebahagiaan anak eh si anak dinikahkan muda inget kasusnya syekh puji.

    Lebih miris lagi, televisi sekarang yang harusnya menjadi media pembelajaran yang baik malah menayangkan sinetron yang gak mendidik, isinya cuma cinta cintaan, kekerasan sesama kawan gada santunnya sama sekali..huh sebelll..

    Buat para orang tua dan calon orang tua tanamkanlah kasih sayang dan pendidikan yang benar sejak awal,jadilah orang tua sekaligus sahabat bagi anak, jadilah contoh yang baik, dukung kreatifitas mereka,ajarkan mereka ilmu agama yang bermanfaat supaya anak anak kita kelak bisa jadi aset yang membanggakan dunia akherat amiin..

    Ich.. Sassie sok teu ah.. He he

    Hejis: Itulah, mbak Sie. Banyak hal yang bisa “disalahkan” untuk alasan mengapa kita tidak bener dalam menjalankan fungsi pendidikan. Salah satunya karena rumah tangga-rumah tangga di Indonesia dibangun tanpa landasan yang kokoh. Buktinya adalah pengetahuan tentang hidup berkeluarga bagi pasangan2 baru minim sekali. Saat mereka punya anak mereka mendidik dg ilmu warisan dari orang tuanya yang juga demikian. Atau mereka berfungsi berdasarkan naluriah layaknya hewan atau binatang mengasuh anak-anaknya. Bahkan banyak orang tua yang membiarkan anak-anaknya tumbuh sendiri, pokoknya mereka sudah memberi makan.
    Adapun tentang televisi, kini mereka sedang tergiur pada aktivitas komodifikasi pesan. Segala hal yang ditayangkan yang bisa dijual kepada pemirsa, maka akan ditayangkan. Termasuk sinetron, gosip, berita kekerasan, kontroversi, dll. Mereka lebih menghamba kepada mesin kapitalis daripada menghamba kepada visi kemanusiaan yang mulia.

    Ngmng2 masalah syekh puji, apa syeh puji winarso ya? *tolah-toleh*

    Terima kasih mbak Sie atas urunan sosialnya, saya seneng😀

  14. Geez… I’m speechless..
    Great article, bro!

    Yes, we all! I’v believed that you speech less, do more. Thank’s for drop by, Madam.😀

  15. karakter anak memang dibentuk oleh keluarga dan lingkungan. tapi anak yang cerdas sebenarnya bisa mengeksplore lebih jauh apa yg ada di lingkungannya untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman pada dirinya. tidak masalah mereka ditinggal orang tua dan hidup ditengah kekerasan. kecerdasannya akan mampu melindunginya. sayangnya, jarang sekali anak cerdas seperti ini. jadi menurut saya solusinya selain cara di atas, adalah bagaimana memproduksi anak cerdas sebanyak2nya.

    btw, salam kenal.

    Hejis: Betul, mas Chodirin. Kendatipun anak yang cerdas bisa mengeksplor shg ia cerdas (multiple intelligences), kita tetap lebih baik menyediakan lingkungan yang mendidik pada mereka (lingkungan keluarga, sekolah, mall, internet, buku, bermain, dll).
    Nah usaha memproduksi anak cerdas sebanyak2nya itu perlu pengelolaan genetika (pro-kon), perlu pengelolaan pengasuhan (parenting), pengelolaan institusi pendidikan tempat pembelajaran yang mendidik, pengelolaan media massa yang mengutamakan fungsi edukasi, pengelolaan center of example (pembelajaran sosial, misalnya dari Albert Bandura) dan yang lainnya (kalau ditulis di sini nanti jadi panjaaang banget ya. Bisa menjemukan.

    btw, salam kenal juga. Saya seneng mas Chodirin bisa berkunjung ke sini. Salam hangat😀

  16. wuaaaa, bisa buat contekan mendidik anak niyh.
    keren deh, pak!
    makasiyh2, saya mau bikin contekan dulu.
    ihihi..

    ^salam hangat juga dari sapi yang dikangeni. halah..😆

    Hejis: Ya betul, bikin contekannya dulu, urusan bikin anak belakangan..hihiy. Makasih juga. Saya berjanji, mulai sekarang kalau lihat sapi akan selalu ingat dirimu, mbak Fannie…😆

  17. Orang tua merupakan komponen yang paling utama dalam mendidik perkembangan seorang anak….

    Hejis: kurang lebih begitu, orang tua harus belajar menjadi orang tua yang baik. Bukan tua dengan sendirinya.

  18. bang doakan aku cepat berkeluarga ya trus mempraktekan semua yg abang buat ini.
    salam hangat selalu
    selamat berakhir pekan,ya?

    Hejis: Amin.. amin. Semoga cepat mendapatkan jodoh. Ya, selamat berakhir pekan juga. Btw, ke mana malam mingguan ini? Salam hangat juga.😀

  19. Aku suka kalimat ini :

    “Jika anak diperlakukan dengan persahabatan, ia belajar bahwa dunia ini adalah tempat yang indah untuk kehidupan.”

    dengan persahabatan,dengan tempat yang indah…aku yakin akan tumbuh anak-anak dengan pribadi-pribadi yang berbeda.

    Diblog ini juga kutemukan dan kurasakan ada keindahan,karena penulisnya mempelakukan aku,sebagai seorang sahabat.😀

    Hejis: Wah, kata2 mbak Lina selalu saja membuatku sejuk dan tenang… hihiy..🙂

  20. hehehehehe aku nggak nyambung

    Hejis: hehehehehe… aku juga. Biar nyambung baca: OTOBIOGRAFI. Dijamin! (pasti tambah gak nyambung):mrgreen:

  21. bener……anak atau siapa pun
    akan terbentuk….dari sikap dan
    perlakuan yang diterimanya
    so, mari selalu berlaku baik pd semua orng
    agar kita juga akan diperlakukan dgn baik pula
    thanks bro🙂

    Hejis: Setuju banget, bang Mike. Pada prinsipnya perlikaku baik akan menuai hasil yang baik. U’r welcome, bang.😀

  22. Artikel dan referensi yg sangat bagus.

    **
    Mas,disini hujan deras tadi malam,bagaimana kbrnya.

    Hejis: Tenkyu. O, begitu? Di Malang terang-benderang. Tapi, saya ndekem aja di rumah. Kapan ke Malng, mas?

  23. bener banget tuh

    semuanya memang bermula dari bagaimana kita diperlakukan

    Hejis: Ya benar. Ayo mulai kita coba poin demi poin. Bagaimana?😀

  24. *menyimak…

    Hejis: Halllah…:mrgreen:

  25. If someday I have children, I’ll treat them well, just like what you wrote above🙂
    Thank you for sharing us great info ^^

    Hejis: So, U can married next week n get children as much as U can!😀

  26. kayaknya harus selalu tak praktekin ke anak ku nih…

    Ya mas Indra, selain anak ke istri juga dianjurkan. Ini hasil penelitian koq. Selamat praktik.😀

  27. namanya anak2 belom tau mana yang jelek mana yang bagus!
    tapi kalo soal mainan pasti tau mana yang bagus mana yang jelek……heheheheheheheheh!

    Hejis: Ada juga lho, orang tua yang tahu mana mainan yg bagus mana yg jelek… hihihiy😀

  28. beruntung saya diajarkan ngeblog oleh kakak saya,,bukan ngarin nyopet!
    wkekekekeke!

    Hejis: Beruntunglah punya kakak yang bijaksana. Ayo sun dulu kakaknya…😀

  29. just passing by.. ^_^ kangen ceritanya..:mrgreen:

    Hejis: yes, asal jangan passing out…hihiy.. Lho katanya mo ke Malang. Itu sudah kemebul rawonnya…:mrgreen:

  30. jika blogger diperlakukan dengan komen, ia belajar menjadi saling mencerahkan dan mendewasakan.

    Hejis: Wah ada tamu istimewa nih. Asli penting ini. Hayo blogger, tuh komen ternyata penting banget untuk mencerahkan dan mendewasakan. Trims kang Andri😀

  31. iyaaah bener banget mas tulisannyaa… ya kita mulai dari diri sndiri d..bersikap yang baik dan tulus ke sesama….

    Hejis: Sep dah… Lha kalau nunggu orang lain yang mulai, jadinya gak mulai-mulai kan, mbak Audy? Semoga kita diberkahi Allah ya mbak. Salam hangat😀

  32. mas boleh gak puisinya aq copas???? baguuuusss bangetttt…….. dapet dari mana seeehhhh????????

    Hejis: Boleh bangets mbak Ika. Kalau perlu ditempel di dinding kamar tidur atau kamar mandi, karena di kamar-kamar itu kita bisa lebih meresapi, kali ya… Dari artikel Nolte (1971) yang didaur ulang..hihiy.. Salam hangat, mbak Ika😀

  33. Pokoke … semakin mantap, Bro

    Hejis: iya, Bro. Sama-sama

  34. Mas Hejis ini idenya “murudul” kata orang Bandung, selalu ada posting terbaru…he he he. Murudul = mengalir deras…salam

    Hejis: Terima kasih, akang. Mungkin murudul ordinary posting ya kang. Cuma blognya napa gak bisa dicari lagi. Kangen deh berkunjung. Ada gangguan kah? Salam hangat😀

  35. Bagi saya, anak-anak adalah seperti spons yang menyerap apa saja yang diajarkan oleh sekitarnya. Sungguh berbahaya sekali kalau kita berperilaku tidak baik di sekitar anak-anak. Mereka hanya melihat, tanpa tahu apakah itu baik… apakah itu seharusnya tidak perlu dilakukan….

    Saya orang yang sentimentil.
    Kalau sudah menyangkut soal anak-anak, saya kepingin menjadi seorang malaikat yang bisa melindungi mereka semua… Karena saya tahu, peristiwa sederhana di masa lalu saya, telah menjadikan saya sebagai perempuan yang sungguh hati-hati… Mungkin, sangat hati-hati… dan ini tidaklah wajar.

    Let’s make peace..
    Let just share only good things… Bisa, kan?🙂

    Btw,
    it’s a nice post. Sungguh! ^_^

    Hejis: Iya, Jeung Lala. Anak2 sering meniru perbuatan orang2 di sekelilingnya, seperti dikatan Albert Bandura (teori pembelajaran sosial). Saya jadi tersentuh komen Jeung, sungguh2 mendalam. Thanks ya. Salam hangat (maaf saya baru respon komen Jeung, karena saya pikir sudah saya kasih respon semua. Ternyata nyelip ada yang belum).🙂

  36. Ehm…jadi inget anak2 di rumah……

    “Nak….selama ini Abi membesarkan kalian dengan cara bagaimana ya…?”

    Matur suwun Mas Hejis………

    Hejis: kangen anak2 ya mbak. Inggih, mbak, sami-sami.😀

  37. Aslm Mas Hejis…artikelnya membuat saya sebagai seorang ibu tersentuh…..
    …jadi kangen sama anak saya….dan bapaknya (Loooooh)

    best regards….

    Hejis: Waalaikum salam, mbak Ira. Seorang ibu yang tersentuh, dan ingin menyentuh anaknya (anaknya mertua). Salam hangat, mbak.😀

  38. semoga kita dapat memberikan yg terbaik buat anak2 kita, amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s