REFLEKSI: Persepsi Dapat Berbeda

MEMBACA KOMEN DI BLOG


Oleh Hejis

Membaca komen-komen di blog selalu mengasyikkan. Tidak jarang komen-komen itu menjadi terapi untuk kondisi psikologis yang sedang sensi (senang sikut-sikutan) atau melow (melotot, wow!). Selain itu, juga menginformasikan kondisi psikologis komentatornya, bahkan mencerminkan karakter individualnya! Semuanya sah-sah saja. Tidak perlu dipermasalahkan, sebatas tidak sengaja untuk agresi. Lalu apa lagi yang perlu dibahas? Ya, banyak.

Misalnya, dan hanya misalnya, komen-komen itu saya jadikan bahan pelajaran untuk saya sendiri (sampeyan juga boleh ikut, koq). Di blog milik siapa pun saya mendapatkan inspirasi dan pelajaran termasuk semua komen di masing-masing blog yang saya baca (teriring ucapan terima kasih kepada seluruh blogger yang telah berkorban membagi ilmunya). Misalnya lagi, di post “Cerbung” saya jadikan projek percontohan. Di situ banyak komen yang lucu-lucu untuk mengomentari post yang katanya membuat teman-teman tertawa, bahkan sampai ngakak. Malah ada yang tertawa sambil terkentut-kentut (semoga tidak bolak-balik ganti pampers, saking kentutnya kebablasan ya… hihiy). Ada juga yang sedang sedih kemudian tersenyum setelah membacanya (alhamdulillah berarti tujuan menyenyumkan orang bisa tercapai). Tetapi, ada pula yang melihat bukan kelucuan ceritanya, melainkan keharuannya (sampai nangis kali ya. Keluar air mata bercucuran seperti cucuran Niagara Falls. Gak papa asal jangan air liur ikut-ikutan mengalir deras).

Semua itu berangkat dari persepsi individu terhadap stimuli. Kendati pun stimulinya sama, orang bisa berbeda persepsi. Mengapa demikian? Persepsi orang dipengaruhi oleh banyak hal. Bisa dari pengalaman, pendidikan, pergaulan, bacaan, fisiologis, tontonan, pola asuh di keluarga, deelel. Pokoknya banyak deh. Kalau diomongin bisa 100 tahun gak kelar. Lalu, jika persepsi orang berbeda-beda bagaimana mungkin terjadi interaksi sosial yang kohesif? Bukankah orang-orang yang berbeda persepsi itu ketika berinteraksi dengan orang lain dapat berakhir dengan konflik dan bahkan bentrok fisik? Itulah yang sekarang banyak terjadi.

Tengoklah media massa. Setiap hari kita melahap berita perseteruan, percekcokkan, tawuran. Hati jadi getir dan pilu menyaksikan semua itu. Padahal kita semua mengetahui tidaklah enak perasaan kita ketika terlibat dalam konflik yang tajam. Konflik memang sehat dalam batas optimum (ingat deh teori konflik). Demikian pula stres akibat konflik itu (ingatlah eustress *stres yang fungsional, stres yang membuat kita lebih maju*). Sayangnya kesadaran tentang ketidak-nyamanan sikut-sikutan tidaklah cukup. Kesadaran tinggal kesadaran, namun kelakuan masih tetap penuh dengan agresivitas, egoisme, dan mencari kemenangan sendiri. Siapa mereka itu? Ya kita, warga negara Indonesia sekarang ini.

Kembali ke laptop. Hubungan antara komen dan persepsi serta situasi hubungan sosial kita mesti dimaknai secara cerdas. Komen muncul berdasarkan persepsi. Persepsi orang berbeda. Persepsi yang berbeda itu diharmonikan agar kehidupan kita menjadi harmonis. Persuasi merupakan cara mengharmonikan yang cantik agar orang tidak dipermalukan. Ini kalau kedudukan orang-orang yang berinteraksi tidak setara, misalnya guru dan murid. Jika orang-orang setara mau menyelaraskan persepsi, maka perlu dialog, mungkin juga debat. Dialog bertujuan mengemukakan persepsi masing-masing yang diharapkan bermuara pada kesepakatan. Debat bertujuan memperjuangkan persepsi masing-masing pihak yang dilandasi dengan argumen rasional. Sayangnya untuk urusan debat kita masih kedodoran.

Debat di masyarakat kita sudah telanjur dikonotasikan buruk, debat kusir. Maknanya, perdebatan yang tidak akan mengarah pada solusi, melainkan okol-okolan, kuat-kuatan ngotot. Jadi senjata utama debat model ini adalah otot. Padahal debat yang baik bukan begitu. Debat yang baik mengedepankan argumentasi yang rasional, logis, dan manis. Jadi, debat yang baik akan berakhir pada pemilihan argumentasi yang rasional.

Kita semua perlu menyosialisasikan debat. Kata kaum konservatif, ”debat bukan budaya kita. Debat budaya asing yang merusak sendi-sendi sistem sosial kita. Berbahaya itu”, katanya sambil mengunyah spaghetti dan jari-jarinya lincah bermain di tuts-tuts communicatornya, yang notabene juga budaya asing. Lalu pendukung konservatisme itu mengeloyor ke bandara berangkat ke luar negeri untuk keperluan studi banding. Sebetulnya debat kita yang kebanyakan berakhir berantem jangan disimpulkan bahwa debat itu tabu. Namun karena kita tidak dibiasakan menghargai persepsi orang lain dengan cara yang rasional. Kita tidak pernah diberikan peluang untuk berlatih debat. Anak-anak kita dalam pola asuh rumah tangga Indonesia, dididik untuk manut apa kata orangtua. Kalau mereka membantah dianggap anak nakal atau tidak sopan. Tentu saja selalu ada perkecualian.

Jadi, apa yang mau saya katakan kali ini? Pelajarannya adalah persepsi orang wajib kita hargai sama halnya kita ingin orang lain menghargai persepsi kita. Jika ada persepsi yang salah, maka perlu dibenarkan dengan persuasi, dialog, dan perdebatan yang sehat. Kita mengaku sebagai makhluk mulia yang diciptakan Allah SWT. Oleh karena itu kita perlu mengedepankan anugerah Allah SWT yang berupa kemampuan berpikir dan berzikir.

Untuk mengakhiri tulisan ini (saya yang memulai maka saya yang mengakhiri pula), saya tambahkan puisi di bawah ini sebagai aksesoris. Seperti telah saya singgung di atas tentang persepsi. Puisi ini “nyambung” dengan debat ataukah tidak tergantung pada persepsi kita masing-masing. Dan, itu sah-sah saja. Begitu bukan? Entahlah…***

DEBAT (dengarlah pesan batinmu)

Api dengarlah sebagai api
bila bijak, ia akan menghangatkanmu
bukan senjata yang melumatmu
Air dengarlah sebagai air
bila rendah hati, ia akan menyegarkanmu
bukan menenggelamkanmu
Angin dengarlah sebagai angin
bila mengerti, ia akan mengantarmu
ke sarang kedamaian
tempat ksatria melepas rindu pada tambatan hati
dari pertempuran yang mengoyak nurani

Api, air, angin
dengarlah satu demi satu
lanjutkan perjalanan kepada batu
pijakan di antara alun sungai berkedalaman
tenggelam atau lolos
hanya nuranimu yang mampu
,,,,,,,,,,

70 responses to “REFLEKSI: Persepsi Dapat Berbeda

  1. menarik juga tulisan antara persepsi dan komentar di blog…saya baru menyadari, kadang kita membaca tulisan, lalu membran-membran sel kita bergerak menyundul memory yang kita punya, menghubungkan tulisan yang kita baca dengan kejadian-kejadian dalam hidup kita.

    aku sendiri, kerap mencatat quote2 tulisan orang yang menurut persepsiku mantab…dan hampir semua quote itu berkaitan dengan pengalaman hidup….

    Hejis: wah mbak rajin benar rupanya. Tapi hasilnya sepadan deh. Quote2 itu sering tercecer dan dianggap angin lalu oleh orang lain. Padahal banyak yang bagus ya mbak.

  2. lha, trnyata kakak kelasku toh..
    maafkanlah mahasiswa kurang gaul ini sampe ga tau hehehe…

    ttg debat kusir bener banget mas,
    sering banget aku nemuin blog yang komennya malah jadi ajang debat tapi ga da habisnya. sampe setaunan juga dijabanin sama mereka..
    contohnya yang ini : http://bluefooz.wordpress.com/2007/08/25/10-kota-terbesar-di-indonesia/

    akut yang satu itu mah haha..

    Hejis: gak kurang gaul koq, mbak Mei (eh mungkin kita sama bulan kelahirannya ya, saya 9 Mei). Saya dulu kulh di Sekeloa (Dipati ukur).
    Setelah saya kunjungi blog perdebatan panjang itu, mbak Mei benar. Panjaaaang banget debatnya sampai berbulan2. Hasilnya? Gak banyak. Salam hangat dan jangan segan kemari lagi.😀

  3. Aku pernah mendengar ucapan seseorang, bahwa debat itu akan membuat diri kita menjadi lemah.

    Hejis; terus terang saya baru mendengarnya sekarang, mas Edi sehingga belum mengetahui argumentasinya, mengapa debat membuat kita menjadi lemah. Menurut saya, debat justru mendorong kita untuk memelajari topik yang diperdebatkan sehingga argumentasi yang kita bangun menjadi semakin kuat. Mungkin debat menjadikan kita lemah kalau kita benar-benar tidak menguasai argumentasi kita sendiri sehingga orang lain mudah mematahkan argumentasi kita itu.
    Dalam lingkungan yang menghargai ilmu pengetahuan, perdebatan menjadi semacam aktivitas wajib untuk menguji “kebenaran” ilmiah. Tanpa perdebatan akan memunculkan dogma-dogma yang tidak jelas kebenarannya, misalnya mitos-mitos dalam seluruh sendi kehidupan.

  4. ^_^ Ingat pengalaman peribadi… Dulu saya adalah penggemar debat. Waktu SMU dulu, saya melakukan debat terbuka dengan salah seorang teman terbaik saya dalam hal… yah… sepele sebenarnya…

    Debat soal wewenang antara ‘Kepengurusan OSIS’ dengan ‘Ketua Kelas’. Beliau, sobat saya yang kebetulan ‘Ketua Kelas’ menganggap kasta mereka lebih tinggi dan berhak memberikan masukan (baca:menyetir) kepada OSIS untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan tertentu yang menyangkut kegiatan kesiswaan.

    Kami, dari OSIS, beranggapan… kami adalah orang – orang yang telah dipercayakan oleh seluruh siswa untuk mengurusi semua hal yang berkenaan dengan kegiatan kesiswaan… sesuai dengan bidang yang kami masing – masing bawahi…

    Kami berdebat, menyampaikan argumentasi – argumentasi yang -menurut kami- rasional, sampai akhirnya… menurut kepala Sekolah kami waktu itu… Kami (saya) lah yang menang…

    Hmm… menang! wow… apakah saya bangga dengan kemenangan itu??? Ternyata tidak… jiwa saya malahan kosong… tidak ada yang saya menangkan. Saya justru merasa kalah, karena sobat terbaik saya itu mulai agak menjauh dari saya… Saya justru merasa kalah… karena hal ini

    Akhirnya saya sadar… menurut saya sih… bener – bener nggak ada manfaat yang bisa diambil dari ‘perdebatan’, baik untuk yang menang… apalagi yang kalah… jadi… saya lebih memilih… musyawarah untuk mufakat deh… ya… sekali – kali deh merasa jadi Bangsa Indonesia yang mengedapankan Musyawarah untuk mufakat…

    (Termasuk musyawarah mufakat untuk bagi – bagi aliran dana BI ya… ha ha…)

    Hejis: Betul sekali mas Rizal, itulah hasil perdebatan dalam masyarakat kita, yang didapat “permusuhan”, atau ketidak-nyamanan. Terlebih bila rasio tidak jalan. Tetapi kita perlu belajar dari negara-negara maju, entah itu Jepang, Korea, AS, dsb. Konon di negara2 itu debat malah dikonteskan. Lha kita berdebat tetapi tidak menggunakan aturan main. Jadinya berantem. Sejak kecil mestinya telah diajari tentang debat ini. Debat merupakan pengalihan naluri menyerang terhadap fisik menjadi perang argumentasi yang dilandasi etika perdebatan. Dalam banyak hal musyawarah untuk mufakat perlu, misalnya interaksi sosial paguyuban. Tetapi untuk urusan kepentingan umum praktiknya menjadi berakibat seperti sekarang ini. Memang debat itu sendiri perlu ditemani faktor2 lain yang tak terpisahkan, yakni aturan main. Lha kita ini terkenal tidak suka dengan aturan main. Jadinya main pokrol bambu. Bras-bres, bras-bres, urusan belakangan. Hihihiy….:mrgreen:

  5. Lha… padahal topiknya… membaca komen di BLOG ya… kok malah membahas soal debat…
    Ha ha…

    Hejis: hihiy… jangan bongkar rahasia, mas Rizal. Nanti yang lain protes, mendebat, dan meradang…. Tenang aja, kita bicara suka-suka, mumpung lagi mau…😀

  6. Kembali kepada induvidu orangnya masing-masing,mas.
    Belum berdebat saja sdh mengancam dulu,gimana mau menghasilkan sebuah solusi yg terbaik.

    **

    Dan,membaca komen di blog itu salah satu yg sy suka,mas.
    hahahaha……

    Hejis: Iya, mas. Maksud saya sejak kecil di keluarga, sekolah, di tempat bermain biasanya anak2 bertengkar. Lalu orangtua mengarahkan, kalau mengemukakan pendapat atau memperjuangkan kepentingan ini caranya begini, begini yang boleh. Yang tidak boleh jangan begini, begitu. Jadi mereka terbiasa dengan konflik yang sehat. Kita mana pernah diajari seperti itu ya mas.

    Iya, saya juga suka baca-baca komen termasuk di blog-blog orang lain… he..he…:mrgreen:

  7. sepakat banget, mas hejis. apa pun penafsiran teman2 lewat komentar di blog kita, mereka sudah beriktikad baik utk menjalin siaturahmi. misalnya saja ada yang tidak sependapat, itu hal yang wajar, bahkan makin memacu kita utk terus belajar dan belajar.

    Hejis: Saya juga sependapat dengan pak Sawali. Di dunia blogging kita juga mencari sahabat, silaturahmi, dan perdamaian. Kita semua masih perlu belajar, ya pak. Terima kasih lho komennya😀

  8. bener juga bapk ini kan juga psikolog!!!kita satu aliran ni pak!!! baiklah guru!! terima lah saya menjadi muridmu…(agar bisa dekat dengan kakanda) hueheuehuehuehe

    Hejis: Wuik, satu aliran? Kalau nyetrum gimana hayo? Baiklah kuterima dengan seratus syarat. Pertama, pergilah ke selatan. Jangan menoleh sampai ketemu dengan pendekar bermata merah berjanggut putih, berpedang sakti kilat naga. Kalahkan dia ya, nduk… Kalau berhasil cepat kembali, nanti tak kasih hadiah kakanda😀

  9. saya lebih menilai komentar orang lain adalah silaturahmi dan merupakan koreksi juga dalam hidup saya beda pendapat adalah hal yang wajar asalkan tetap dialogis
    salam hormat salam kangen salam sukses selalu dan terima kasih tetap saya tunggu komentarnya hahahaha

    Hejis: setuju 100 persen, gak kurang, gak lebih. iya saya juga salam hormat salam kangen salam sukses selalu… hihihiy… terima kasih nanti dikomentari lagi:mrgreen:

  10. Ya ya. Sampeyan itu jeli amat dan analitik. Komen memang bisa mengudak-aduk pikiran dan rasa, tergantung isi dan konsinya. Eit … tulis-tulis, komennya contohnya kog ngaka da ya. Pasti deh lebih seru kalau ditampilkan.

    Hejis: terima kasih, Uda. Iya, kayaknya lucu ya kalau komennya disertakan.

  11. Iya Pak, bener banget..
    membaca koment di blog asyik banget, kadang bisa bikin kita tertawa..

    Trus debatnya gimana?

    kita berdebat ja yuk..

    Hejis: ya asyik, apalagi membaca komennya mbak Re.😀 Ajakan mbak Re untuk berdebat memunculkan inspirasi untuk membuat puisi tentang debat. Terima kasih ya mbak Re. Engkau menjadi sumber inspirasiku untuk saat ini. Baca ya di bagian akhir postingan “REFLEKSI” yang saya tambahkan setelah muncul komen dari mbak Re. Spesial! Baru!

  12. hahaha…😆
    bentar, ngomentarin pictnya boleh, keknya gk nyambung deh bang ama isinya, masa pictnya orang cool berkacamata gitu😆

    Hejis: iya, mbak. Saya juga hahaha… Pict itu dipasang karena 2 alasan: (1) refleksi terhadap peristiwa yang lalu. Ia pakai kacamata ternyata kacamatanya juga bisa digunakan untuk refleksi diri oleh orang lain; (2) saya ingin orang tahu, begitulah wajah saya kalau baru bangun tidur dan belum ke salon untuk di-make over …. hihihiy….:mrgreen:

  13. Wah bagus pak…

    Api, air, angin…
    Berhenti pada satu muara…
    ‘nurani’
    jika api telah menjadi
    berhentilah angin…
    sejenak tanpa berhembus
    biarlah air yang menghampiri…
    padamkan api…

    Maaf pak buang sampah sembarangan..

    Hejis: ah, mbak Re ini memang punya linguistic intelligence yang tinggi. Jadi kata apa pun bisa dipuisikan. Bagus, bagus!

  14. Kalau sie pribadi suka sama komen yang lucu lucu tapi gak keluar dari tema,pikiran jadi seger he he

    Kalau debat?
    Hmm..setuju sama mas hejis,sebaiknya pelajari dan kuasai benar materi debatnya agar hasilnya gak buat kita terlihat lemah..
    Kalaupun pada akhirnya kita diposisi yang kalah..
    Ya harus terima dengan lapang dada..
    Jadikan sebagai pengalaman yang menyenangkan..

    Tapi terkadang dalam perdebatan orang suka pake segala cara biar bisa menang..
    Contohnya pengacara yang berdebat dipersidangan,yang salah bisa jadi benar dan yang benar bisa jadi salah..intinya terletak pada nurani untuk bisa melihat mana benar dan salah kan?

    Tapi sayangnya ,nurani kadang bisa dibeli

    Mohon Maaf sie gak bermaksud mendiskreditkan atau melecehkan profesi pengacara. Sekali lagi maafkan manusia bodoh ini hikz hikz hikz
    *nyambung gak sama topiknya?*

    Hejis: ya, beberapa pengacara sepertinya begitu. Kalau mereka berdebat gak pernah ada yang mau mengalah. Di pengadilan, terdakwa yang jelas2 bersalah dibela membabi buta. Pembelaan kan bisa dengan minta keringanan hukuman, kalau jelas2 bersalah. Ini tidak, malah banding, kasasi, herziening (peninjauan kembali) sampai berkali2. Lalu di antara mereka ada yang bilang, semua pengacara penegak hukum (❓ )
    Nyambung gak nyambung, pokoknya komen… hehehe. Suka2 kita dong ya, mbak Sie? Entahlah…

  15. Maaf, balik lagi..
    Kaki saya ketuker..eh sendal saya maksudnya..hi hi.. Maturnuwun mas hejis..^^v

    Hejis: …hihihiy… pantesan tadi di kolong meja ada kaki. Kirain kaki si pussy:mrgreen:

  16. hmm…………aku tak panjang kata .hanya mengucap KEREN dan enak aza di bacanya

    salam hangat selalu

    selamat menikmati akhir pekan ya,bang

    Hejis: syukurlah saudaraku, jika engkau menikmatinya. Selamat akhir pekan juga, mas Blue.

  17. Melihat blog kita banyak yg komen rasa ny gimana Gituh..
    Komen membuat semangat kita terus berkobar. Macem2 gaya komen ny.
    Klo masalah debat, bener tuh budaya kita membiasakan kita untuk manut. Para ortu jaman kucing makan batu *emang ada* akan merasa akan tersinggung bila anakny membalas perkataanny. *sama anak aja ga mau kalah, apalagi dg org lain!* smoga kita mampu menjadi org dpt menghargai dan menghormati pendapat org lain. Jika qt memang salah maka akuilah ksalahan itu.
    Buat mas, salam kenal ya.

    Hejis: Benul. Di masyarakat kita memang paternalistik. Diperlukan masyarakat yang menghargai kesederajatan. Salam kenal kembali, mas Agung.😀

  18. wakakakaka,,,

    ngomen-ngomen gni emang pling enak……..

    Hejis: betul. Selamat datang ya😀

  19. berdebat itu emang manstab…

    Hejis: begitulah, kiranya …🙂

  20. Asal debatnya ngak ngelantur keomongan lain…

    Debat kadang malah jadi teropong untuk kita mengetahui masalah sebenarnya
    Debat juga bisa sebagai pisau yang mampu membelah dua ikatan jika tak debat tak ditemukan titik temu
    Debat juga bisa menjadi cahaya baru,karena menghasilkan argument dan jawaban sesungguhnya yang kita cari
    Berkepala dingin,mau mendengar,setelah mengerti baru saling membuka suara
    Aku yakin debat akan berguna dan menghasilkan suatu yang bermakna

    Belum sanggup nih berdebat secara profesional dengan pemilik blog ini!

    Hanya bisa memberi koment-koment ringan sambil minum dan makan ilmu dan pengetahuan yang disaji.

    Salam…

    Hejis: akur mbak Lina, 100 persen. Itulah yang saya sebutkan sebagai aturan debat. Kalau kita tidak belajar berdebat, maka kita akan berdebat asal ngotot. Pasti akan datang saat orang sulit menghindari perdebatan dalam hidupnya. Lha kalau tidak dibiasakan sejak kecil, bisa2 berantem.
    Ah, mbak Lin bisa aja. Komen2 mbak Lin di sini pun sudah profesional lho. Salam hangat, mbak.😀

  21. iya apalagi komennya yang nyambung dengan apa yang kita tulis! tapi sebel juga sama komen yang nyepam2 gitu

    Hejis: … dan komen menjadi bagian dari aktivitas blogging kita ya mas. Selamat datang, mas Ciput.

  22. Halo Pak,

    Mengenai komentar yah, ok saya ikut nimbrung Pak yah, tapi saya sedikit mengkhusus komentar di masyarakat perBlogan.

    Komentar bagi saya adalah bagian dari etika, karena sebuah Blog adalah pribadi dari penulisnya.

    Blog memuat cara berfikir, pengungkapan perasaan, pengalaman, pengetahuan yang hampir sebagian besar adalah sesuatu yang free alias gratis untuk di konsumsi bagi si pengunjung Blog.

    Nah, jangan sampai kita para Bloger menjadi seperti tidak pernah makan bangku sekolahan, masuk ke Blog orang trus baca, kalo tulisannya dirasa cocok maka si pengunjung manggut-manggut trus ngeluyur pergi ato kalo merasa bersebrangan dengan si empunya Blog malah kadang menggumam, sok tau lah, bodo amat dan sebangsatnya.

    Saya yakin anda, saya dan kawan Bloger lainnya pasti berusaha jujur dengan tulisannya di Blog masing-masing, apakah cuma sebaris kata untuk mengungkapkan perasaannya pada saat itu atau suatu tulisan yang berbobot seperti Pak empunya Blog ini. Nah, ini yang harus disadari pengunjung Blog, jangan menjadi tidak tahu sopan santun. Blogwalking seenak perutnya, tanpa meninggalkan sepeser komentar, mengapa sepeser? karena komentar mirip seperti uang bagi saya.

    Jadi, jangan salah dan berfikir simple mengenai kebiasaan Blogwalking tanpa komentar, karena masih ada orang-orang seperti empunya Blog ini dan saya (hanya sedikit saja) masih bisa melihat suatu nilai dari sepeser komentar.

    Sekian Pak Hejis, menarik tulisannya.

    Hejis: Halo juga, mas Sige. Menurut mas Sige komen bagian dari etika. Ini juga persepsi yang patut dihargai. Ungkapan mas Sige saya teruskan kepada teman2 yang mungkin perlu merenungkannya. Dunia perblogan juga merupakan dunia pergaulan yang memiliki mekanisme untuk menjalankannya.
    Terima kasih dan salam hangat, mas Sige

  23. Komentar adalah apresiasi yang dibangun atas persepsi terhadap apa yang dikomentari.

    Debat dari debate (bhs Inggris), kosa kata adaptasi yang mencerminkan sebuah tindakan verbal yang memang lazim di tempat asal kata tersebut sesuai dengan budayanya, namun tidak dalam budaya kita.

    Untuk mencari titik temu atas dua persepsi yang berbeda, dalam budaya kita lebih memilih cara musyawarah, bukan debat.

    Debat lebih untuk melakukan pertarungan gagasan dengan sejumlah argumentasi yang digunakan untuk memenangkannya. Ada yang menang, dan ada yang kalah. Win-lose solutions.

    Yang ironis, debat yang muncul karena hanya asal ingin kelihatan berbeda. Yang penting beda….

    Sedang musyawarah lebih berorientasi pada bagaimana mengkompromikan gagasan untuk mendapatkan gagasan yang lebih baik untuk semua, win-win solutions.

    Ini bukan soal konservatif atau modern, juga bukan soal pilihan makanan dan teknologi. Tapi secara substantif pada pijakan nilai-nilai budaya yang menyertai kesadaran untuk melakukan pilihan cara dan alat.

    Budaya kita…, Indonesia…

    Tabik….

    Hejis: Terima kasih, mas Mahendra. Saya tambah pengalaman.

    Debat awalnya budaya Barat, memang. Sama seperti budaya demokrasi, sebagian besar kultur ilmiah, dll. juga berasal dari kultur Barat. Lhah, kalau debat tidak cocok dengan budaya Indonesia, lalu bagaimana dengan kultur ilmiah apakah tidak cocok juga? Di dalam kultur ilmiah debat semacam kewajiban agar dapat diketahui keabsahan teori atau ilmu melalui adu argumentasi dari para pakar.

    Dalam “teori” atau kultur kita musyawarah untuk mufakat memang bagus, tetapi dalam praktik ini sering menjadi hegemoni kekuatan tertentu. Belum lagi budaya paternalistik, misalnya budaya ewuh-pakewuh, akan menghegemoni pihak2 yang lemah, muda, baru (lihatlah perilaku politik sebagian besar partai2 kita). Akibatnya, mufakatnya menjadi semu tidak substansial.

    Dalam praktik kehidupan, kita hampir tidak mungkin menghindarkan perdebatan. Mengapa? Kita dianugerahi karakteristik subjektif yang secara rasional maupun naluri ingin kita pertahankan.

    Hampir semua tokoh kemerdekaan Indonesia pernah melakukan perdebatan terbuka, baik dalam forum formal, maupun informal. Seringkali hasil perdebatan mereka merupakan buah pikiran yang brilian dan matang, karena telah melalui proses argumentasi. Mereka tidak menafikan debat.

    Debat menjadi “dirasa kurang cocok untuk Indonesia” karena orang2 yang berdebat tidak mengetahui hakikat dan tatakrama berdebat, sehingga sering berakhir win-lose situation yang memalukan. Win-lose situation itu nyata tidak perlu selalu diidentikkan dengan kenistaan bagi yang kalah. Justru bagi yang kalah, kekalahan menjadi bahan pelajaran untuk memperbaiki diri. Orang perlu diajak untuk gentleman, ksatria. Kalau memang pendapatnya lemah, tidak berdasar, dan tidak argumentatif-rasional ya harus mengalah. Mengalah lebih terhormat daripada pura2 mengalah tetapi melawan di belakang seperti dalam konteks musyawarah untuk mufakat yang semu (banyak sekali contohnya). Sebenarnya dalam debat juga dikenal win-win situation (ini kan istilah dari Barat juga) kalau dilakukan dengan tatakrama itu tadi.

    Yang saya maksud konservatif adalah perilaku yang ingin mempertahankan status quo, bukan partai konservatif.

    Kita sekarang sulit sekali mengklaim ini budaya Indonesia, itu bukan. Ini yang cocok untuk orang Indonesia, yang itu tidak cocok karena budaya merembes ke mana2 (globalisasi). Contoh: kalau kita ingin mempertahankan budaya Indonesia, kenapa kita mengadopsi demokrasi? Budaya asli Indonesia tidak mengenal sistem demokrasi, seperti yang sekarang digunakan Indonesia. Pergaulan internasional menyebabkan kita mengadopsi demokrasi dan banyak elemen substantif di dalamnya, antara lain debat. Debat menjadi salah satu unsur demokrasi. Kalau debat tidak ada, ya tidak ada demokrasi. Musyawarah? Bagaimana kalau deadlock? Di sini terjadi win-lose situation. Orang yang kalah di Indonesia selalu dipandang memalukan. Malu dalam konteks ini tidak pada tempatnya. Orang yang kalah setelah berjuang tidak perlu malu atau dipermalukan. Sering juga di sebagian anggota masyarakat kita, kemenangan menjadi alat untuk jumawa sehingga lupa diri dan bahkan mempermalukan yang kalah. Memenangkan sesuatu adalah segala2nya.

    Musyawarah untuk mufakat bukannya tidak baik. Untuk urusan2 yang berkonsekuensi afektif memang perlu musyawarah (misalnya menjalin hubungan kekeluargaan), tetapi untuk urusan2 yang memerlukan kognisi-rasional perlu perdebatan argumentatif.
    Di dalam debat tidak harus segala sesuatunya berakhir dengan persetujuan, tidak seperti musyawarah untuk mufakat yang mestinya berakhir dengan persetujuan (mufakat).

    Jadi berpanjang2 ya. Begitulah kalau kita dibolehkan berdebat. Kalau urusan ini kita atasi dengan musyawarah bisa2 saja namun belum tentu memunculkan argumentasi yang tajam dari mas Mahendra.

    Salam hangat.

  24. sepakat mas…… blog seseorang mencerminkan karakter pembuatnya….. misalnya blog-q yang lucu dan imut yahhh pastilahhh selucu n se-imut orangnya…*narsis mode on*

    Hejis: kita tos, tos, tos… Iya, ya sampeyan mbak, imuuuuuttt banget. Suwer lho. Ya blognya, ya yg punya, ya tulisannya. Salam ya mbak😀

  25. hmmm…pak dah ngerjain PR belum???

    Hejis: ya ini sedang ngerjain yang nomor 1a, susah banget. sudah seminggu gak kelar2…😀

  26. Ya ALLAH jadikan pemilik blog ini manusia pilihanMU yang berkeyakinan bahwa bumiMU yang terhampar luas adalah masjid baginya, kantornya adalah musholahnya, meja kerjanya adalah sajadah,

    Kemudian fungsikan setiap tatapan matanya penuh rahmat dan kasih sayang sebagai refleksi dari penglihatanMU, jadikan pikirannya husnuzhan, tarikan napasnya tasbih, gerak hatinya sebagai doa, bicaranya bernilai dakwah, diamnya full zikir, gerak tangannya berbuat sedekah, langkah kakinya jihad fi sabillillah.

    Selamat hari raya IDUL ADHA …

    RINDU a.k.a ADE

    Hejis: Allahuma amien. Terima kasih mbak Rindu. Semoga Allah SWT juga memberikan rahmat kepada mbak Rindu senantiasa. Selamat hari raya Idul Adha.

  27. borneojarjua2008

    Banyak hal yang terkadang tak terperhatikan, terpikirkan, dianggap kecil, terabaikan … tapi sebenarnya sangat menarik dan dapat memberikan suatu hikmah yang sangat berarti.

    Hejis: betul, mas. Mungkin kita jangan menyepelekan yg dianggap kecil ya mas. Terima kasih.😀

  28. duhh bang, ngomen ngomen kadang melelahkan. cape. mata perih. tp kadang pas lg baca komen masuk, ada yg lucu, jd ga sia2 deh ngomen ngomen..
    btw, itu foto saya ya….kerennn…pengen pinjam kacamatanya

    ya, kadang2 melelahkan seperti yg sekrag saya lakukan ini, ngrapel karena agak lama gak respon komen teman2. Tp gak papa demi silaturrahim. Terima kasih kerennya. Silakan ambil aja, mbak, kacamatanya…. hihihiy… Salam hangat ya.🙂

  29. Met malam bang

    salam hanagt selalu

    Hejis: ya mas Blue terima kasih. Tapi, maaf baru respon skrg. Salam hangat juga yah

  30. Itulah salah satu alasan kenapa saya cinta dengan blog. Ada yang memberi adapula yang menerima.
    Kalau Bapak ke Jakarta kayaknya kita harus kopdar nih. Kuliah privat gitu hehehe…

    Salam kreatif!!

    Hejis: iya, kadang2 daya tarik di sini tak kalah seru. Mungkin itu kata kuncinya, “saling memberi”. Ya, ya insya Allah kalau ke Jakarta kita kopdar. Btw, kapan ke Mlg?

    Salam super kreatif yah!!

  31. memang benar karakter seseorang dapat dilihat dari tulisan2 di blognya dan soal debat……? engga ah….. lebih baik berbagi……😀

    Hejis: setuju, mas Han. Itu juga karakter ya. Boleh, silakan berbagi. Kita semua mesti berbagi ya

  32. puisinya keyen pak hejis.

    saya jadi ga mau mendebat disini.🙂
    se tu ju a ja deh.:mrgreen:

    Hejis: terima kasih ya dibilang keyen. Benul, kita tidak harus berdebat, saya juga setuju:mrgreen:

  33. Thanks Bro, sudah mampir di rumah baru saya, btw ini kalo ngomongin si komeng, saya masih aja merasa lucu karena pernah ada orang yang oon alias bloody idiot, dia ngasih koment yang asal dan bertolak belakang dengan postingan Yang punya blog, yang punya blog akhirnya berteriak dengan huruf kapitalnya. dia bilang gini ” Ngasih koment asal banget si loe! makanya Baca dulu, Baca donk Bacaaaaaaaaaa” nah sejak tahu ekspresi temen saya yang satu itu tuh. saya kadang nyengir kayak kuda nil hik hik.

    Hejis: Ya kadang2 kita suka kelepasan kalau memberikan komeng, so kalau dibaca ulang jadi nyesel. Komen kan bahasa tulis yang pengaruhnya sering lebih tajam daripada bahasa lisan, makanya orang mesti hati2 walaupun itu kebebasan ya pak De. Semoga saja kita bisa menjaga perasaan yang dikomentari blognya dengan komen yang telah dipertimbangkan lebih dulu sebelum dituliskan. Begitu pak De? Thank’s for coming. Congrat for U’r new web, what a nice web…😀

  34. soal komentar di blog bagi beberapa blogger memang menjadi satu hal yang selalu dinanti… hehehe..
    terlepas dari komentar itu serius atau engga, nyambung atau engga, lucu atau garing… hihihi..

    yang pasti saya setuju, kalo membaca blog kemudian berkomentar adalah sarana menjalin silaturahmi…🙂

    ya ga pak…?😆

    tentang puisi ‘debat’ nya… hmm…

    “api, air, angin
    dengarlah satu demi satu..”

    ok juga.. 🙂

    saya senangnya sama mbak Yu2n adalah senantiasa bijak dalam menyikapi orang lain. Terima kasih ya. Salam hangat.🙂

  35. ya ampyuun.. saya ampe ketinggalan sm postingan yg ini..pantesan..padahal saya td mw komentar “apa2an ini? baru dirilis ko yg komen udah banyak😀 ” ternyata udah dari kemaren2 ya mas? hihihi…mangaaap eh maaaappp!!😀
    tar dulu, sy mw baca lg biar bs ikutan berdebat😀

    Hejis: mba’e ini gimana seh. Pan kemaren sudah dikasih undangan untuk berdebat?? Koq baru datang! benciii… benciii… *tangannya malang kerik*

  36. mase, tulisannya berat sekali saya ampe ga kuwat njinjing, mw tak pikul aja😀
    api, air dan angin..jd inget kartun avatar the legend of aang😀
    mmg bener mas, pola parenting orang indonesia itu beda sm yg diluar..sbg contoh anak2 bule anaknya dosen saya dulu itu, yg kebetulan dosen Texas University, itu anak2nya agresif, kritis dan aktif. jd apa aja bs jadi bahan..bwt njahit, masak dan bercocok tanam *nah ini saya yg ngaco haha*
    kebanyakan sih kita2 pada takut berdebat krn kecantol sm terma moralitas, sopan santun, tata krama dan lain sebagainya..dan lebihnya karena takut perdebatan itu malah berujung dengan maut😀 dan kadang kita lebih banyak ngototnya dari pada mikir isi perdebatan kita itu hahaha
    berdebat itu jg penting, kita perlu mengutarakan isi hati,pikiran, inspirasi dan apa2 yg ada dipikiran kita secara smart, dewasa dan sportif. tp berdebatnya yg elegan..bukan yg berdebat pake golok ato parang😀
    halah… ko kayaknya jd melenceng gini komen saya ya mas hehehe MERDEKAAA!

    Hejis: lah ini, Tukul dibawa2… hihiy.. Menurut saya kalau kita berdebat dengan “CARA” yang cantik justru menjadi added value kita lho, mba’e. Kita tidak terpancing menjadi emosional dan temperamental, shg org menghargai omongan kita yang memiliki dasar logika yang masuk akal. Kadang2 debat dimaknai juga sebagai adu argumentasi yang HARUS NGOTOT, harus BERSUARA KERAS, harus MENYERANG pribadi orang lain supaya menang. Padahal kita bisa berdebat tidak dengan cara-cara seperti itu dan kita bisa mengambil hati siapa pun. … Embuh wiss, MERDEKAAA!

  37. Mampir lagi..
    Nganterin daging kurban xixixi..

    Mudah mudahan sehat terus ya🙂

    Hejis: pintu selalu terbuka buat mampir.
    Lhah! Cuma segitu?? Ya deh makasih daging kambingnya walaupun cuma satu tusuk aja… hihiy..
    Mbak Sie juga ya, jaga kesehatan.

  38. Keren-keren….
    foto siapa nih bang…?

    Hejis: syukurlah, mas Tuyi. Itu foto saya kalau baru bangun tidur dan belum dimake over… huahuahaa…:mrgreen:

  39. (* sik..sik..kok semua panggil bang…ndak papa ya diajeng panggil akang….hayah diajeng….)
    hm…gimana ya..nek comment kita kadang di “persepsi”-kan lain sama yg punya postingan…?

    Hejis: ndak papa kok diajeng manggil apa saja. Mestinya sebelum dipersepsi dicermati dulu ya agar tidak salah persepsi. Kalau mengarah yang merugikan mungkin perlu diklarifikasi dengan memberikan komen lagi. Setuju Diajeng? *manggut2*

  40. ka ada persepsi yang salah, maka perlu dibenarkan dengan persuasi, dialog, dan perdebatan yang sehat.

    Wajadhilhum billati hiya ahsan bantahlah dengan bantahan yang paling baik… begitu bahasa qu’ran-nya…

    halah malah ceramah🙂

    Pak tanggal 14/12 jadi ke Pasuruankah?

    Hejis: Nah dapat landasannya yang kokoh nih.
    Insya Allah mas Heri, jadi ke Pasuruan. Nanti saya kontak, tenkyu😀

  41. Aku juga mau koment biar dibaca, hehehehehe

    Hejis: ya, sudah saya baca mas … hihihiy…

  42. Ya, komen juga merupakan marketing tools blog yang maknyus.. Hehe

    Yang jelas betul sekali, kalau mau debat harus tahu arah dan tujuannya: mau nyari solusi masalah atau malah nambah2i masalah. Sepertinya itu yang menjadi logika awal debat. Tapi berhubung dian diam,jadi lagi gak mau debat. Hehe… +Kunjungan balik. Terimakasih sudah s4 parkir di parkiran saia+

    Hejis: marketing mixed juga mungkin ya…hihihiy…benul, kalau mau debat gak boleh diem. Terima kasih ya

  43. Kalau ada komentar yang beda pendapat saya kira itu wajar. Kita anggap aja komentar yang tidak sependapat itu sebuah kritikan yang membuat kita belajar untuk menjadi lebih baik lagi.

    Hejis: benar, mas. Orang boleh menanggapi seperti apa pun atas komen orang lain. Kalau saya mengambil jalan seperti mas Edi, dijadikan pelajaran agar kita menjadi lebih baik lagi. Thank’s mas n salam hangat.

  44. He he he pagi-pagi buka blog, ada komen Mas Hejis….he he he nambah info saya tentang Becker dengan teorinya. Lalu saya buka juga Blog Mas Hejis…warakadah ada posting terbaru tentang komen di blog, tentang debat…isinya debat…tapi kemasannya itu lho…..enak di baca, enteng di kepala…jadinya saya yang lagi flu lumayan ringan.
    Kebetulan saya kemarin memandu anak-anak diskusi kelas tentang “Membawa konflik selebritis ke Ruang Publik” yang intinya debat para selebritis tentang urusan pereceraianya, selingkuhanya, atau rebutan anak. Saya pikir selebritis kita juga pandai berdebat….ngak jauh beda kemampuanya dengan anggota dewan atau eksekutif. Jangan-jangan bener hipotesis teman saya bahwa “makin tinggi konsumsi karbohidrat, makin tinggi tingkat emosinya” ha ha ha ngawur..apa hubnganya emosi dengan debat ya….atau memang selebritis makan karbohidratnya terlalu banyak ya….heh he tambah puyang…salam juga Mas dari Bandung.

    Hejis: terima kasih kang, tapi cuma kemasannya doang yah.. isinya sih belum tentu:mrgreen:
    Nah, ada yang menarik di situ, karbohidrat berkorelasi dengan tingginya emosi… Mungkin begitu ya…hehe….
    Salam hangat dan semoga cepet sehat kembali.🙂

  45. hmmm, comment di blog yah??? emang bener sih itu refleksi buat para bloger, bangga ajah kalo dapet comment dari hasil postingan yang kita buat. tapi kalo ujung2nya malah jadi pada debat,,, ihhhhh takuttttt😀

    salam kenal juga mas, thanx udah mampir ke blog nya lee🙂

    Hejis: komen semacam vitamin ya mbak Lee. Ah gak papa jadi bahan perdebatan, asal masing2 sportif malah membuat kecerdasan dan pengetahuan kita lebih tajam dan bertambah. Salam hangat yah…😀

  46. Komen, saya seneng komen yang seger palagi pas haus-haus…hi..hi..hi…campur es tambah seger lagi..

    Hejis: Saya juga seneng komen yang seger, mbak Is. Apalagi bacanya di dalam kulkas, tambah suegerrr dan mak nyusss! He..he..

  47. hmm….setuju Pak Hejis. Dengan membaca comment2 yang ada di satu artikel membuka pandangan kita ttng artikel tersebut. Yah meski harus korban mata kalau membaca artikel yang commentnya buaaaannyyyaaakkk kaya gini hihihi.upss…jangan2 habis ini saya harus ganti kaca mata karena minus saya tambah hihihi…

    Masalah debat, saya juga setuju dengan Pak Hejis, yang penting kita harus benar2 paham dan kuat dalam argument kita terlepas menang atau kalah. Yang penting kita berargumen dan mempertahankan argumen tersebut.

    Setuju juga, kalau debat diajarkan kepada anak-anak. Uhmm…mungkin juga bisa dimasukkan ke kurikulum hehehe….tapi saat Yaya SMU dulu ada lomba debat, tapi dalam bhs Inggris yah meski kalah yang penting ada pengalaman. Latihannya di kelas, pakai bhs Indonesia dulu berargumen tanpa emosi dan harus kuat dalam mempertahankan argumen t ersebut. Benar atau salah penonton lah yang menilai. Bertahan dalam argumen bukan berarti memaksa orang lain untuk berargumen yang sama lho…

    Waahh…puisinya keren pak🙂

    Panjang banget ya Pak, pamit dulu dech…..🙂

    Oya…selamat Idhul Adha Pak…
    *pamit lagi*

    Hejis: senengnya hatiku. Cahayaku, hatiku datang. Cahaya tugasnya ya menerangi kegelapan, seperti kegelapan kita tentang dunia perdebatan, seperti komen mbak Yaya ini. Idenya bagus, pengalamannya bagus. Mau apa lagi? Tentang puisi. Kalau bagus ambil ajah, gak papa… hihiy… Terima kasih ya. Salam hangat dan selamat Idul Adha juga.😀

  48. Persepsi itu wajar, namanya juga beda isi pikiran ya, Mas Hejis…
    Cuman cara penyampaian perbedaan persepsinya yang musti hati-hati, karena di budaya kita, penyampaiannya seperti mengundang debat yang berkepanjangan tanpa solusi dan masyarakat kita (okay, saya deh.. hehehe) masih belum terlampau pandai untuk memilah-milah perasaan: apakah harus merasa marah atau malah senang karena ada yang peduli…

    Tapi satu hal yang pasti..
    komentar yang hadir di setiap post yang saya tulis telah memberikan energi buat saya untuk terus menulis dan menulis..

    That’s how we communicate with each other…🙂

    Salam saya..

    Hejis: Ya, ya Jeung saya dapat poinnya: hati2, mendapat solusi untuk debat. Bagus neh.
    Seperti halnya orang berkomunikasi, komen juga merupakan umpan balik yang menambah energi. Saya sependapat denganmu Jeung. Apa sih yang saya tidak setuju dengan Jeung? Hihiy… Kayaknya satu yang gak setuju, kenapa gak mencalonkan caleg!
    Yes, right. How to communicate, itu yang penting terlebih lagi di budaya yang “halus” (sensi?) seperti di masyarakat kita. Salam hangat ya Jeung.

  49. aku lumayan sering dapat ide dr baca komen2 di blogku😛

    Hejis: Betul, begitu. Bahkan kalau saya sering mendapatkan inspirasi dari komen2. Selamat datang ya mbak Ely. Salam hangat.😀

  50. dgn adanya komen, berarti postingan kita diterima oleh komentator.
    & yang pasti mereka kasih respon apa yg kita tulis.
    makin byk komen makin byk ilmu yg kita dpt.

    salam kenal juga ya….:)

    Hejis: selamat datang, mas Anas. Saya sepakat bahwa kita kian banyak ilmu dari banyaknya komen karena mereka berasal dari berbagai latar belakang. Salam hangat mas…😀

  51. hehehe…
    yg koment di sini panjang2 semua…berhubung tidak baik terlalu panjang karena bikin boros tempat dan bkn capek jari/angan scroll k bwh, maka sy hanya akan berkomentar pendek…tp bukan brrt sy org yg pendek akal, pendek fisik..well
    bg bc postingan ini, banyak banget akronim2 aneh y? Hehe, tp aQ setuju dgn LJ, tergantung individunya aj, tp kdg, ada lho koment yg g nyambung sm postingan Qta..itu karena sdh pasti, g bc baik2 postingan Qta..hehe…g bs disalahkan, coz blog walking ntuh banyak menguran energi, jd untuk setiap blog 1 postingan panjang, bs mampus..hehe…stop, udah agak kepanjangan komentQ..hehe..niatnya td m pendek2 aj..
    makasih blogQ udah di link, link baliknya pasti segera di laksanakan.. yuhuuu

    Hejis: Bagus! …hihihiy…:mrgreen:

  52. oh ya, lupa…LJ tuch Langit Jiwa y..hehe

    Hejis: gak papa, entar diteruskan ke LJ…😀

  53. Dalem banget.. saya masih harus banyak belajar ni ma pak Heru..

    Hejis: waduh kedatangan tamu spesial nih. Sedalem sumur ya… hihiy… saya banyak belajar koq dari blognya mbak Kis. Btw, hyperlinknya kok gak dipasang? Itu di Users, terus di my profile, terus diisi url-nya. Maaf kalau mbak Kis rasanya lebih tahu.

  54. api, air, angin. elemen tanahnya mana? ngambek ntar avatar..:mrgreen:

    Hejis: hehe.. tanahnya sekarang mahal mas Deni. Sekarung Rp 10 rb…:mrgreen:

  55. halah sampe lupa, ttg persepsi ya. ini aja deh:
    cantigi #07
    saat dua hal kontradiktif bertemu dan berbenturan untuk sebuah konklusi mutlak tentang kebenaran atau pembenaran yang penuh dengan angkara murka, ketidakmengertian berdiri di tengah, membatasi mereka dengan jarak yang sangat tipis sambil bertepuk tangan.

    Hejis: wow! keren, keren. Saya mutlak setuju.😀

  56. Sesekali coba bikin sample beberapa contoh komen dan dikategorikan, trus ditebak kira-kira orangnya kayak apa:mrgreen: katanya bakat ndukun🙂

    Hejis: …hihiy, dukun! Oke sebagai harga perkenalan saya ambil contoh komen mas Heri ya. Tapi satu aja dulu yang gratis…hihiy.. Melihat komen yang ditulis mas Heri, salah satu karakter mas Heri adalah orang yang takut membuat kesalahan dalam berhubungan dengan orang lain, sehingga langkahnya selalu hati2. BETUL APA NDAK, MAS? Segera dinanti jawaban dari mas Heri! Kalau ini bener, nanti kita buka page “PERDUKUNAN” … hihiy…:mrgreen:

  57. Ikutan comments ahh..
    Saia juga suka kalo tulisan saia banyak yang ngasih komentar, rasanya seneng banget gitu.. beneran.. ga bohong.. Awas kalo ga percaya..!!
    Hehe..🙂

    Hejis: ya, ya wis, percaya daripada saya ditimpuk… blug! he..he…
    Tapi saya gak percaya kalo mbak Siwi ke sini lagi. Awas lho ya, kalau gak datang lagi.:mrgreen:

  58. He he…kok persis kaya pengalaman pribadiku membaca 57 comment di atas. Senyum-senyum…termasuk baca postingannya kang Hejis🙂

    Tapi aku sepakat lho ma kang herry…
    Bikin analisis kepribadian berdasakan comment. Kan belum ada tuh! Kalo berdasarkan bentuk tulisan kan udah ada… He he

    Tentang debat…mampir deh di blogku…sedang pada ribut tentang “Guru Bangsa”😀

    Lam kenal ya…and selamat atas award nya

    Hejis: persis ya mbak Yanni? He..he.. Lha itu kan sudah saya sudah mulai “meramal” dari komennya mas Heri. Ya mbak, perkenalan sudah saya tandatangani. Terima kasih atas ucapan selamatnya.
    Salam hangat!😀

  59. kalo komen saya ini, menggambarkan saya bagaimana pak hejis ? pastinya orang yang ganteng, baik hati dan tidak sombong ya, hahaha….
    selamat malam pak🙂
    *saya orang yang murah senyum*

    Hejis: wah ini mulai deh bikin tugas tambahan…hihiy… Kalau karakter mas Goenoeng, ya saya gak berani bertentangan dengan yang disampaikan panjenengan: ganteng, baik hati, dan tidak sombong. ya ya, begitulah… he…he… Kalau bacaan dari saya: Mas Goen orangnya sebetulnya melankolis, tapi gak mau kalau orang lain sampai mengetahui. Betul begitu? Huahaaa…ha…:mrgreen:

  60. Thx dah mampir ke blogku…

    Hejis: Terima kasih juga telah ke sini, mas Catur. Salam kenal.😀

  61. menarik pembahasan mengenai debat. secara gitu di negara kita ini masih belum menghargai para pendebat…
    orang-orang yang berdebat sering dianggap sebagai orang yang hanya mengumbar kebodohannya…
    tapi bisa bener juga soalnya masih banyak yang belum mengetahui cara debat yang efektif…

    Hejis: Betul mas Rizky. Di masyarakat kita memang banyak terjadi seperti itu. Semoga kita tidak seperti itu ya. Amin. Tenkyu dah ke sini (lagi) ya. Salam hangat.😀

  62. Selamat malam,menjelang subuh.

    salam anget..juga,ah! haha…

    Hejis: lhah mas Langit ini kuat melek juga ya? Salam anget-angetan… hihiy..

  63. komentar-komentar itulah yang menyadarkan dan melatih saya bahwa di dunia ini setiap orang adalah uniq dan bagaimana saya harus bijak menghargai setiap keunikan seperti halnya bila sayapun ingin dihargai.
    yang jelas puisinya top.

    Hejis: iya ya, mas. Kita bisa belajar dari komen orang lain tentang kebijaksanaan. Akur deh, mas. Terima kasih telah menikmati puisinya.😀

  64. waduuhhh berat ni artikelnya..

    (gw baca sambil angkat barbel)

    alumnus komunikasi yang bebel gw doana apa yak?

    huhuhuhuhu

    tengkyu for passing by on my blog😉

    Hejis: ah si mbak gak bebel koq. Mungkin lagi sebel ajah …hihiy..😀

  65. Ikutan ngomen nih… Hehe,, iyah saya suka banget baca komen2 gituh,, palagi yg lucu2.. Jadinya sebisa mungkin kalo da komen di blog saya, saya pun berusaha untuk ngebales.. walo kadang agak2 kurang nyambung kali.. hehe,, maaph:mrgreen:
    Kalo kebetulan blogwalking trus nemu debat-debatan komen yg gak mau kalah gitu kok kesane gimanaa gtu.. bahkan ampe berbulan2 tetep aja dilanjutin mbok ya diselesaikan dg baik dan bijak.. Saya setuju bgt deh ma tulisan anda🙂

    BTW nice banget puisinya. Mantap!!😀

    Hejis: ya mbak. Blog dan komen ibarat sayur dan bumbunya. Terima kasih, ya mbak😀

  66. Wow, puisi sangat indah Mas heru. Sepertinya mewakili yang punya blog ini. Blog yang artikel-artikelnya penuh dengan jiwa, sangat hidup.

    Nah, kalau koment-komentnya sebagai bumbu dapurnya mas Heru, agar tambah sedap, hehehe

    Best regard,
    Bintang
    http://elindasari.wordpress.com

    Hejis: Blugg!..ambruk saking senengnya karena dipuji. Terima kasih mbak Elin. Betul mbak, blog tanpa komen seperti dapur..eh sayur tanpa bumbu ya mbak..he..he..😀

  67. Terima kasih atas tanggapannya yang sangat komprehesif.

    Apa yang ingin saya sampaikan terkait dengan debat justru konteksnya pada komentar yang ada di blog sesuai dengan isi postingan anda yang menyoroti adanya perdebatan yang muncul pada komentar-komentar di blog.

    Ini tentu berbeda konteksnya dengan perdebatan ilmiah yang memang bertujuan untuk menguji sebuah thesis pemikiran yang dibingkai dengan tata aturan ilmiah yang obyektif dan terukur.

    Dalam proses permusyawaratan tentu terjadi perdebatan, namun dalam perdebatan belum tentu terjadi permusyawaratan. Sayangnya, selama ini kita mendapat contoh yang tidak benar bagaimana sebuah permusyawaratan dilakukan.

    Apa yang terjadi semasa Soeharto adalah sebuah contoh bagaimana sebuah permusyawaratan dimanipulasi oleh sebuah hegemoni kekuatan tertentu.

    Yang terpenting harus diingat bahwa debat itu hanya pilihan cara, bukan tujuan itu sendiri. Jangan sampai akhirnya perdebatan justru menghalangi tercapainya tujuan. Dan tentu.., tujuannya demi kepentingan orang banyak, bukan hanya demi sekelompok atau segolongan orang yang diatasnamakan orang banyak.

    Tabik…

    Hejis: ya, sepertinya begitu, mas Mahendra. Konteksnya lain ya. Barangkali saya salah paham. Uraian mas Mahendra sisanya amat saya sepakati. Terima kasih mau ke sini lagi untuk klarifikasi.

    Tabik juga… he..he..😀

  68. katanya, jika ada dua orang berdebat, itu artinya ada dua orang yang akan menderita kekalahan…

    Hejis: ya betul, bisa seperti itu jika yang mereka cari kemenangan sendiri… bukan kebenaran logika dan penghargaan terhadap pendapat orang lain. Salam hangat mas Afie… Kapan selese nih? He..he.. Moga cepet ya mas.😀

  69. persepsi setiap orang memang selalu berbeda yah??

  70. komentar orang di dunia maya tidak ada hukumnya.. jadi setiap orang bisa bebas berpendapat, bahkan terkesan semau2nya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s