SANG PECINTA TANPA KEBERANIAN (1)


Oleh Hejis

PERINGATAN:
Sahabat, pos ini mungkin terlalu panjang buatmu. Bila sahabat terburu-buru dan tidak punya waktu, silakan saja dilewati tidak usah dibaca. Karena, saya sedang ingin menyalurkan keisengan dengan berkhayal. Jadi gak penting ya. Tetapi, bila dirimu sedang nganggur ada baiknya bergabung di sini. Hitung-hitung menemani saya sambil menyeruput kopi hangat. Ahhh!… nikmaaaat!

***************

Wina merasa sebagai orang yang paling beruntung pagi ini. Di kampus telah dipasang pengumuman siapa saja yang berhak mengikuti mata kuliah PKHE (Praktik Kuliah Hidup Empatik). Nama Wina bertengger di antara seribuan daftar peserta PKHE itu. Ini cukup membuat teman-teman menganggap Wina sebagai mahasiswa yang hebat. Tak ada satu pun mahasiswa angkatan Wina tercantum namanya di daftar nama-nama yang berwibawa itu. Mereka masih memiliki beberapa mata kuliah yang mesti diambil semester depan. PKHE mempersyaratkan maksimal mata kuliah yang masih tersisa adalah dua mata kuliah. Tidak boleh lebih, di luar mata kuliah skripsi. Artinya, mereka harus rela menunggu sampai tahun depan untuk dapat mengikuti program PKHE. Daftar itu juga membuat beberapa teman menyimpulkan bahwa mahasiswa yang tepat waktu mengikuti program PKHE layak mendapat predikat cerdas. “Selamat ya, Pak Ketua. Jangan lupa sesekali menengok kampus kalau sudah di desa nanti,” kata Sarsini dengan senyum yang teduh. Senyum yang Wina kagumi tiga tahun terakhir. Tak kalah dengan Sarsini, Iwan mengulurkan tangannya, “Sukses ya bos. Tak salah teman-teman menganggapmu cerdas!” Cerdas, sebuah sebutan yang didambakan banyak mahasiswa, namun membuat Wina tidak nyaman.

PKHE itu sendiri merupakan salah satu mata kuliah yang ditentukan perguruan tinggi tempat Wina kuliah. Para mahasiswa diwajibkan mengikuti program ini tanpa kriteria kelulusan. Artinya, setiap mahasiswa yang mengikuti program PKHE tidak akan diuji dan tidak akan diberikan nilai. Pokoknya hanya diwajibkan turut serta. Satu-satunya yang dituntut kampus adalah bahwa mahasiswa hanya membuat laporan tentang kegiatan di lokasi mereka ditempatkan. Penempatan mahasiswa ditentukan oleh kampus di desa-desa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Peserta PKHE ini diharapkan tinggal di lokasi selama 3 bulan di rumah penduduk dan kalau bisa yang kondisi sosial-ekonominya amat berbeda dengan mahasiswa peserta. Misalnya, jika mahasiswa berasal dari keluarga kaya ia mondok di keluarga yang miskin. Mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin akan mondok di rumah keluarga yang kaya. Atau, mahasiswa dari keturunan etnik tertentu tinggal di rumah penduduk dengan etnik yang berbeda darinya. Pertimbangan lainnya adalah berdasarkan perbedaan agama, Tujuan program ini hanya satu, memberikan pengalaman dan pembelajaran kepada para mahasiswa tentang hidup yang empatik.

Wina sendiri menganggap dirinya hanya beruntung. Cerdas itu milik Sofwan, Maryamah, Tono, atau Dana, atau Sarsini. Nilai kumulatif selama tiga setengah tahun dalam bentuk Indeks Prestasi milik Wina pun tidak “excellent”. Wina tidak serajin mereka dalam belajar. Kelihatannya malah jauh dari cukup jika ukuran kedisiplinan belajar menjadi kriteria. Mereka juga memiliki indeks prestasi yang lebih baik setiap semesternya daripada Wina. Cuma memang pada dua semester terakhir mereka, para pencerdas itu, banyak yang mengulang mata kuliah alias tidak lulus. Itulah sebabnya mengapa Wina menganggap dirinya adalah orang yang beruntung. Ada ukuran lain yang menentukan orang itu cerdas apa tidak. Penampilan. Ya, penampilan. Dengan rambut gondrong awut-awutan, baju selalu komprang, dan celana jeans lusuh dipadu dengan sepatu kets mana mungkin Wina masuk jajaran cerdas itu. Satu hal lagi, orang yang cerdas dalam bertutur selalu serius dan tidak cengengesan. Itulah citra cerdas. Sedangkan Wina? Hmm…

Ah, yang penting dapat ikut PKHE. Masa bodoh ukuran cerdas apa tidak. Dua minggu lagi PKHE diberangkatkan. Tentunya tidak ada hari santai selama penantian itu. Persiapan dalam bentuk pembekalan kepada calon peserta PKHE telah dijadwalkan oleh Rektorat dalam hal ini Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM). Untuk sementara tugas memelototi buku agak berkurang. Selamat tinggal mata kuliah-mata kuliah. Selamat tinggal Bu Sonya yang bila mengajar tak bisa menahan kata-kata ketus yang keluar dari mulutnya yang sebetulnya manis. Hidup rasanya lebih lega terlepas dari urusan membuat paper, makalah, resume, atau resensi buku. Maaf ya, buku. Kali ini Wina mau selingkuh darimu dengan urusan yang lebih menggiurkan, PKHE! Orang di kampus Wina memandang PKHE dengan konotasi yang baik. Setelah PKHE selesai mahasiswa berhak mengajukan proposal skripsi. Jika skripsi beres, maka bereslah urusan kuliah selama empat tahun atau—kalau cerdas—bisa tiga setengah tahun, dan sampailah saat yang ditunggu-tunggu para orang tua, saat wisuda anak-anak mereka menjadi sarjana. Itulah sebabnya PKHE dipandang sebagai tahap penting dan bergengsi.

Bagi para mahasiswa laki-laki yang terpaksa menjadi jomblo (karena selalu gagal permanen ketika berburu pacar) PKHE menjadi tumpuan harapan yang terakhir. Pada masa-masa akhir kuliah ini, biasanya jomblowati-jombolowati pasti menurunkan tarif idealisme sosok seorang pria untuk menjadi pacarnya atau calon menantu bagi ibu-bapaknya. PKHE merupakan momentum krusial bagi para lelaki. Dengan kata lain, perempuan-perempuan yang belum punya pacar itu tidak lagi menuntut seorang laki-laki harus begini, begitu, untuk menjadi kekasihnya. Sehingga, peluang mendapatkan pacar menjadi terbuka lebar. Bukankah ini lumayan? Para shopaholic di swalayan kelas wahid sekali pun pasti suka dengan bulan diskon. Mengingat ini gairah hidup Wina menjadi menyala. Mirip lampu merkuri yang mendekati ajal, nyalanya terang sekali.

Di tengah-tengah kegembiraan ini Wina teringat Bapak dan Simbok di kampung. Pada usianya yang telah senja, Bapak dan Simbok bahu-membahu mencari tambahan uang untuk membiayai kuliah Wina dengan membuka warung makan. Mereka tidak ikhlas anak bungsunya tidak berpendidikan tinggi. Apalagi, selain menjadi anak bungsu, Wina adalah satu-satunya lelaki di antara lima bersaudara. Di kampung Wina dan juga di kampung-kampung lain di negara ini, orang masih memandang bahwa lelaki mesti mencari nafkah saat ia berkeluarga. Lalu perempuan ditempatkan sebagai makhluk yang menduduki peran domestik. Kalau pun perempuan itu bekerja mencari nafkah, maka itu sekadar bonus yang bukan merupakan kewajiban. Lelaki berada di luar, perempuan ada di dalam rumah. Begitu nilai yang tertanam di keluarga Wina.

Sesungguhnya Bapak dan Simbok dapat menikmati usia lanjutnya tanpa memikirkan untuk mencari uang. Mereka dapat menghidupi mereka sendiri dan Wina dengan memanfaatkan uang pensiun Bapak sebagai pegawai negeri yang bertugas di Kantor Camat. Mereka dapat bersenda gurau menimang cucu-cucunya tanpa harus pusing besok mendapatkan uang atau tidak. Semua kakak perempuan Wina sudah menikah dan memiliki momongan. Kalau mau, sekali tempo mereka juga dapat menepis kejenuhan dengan mengunjungi cucu-cucunya yang lucu-lucu dari keempat kakak perempuan Wina yang bertempat tinggal terpisah-pisah di berbagai kota. Mbak Tata menikah dengan seorang pegawai perusahaan rokok di Semarang. Mbak Tata telah memiliki tiga orang anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Kakak Wina yang kedua, Mbak Su, tinggal di Temanggung bersama kedua putrinya dan suaminya yang menjadi pedagang di pasar Parakan, pusat para saudagar tembakau yang terkenal di Jawa Tengah. Kemudian kakak Wina yang ketiga menikah dengan seorang pegawai Departemen Kehakiman dan tinggal di Tegal beserta ketiga anak mereka. Lalu kakak Wina di urutan persis di atas Wina, Mbak Ika, tinggal di Bekasi. Ia menikah dengan lelaki yang berpenghasilan sebagai pedagang buah-buahan. Mereka dikaruniai dua orang anak. Bapak dan Simbok sebetulnya bisa saja hidup tenang tanpa banting tulang untuk mencari tambahan uang. Tetapi, mereka tidak melakukannya.

Kulup, bapak dan Simbok tidak bisa memberikan banyak kesenangan kepadamu. Tetapi, Bapak dan Simbok berharap banyak kepadamu. Bapak dan Simbok hanya ingin kamu pintar. Untuk itulah Simbokmu ini berjualan nasi karena pensiunan Bapak tidak cukup untuk membiayai sekolahmu,” begitulah Bapak memaparkan alasan mengapa tidak mau menikmati masa pensiun dengan benar-benar pensiun.

“Bapakmu benar, kulup. Hidupmu kelak akan lebih mulia. Akan lebih bermanfaat bila pendidikanmu tinggi. Jangan seperti Simbok, sekolah SD saja tidak tamat. Banyak kebaikan tentang hidup di dunia ini yang tidak bisa Simbok ketahui. Karena, ya itu tadi, Simbok tidak sekolah,” Simbok menimpali perkataan Bapak.

Wina hanya terdiam. Diam-diam otaknya mencerna sebuah pelajaran tanpa disengaja. Alasan membuka warung nasi amat sederhana. Namun, usaha Bapak dan Simbok untuk menyelenggarakan perwarungan itulah yang berat. Itu semua demi Wina agar meraih impian Bapak dan Simbok untuk memiliki anak kesayangannya itu menjadi orang yang mulia. Mereka berdua berbagi tugas secara tak terencana. Hidup berkeluarga selama bertahun-tahun membuat mereka saling mengerti bahasa kalbu. Jarang sekali Bapak atau Simbok mengatur atau memberikan perintah satu sama lain. Seolah-olah Bapak dapat membaca pikiran Simbok dan Simbok pun menjadi belahan jiwa Bapak. Simbok juga tak kalah peka terhadap kemauan Bapak. Sehingga, Simbok hampir tak pernah mengeluh perihal tindakan Bapak. Sejatinya, kepada merekalah Wina belajar empati, sebuah sudut pandang yang sekarang langka dimiliki orang-orang di sekitar Wina kuliah. Ini yang membuat Wina bimbang. Simbok mengatakan bahwa agar hidup akan lebih mulia bila ia berpendidikan tinggi. Sementara orang-orang yang kuliah yang sedang menempa diri agar berpendidikan tinggi di tempat Wina belajar tampaknya belum menjadi manusia yang berhati mulia. Hidup mereka belum mulia, paling tidak, menurut pandangan Wina. Beberapa di antara mereka, alih-alih berempati, malahan lebih mementingkan dirinya sendiri. Dalam menggunakan buku teks, misalnya. Apa ruginya sesama teman saling meminjamkan buku kuliah? Atau, dalam hal berbagi pemikiran. Apa susahnya menerima pendapat dari orang lain, seperti dosen menerima pendapat dari mahasiswa? Apakah Bapak dan Simbok belum mengetahui bahwa anak mereka sedang terjerumus pada genangan yang justru berlawanan dengan tekad Bapak dan Simbok? Ataukah Wina sendiri yang belum paham bahwa di kampusnya mahasiswa mesti memaknai sendiri bahwa sikap empatik dapat tumbuh dalam proses pembelajaran di kampusnya, termasuk ketika mengikuti mata kuliah PKHE ini?

Wina terus mengikuti alur pengembaraan pikirannya. Tengkuknya dirasakan gatal. Dirabanya tengkuknya yang gatal itu lalu tangannya menjumput sesuatu yang membuatnya gatal tadi, seekor semut hitam. Dengan hati-hati ditaruhnya semut hitam itu di kerumunan teman-temannya. Semut itu berhenti sejenak. Dua ekor semut lain menghampiri. Entah apa yang mereka lakukan. Yang jelas makhluk-makhluk kecil itu seperti saling mencium. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya menuju serpihan-serpihan makanan. Tak berapa lama semut yang tadi tersesat di tengkuk Wina sudah bergabung dengan barisan semut lainnya. Hampir setiap kali berpapasan dengan semut lainnya, ia berhenti sejenak seperti mencium temannya. Demikian pula semut-semut lain.

Dalam pengamatan Wina yang sudah sejak lama ia lakukan, semut tak pernah lelah menyapa teman-temannya begitu ia bertemu. Semut juga tak pernah mencari makanan untuk dirinya sendiri. Memang, saat tidak ada makanan, para binatang kecil yang kelihatannya lemah itu pergi sendiri-sendiri, menyebar. Baru setelah salah satu di antara mereka menemukan makanan ia mengabarkan kepada semut yang lain, alih-alih dimakannya sendiri. Hal yang terjadi kemudian adalah barisan semut hilir mudik dari dan ke arah makanan hasil temuan dari salah satu dari mereka. Tidak pernah barisan semut itu searah terus menerus. Hanya pada awal ditemukannya makanan saja mereka berbuat seperti itu. Untuk menemukan makanan mereka mengandalkan indra penciumannya yang amat tajam. Benar! Mereka hanya mengandalkan penciuman, bukan pendengaran atau pun penglihatan. Pernah suatu kali Wina menguji pendapatnya itu. Ia berteriak di antara kerumunan semut. Mereka tidak bereaksi. Tetapi, ketika Wina mengusap jalur barisan semut tadi dengan jari telunjuknya, semut-semut itu seperti kebingungan kehilangan jejak. Berarti semut juga meninggalkan jejak dari kakinya agar dapat memandu semut lainnya menemukan sesuatu yang dicarinya, makanan dan sahabat! Seperti itulah karakter semut. Rupanya semut juga mengenal ilmu empati.

“Duarrr…!!” Wina kaget bukan alang-kepalang. Di belakangnya tahu-tahu sudah ada Sarsini dengan tertawa cekikikan.

“Aduh, yang baru bahagia sedang melamun. Sampai-sampai lupa daratan.”

“Wadoh, kamu In! Sampai hampir copot nih, jantungku! Emangnya ada apaan pagi-pagi sudah berani membuyarkan pekerjaan terpentingku, melamun?… he… he…”

“Ah, cuma urusan kecil saja. Lagiaaan… masih pagi sudah belagu seperti filosof yang kekurangan job. Nih, laporan keuangan kelas kita. Sebagai Ketua Kelas kamu perlu tahu posisi keuangan kita, sebelum kamu minggat ke desa untuk mengikuti PKHE itu.”

Sarsini atau In menyodorkan buku yang berisi laporan keuangan kepada Wina dengan senyumnya yang selama bertahun-tahun tidak digantinya, senyum yang mampu meluluhkan hati makhluk spesies apa pun. Senyum itu pula yang konon membuat Suhaimi cemburu terhadap Wina karena keseringan dihadiahkan kepada Wina. Padahal pria lain pun masih menyandang hak yang sama untuk merebut hati In. Pasalnya hingga kini In masih sendiri alias belum punya kekasih.

“Wee… melamun lagi, melamun lagi. Kalau gitu, aku pulang aja ah!”

“Sebentar dulu! Kan, belum saya baca dan saya komentari. Siapa tahu ada yang korupsi dari pengelolaan keuangan ini? Ha… ha… becanda jangan sewot!”

Lagi-lagi In mengumbar senyum itu. Aduh, Simbok tolonglah anakmu ini. Mengapa anak kesayanganmu ini begitu lemah hanya gara-gara senyum seorang gadis? Mengapa justru gadis yang tak mampu kumiliki ini yang punya senyum maut ini? Simbok, tolonglah, mbok. Aduh, mbok! Senyum itu muncul dari wajah lembut secantik Miyabi. Begitulah neuron-neuron di otak sebelah kanan Wina mengirimkan pesan ke seluruh tubuhnya yang segera bereaksi terhadap bibir merekah seorang gadis di hadapannya itu.*** (BERSAMBUNG, kalau gak diprotes)

Catatan:
Simbok: panggilan untuk ibu.
Kulup: panggilan kesayangan dari orang tua kepada anak laki-lakinya di Jawa Tengah.

35 responses to “SANG PECINTA TANPA KEBERANIAN (1)

  1. puanjang banget yah… sampe capek bacanya (>_<‘)

    Hejis: biar gak capek, bacanya 2 atau 3 kali…😀

  2. No comment… Masih nunggu sambungannya… Sambil minum kopi dan makan pisang goreng….😀

    Hejis: oke, kita minum2 dulu… ee.. itu bukan pisang goreng yang dimakan. Itu uleg2.. ha.. ha..

  3. kok yo pas tenan to ….ngopi bareng😆
    setelah melewati “simbok, kulup” ternyata secangkir kopi yang aku sruput memang tambah nikmat. sruput…sruput….
    mata kuliah PKHE berapa sks pak?
    *protes bayar 5000*
    kaburrrr…. waduh…. kopiku kepancal, mak-klonthang-pyarrr😉

    Hejis: mak nyuss kopinya. Ha.. ha.. PKHE 10 sks… huaha.. ha.. bisa aja..

  4. Hhh..sie suka
    Filosofi semutnya ..

    Sie tunggu lanjutannya..dan gak bosen kok..

    Eh iya,kirain Wina itu cewek ternyata itu kependekan dari Winarso ya he he he..
    *nuduh mode on*

    Hejis: oo.. seneng semut ya mbak? Ya deh nanti dikirim lewat sms. Wuakakak..kak.. Winarso? Siapa ya?:mrgreen:

  5. Bagus Banget ceritanya. Pecinta Tanpa keberanian, hhmmm, ini pengalaman pribadi ?

    Hejis: semoga itu pujian yang bener, jadi saya senengnya juga bener… jadi malu sama novelis. Itu pengalaman rombongan, bukan pribadi.. ha.. ha..

  6. wah wajahnya secantik miyabi? asal jangan kelakuannya🙂
    saya pernah tuh kayaknya jadi pecinta tanpa keberanian…

    Hejis: emang Miyabi cantik yo, mas Geri? Kayaknya iya sih. Kelakuannya baik aja kok bocah tokoh cerita ini. Lhah, jatuh cinta sama sapa? Sama saya? Wuakak..kak..

  7. Denaya tetap enjoy lho kak nikmati artikel kak Hejis meski panjang ini. Trim spirit kak Hejis buat Denaya. Kalo rada kangen Denaya langsung contact us ke websitenya papa Rohedi ya….maaf namanya saja yuniornya.

    Salam kenal ya kakak…

    Hejis: alhamdulillah, kalau mbak Dena tidak jemu membacanya. Iya, pokoknya saya berdoa terus, semoga mbak Dena jadi orang yang dapat membanggakan saya dan Indonesia ya.. Janji ya? Senang berkenalan denganmu. Salam hangat ya😀

  8. Penasaran kelanjutannya..

    Pas pertama baca tokoh wina aku perempuan gitu, eh nggak taunya cowok, kenapa pilih nama wina?

    Hejis: tenang aja jangan dianggap serius, ini hanya fiksi.. he.. he.. Lha ya itu, namanya Wina tapi kok laki2 ya. Kalau dinamai Radesya nanti malah didemo orang2 Semarang! Ah nama itu cuma diambil serampangan saja, lagian menurut saya merdu kok nama itu.. wakkakk..kak..

  9. bianglala00cindai

    Bianglala dipenuhi tanda tanya, he he he, siapa yang menjadi sang pencinta?? maksudnya om Wina ya?? PECINTA ATAU PENCINTA??
    kalo om Wina…, kenapa memposisikan pada pencinta yang tanpa keberanian?? tanpa keberanian pada apa atau siapa?? pada keadaan atau pada seseorang??
    bagusnya om Wina menjadi “BERANI TANPA SANG PENCINTA…”

  10. bianglala00cindai

    Cindai diminta Bianglala tanya ke Om wina itu. Kalo menurut cindai cara bertutur penulisan itu oke punya, namun cindai rasa wina itu hanya ingin menunjukkan bahwa dengan keadaan yang tak sanggup dilawannya, justru wina ingin mengatakan ia selama ini bukan sedang menumbuhkan empati malahan sudah memiliki empati.
    Tapi mas Hejis, bersikap empati itu baru bisa dikatakan apabila orang sudah melakukan tindakan dan membuat orang lain diakui keberadaannya, bukan hanya merasakannya saja. Kalau merasakan saja semua orang bisa tapi bersikapnya itu yang sulit.
    Terkadang memandang orang yg cuma bisa makan 1x sehari saja sebagai berempati kepada orang yang miskin, tetapi orang tidak menderita langsung pada dirinya bagaimana gak enaknya cuma makan 1x sehari itu.
    Nah, Mas Hejis, ceritanya om Wina itu, apa mungkin cuma bisa merasa menganggap dirinya sudah menjadi sang pencinta saja, tapi belum melakukan tindakan menjadi pencinta itu, apalagi yang tanpa keberanian (seperti mahasiswa jomblo dan mahasiswi kesepian),(tidak seperti bapak dan simbok, seperti bapak, simbok pada Wina, seperti semut pada teman semutnya),… (seperti Wina pada Sarsini)??
    Seperti itukah menjadi Sang Pencinta tanpa Keberanian??? seperti sang pengecut tanpa ketakutan??? (he he he… )
    Bukankah si pengecut dapat menjadi berani karena perasaannya sebagai pencinta? dan bukankah si pencinta dapat menjadi penakut karena perasaannya sebagai pengecut.
    Menurut cindai, Wina adalah sosok beruntung yang peduli pada keadaan dirinya sendiri, namun bukan sosok berani yang penuh cinta, karena sebenarnya dia bukan pencinta, dan bukan penakut.
    he he, cerita sambungannya ditunggu ya, bianglala.cindai

  11. Tentang istilah pecinta dan pencinta. Menurut tata bahasa Indonesia keduanya dapat dipakai, tetapi berbeda maknanya. Pencinta adalah orang yang mencintai sesuatu, misalnya pencinta musik, pencinta masakan Padang, dsb. Sedangkan pecinta adalah orang yang berkecimpung secara mendalam dalam urusan cinta-asmara.

    Cerita ini bukanlah cerita serius yang digarap seorang ahli atau novelis, tetapi hanya cerita yang dibuat dalam rangka belajar menuliskan khayalan. Sebetulnya itu saja. Nah, mbak Cindai (mbak, bener?) memberikan kritik dan usulan sebagai seorang ahli.. he.. he.. Satu hal yang juga penting adalah bahwa cerita ini “maunya” bersambung. Cuma mampukah diriku membuat cerita bersambung? Yah, mungkin ini menjadi semacam cerita sinetron yang kejar tayang, tanpa konsep, ngawur. Bedanya kalau sinetron dapat duit, cerita ini dapat sulit… ha.. ha..

    Well, untuk sikap empatik. Menurut sudut pandang psikologis, empati dapat berupa sikap. Artinya sebuah kecenderungan untuk bertindak dan jika ada situasi yang menghendaki dilakukannya perbuatan maka empati akan muncul menjadi tindakan yang dapat diamati secara empiris. Jadi empati bisa sikap, bisa juga suatu tindakan. Kalau bisa empati adalah tindakan sehingga manfaatnya bagi orang lain menjadi terang. Nah, tokoh cerita di sini secara formal belum memiliki kemampuan empatik, karena ia belum mengikuti PKHE (Praktik Kuliah Hidup Empatik) yang mesti ditempuh mahasiswa di perguruan tinggi itu sebelum ia menulis skripsi (ceileee kayak beneran aja ya…. ). Jadi ia masih bimbang tentang empati.

    Btw, sungguh ini sebuah analisis yang menurut saya tajam. Jangan-jangan saya sedang berhadapan dengan kandidat pemenang Nobel untuk sastra ya? Sayangnya mbak Cindai kok gak ninggalin jejak (hyperlink). Saya lacak di google pun gak dapat. Gimana dong?

  12. 🙂 Filosopi semut nya… sungguh menarik….

    Pecinta tanpa keberanian…hmm… kok mirip saya ya…. ha ha ha…

    Hejis: he..he.. takut ya nembak cewek?

  13. Jadi tahu bedanya pecinta dan pencinta…
    *menahan komen karena menunggu lanjutan cerita*

    Hejis: begitulah mbak Noengki…
    *menahan lanjutan karena menunggu komen* … he.. he..

  14. Pak…. pengalaman pribadinya jangan diceritakan sama aku donk… he..he..he…

    Hejis: habis mau diceritakan ke siapa lagi tentang diriku ini. Diceritakan di pasar juga gak ada yang mau dengar… he.. he..

  15. Sip sip sip and keep writing…

    Hejis: sip, sip, sip and keep reading…😀

  16. selalu ketinggalan… nikmati dulu aja deh🙂

    Hejis: he.. he.. belum ketinggalan, tenang aja mas Heri…

  17. thanx for droppin by.. keep in touch.. add me to ur blog roll.. http://starbozz.wordpress.com. i hav linked u…

    Hejis: U’r welcome, sir. Nice to link ur blog… many unique posts in ur blog. Keep writting…

  18. postingan yg sangat penting kali bang buat blue sendiri
    salam hangat selalu

    Hejis: Mas Blue salah! Ini postingan yang justru gak penting.. he.. he.. yah cuma pengobat jerawatlah..😀

  19. Menjadi teman minum kopi, atau sebaliknya he he

    Hejis: teman minum kopi atau sebaliknya? Menjadi: kopi minum teman. Ha.. ha..

  20. menjadi pecinta yang penakut??????

    ..
    mencinta adalah keberanian mengakui rasa itu

    Hejis: mestinya seperti itu ya mas Ilyas… Cuma di cerita ini ia penakut dalam hal pengungkapan kali ya..😀

  21. bersambung ya..?! saya tunggu deh lanjutannya.😀

    Hejis: ha.. ha.. post gak penting mestinya gak perlu disambung2 ya mas Soerdjak? Tapi siapa tahu, paling tidak sebagai pelampiasan iseng😀

  22. Mampir mapir eh masuk sini
    Duh duh ane bingung nih mo ngomong apa ya bang, maju terus blogger Indonesia

  23. pak, malem2 aku mampir lagi, mo nyeduh kopi bareng bapak.
    sambil merasakan hembusan napas bianglala, coretan cindai yang penuh sentilan cerdas dan tanya. sayang dia gag mampir ke blogku. bisa2 dia membombardir dengan senjata pamungkasnya.
    banyak minum kopi satu teko jadi gag karuan,
    tapi, efek sinerginya jadi empati ama orang lain loh😆

  24. mampir ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh

  25. wah-wah mataku ampe kunang-kunang bacanya Mas Heru, besok-besok di penggal-penggal yach biar nggak bikin ngos-ngosan, hehehe 🙂 🙂 🙂

    Best regard,
    Bintang
    http://elindasari.wordpress.com

  26. Ass.

    Kehidupan kampus yang kering bila tidak ada empati yang hidup di antara penghuninya.

    Wina masih beruntung punya Sarsini atau In yang lebih luas empatinya. Apalagi senyum itu (kurihing; pinjam kata Taufik79 untuk mendamaikan dunia), yang tidak jauh dari kehangatan Simbok yang setiap saat siap menolong sang kulupnya.

    Berempati … memang tidak gampang, karena lebih melibatkan diri yang semakin dewasa. Mungkin, sebagai teman/sahabat terkadang lebih gampang timbul simpati daripada berempati dengan keadaan teman.

    Berempati tidak hanya sekedar mengungkapkan perasaan dan melakukan tindakan, tapi memerlukkan pemahaman dan pengetahuan serta pengedalian diri dari yang berempati. Tapi, berempati bukan sesuatu yang harus disulit-sulitkan, tidak salah untuk mencobanya.

  27. iya euy .. panjangggggggggggggggggggg, harusnya dibuat cerbung🙂

  28. iya ni mas..puaanjaaaang betuull ceritanyaaa… mataku ampe juling mas ahahaha…

  29. pemilihan nama charnya agak tricky
    kenapa enggak winar atau narso malah wina🙂

  30. walah bersambung padahal kopinya masih ada, keburu dingin nih…… hehehe…..

    Salut saya pada bapak dan si mbok yang rela membanting tulang demi kesuksesan wina walaupun seharusnya mereka telah menikmati masa tuanya tidak dengan bekerja sekeras itu…

  31. waaa,, bersambung ..
    kyak sinetron ajj ..

  32. bianglala00cindai

    thanks ya atas ilmunya, Cindai beruntung dapat sesuatu yang bernilai dari blog mas Hejis ini. Yang menurut mas Hejis “tanpa konsep” , tapi ternyata tulisan anda sangat menarik. Comment itu bebas untuk berpendapat khan?? (kritikan atau sharing), karena mas Hejis gak perlu pujian lagi, wong namanya juga sudah mengandung kata “puji” (asal bukan wsyeh puji, he he). Maka mas Hejis pun pastinya sudah sarat dengan pujian pula. Semua pujian yang melambungkan saya, saya kembalikan untuk mas Hejis, karena pujian itu memang milik Anda..Oke..
    Kalau mau PKHE.,,,di rumah Bianglala aja, om Hejis.., asyik..

  33. Wina, kirain ce…
    Hmmmm….. bakal di “lempar” kedaerah mana ya si wina, (maunya si di kampung dan rumahnya si Sarsini hehe) apa yg bakal terjadi disana? trus gmn dgn Sarsini?? yudah nunggu kelanjutannya dehh..

    Hejis:
    Iya, mbak Rita. Kirain cewek ya.. ha.. ha.. Halo Wina engkau mau ke mana?

    .

  34. hehehehe….
    ditunggu kelanjutannya…..

    Hejis:
    Lhah, apa perlu dilanjutkan? He.. he..

    .

  35. cinta yang terpendam jadinya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s