PERKAWINAN TANPA KERTAS


Oleh Hejis

Wooy! Ada cicak kawin...

Wooy! Ada cicak kawin...

Seekor cicak gemuk berlari melenggak-lenggok dari belakang almari. Ia tak sengaja menari, tetapi gerakannya sungguh artistik. Pinggangnya meliuk ke kiri dan ke kanan membentuk gerakan layaknya penari ballet profesional. Ekornya yang sepanjang tubuhnya membantu keseimbangan saat ia berlari. Mengibas-ngibas. Bahasa tubuh khas cicak itu tak lain mengomunikasikan sebuah pesan kepada makhluk sesamanya yang berada hanya beberapa centimeter di bawah langit-langit pojok ruang tamu, milik satu makhluk bernama manusia. Rupanya ada cicak lain yang sejak tadi telah menunggu. Bodynya sedikit lebih langsing. Ia hanya terpaku, namun menyimak. Menyambut kedatangan sang kekasih, si Langsing menyapa, “Ck… ck… ck… ck…” Dengan tak kalah mesra si Gemuk menyahut, “Ckk… ckkk… ckkkk…” Saya pun ikut nimbrung, “Wekekek…kekk.

Selanjutnya peristiwa yang terjadi adalah seperti yang dapat diduga siapa pun. Mereka kawin. Tanpa proses pacaran, tanpa proses lamaran. Komunikasi yang berlangsung pun tidak ribet. Apa yang mereka inginkan, mereka katakan. Konsisten. Ritual perkawinan yang mereka lakukan juga sama efisiennya. Mereka tidak mencetak undangan yang memerlukan kertas, tinta, mesin offset yang mengambil bahan-bahan milik alam. Kertas mesti mengorbankan pohon agar terbentuk menjadi kertas. Padahal pohon diperlukan untuk menghasilkan oksigen yang diperlukan semua makhluk hidup. Pohon diperlukan untuk menahan tanah agar tidak longsor. Pohon adalah wahana penyejuk udara yang panas akibat terpaan sang mentari. Jika tidak ada pohon, maka bumi menjadi hanya sekadar benda raksasa yang tak mungkin dihuni makhluk hidup.

Kertas untuk menjadi kertas memerlukan barang lainnya. Pohon yang tumbuh di hutan sebagai bahan baku kertas akan ditebang. Artinya, hal itu memerlukan alat penebang. Entah itu berupa parang, bendo, pedang, bahkan chainsaw, sebuah alat tebang pohon yang amat canggih. Karena, dengan alat itu, hanya diperlukan waktu sekejap untuk merobohkan pohon sebesar apa pun. Hutan seluas ribuan hektar akan musnah dalam tempo bulanan saja. Alat-alat penebang pohon, tentu saja, memerlukan barang-barang lain yang diambil dari alam. Bijih pasir besi merupakan bahan baku alat penebang pohon. Butiran-butiran pasir ini akan diolah menjadi logam yang dapat dibentuk menjadi parang, bendo, pedang, bahkan chainsaw.

Kertas untuk menjadi kertas memerlukan alat transportasi yang disebut mobil, kapal, kereta api, bulldozer, dan/atau eskavator. Alat-alat ini terbuat dari logam, plastik, kayu, kain, kaca, karet, fiberglass. Bahan-bahan untuk alat transportasi, lagi-lagi, diambil dari alam. Bahan-bahan itu diambil dengan cara mengeruk, menggali, membongkar, meratakan hamparan tanah, bukit, dan gunung. Pohon-pohon tentu saja ditebang. Kali ini bukan untuk bahan pembuat kertas, melainkan supaya dapat dibuat jalan untuk lewatnya alat-alat transportasi. Untuk membuat alat transportasi juga diperlukan alat transportasi. Bahan-bahan untuk menjadikan suatu alat yang disebut alat transportasi itu perlu diangkut dari lahan tambang ke pabrik. Dalam banyak hal, pabrik berbahan dasar sama dengan alat transportasi.

Begitu banyak sarana dan prasarana untuk membuat kertas. Begitu banyak aktivitas manusia yang terlibat ketika hendak membuat kertas. Aktivitas itu dapat berupa aktivitas langsung dan aktivitas tak langsung. Aktivitas langsung misalnya mulai dari aktivitas pencarian bahan baku, pengangkutannya, pengolahannya dan manajemennya, keuangannya hingga pemasarannya melalui penawaran, iklan, dan pengiriman. Aktivitas tidak langsung misalnya penyiapan lahan parkir pegawai, penyediaan akomodasi, pembuatan seragam karyawan, penyediaan alat telekomunikasi, dan banyak lagi.

Di pojok ruang tamu baru saja selesai aktivitas yang dikendalikan naluri salah satu jenis makhluk hidup, kawin antara dua cicak. Setelah selesai kawin, kedua cicak itu mengobrol. Entah apa yang diobrolkan. Satu cicak lain mendekati mereka. Mungkin sekadar menyapa, selamat sore, teman-teman. Atau, ia juga tertarik dengan salah satu di antara kedua cicak yang berbeda lawan jenisnya dengan dirinya. Yang jelas, ia tidak sedang menanyakan mengapa perkawinan mereka tanpa undangan, tanpa kertas.

Perkawinan manusia jauh lebih rumit daripada perkawinan cicak. Manusia memiliki banyak variasi untuk menyelenggarakan ritual perkawinan. Tahapan-tahapan yang panjang mesti dilalui bagi sebagian besar manusia untuk melakonkan fungsi biologisnya. Mereka juga perlu mengadakan pesta yang melibatkan banyak aktivitas dan menelan dan memusnahkan barang-barang yang tersedia di alam. Kertas, misalnya. Tak dapat dihindarkan bahwa kertas merupakan salah satu bahan yang menyukseskan perkawinan manusia. Tanpa kertas, perkawinan manusia dianggap perkawinan yang tidak manusiawi. Surat nikah, uang untuk menyumbang, bungkus kado, bungkus makanan, foto, buku tamu, dekorasi, dokumentasi, lap tangan, cindera mata, lap piring-sendok-garpu, amplop sumbangan, kertas toilet, kardus, penutup jok kendaraan yang digunakan tukang parkir sepeda motor, brosur, album foto, bungkus rokok, bungkus permen, kipas, kartu nama, kartu ucapan terima kasih, surat izin cuti, kartu tanda penduduk, kartu SIM, kalender, notulen rapat DPR, naskah undang-undang, surat keputusan pejabat. Mungkin Anda mau menambahkan yang belum disebutkan itu. Tetapi, yang jelas saya telah membuat daftar penggunaan kertas oleh manusia untuk keperluan sebuah perkawinannya! Semuanya berhubungan dengan perkawinan manusia. Semuanya berhubungan dengan kertas.

Setelah perkawinan manusia usai, sebagian besar kertas itu akan menjadi sampah. Hakikatnya, sampah adalah benda yang tidak disukai manusia. Untuk memusnahkan masalah sampah kertas ini, manusia sama repotnya dengan menciptakan kertas itu sendiri. Untuk memusnahkan sampah kertas ini, manusia kembali memerlukan alat transportasi, kembali memerlukan aktivitas-aktivitas yang juga merepotkan manusia itu sendiri. Kadang-kadang manusia juga perlu kertas lain untuk memberi-tahukan kepada manusia lain untuk memerangi sampah kertas. Manusia menulis buku tentang pentingnya pengelolaan sampah kertas. Manusia perlu berseminar untuk mengatasi masalah sampah kertas. Manusia perlu membangun sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga riset untuk meneliti sampah kertas. Manusia perlu mengangkat profesor bidang sampah kertas. Manusia perlu menggaji profesor itu. Kertas telah membuat repot manusia! Tetapi, bukan manusia namanya kalau tidak menciptakan kerepotannya sendiri. Kau yang memulai dan kau pula yang harus mengakhiri.

Mungkin cicak tidak memikirkan penggunaan kertas dalam perkawinannya. Mungkin pula cicak tidak mau direpotkan dengan urusan kertas untuk perkawinannya. Namun, ada beberapa aspek yang dapat dipelajari dari cicak tentang kertas dan perkawinan ini. Tentu saja kita tidak perlu meniru semua “gaya hidup” cicak, terutama yang berkenaan dengan kertas. Hal yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah ajakan untuk refleksi: Sudahkah kita memikirkan tentang kertas, tentang keuntungan dan kerugian penggunaan kertas yang seolah tanpa batas dalam perkawinan manusia, serta tentang upaya kita menghemat penggunaan kertas? Penggunaan kertas yang bijaksana oleh manusia hanyalah bagian kecil dari pelestarian alam yang perlu dilakukan. Kecil, memang, tetapi perubahan besar dimulai dari perubahan yang kecil-kecil, bukan?

Ah, perkawinan manusia… Ah, kertas.***

94 responses to “PERKAWINAN TANPA KERTAS

  1. pertamaks!!

    Hejis:
    He… he…

  2. OOT:
    iya pak, mohon doanya semoga di tempat yang baru saya betah

    Hejis:
    Ya, semoga di tempat baru lebih berkembang lagi ya, mas Antown. Amin.

  3. Itulah bedanya manusia dan cicak.
    Manusia masih menghargai secarik kertas. Mau jadi apa ajah pasti secarik kertas tersebut yang ditanyakan.
    Silahkan lihat dipersyaratan bila ingin melamar…
    apa ajah, siapa ajah, dimana ajah…😀

    Hejis:
    Ya, manusia memerlukan selembar kertas yang disebut ijazah itu, mas Cenya 😀

  4. kadang pingin jadi cicak, kawin kapan saja pingin asal ada pasangannya…

    Hejis:
    Silakan mas, kalau pingin… he… he..

  5. wah,kok tiba2 ngebahas tentang perkawinan nih mas? ada apa ya?😀

    Hejis:
    Sebagai dedikasi saya kepada cicak karena telah menimbulkan inspirasi artikel ini, mas Soerdjak😀

  6. butuh apa saja semua dapat di beli dengan beberapa lembar kertas mungkin dunia ini sekarang telah menjadi dunia kertas…. dan dampaknya semua hutan akan habis demi lembaran kertas2 tersebut….

    Hejis:
    Menurut mas Han, bagaimana ya agar hutan tidak habis? He… he… malah nanya lagi.😀

  7. kertas…walaupun jaman sekarang ah modern bgtz tapi yg namanya kertas masih dibutuhkan bgtz apalagi yg namanya hukum,sesuatu hanya bisa dipercaya kalau ada hitam diatas putih,,,,

    Hejis
    Jadi terbayang, seandainya kontrak diadakan tidak dengan kertas. Lalu pakai apa ya?

  8. bang……………blue jadi kepingin kawin beneran ini mah., sumpah hehehe……..
    salam hangat selalu
    main dong bang ke fc blue ok

    Hejis:
    Hi… hi… kepingin kawin tinggal bilang sama salah satu kontestan pemilu, mas Blue. Itung-itung menyukseskan kampanyenya. Mumpung mereka lagi gencar menarik dukungan… Wakakak…

  9. hehehe…Pak Hejis…dari cicak bisa jadi cerita yang uhmmm…sekali lagi berisi dan berbobot.
    Pernikahan manusia itu ribet bgt ya pak?? hehehe…
    tapi masih untung ker tas masih gampang pengelolaan limbahnya, masih gampang hancur gitu maksudnya…

    Hejis:
    Hmm… ternyata mbak Yaya menyimak juga ya. Terima kasih atas pujiannya. Kalau nanti mbak Yaya menikah pakai kertas, gak ya kira-kira?😀

  10. hehehe… keren…😀
    saatnya tiba musim kawin.. xixixi

    Hejis:
    Sekarang di tempat mas Agung musim kawin ya? Rame kali ya😀

  11. wah…. ada yang pengen kawin nie… hehehehe :p

    eh… kawin apa nikah??? hayuuuuuu :p

    Hejis:
    Wakakak… siapa yang kawin? Eh, mbak Inge, bagaimana tuh eMasnya. Apa sudah ngajak-ngajak? Hiihii… nggosip dikiiit😀

  12. aku ini bukan cicak ,mas.
    bukan,cicak aku,hahahaha

    Hejis:
    Biasanya kalau bukan cicak pasti buaya! Wakakak….
    *Lariiiii…. *

  13. Walau teknologi udah canggih, ternyata dokumen hitam di atas putih tetap yang paling sakti lho, pak.
    Cuma heran aja, pinter banget ngubungin cerita cecak dengan isu tentang lingkunga hidup.
    Jadi makin seneng aja nih berkunjung ke sini….

    Hejis:
    Betul, mbak. Dokumen hukum yang paling legal ya dengan kertas untuk saat ini. Entah nanti bila ada kesepakatan baru umat manusia. Terima kasih, ya atas kunjungannya. Kalau bisa malah sering-sering ke sini.😀

  14. manusia memang gitu tuh…untuk cinta saja butuh legitimasi

    Hejis:
    Tau tuh! Dasar manusia! He… he… aku juga manusia, ternyata.

  15. iy,.bis cicak ga ribet,cicak jg ga punya gengsi yg hrus dipertontonkan,cicak jg cinta lingkungan..cicak cm di dinding..ga ke mall,ke arisan dsb jd dy ga perlu gaul gt lho hihi..

    Hejis:
    Heh… he… begitu, ya mbak Yayan? Akuuuur😀

  16. Ya wis, aku nerka nerka aja sih…kapan mau nyebarin undangannya????

    Hejis:
    Terkaan yang jitu! Saya mau nyebarin undangan buat perkawinan… cicak! Ha… ha…

  17. Ya … begitu banyak kertas … hajatan pemilu 2009 juga sangat banyak menggunakan kertas. Jika merunut sampai menjadi kertas … mungkin banyak orang yang harus dikalahkan untuk menjadikan selembar kertas, karena berapa banyak sumberdaya yang digunakan untuk menjadikan kertas. Seandainya, beberapa saat berhenti membuat kertas, dan sumberdaya yang biasanya untuk menjadikan kertas dialihkan untuk memberi makan orang; mungkin cukup untuk mengurangi sebagian kelaparan dan gizi buruk …. tapi, gimana ya budaya kertas toilet? Jika di Indonesia sudah biasa cebok dengan air, nah … budaya toilet kertas agak repot jadinya.

    Jadi sebenarnya siapa ya yang paling banyak memakan pohon … cicak mati mungkin ada yang diangkat dengan kertas dan ada juga cicat kawin ditumpukan kertas koran ha ha ha

    Hejis:
    Betul, bro. Kita mesti cermat mempertimbangkan tindakan kita karena berpengaruh pada nasib orang lain.

  18. Haduuh..sie binun euy..dari cicak kawin sampai kertas..

    Sama kaya pakde..sie nunggu undangan + akomodasinya aja deh..
    Pasti bentuknya juga kertas he he

    Ntar sie kadoin kertas dalam kertas deh naaah tuuuhh kaaaaann mbuleeetttt

    Hejis:
    Iya, nanti saya mintakan undangan dari Pakde, ya mbak. Jangan sedih…😀

  19. Hi, visiting you here with smile and peace…Cheers

    Hejis:
    Hi, friend. Thanks for drop by. I’ll come to yours…. Cheers!

  20. Hi friend.. Nice cool post.. Do visit my blog and post your comments.. Take care mate.. Cheers!!!

    Hejis:
    Hi, is Sedona your brother? Great! All of you come together. Welcome!😀

  21. cecak tahan telanjang terus yaa? kan dingin .. ck ck ck
    ikutan pakde ah … undangannya maaann na ? hehehe

    Hejis:
    Manusia juga tahan telan***g kok, mas. He… he… Undangannya sudah habis. Soalnya lagi musim diskon… ha…. ha….

  22. Untung Cicak gak bisa nulis…kalo gak, bisa ikutan ngabisin kertas deh…
    hehehe….

    Hejis:
    Iya gak bisa nulis tapi bisa mbaca. Ati-ati dia lagi mbaca blogmu, mas Bendol! Wkwkwk…

  23. huum cicak cicak di kertas diam diam menari..eh salah ya,..hehehe..kertas dan cicak sungguh fenomena

    Hejis:
    Gigigig…gig… Masak cicak bisa menari?

  24. niatnya komentar inimau saya tulis di kertas dan saya kirim dalam amplop tertutup ke alamat mas hejis…
    tapi ndak jadi lah….saya tulis disini aja.

    kok cicak sih contonya?

    Hejis:
    He… he… gak papa asal kertasnya 50 ribuan. Ya, contohnya cicak karena saat itu cicak yang berjasa memberikan inspirasi waktu ia kawin di dinding rumah. Lagian kalau pakai conto buaya jadi nggilani… gigigig…gig…:mrgreen:

  25. Aih.. Aih.., theme baru ya..
    Boleh tanya? Apa Pak Hejis mau menikah? Atau sudah selesai menikah?

    Aku takut sama cicak, tapi memang harus demikian prosesnya, kita tercipta menjadi makhluk yg paling tinggi derajatnya, kalau cicak tidak perlu baju pernikahan kan? Coz cicak sudah biasa telanjang, nah kalau kita tentu butuh baju, baju juga buatnya melalui proses, dari bahan dasar(serat)diproses jadi benang,trus dijadikan kain,trus dijahit,baru jadi baju,dalam proses untuk baju saja udah begitu banyak prosesnya kan..

    Wah, senang bisa maen kemari lagi🙂
    aku selalu kangen lho dengan tulisan Pak Hejis

    Hejis:
    Ya ganti theme. Terpaksa soalnya yang lama kalau dibuka sebentar-sebentar hilang dari monitor. Buka lagi, hilang lagi.
    He.. he.. Kawin? Lhah, mbak Radesya apa gak dengar keputusan dari hasil perundingan keluarga kita kemarin malam? Wakakak… Adoh! *Dijitak pake laptop*
    Betul, manusia adalah makhluk mulia. Tetapi, justru dengan kemuliaannya itu mestinya bijaksana dalam menggunakan bahan-bahan yang ada di alam. Begitu bukan? Terima kasih jika menikmati tulisan saya. Oya, saya sudah bisa masuk ke halaman depan. Mungkin jika yang ditampilkan judulnya saja saya sulit mengakses. Ada baiknya pemotongannya (!—more–) jangan dari judul, melainkan setelah ada kalimat setelah judul. Kayaknya begitu ya.😀

  26. Wah, Pasti Sampeyan kawin dulu ga pake kertas , ga pake surat nikah ya ?

    Hejis:
    Ha.. ha.. pakai daun

  27. oh ada toh perkawinan tanpa kertas hihihi

    Hejis:
    Ya, hihihi…

  28. Mumpung musim hujan …ayo buruan…
    Nunggu apa lagi…:mrgreen:

    Hejis
    Yang kawin… yang kawin… yang kawin…😀

  29. Hi friend.. Nice cool post.. Keep posting.. Do visit my blog and post your comments.. Take care mate.. Cheers!!!!

    Hejis:
    Ok, friend. Insya Allah, I’ll visit your blog.

  30. tiap hal, ada positif dan negtif nya.
    smoga apa yg kita lakukan, tidak merugikan kita.
    (apa sih?)

    Hejis:
    Ya, kita mesti memperhitungkan positif-negatifnya ketika menggunakan banyak kertas

  31. kalau dipikir-pikir, pasti ada baik buruknya. tinggal menilai mana yg lebih bijak.

    Hejis:
    Iya, di situlah letak poinnya. Manusia mesti melakukan pertimbangan dengan cermat.😀

  32. Lam kenal bang😀

    Hejis:
    Salam kenal kembali. Selamat datang ya😀

  33. kertas amat berharga

    Hejis:
    Jika dijual akan menghasilkan kertas lagi…😀

  34. aQ bukan cicak, jd kelak bila aQ nikah, aQ membutuhkan kertas…hehehe…
    well, bukankah Tuhan pun sdh menentukan bagaiaman setiap mahkluk beribadah kepadaNya..:mrgreen:
    tp intinya sbnrnya, bagaiaman menapaki arti dan makna dr pernikahan itu sendiri y…nice post sahabat🙂
    keep writing🙂

    Hejis:
    Bolehlah, nanti nikahnya pakai kertas. Tapi, jangan boros-boros ya… he.. he.. Menghemat juga ibadah lho.😀

  35. cicak sudah mengajari sawiyah sejak dini ttg pemanfaatan kertas. Mungkin cicak tidak perlu banget sama kertas, tapi kita, manusia sungguh dan sangat tergantung dgn kertas.
    kita semua mungkin bisa belajar dari cicak, kalo gag perlu banget sama kertas gag usah “sakau” jika tidak ada. kalo toh memang butuh banget, pls…. kertas juga berasal dari makhluk hidup yang harus dilestarikan.
    Peace ‘n Save The Environment🙂

    Hejis:
    Akur banget. Pakai kertas tapi jangan membabi buta. Mungkin begitu, ya mas Nanda. Eh, itu sawiyah apa saudaranya Fatimah? Setahu saya hanya orang Jawa ya yang menamai anak-anak hewan berbeda dengan orang tuanya. Cicak punya anak yang disebut sawiyah, gajah: bledug, kodok: precil, kebo: gudel, sapi: pedhet… he.. he..

  36. Kawin emang gak butuh kertas. Kalo mau nikah baru deh… Aya-aya wae heheheh…

    Hejis:
    Masak kawin gak butuh kertas… wkwkwk…:mrgreen:

  37. cicak cicak di dinding…….. diam-diam merayap……. datang secarik kertas……… hap!!! lalu ditangkap!!!!

    Hejis:
    Datang mbak Ika… hap… lalu disulap…😀

  38. hmm.. hmm..
    cicak ya?
    kok nyampe ke kertas ya?

    hmm.. masak cicak mu nyetak undangan siyh?🙄

    hmm.. iya. bener.
    manusia memang ribet.

    Hejis:
    Iya mbak, cicak. Karena merekalah yang saat itu menimbulkan inspirasi. Jika saat itu yang datang mbak Fannie, pasti ceritanya Dunia Fannie, Cicak, dan Perkawinan… he.. he..😀

  39. jangankan mo nikah kehidupan kita dr lahir saja sudah membutuhkan kertas “akte kelahiran,dll..”
    manusia memang suka ribet tp suka seenaknya untuk mengakhiri keribetan itu..

    Hejis:
    Ya, ribetnya sambung menyambung. Pacaran, perlu kertas. Lamaran, nikah, hamil, melahirkan, bahkan meninggal pun perlu kertas. Asal cermat, gak apapap kali ya, mbak Nina.😀

  40. pasti ada baiknya juga tapi ada buruknya juga…….

    Hejis:
    Justru di situlah letak intinya, pertimbangan yang masak…😀

  41. Aiyoooo….

    Tema nya tentang perkawinan atau selamatkan bumi ya?…

    Harus pinjam otak Plato barang bentar untuk memahami pesannya nih… luar dalem…

    *Wooooi….Plato!!! Sini lo….Gw pinjem bentar otaknya…. sewa deh sewa…. Berapa?

    Plato : 1 Jam 300 rebu deh…

    * Dah deh… nih…
    (ngeluarin 1 lembar 100 rebu, 5 lembar 20 rebu, n 100 lembar uang serebuan….. Yach… Kertas lagi kertas lagi… Fyuuuh!!!)…

    Hejis:
    Aiyoooo… Perkawinan yang tidak terlalu merusak bumi. Heeh…heh.. masak otak Plato harganya segitu? Pakai kertas lagi. Wekwkwkwk…

  42. ya ampyuuuunnn benar2 aneh.. saya ga smepet mikir ttg cicak yg ga bikin undangan pernikahan… yang kertasnya malah bkin repot manusia sendiri itu…

    mungkin klo saya boleh usul.. (krn saya sndiri ga bisa melakukannya), kita bisa mulai berkreasi dgn sampah undangan itu!

    klo sekarang sampah dijadiin tas, jas hujan ato apapun yang bermanfaat, mungkin seru juga klo kita mulai bikin tas, topi dll dari undangan, jadi bisa aja diatas kepala kita ada tulisan…”hormat kami kedua mempelai…”

    Hejis:
    Ide baguss! Itulah tindakan bijaksana yang diharapkan pesan ini. Hihihi… mungkin di topinya juga ada tulisan, “Tidak menerima sumbangan dalam bentuk karangan bunga atau kado. Mempelai lebih membutuhkan rumah dan mobil… wkwkwkwk…

  43. duuuhh… masih jauh ma yang namanya kawin mas…😉

    Salam silaturahim….🙂

    Hejis:
    Masih berapa kilometer lagi, mas Angga? He.. he..

  44. Iskandar Dinata

    OOT: Ini kirim email aja mas

    Hejis:
    Iya, thank’s

  45. hahaha pake kertas pake surat dan syarat tentu akan ditulis diatas kertas sebagai pengikat
    kapan tuh ……..

    Hejis:
    Iya, mas Tok. Pake macem-macem itu. Kapan? Lhah!! 😛

  46. bang..kapan ya, blue dapatkan lagi postingan abang yang seperti dulu. agak nyerempet nyerempet sastra gityu dech.semangat ya,bang
    blue terkadang selalu manantinya.salam hangat selalu.

    Hejis:
    Sastra? Wadoh, mas Blue, saya gak bisa nulis sastra kayak mas Blue. He.. he.. Ya, terima kasih ya, mas😀

  47. Karna cicak nggak bisa tulis dan baca😀

    Hejis:
    Karena cicak tidak punya anggaran pendidikan 20%😛

  48. Ah saya masih jauh kawinnya. hehehehe.

    Hejis:
    Lhah harus naik angkot berapa kali lagi, kok masih jauh? Wkwkwk…

  49. Wah, rame nih blognya,,,,!
    Salam kenal ya….!

    Hejis:
    Rame kayak mau ada kampanye ya… he.. he.. Dengan senang hati, mbak, kita kenalan. Salaman. Salam hangat, mbak Cantik.😀

  50. bersediakah anda menjadi cicak ?

    Hejis:
    Jika Allah SWT menghendaki, tak satu pun makhluk menolaknya, mas. Sudah layakkah kita menjadi manusia?

  51. Lihat gambarnya, rahim saya terasa diacak acak … gak jelas antara kepingin dan gak mau jadi cicak.

    *dibekep karena p*rn*

    Hejis:
    Kepingin ya mbak Rindu.. Adoh!
    *dilempar laptop*

  52. kasian cicaknya ya mas.. tp ndak mw jadi cicaaakkk….

    Hejis:
    Iya, napa cicak begitu ya? Mestinya pake baju, kek. Pake tanktop, kek. Lho, napa gak mau jadi cicak?? Napa? Napa….
    *lihat avatarnya* Oooo, pantesan gak mau jadi cicak, ternyata jadi… *lihat avatar lagi*. Oooo… gitu ya.

  53. Perkawinan cicak nggak pake kertas karena cicak nggak bisa nulis… hihihi…

    Hmm…
    Selama ini saya berusaha ‘concern’ tentang efisiensi penggunaan kertas, yah, memang baru bisa dari hal kecil disekitar saya, misalnya hasil print yang kurang baik atau perlu koreksi jangan dibuang dulu, baliknya bisa dipakai lagi untuk print draft lainnya, atau bisa dibikin amplop untuk keperluan intern kantor. Biar aja dibilang pelit, ngirit, ribet, ini bukan semata karena ‘cost’ yang harus dikeluarkan tetapi mengingat banyak hal yang terkait dalam proses produksi dan distribusinya. Thanks , cicak-cicaknya sudah mengingatkan saya lagi tentang hal ini.🙂

    Hejis:
    Wkwkwk…
    Nah itu dia! Patut dicontoh nih. Gak harus yang besar-besar untuk memulai usaha yang baik ya. Salut deh, mbak Tanti.

  54. berarti…org yg hidup bersama tanpa menikah, ato org2 yg sk begituan *jajan* sm aja kayak cicak ya mas?
    hehehe

    Hejis:
    Iya, padahal cicak gak suka jajan lho, mba’e. Tapi kemarin saya jajan bakso, uenak lho, mba’e. Swear…!

  55. protes… tyan ga ada di blog roll😦 (tutup mata… Lum 21+ wakakakkak… (kabur… dikejar bang hejis) he…

    Hejis:
    Protes, bayar Rp 5.ooo,-
    *Ngejar-ngejar sambil megangi sarung yang mau mlorot*

  56. Lapor… ada dink(namanya ayu.. wakakakakk

    Hejis:
    Lapor, bayar Rp 10.000,-

  57. wakakakk… hattrick…🙂

    Hejis:
    Hetrik? Nah! Ini yang dibutuhkan bangsa Indonesia biar PSSI gak kalah melulu! Salut.. salut.. salut~~
    *Bayar Rp 100.000,-*:mrgreen:

  58. bang……blue datang dengan versi seperti dulu lagi hahah…………
    salam hangat selalu

    Hejis:
    Apa pun, mas Blue. Yang penting tetep baik hati dan tidak sombong… he… he…
    Salam anget banget😀

  59. tetep bersykur jadi seorang manusia karena selalu ada pilhan dan pikiran dalam menentukan seorang pasangan

    Hejis:
    Orang yang pandai bersyukur pasti bahagia.😀

  60. hihihih…mas hejis rajin euy ngamatiin cicak…*apalagi pas kawin* (^^)v

    Hejis:
    Iya, mbak Adel. Soalnya kalau ngamati manusia kawin, gak boleh sama nenek. Wakakak…

  61. Salam kenal, Bung!
    Saya juga sering memikirkan ‘nasib” si kertas itu

    Hejis:
    Dengan senang hati, bung Che! Betul. Bahkan kita perlu memikirkan nasib banyak hal.😀

  62. ckckckckckc …. cicak memang kawin tanpa kertas, mas hejis, hiks, saya ndak bisa membayangkan andai saja cicak kawin pakai kertas lengkap dg segala ritualnya. bakalan ada permusuhan abadi antara manusia dan cicak, kekeke ….

    Hejis:
    Malahan, jangan-jangan kita yang kalah ya bila binatang bersatu memusuhi manusia. He.. he..

  63. untungnya saya ga jadi cicak. bayangin kalo saya kawin pake acara nempel di dinding segala…. berapa lembar kertas yang harus nutupin saya biar ga malu…

    Hejis:
    Iya, maluuuu… he.. he..

  64. So, walaupun ngga harus mengikuti gaya hidup cicak, tapi mari kita hemat kertas… hehehe…

    pa kabar Pak Hejis..?😀

    Hejis:
    Betul, itulah pesan moralnya.
    Kabar saya sebaik kabar cicak, mbak Yun. Alhamdulillah sehat dan nyaman. Semoga mbak Yun tak kalah sehat dan nyaman ya…😀

  65. kini…..bnyk manusia
    berperilaku seperti cicak

    Hejis:
    Dalam hal kawin maksudnya?

  66. Mas … kalau ditandem postingan kawin kucing pasti lebih seru …

    Hejis:
    Wadoh, kucing kawin ya. Ha.. ha..:mrgreen:

  67. ya ampyun…. mas hejis ada-ada aja…. cicak ya …
    ruwet ni mikirin kertas ya… he..he…he…

    Hejis:
    He.. he.. ruwet kucing cicak dan kertas…

  68. Thanx atas kunjungannya ya!

    Hejis:
    Terima kasih juga ya mbak.😀

  69. hayaahhh ketinggalan kereta lagi😀

    Hejis:
    Keretanya belum mau berangkat kok, mas. Tenang aja…😀

  70. kalo urusan kerta panggil orang madura… dirombeng beres:mrgreen:

    Hejis:
    O, begitu ya mas? Tapi sayang kertas-kertas di kamar saya masih sering saya pelototi untuk belajar membaca… he.. he..

  71. mas kalo cicak kawin trus ada undangannya gimana?
    Kertas kan dibutuhkan oleh umat manusia mas

    Hejis:
    Iya, ya, trus gimana ya? Wekwkwkwk…
    *Pegang jidat sendiri*

  72. mas, cicaknya jangan lupa dikasih baju ya..nanti kena UUAP hehehe…

    Hejis:
    Iya, Mba’e. Nanti pinjem tanktopnya Mba’e ya…:mrgreen:

  73. sekalian, cicaknya dinikahin aja, nanti mas heru jadi penghulunya aja, mas heri jadi walinya whehehe….

    Hejis:
    Iya deh. Nanti Mba’e jadi pager ayunya ya?

  74. wah mesra banget tuh fotonya…..jadi pengen ikutan…hihiks….

    Hejis:
    Silakan kalau mau ikutan… tapi tanpa kertas ya.. he.. he..

  75. jadi makin kebelet gara² baca postingan kawin heuheu..:mrgreen:

    Hejis:
    Kebelet pipis ya mas Didien? Wakakak…

  76. Aku kok merasa geli ya membayangkan cicak kawin. Hihi.

    Mungkin dalam dunia cicak, budayanya belum sampai sana. Jadi tanpa pacaran, tanpa lamaran, dan tanpa kertas, wis langsung jadi.

    Kalau budaya cicak sudah sampai sana, kita kenalkan saja pada penggunaan kertas daur ulang. Nggak perlu melewati fase-fase daun lontar segala. Kesuwen.

    Hejis:
    Geliii…. hiiiii… Iya, mas, nanti kasih pakaian kertas daur ulang. Biar gak nggilani… he.. he..

  77. smoga mulai tahun ini semua calon pengantin & KUA & Kantor Catatan Sipil mulai merintis pernikahan digital. Tanpa kertas apalagi plastik.

    Hejis:
    Setujuuuuu… biar sekalian pegawai-pegawai KUA ngeblog. Trus blogger yang mau kawin jadi gratisan… ha.. ha..

  78. sebenarnya mas hejis ini mau kawin lagi atau gimana sih? kok cerita cecak larinya ke kertas?

    hehe!

    keren deh kontemplasinya, mas hejis. saya juga dukung tuh perkawinan tanpa kertas. biar undangan via email, tuan kadi baca UU dari monitor laptop, surat kawin dalam bentuk keping CD atau flashdisc, trus tanda tangannya diganti password aja. hemat kertas!

    Hejis:
    Mbak Mars mau kawin (lagi)? Lariiiiii… *Dijambak*
    Iya cicak dan perkawinan. Soalnya kalau buaya jadi kegedean, mbak… hihihi… *gak nyambung blas!*
    Lhah itu ide bagus. Agar sampah dapat dikurangi ya…:mrgreen:

  79. ingat cicak, ingat angling darma…

    karena untuk menghemat kertas juga, kita pakai email dan blog sebagai alat komunikasi kan?

    EM

    Hejis:
    O iya, ya.. Ada cerita cicak dan Angling Darmo? Siapa berani menjadi yang pertama, kawin tanpa undangan kertas? Yang mau… yang mau… yang mau…

  80. sahabat
    tentang selembar kertas dalam perkawinan itu
    yang dengan mudah kita bisa saja merobeknya
    tapi keutuhan perkawinan ada di hati dan perwujudan sikapnya

    sahabat, andai kita bisa lebih berhemat, dan biarkan hati saja yang terekat kuat🙂

    Hejis:
    Ya, yang penting ikatan hati. Kertas hanya administrasi hidup bernegara. Salam hangat, sobat😀

  81. Upss kirain salah masuk… Oya lanjutan crita yg kemaren blom ya??
    Kalao manusia kawin instan kayak cicak ya harus bertanggung jawab pada Tuhan dan pada manusia sekitarnya dan pada hukum adat hehe
    Kalo mas Hejis ngadain kawinan, make kertas nya sa’ jempol aja yaa biar irit

    Hejis:
    Gak salah kok, mbak Rita… he.. he.. Ya deh kalau masih dimaui nanti disambung lagi cerita itu. Kertas sak jempol? Wekwkwkwk… irit tenaaan..😀

  82. ribet manusia mah…sebel deh ah…(banci mode)😀

    Hejis:
    He.. he.. ada banci kok cantik ya…:mrgreen:

  83. saya tiba-tiba ingin memikirkan bagaimana caranya nanti saya mengundang mas hejis kalo tiba-tiba saya ingin mengikuti jejak cicak2 itu (tentu saja dengan ritual – yang mas hejis bilang – jauh lebih rumit, dan saya bilang memusingkan…. huhehehehee)…

    email boleh mas?
    mmmmhhh….. ato saya posting aja di KJ?

    *mas Hejis trus nanya… emang kapan?
    *saya jawab…. Hanya Tuhan yang tahu… ^_^

    Hejis:
    He.. he.. pakai apa pun saya terima dengan syukur dan senang hati, mbak V. Hanya Tuhan yang tahu? Ah, itu ngeles aja to mbak. Kapan? Kapan?😀

  84. dasar cicak ga punya aturan

    kalau mas hejis perlu kertas pesan ke saya aja ya
    apalagi tu cetak undangan
    pas banget mas…… hehee…

    Hejis:
    Cicak.. cicak.. he.. he.. Punya percetakan ya, mbak Rina?😀

  85. hihii….

    waduhh…. ngobrolin

    perkawinan….🙂

    Hejis:
    Sebetulnya enggak sih. Yang diobrolin kertas.😀

  86. Salam,
    Membaca tulisan Anda sepertinya dalam banget membahas tentnag kepedulian lingkungan yang berawal dari melihat “ritual” perkawinan Cicak.
    Tapi apakah tidak terlalu jauh melihat sampai ke tahapan-tahapan yang sebenarnya (menurut saya) tidak berkaitan langsung dengan pembuatan kertas itu sendiri. Seperti bagaimana Anda membahas tentang “Pembuatan alat transportasi yang juga membutuhkan alat transportasi yang mengambil bahan-bahannya dari alam”.
    Sebernarnya dengan membahas mengenai pembabatan hutan untuk pengolahan kertas aja Anda pesan yang ingin disampaikan tentang “bagaimana seharusnya kita melakukan efisiensi penggunaan kertas itu untuk kelestarian alam” sudah sampai ke pembaca. Mengenai hal-hal lain sampai ke biji besi untuk pembuatan alat pengolahan kertas dan sebagainya itu (sekali lagi menurut saya) sudah berada di luar konteks pembahasan anda tentang kertas.
    Mengenai perkawinan manusia yang “ribet”, barangkali ini tidak terlepas dari konsep “Manusia dibekali akal dan fikiran”. Jadi itu yang membedakan kita dengan cicak.

    Peace

    Hejis:
    Mungkin sebaiknya begitu, ya mas Taufik jika itu makalah atau semacamnya. Lha post ini cuma coretan ringan di blog yang ditulis langsung tanpa persiapan. Jadi ya amburadul. Harap maklum aja. He.. he..
    Salam hangat.😀

  87. Yya ya ya… cecak mengajarkan kepada kita banyak hal….. btw, enakan jd cecak atau jadi manusia?? hehe

    Hejis:
    Mungkin jika sejak awal kita menjadi cicak, tak menjadi soal ya. Yang penting bersyukur, untuk menjadi apa pun.😀

  88. wah yang di pasang tu bukan gambar cecak ato sawiyah, mungkin bapaknya cecak… apa ya namanya? masak sawali…. !
    …lari takut dipukuli pak sawali……….

    Hejis:
    Lhah, pak Sawali? Tuh ada pak Sawali… he.. he..😀

  89. Dan ternyata…menjadi manusia itu rumit. Segala tetek bengek kehidupannya terasa begitu ruwet. Ah, bagaimana mengepak agar hidup ini menjadi lebih “sederhana”? Entahlah…

    Btw Hejis, salam kenal yo!

    Hejis:
    Iya, manusia itu hidupnya rumit. Malah sering yang sederhana juga dibikin tambah rumit… he.. he..
    Salam kenal kembali, senang berkenalan denganmu, mbak Lena.😀

  90. Itu landak po cicak mas yo? Aku juga jadi pengin ngomongin kawin-kakawin beginian. Aku coba aja deh bikin di sini: http://berahimaya.blogspot.com/
    Btw, gambarnya aku kopi juga ya mas. Aku nemu di gugel, trus sampai ke sini.

    Hejis:
    Itu cicak ijo, mas. Iya aku sudah ke sana. Sip! Silakan. hehe..

  91. postingnya bagus. tapi apa ada cicak ijo?

  92. jabon :

    kan gak pakai kertas udah sah kan …🙂

  93. @ jabon

    iya namun secara negara gak sah gitu loch

  94. aduh aku ngebayanginnya jadi geli kalo soal cicak @_@

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s