Tag Archives: heru puji winarso

JULIA PEREZ DAN PENDIDIKAN POLITIK

Oleh Hejis

Julia Perez dicalonkan parpol untuk menjadi Bupati Pacitan

Fenomena partai politik mencalonkan seorang artis untuk menjadi pejabat politik di pemerintah telah sering terjadi. Sebut saja Anwar Fuady, Helmy Yahya, Primus Yustisio, Ayu Azhari, Inul Daratista, Rano Karno, Dede Yusuf, dan sederet lainnya. Belakangan disebut Julia Perez yang cukup ramai mengundang pro-kontra.

Pihak yang pro memberikan alasan bahwa pencalonan tersebut untuk memberikan hak yang sama kepada setiap warga negara untuk menduduki jabatan politik. Selain itu, popularitas sang calon merupakan asset bagi partai untuk bertarung dalam pemilihan pejabat politik di berbagai tataran.

Adapun pihak yang kontra berargumentasi bahwa pencalonan tersebut telah merampas peluang para kader partai untuk berpromosi dalam karier politiknya, dan menafikan azas kualitas pencalonan. Baca lebih lanjut

PARTAI BARU DI FACEBOOK: PARTAI FACEBOOKER MERDEKA

Oleh Hejis

Klik logo Partai Facebooker Merdeka ini untuk mengunjungi situsnya

Di Facebook sekarang ada partai baru! Sebuah partai yang bisa dianggap konyol, bisa juga dianggap serius… hehe. Partai ini dilatar-belakangi oleh fenomena di dunia maya, khususnya di jaringan pertemanan Facebook, seperti yang terpapar di bawah ini.

MEDIA BARU DAN FUNGSI MEDIA MASSA
Dalam dunia politik kita telah lama mengenal media massa yang memiliki ciri-ciri sebagai media yang bersifat massal, serempak, menjangkau tempat-tempat yang jauh, massa yang bersifat heterogen. Media massa politik digunakan sebagai media komunikasi antara tokoh politik dan massa, antara tokoh politik dan tokoh politik, dan antara anggota-anggota masa. Bentuk media massa adalah buku, koran, majalah, radio, film, televisi. Baca lebih lanjut

Paklik Samin jualan kambing di Face Book

Oleh Hejis

Beberapa hari yang lalu adikku berkunjung ke rumahku di lereng gunung Semeru. Rupanya ia senang dengan kondisi lingkungan penduduk kaki gunung yang sejuk, tenteram, dan kadang-kadang lengang. Tiap hari terlihat ceria. Semua penduduk yang ditemui diajak ngobrol. Walaupun masih duduk di kelas 2 SMP ia dapat berbaur dengan penduduk sekitar tanpa sungkan-sungkan. Penduduk yang ramah-ramah itu pun senang ngobrol dengan adikku yang besar di Jakarta ini.

Dengan aku pun tiap hari ada saja yang diobrolkan. Maklum sudah hampir setahun aku tidak ketemu dirinya. Mungkin rasa kangen yang menggumpal bagaikan daging di dalam freezer itulah yang membuatnya tak lelah-lelahnya ngobrol ngalor-ngidul dengan siapa saja. Tak terkecuali dengan Paklik Samin, petani yang menanam berbagai sayuran dan palawija dan peternak kambing, sapi, dan kerbau.

Baca lebih lanjut

Cerbung: Adinda, Kau Pasti Bangga Aku Mencintaimu

Oleh Hejis

Cintaku... ohh!

Engkau pasti bangga mencintaiku

Hari ini serasa kok seger sekali. Lihat langit tampaknya cerah. Kalau pun ada awan, hanya segores dua gores. Itu malah memperindah langit yang, entah siapa yang tahu, kok berwarna biru. Biru adalah warna favoritku. Memang, semua warna bagus… asal biru! Duh, indahnya. Orang-orang yang kutemui rasanya juga ramah-ramah. Ibu kos saja yang biasanya pasang wajah cemberut, pagi ini tersenyum renyah. Bugel, teman sekosku juga begitu. Bahkan tanpa sungkan-sungkan meminjami aku uang. Mendinglah, kantong sudah kempes ada yang memberi talangan. Mengapa begitu ya?

Baca lebih lanjut

Ri… Ponari… terima kasih ya?!

Oleh Hejis

Dukun tiban Ponari benar-benar fenomena luar biasa. Ndak luar biasa gimana wong bocah 10-an tahun menjadi anak yang kredibel di mata puluhan ribu orang bahkan mungkin ratusan ribu atau jutaan. Yang jelas tiap hari ribuan orang berduyun-duyun antri dan percaya 100 persen untuk mengobati dirinya. Baca lebih lanjut

Maafkan Daku dan Beranda Baru

Assalamu’alaikum sobat-sobat

Kata yang mula-mula amat perlu dari saya adalah mohon ampun, maaf banget. Ini karena beberapa lama saya absen mengunjungi kalian. Kalau ditanya alasannya saya punya. Wakakak… pinter deh kalau cari alasan ya…. Baca lebih lanjut

PUISI

FATWA

Oleh Hejis

naik asap kepalamu mendongak
menatap langit
kepala-kepala lelaki bergelimpangan
terinjak alas kakimu tanpa debu
bocah dan perempuan mengiba-iba
membersihkan sepatu dengan lidah api

mulut membuih
makna di saku busana wangi
kuasa sudah menyublim
bocah dan perempuan
mengais-ngais di ceceran ludahmu

*****