Aku Kembaliiii…

Mei 6, 2009 · & Komentar

Selamat datang, sobat

Selamat datang, sobat

Oleh Hejis

Pengantar

Seperti rumah kosong. Mungkin begitu ya, lihat blog ini mangkrak beberapa waktu. Maaf deh ya… hehe. Soalnya dah lama banget gak ada postingan yg diupdate di sini. Sobat yang berkunjung ke sini banyak yang kecele.

Berawal dari munculnya fenomena penting dalam dunia komunikasi, khususnya yang berkenaan dengan “media baru” (new media), yaitu social network media, misalnya Facebook. Media baru ini bukan sekadar media yang baru yang merupakan bentuk lama yang diperbarui. Bukan pula media yang kemunculannya baru. Media baru adalah media komunikasi yang memiliki sifat-sifat lebih rumit dalam hal penggunaannya, dalam hal pembuatannya, dan dalam hal efek dari komunikasi yang dilakukan dengan media tersebut.

Media baru ini penting bagi siapa pun karena setiap orang membutuhkan komunikasi dalam hidupnya. Sehingga, setiap orang mestinya dapat mencermati kemunculan media baru ini demi keuntungan dalam kehidupannya. Oleh karena itu, setiap orang mestinya juga memiliki kemampuan untuk mengenal, mengakses, memanfaatkan, mengerti pesan yang terdapat di media baru itu, dan bahkan memproduksinya. Inilah yang dikenal dengan istilah “media literacy”.

Fenomena baru inilah yang kemudian mendorong saya untuk menunaikan tugas akademik dengan cara melakukan penelitian terhadap Facebook sebagai salah satu bentuk dari media baru. Hasil penelitiannya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh siapa pun untuk meningkatkan media literacy yang sudah disebutkan tadi.

Begitulah, mengapa blog ini mangkrak. Kemampuan waktu dan konsentrasi menyebabkan blog ini tidak mendapatkan semestinya. Kini, saya kembali ke sini. Walaupun, belum sepenuhnya. Terimalah kedatanganku kembali ya… weheheh…

Sebagai pembuka, saya memposting artikel ringan di bawah ini yang dicuplik dari konten Facebook. Selamat berjumpa, selamat bertemu lagi….

AKU KEMBALI

Kau masih tersenyum seperti setahun yang lalu. Dari jauh sudah terlihat sosok tubuhmu yang tinggi menebar pakan ikan di pinggir kolam depan rumah mu. Di pinggirnya ada pohon lamtoro gung dan turi. Cukup teduh kolammu. Ah, aku jadi teringat. Berjalan berdampingan bersamamu adalah kenikmatan yang tak pernah terbayangkan banyak orang. Tubuhmu yang tinggi itu menjadi pelindung saat berjalan-jalan, hingga hatiku tenteram menelusuri jalan tanah di kampung mu dan kampungku dulu. Waktu itu banyak temanmu bilang, kita pasangan yang serasi. Pasangan yang jika berdiri berdampingan enak dipandang mata.

Saat aku tiba di pagar tumbuhan depan rumah dirimu tengah asyik dengan ikan-ikan nila, emas, dan lele. Juga jenis ikan yang sama saat aku sering ke sini setahun yang lalu. Lalu, engkau duduk di teras rumah, di balai-balai bambu buah tanganmu sendiri. Senyummu segera merekah seolah otomatis bila ketemu dengan setiap orang. Inikah senyum yang kutinggalkan setahun yang lalu? Tetapi, mengapa kualitasnya masih sama tak kurang segores pun meski dimakan waktu? Hatiku menjadi tersedot keluar. Perih.

Penyesalanku memang telah ada sejak dari rumah. Meninggalkanmu adalah tindakan terbodoh yang pernah kulakukan. Kini ingin kutebus semuanya dengan mendatangimu melintasi kota-kota. Sejatinya telah kusiapkan hati ini menerima kemurkaan yang paling hebat akibat luka hatimu selama ini. Akan kuterima sekuat apa pun ke uluhatiku. Namun, kini malah kau sambut aku dengan senyuman itu. Memang pedih, tetapi membanggakan. Memang ironis tetapi menyemangati harapan.

Sepatutnya dirimu menjadi lelaki idola para perempuan pencari cinta. Apakah karena senyuman itu? Iya… ah, bukan, bukan… rasanya. Engkau tak pernah mengeluarkan amarah yang meledak-ledak layaknya kebanyakan lelaki. Sampai-sampai aku kehilangan akal untuk membuatmu marah. Aku marah karena engkau tak pernah marah. Dan aku meninggalkanmu karena itu. Dan aku kembali lagi ke sini karena itu, setelah setahun berlalu. Sebab inikah aku mencintaimu? Ya… oh, bukan, bukan… kiranya.

Engkau si pemurah hati yang tak membeda-bedakan. Sementara aku ingin diistimewakan. Bukankah aku belahan kasihmu? Karena ini jualah aku meninggalkanmu. Aku kehilangan akal agar engkau mengurangi sifat penolongmu kepada selain aku. Aku tak mampu, dan engkau harus menanggung sendiri sifatmu itu dengan kehilangan aku. Setahun yang lalu. Kini aku kembali karena sifatmu itu.

Sejak pergi darimu, telah kucoba menerima hati laki-laki di kota lain tempat aku tinggal. Pria tampan dan baik budi serta berkecukupan. Sempat berjalan beberapa waktu, tetapi hatiku masih tertuju padamu. Bayang-bayang mu sempat hilang, namun sesaat saja. Selebihnya membayangi ke mana pun langkah ku pergi.

Kini aku telah melepaskan kedudukanku sebagai direktris perusahaan maju. Meninggalkan kemewahan yang kunikmati di kotaku, demi menebus kesalahanku. Aku kembali untuk memasrahkan hati yang keliru. Kepadamu.

Apakah aku telah dibutakan oleh cintaku sendiri? Ataukah aku sedang menggenggam mutiara? Rasanya, keduanya bukan! Yang pasti aku sedang menemukan mata air cinta, sumber kesegaran yang tak habis-habisnya memancar di musim hujan atau pun kemarau. Itu ada padamu. Ya, hanya dirimu…. *** [HE715-020509]

Kategori: UMUM

95 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar